Tampilkan postingan dengan label Kazakhstan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kazakhstan. Tampilkan semua postingan

PT. DI Kerjasama Dengan Kazakhstan Produksi N-219

JAKARTA-(IDB) : PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) sepertinya akan mendapatkan bagian lebih dari hasil pertemuan Pemerintah Indonesia dan Permeintah Kazakhstan hari ini. Dimana PT. DI tertarik menjalin kerja sama dengan industri dirgantara Kazakhstan untuk produksi bersama pesawat N-219.

"Kami juga tertarik kerja sama di bidang industri pesawat terbang. PT. DI tadi bersama dengan engineering company dari Kazakhstan bekerja sama memproduksi N-219," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, di Jakarta, Jumat, (13/4).

Pesawat N-219 dirancang mampu mengangkut 17 penumpang dan kini masih dalam tahap pengembangan. Diharapkan 15 prototype N-219 sudah dapat diluncurkan 2014 nanti.

Untuk membangun satu pesawat prototype, PT. DI memperkirakan kebutuhan untuk membangun satu prototype membutuhkan biaya hingga US$ 4 juta (Rp 360 miliar). Sehingga untuk membuat lima belas pesawat prototype nantinya PT. DI membutuhkan dana US$ 60 juta (Rp5,4 triliun).

Selain industri pesawat terbang, pemerintah Indonesia juga menawarkan Kazakhstan untuk berinvestasi di bidang hilir minyak sawit, kapas, karet ban, dan gandum.

Untuk itu, Presiden Kazakhstan menyampaikan kepada Hatta untuk segera merealisasikan rencana investasi antarkedua negara tersebut tanpa melalui nota kesepahamam atau Memorandum of Understanding (MoU).

"Presiden Kazakhstan sangat welcome dan mengatakan tidak ingin MoU serta ingin langsung realisasi. Untuk itu, dia mengharapkan kunjungan kami, tim pemerintahan, Menko Perekonomian dan kementerian-kementerian pada Mei guna merealisasikannya," katanya.

Pemerintah Indonesia dan Kazakhstan nantinya akan membentuk komisi bersama. Dengan tim itu, setiap kementerian dapat fokus dalam kelompok kerja untuk menilai semua potensi kerja sama.

Hatta mengakui, perdagangan antarkedua negara hingga kini masih sangat kecil yaitu US$35 juta. Namun, kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan nilai perdagangan dengan membenahi sektor-sektor yang menghambat.

"Pertama, masalah transportasi dua negara. Kedua, perlindungan investasi dan ketiga pencegahan pajak ganda. Ini yang akan dibahas dan diselesaikan," paparnya.

Sumber : Itoday

Presiden Kazakhstan Akan Kunjungi Indonesia

KUALA LUMPUR-(IDB) : Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia sekaligus menyampaikan akan dibukanya Kedutaan Besar Republik Kazakhstan di Jakarta.

Demikian disampaikan Counsellor Kedutaan Besar Republik Kazakhstan di Malaysia, Serik Bukebayev kepada ANTARA News di Kuala Lumpur, Kamis

"Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama ke Indonesia bagi Presiden Nazarbayev yang memimpin Kazakhstan sejak tahun 1990," kata Serik Bukebayev lagi.

"Kamis malam ini, Presiden Nazarbayev dan rombongan akan tiba di Indonesia," kata Serik Bukebayev.

Dalam kunjungan tersebut Nazarbayev akan melakukan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 April, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, serta beberapa petinggi politik Indonesia.

Delegasi Kazakhstan juga akan melakukan pertemuan dengan komunitas bisnis di Indonesia serta menandatangani beberapa kesepakatan bisnis.

Sumber : Antara

Tidak Hanya Menjajaki Kerjasama, Kazakhstan Juga Berniat Beli Pesawat Produksi PT.DI

JAKARTA-(IDB) : Kazakhstan menjajaki kerja sama strategis industri penerbangan dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), termasuk opsi pembelian sejumlah pesawat produksi industri dirgantara Indonesia.

"Persiapan kerja sama itu telah diawali dengan peninjauan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kazakhstan, Kayrat Sarybay, bersama rombongannya ke PT.DI awal minggu ini," kata Kepala Humas PT.DI Rakhendi Triyatna di Bandung, Kamis.

Manurut dia, Sarybay mengunjungi PTDI pada Selasa (3/4) untuk mempersiapkan agenda pembicaraan RI-Kazakhstan saat pemimpin negara itu, Nursultan Nazarbayev, datang ke Indonesia bulan ini.

Ia mengatakan, Kazakhstan menyatakan tertarik dengan paparan PTDI tentang kemampuan dan kompetensi dalam membuat pesawat terbang dan berbagai jenis persenjataan.

Pada kesempatan itu, katanya, badan usaha milik negara bidang industri pertahanan lain juga menyampaikan presentasi masing-masing, termasuk PT Pindad, PT Dahana, PT LEN Industri dan PT INTI.

Sumber : Antara

Rusia-Kazakhstan Pererat Kerjasama Militer

Yakolev Yak-130. (Foto: Yakolev)

10 Desember 2010 -- Para pilot AU Kazakhstan akan mulai menggunakan jet latih/serang ringan buatan Rusia Yak-130 pada musim semi mendatang, ujar juru bicara Kementrian Pertahanan Rusia, Rabu (8/12), dikutip kantor berita RIA Novosti.

Kesepakatan dicapai saat pembicaraan antara Menteri Pertahanan Kazakhstan Adilbek Dzhaksybekov dengan timbalannya Menhan Rusia Anatoly Serdyukov.

Yakolev Yak-130 Mitten jet subsonik kursi tandem dikembangkan oleh biro disain Yakovlev, pesawat pertama dioperasikan AU Rusia 2009.

Panjang pesawat 11,49 meter, tinggi 4,76 meter, bentang sayap 9,72 dengan luas 23,52 meter persegi. Berat kosong Yak-130 4600 kg, berat maksimum lepas landas 9000 kg, mampu mengusung senjata seberat 3000 kg dan bahan bakar internal 1750 kg.

Usia pakai pesawat 30 tahun dengan lama terbang 10.000 jam terbang dan dapat diperpanjang 15.000 jam terbang atau frekuensi lepas landas 20,000 kali.

Rusia-Kazakhstan Bangun Sistem Hanud Bersama

Rusia dan Kazakhstan telah menyetujui membangun jaringan pertahanan udara regional gabungan, disampaikan Komandan Pertahanan Udara Kazakhstan Letnan Jenderal Alexander Sorokin, Rabu (8/12). Sistem ini mirip yang dibangun oleh Rusia dan Belarusia.

Kazakhstan akan menerima sistem hanud S-300 dari Rusia, sebagai bagian dari sistem. Kazakhstan telah memiliki versi awal S-300 peninggalan bekas Uni Sovyet, jumlahnya tidak diungkapkan.

Sorokin mengatakan negaranya tertarik juga membeli sistem hanud terbaru buatan Rusia S-400 Triumf, tetapi ia menyadari AB Rusia prioritas utama mendapatkan sistem S-400.

Menhan Rusia menegaskan bahwa sistem S-300 akan dikirimkan ke Kazakhstan sesuai kesepakatan sebelumnya, tetapi kontrak pengiriman masih dibuat.

RIA Novosti
/Berita HanKam