Tampilkan postingan dengan label DI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DI. Tampilkan semua postingan

Kebanjiran Order, PT. DI Beli Mesin Baru Pembuatan Pesawat

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak masuk pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

"Kami kebanjiran pesanan, makanya permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna.

Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasinya, sehingga selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, juga pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak delapan unit dan lima unit lainnya dalam proses kedatangan.

Mesin tersebut adalah mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P.

Mesin-mesin berteknologi tinggi dalam kondisi baru tersebut didatangkan dari beberapa pabrik di antaranya dari Jerman, Itali dan Taiwan.

Rakhendi menjelaskan, kemampuan mesin CNC dapat diandalkan dan pengalaman selama ini menunjukkan di samping mampu menyelesaikan pembuatan komponen untuk pesawat-pesawat produk sendiri, juga PTDI mampu memasok dalam jumlah besar komponen-komponen pesanan Airbus, Boeing dan Bombardier.

"Sebagaimana sering kami ungkapkan, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk bagian tengah, depan, sayap pesawat A380, pesawat terbesar di dunia yang berlantai dua," kata Rakhendi sembari menambahkan pihaknya saat ini memiliki lebih dari 100 unit mesin CNC dan TNC.

Mesin-mesin yang ada itu sebelumnya telah beroperasi dengan sangat produktif dan rata-rata dioperasikan sedikitnya 15 jam per hari guna memenuhi target produksi yang sudah dijadwalkan penyelesaiannya secara sangat ketat.

Guna menyambut program CN295, saat ini pembangunan Assy (Assembling) CN295 sedang disiapkan oleh PTDI.

Dasar pembuatan pesawat CN295 adalah hasil pengembangan dari pesawat CN235 oleh Airbus Military, di antaranya dengan menambah panjang badan pesawat sekitar3 (tiga) meter, landing gearnya diperkuat dan power enginenya ditambah.

Persiapan yang dilakukan untuk pekerjaan Assy (Assembling) pesawat CN295 yang akan dilakukan, PTDI menyiapkan badan pesawat (fuselage) yang lebih panjang, semua sedang dalam pengerjaan.

Dengan terus mempromosikan pesawat CN235, CN295, NC212-400 serta pesawat N219 (dalam tahap rancang bangun), PTDI saat ini terus berbenah diri dalam segala hal untuk menyambut prospek pasar di kawasan Asia Pasifik yang semakin meningkat, demikian Rakhendi. 



Sumber : Antara

PT DI Incar Proyek Skuadron Tempur Filipina

BANDUNG-(IDB) : Meski sempat dipandang sebelah mata oleh masyarakat sendiri, PT Dirgantara Indonesia ternyata terus eksis. Kini mereka mengincar pengembangan penjualan.

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, menyatakan pada periode 2013-2014, pihaknya membidik proyek pembuatan pesawat bagi sejumlah negara. Antara lain Brunei Darussalam, Filipina, dan Botswana di Afrika. Nilai proyeknya mencapai Rp2,5 triliun.

“Proyek yang siap dikerjakan antara lain 11 unit pesawat untuk skuadron perang, 8 unit pesawat serbu, 3 unit helikopter Bell. Kemudian, 4 unit CN 235, dan 2 unit NC 212,” katanya di Bandung, Selasa (18/9/2012).

Saat ini, PT DI juga konsentrasi menyelesaikan pembuatan pesawat CN235 pesanan Turki. Negara tersebut memesan 10 unit CN235 sejak tahun 2006 dan dalam dua tahun ini diyakini akan diselesaikan. “Kami optimistis bisa mengejar sisa target pemesanan CN235 oleh Turki dalam dua tahun kedepan,” ujar Sonny.

Dia menjelaskan saat ini pihaknya tengah bersiap melakukan flight test (uji coba) pesawat kedelapan. Pesawat CN235 ini rencananya akan difungsikan sebagai pesawat patroli maritim. “Nilai kontraknya cukup besar. Kontrak engineer-nya mencapai US$2 juta/tahun,” katanya.


Sumber : Inilah

PT. DI Kerjakan 11 Helikopter AKS Pesanan TNI AL

Superpuma Anti Kapal Selam
BANDUNG-(IDB) : Selain pesawat sayap tetap versi patroli maritim, minat terhadap helikopter produksi PT Dirgantara Indonesia juga terus menunjukan peningkatan. Kebanyakan heli tersebut ditujukan untuk kepentingan militer.

Pemesannya memang didominasi Kementerian Pertahanan guna memperkuat alutsista TNI. Meski demikian, secara kuantitas, heli yang dipesan relatif signifikan termasuk bagi pendapatan perusahaan. 

Ditambah pesanan terhadap pesawat sayap tetap terutama CN-235 MPA dan anti kapal selam, nilai kontrak yang diraih PT DI mencapai Rp 8,2 triliun. Ini di luar pencapaian tahun 2011 yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

Berdasarkan keterangan Asisten Direktur Utama PT DI Bidang Sistem Jaminan Mutu, Sonny Ibrahim Saleh, sejak 2012, BUMN strategis itu akan menggarap 11 unit heli anti kapal selam AL dan delapan unit heli serang AD. 

"Untuk anti kapal selam jenisnya adalah Superpuma karena faktor peralatan pendukung sedangkan untuk tujuan serang bukan lagi NBO-105 tapi kemungkinan Ecureuil," tandasnya di Bandung, Selasa (18/9).  

Kemungkinan yang dimaksudkan Sonny adalah Eurocopter AS350 Ecureuil. Di saat yang sama, PT DI juga tengah memenuhi pesanan 7 unit heli buatan pabrikan asal Eropa berjenis lainnya. Enam di antaranya untuk AD. 

Jenisnya adalah EC-725 Cougar varian Combat SAR and Personal Recovery. Pengerjaan tersebut di luar jumlah pesanan atas heli angkut personil Bell 412 EP untuk kepentingan TNI.



Sumber : SuaraMerdeka

2014, PT. DI Siap Selesaikan Utang

Wawancara Khusus Direktur Umum & SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero), Sukatwikanto

BANDUNG-(IDB) : Setelah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir, PT Dirgantara Indonesia (Persero) kini mulai bangkit. Order pembuatan pesawat, komponen dan jasa datang dari berbagai negara. PTDI mulai merevitalisasi struktur dan SDM untuk mengimbangi meningkatnya pesanan dan kontrak pembuatan pesawat. Bagaimana itu dilakukan? Berikut wawancara wartawan FAJAR, Hasbi Zainuddin, dengan Direktur Umum & SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero), Sukatwikanto, di ruang redaksi Harian FAJAR, 12 September lalu.

PTDI lebih cenderung memproduksi pesawat untuk militer. Bagaimana perkembangannya?

Klaster pesawat yang dibuat PTDI itu memang lebih kepada military, karena memang sejak awal didirikan, PTDI itu memang memproduksi  pesawat militer. Orientasinya sebagai transportasi sipil dan membantu pertahanan. Meskipun kita belum memproduksi pesawat tempur.

Pembiayaannya bagaimana?

Jika dihitung, total nilai kontrak itu mencapai Rp8 triliun, hingga tahun 2016. Untuk modal dan pembiayaan pesawat ini, kita ambil dari APBN melalui bank pemerintah.

Pembeli itu datang dari mana saja?

Untuk pesawat-pesawat military ini, pembeli kita tahun ini semakin meningkat. Kita bahkan sudah punya kontrak pembuatan pesawat dengan beberapa pembeli dalam negeri dan negara luar. Baik itu berupa unit pesawat, maupun komponen dan jasa.

Selain dari dalam negeri, pemesan kita yang sudah deal itu datang dari beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, UAE (Uni Emirat Arab), Pakistan, Jepang, Malaysia, Brunei, Thailand, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Irlandia. Turki, Burkinafaso, dan Senegal. Negara-negara ini membangun kontrak pembelian pesawat, komponen, dan jasa.

Selain beberapa negara itu, kami juga sementara mengikuti proses tender penjualan pesawat di Filipina. Pesawat tersebut antara lain tiga unit jenis CN 295, 4 unit CN235 untuk seri maritim transport, dan satu unit NC212 untuk seri 200 untuk maritim patroli.

Tendernya sementara berlangsung di Finance State. Kita berharap tahun ini ada beritanya menang. Nah,  di Thailand, kita sudah memenangkan tender satu unit NC 212-200. Penjualan di Thailand dan Filipina ini menambah nilai kontrak Rp8 triliun itu.

Pesawat yang dipesan jenis apa saja?

Macam-macam. Salah satu pemesan kita, Korea, itu menggunakan salah satu jenis pesawat CN235 sebagai pesawat kepresidenan. Sementara Malaysia, menggunakannya sebagai pesawat VIP, setingkat di bawah presiden.

Untuk pesawat, kita mengandalkan N295. Pesawat ini ordernya sudah sembilan unit sampai tahun 2014, oleh TNI Angkatan Udara.

Tahun ini sudah ada dua yang jadi dan kita delivery.

CN295 ini adalah pesawat hasil pengembangan CN235 yang dilakukan Airbush Military. Bedanya, badan pesawat ini lebih panjang tiga meter, sehingga mampu membawa penumpang sampai 50 orang, dengan menggunakan mesin Turboprop Pratt & Whitney yang lebih besar. Pesawat ini juga mampu mengangkut satu unit mobil tank.

PT Dirgantara bekerjasama dengan berbagai pihak dalam hal produksi beberapa pesawat. Apa kerjasama yang paling strategis?

Jadi, pertama yang harus dipahami tentang konsep industri pesawat, tidak ada industri yang memproduksi sendiri pesawat secara utuh. Untuk PTDI, ada tiga jenis produksi kita. Pertama, pesawat yang kita diciptakan sendiri, dan hak kita untuk memproduksi dan menjualnya. Produk itu misalnya, pesawat CN235 yang pembuatannya kita kerjasama dengan CASA.

Pesawat jenis ini adalah buatan Indonesia. Ada juga produk yang underlisence. Kita buat, tapi bukan kita pemiliknya. Itu seperti pesawat NC212-200 dan 400. Kita hanya berhak memodifikasi, mengubah sedikit hidungnya, dan sayap.

Ketiga, industrial cooperation. Artinya, kita hanya membuat komponennya. Nah, untuk ini, PTDI merupakan satu-satunya pembuat komponen untuk bahu pesawat Airbush A380. Untuk komponen itu, kita mendapat order sampai 10 tahun ke depan.

Nah, untuk pemasaran, kami saat ini juga bekerjasama dengan Airbush Military, yang dulunya bernama CASA, dengan ikut membantu mengelola pasar pesawat jenis NC 212-400, CN 235, dan CN 295, di Asia dan Pasifik.

Selain itu?

PTDI juga terlibat dalam pengembangan pesawat tempur multi roles IFX-KFX, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan. Pesawat ini merupakan pesawat tempur generasi 41/2, setara dengan F16++. Dari kerja sama ini, kita target mulai beroperasi tahun 2020 mendatang.

Komposisi saham Indonesia-Korea dalam kerja sama ini sebesar 20-80 persen. Selain PTDI, beberapa pihak yang terlibat dalam pengembangannya antara lain Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai koordinator, Kementerian Ristek (Riset dan Teknologi), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ITB, dan Balitbang Kemhan.

Nah, dengan kerjasama ini, kita tentu memiliki hak untuk memodifikasi, mendesain, dan membangun dua skuadron di Bandung. Meskipun, kalau ada pembeli dari luar negeri, kita dan Korea tentu harus duduk bersama, karena modalnya berdua. Selain itu, tentunya masih banyak lagi kerjasama dan kontrak yang kita lakukan, yang mencukupkan nilai kontrak itu sebesar Rp8 triliun.

PTDI saat ini menunjukkan prestasi yang baik, dan mampu bangkit dari keterpurukan sejak krisis 1998 silam. Apa faktor yang mendukung prestasi besar ini?

Tentu dari sisi kebijakan pemerintahan. Dulu, kita kesulitan karena barang yang dipesan itu bisa kita delivery dalam waktu paling cepat 36 bulan. Kenapa, karena kita dilarang stok. Jumlah barang yang ingin dibuat, harus berdasarkan order, dan pembiayaannya melalui APBN yang diputuskan setiap tahun. Sementara, pemesan maunya 12 sampai 18 bulan sejak ditandatangani kontrak.

Sekarang, pemerintah sudah membolehkan stok, sehingga, pesawat itu bisa kita kirim lebih cepat, bisa sekitar 12 sampai 18 bulan. Pemerintah juga memberi kebijakan, khusus produksi pesawat, pembiayaannya melalui APBN multiyear, bisa sampai tiga tahun sekaligus. Pemerintah juga sudah lebih terbuka memberlakukan kredit impor.

Target keuntungan dari order itu?

Kita sampai sekarang sebenarnya masih menggendong utang. Kita tahun kemarin telah menyelesaikan utang masa lalu terhadap pemerintah yang manfaatnya sebagian sudah kita nikmati. Nah, sekarang masih punya utang riil. Berupa utang bisnis, yang sehari-hari kita gunakan membeli berbagai perangkat industri. Kita perkirakan tahun 2014, dengan order tersebut, utang riil itu bisa kita selesaikan.

Apa harapan Anda?

Untuk itu, yang kami butuhkan adalah tenaga SDM. Kita sedang mencari sarjana teknik yang punya idealisme dan integrasi yang tinggi, yang sanggup bekerja keras, meskipun gaji minim. Kita siap untuk melatih. Perekrutan SDM ini kita lakukan, karena dari sekitar 2.300 tenaga di PTDN, sekitar 70 persen di antaranya akan pensiun sampai tahun 2016 mendatang.
Sumber : Fajar

PT. DI Selesaikan Pesawat CN-235 MPA Turki Yang Ke 8 Dari 10 Yang Dipesan

BANDUNG-(IDB) : Tingkat kepercayaan dunia internasional kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) cukup tinggi. Itu terlihat pada jalinan kontrak antara lembaga BUMN yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Satu di antaranya, adalah Turki.

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, mengemukakan, sejak 6 tahun silam, pihaknya bersepakat dengan Turki untuk mengerjakan 10 unit CN 235. Pemesanan itu merupakan modifikasi. "Turki memfungsikan CN 235 tersebut menjadi pesawat Maritim Patrol," ujar Sonny di PT DI, Selasa (18/9).

Dalam perkembangan pembuatan pemesanan Turki itu, kini, pihaknya siap melakukan flight test (uji coba) pesawat ke-8. Sonny mengatakan, pihaknya optimistis, dalam dua tahun mendatang, pihaknya siap menuntaskan proyek pemesanan Turki tersebut mengingat kontraknya berdurasi 8 tahun atau hingga 2014.

"Nilai kontrak dengan Turki itu tergolong besar. Angka kontrak engineer-nya mencapai 2 juta dolar AS per tahun. Jadi, selama 8 tahun kontrak, nilainya sejumlah 16 juta dolar AS (sekitar Rp 151 miliar.RED)," sebut Sonny.



Sumber : Tribunnews

Kesulitan Modal PT. DI Harus Segera Diatasi

JAKARTA-(IDB) : Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq berharap kesulitan modal yang dialami PT Dirgantara  Indonesia (DI) untuk membiayai pesanan pesawat dari dalam dan luar negeri sekitar 73 unit dengan modal yang dibutuhkan sekitar Rp 7 triliun secepatnya teratasi.

Selain itu, "Saya berharap kondisi itu tidak lantas menghambat pengerjaan pesanan pesawat untuk TNI karena merupakan bagian dari program modernisasi alutsista," tutur Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (11/9).

Mahfudz menjelaskan bahwa saat ini setidaknya Kemenhan telah memesan sembilan unit pesawat CN 295 untuk TNI AU dan beberapa unit pesawat bel untuk TNI AD. "Kami berharap, pengerjaan tetap berjalan lancar dan bisa diselesaikan sesuai jadwal," lanjutnya.

Terkait besaran modal yang dibutuhkan PT DI untuk pengerjaan pesanan puluhan pesawat tersebut, menurut Mahfudz, anggaran negara tak akan cukup untuk menyehatkan cash flow perusahaan ini. "Kementerian BUMN diharapkan segera mengusulkan kebijakan taktis guna menyelesaikan kekurangan masalah modal itu," ujar Mahfuz.

Sementara itu, Menhan Purnomo Yusgiyantoro usai menghadiri raker yang membahas revisi UU Veteran RI menyatakan, meski saat ini PT DI kesulitan dalam permodalan, dipastikan tidak sampai mempengarui pengadaan dan penyelesaian pesanan pesawat untuk TNI.

"Kami optimis pengerjaan pesanan pesawat TNI dapat di kerjakan tepat waktu," tegas Menhan.



Sumber : Jurnamen

Mega Proyek PT Dirgantara Indonesia

Memproduksi helikopter hingga komponen pesawat Airbus. Triliunan Rupiah.
 

JAKARTA-(IDB) : Lama mati suri, Dirgantara Indonesia bikin kejutan. Perusahaan itu mendapat proyek triliunan rupiah. Itu proyek terbesar semenjak perusahaan itu berdiri tahun 1976. Diharapkan dengan proyek raksasa itu, mesin perusahaan ini kembali menderu.

Soal proyek besar itu disampaikan Menteri Badan Usaha Negara (BUMN) Dahlan Iskan kepada para wartawan Jumat 7 September 2012. Setelah lunglai bertahun-tahun, Dahlan menyebut perusahaan itu kini dalam masa rawat jalan, setelah sebelumnya rawat nginap.

Perusahaan itu sedang mengerjakan kontrak pekerjaan senilai di atas Rp7 triliun. Semua proyek itu harus tuntas dalam tiga tahun. Ada banyak jenis proyeknya. Dari membuat helikopter, pesawat CN-212 hingga pembuatan komponen Airbus.

Tentu saja petinggi perusahaan itu gembira dengan kepercayaan itu. "Mereka melaporkan bahwa belum pernah dalam sejarah PT Dirgantara Indonesia mendapatkan pekerjaan sebanyak sekarang ini, termasuk sejak waktu masih bernama IPTN," kata Dahlan Iskan.

Perusahaan itu memang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Nyaris bangkrut ketika krisis ekonomi menggulung Indonesia tahun 1998. Awal tahun 2000 perusahaan ini direstukturisasi dan berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Dahlan menganjurkan agar perusahaan itu sebaiknya fokus menuntaskan semua pesanan yang sudah ada, sebelum merencanakan pengembangan perusahaan lebih lanjut. Sebagai pasien rawat jalan, kata Dahlan, Dirgantara Indonesia jangan disuruh lari marathon dulu. Nanti bangkrut di tengah jalan. “Biarlah senam dulu kemudian jogging dulu baru kelak di suruh lari," katanya.

Kelak ketika sudah sembuh total, dia bisa diajak berlari kencang. Dahlan menyarankan agar perusahaan itu membangun CN-295. Persiapan je arah sana sedang dilakukan. 

Saat ini terdapat 25-50 engineer perusahaan itu berada di Spanyol untuk mendalami teknologi CN-295. Pemerintah memang berencana membeli 9 pesawat CN-295 dari PT DI untuk operasional TNI senilai US$325 juta.

Dalam Negeri dan Luar Negeri

Tiga tahun belakangan perusahaan ini memang sedang kebanjiran proyek dan kerjasama. Dari dalam negeri dan juga luar negeri. Dua tahun lalu, misalnya, mendapat komitmen kontrak pengadaan helikopter. Jenis Bell-412 EP sejumlah 10 unit.

Nilai kontrak ini cukup besar. US$115 juta atau sekitar Rp1,14 triliun. Enam dari helikopter itu adalah pesanan Tentara Nasional Indonesia dan empat lain pesanan Badan SAR Nasional. Perusahaan ini, kata Vice President Marketing & Sales Aircraft Integration PTDI Arie Wibowo saat itu, juga sedang melakukan pendekatan dengan TNI Angkatan Laut. Pendekatan juga dilakukan dengan banyak kalangan.

Ongkos produksi untuk pembuatan satu unit helikopter, kata Arie saat itu, mencapai 60-70 persen dari nilai kontrak. Untuk diketahui bahwa satu unit helikopter diperkirakan bernilai sekitar US$11,5 juta, sebab kontrak 10 helikopter itu senilai US$115 juta.

Darimana dananya? Untuk pembiayaan, kata Arie saat itu, bersumber dari kredit ekspor yang bersumber dari APBN sebesar 15 persen dan sisanya sebesar 85 persen dari pinjaman. Sejumlah bank yang dibidik saat itu adalah Bank Exim Amerika dan institusi pembiayaan di Eropa. Juga dari bank di dalam negeri.

Perusahaan ini sesungguhnya dalam keadaan siap produksi. Peralatan cukup lengkap dengan tenaga ahli yang mumpuni. Perusahaan ini bahkan sanggup memproduksi helikopter jenis Bell-412 EP sedikitnya  4-6 unit per tahun. Helikopter sebanyak itu bisa diproduksi 18 setelah kontrak pengadaan ditandatangani.

Perusahaan ini  juga telah memperoleh kontrak pengadaan pesawat CN-235 sebanyak tiga unit dari TNI AL dan empat unit dari Korea Selatan. Total kontrak pembelian pesawat tersebut mencapai US$ 100 juta. "Tahun 2010, mulai deliver," katanya. Selain Korea Selatan, negara yang juga berminat memesan pesawat CN-235 adalah Spanyol.

CN-235 merupakan pesawat angkut turboprop bermesin dua, yang masuk kategori kelas menengah. Pesawat turboprop merupakan pesawat terbang dengan turbin gas yang terhubung ke baling-baling, untuk menggerakkan pesawat. Memiliki nama sandi Tetuko (nama lain Gatotkaca), CN-235 merupakan pesawat hasil kerja sama IPTN dulu dengan CASA dari Spanyol.

Selain itu, PT Merpati Nusantra Airlines juga berencana memborong 20 pesawat N-212 buatan PT Dirgantara Indonesia seharga US$7 juta atau Rp66,03 miliar per unit. Pesawat N-212 merupakan produk CASA yang lisensinya telah dibeli PT DI untuk diproduksi di Indonesia.

Untuk mendukung bisnisnya, PT DI di awal tahun mendapat dana pinjaman sebesar Rp1 triliun untuk pembuatan pesawat pesanan Kementerian Pertahanan. Pinjaman tersebut untuk menalangi operasional agar pekerjaan dari Kemenhan tetap berjalan. "Supaya dapat kerja. Toh dana itu nantinya akan dapat penggantian dari APBN kalau sudah turun," ujar Dahlan.

Apalagi anggaran Kementerian Pertahanan mendapatkan kucuran dana paling tinggi diantara semua Kementerian/Lembaga. Dalam RAPBN 2012 disebutkan anggaran Kemenhan sebesar Rp72,93 triliun atau naik 5,95 persen dibanding anggaran tahun lalu.

Negara seperti Kazakhstan juga tertarik bekerjasam memproduksi bersama pesawat N-219. Menko Perekonomian Hatta Rajasa pernah menyatakan PT DI bersama perusahaan dari Kazakhstan bekerjasama memproduksi pesawat N-219.

Pesawat N-219 sendiri tengah dikembangkan PT DI untuk melayani penerbangan di wilayah Papua. Spesifikasi N-219 cocok dengan karakteristik landasan di Papua.

Direktur Aerostruktur PTDI, Andi Alisjahbana, menjelaskan N-219 akan dikembangkan khusus untuk membuka wilayah-wilayah remote di Indonesia bagian timur. Papua saat ini memiliki 310 bandara, di mana 285 bandara atau 91 persen di antaranya hanya memiliki panjang landasan di bawah 800 meter. Untuk itu dibutuhkan pesawat-pesawat berukuran kecil. Pesawat-pesawat sejenis Boeing 737 tak bisa masuk karena butuh landasan 2.000 meter.

N-219, lanjutnya, dapat memenuhi syarat landasan tersebut. N-219 yang didesain mengangkut 17 penumpang ini sedang dalam tahap pengembangan. Pada 2014 diharapkan 15 pesawat prototype N-219 sudah dapat diluncurkan. Untuk membangun satu pesawat prototype ini membutuhkan US$4 juta.



Sumber : Vivanews

Irak Segera Akan Borong Senjata Pindad, PAL dan PT DI

JAKARTA-(IDB) : Industri pertahanan Irak-RI mulai dibahas insentif pada 2008. 

Senjata produksi Indonesia sesungguhnya sudah diakui dunia. Banyak negara yang membeli termasuk Irak, negeri 1001 malam yang masih bergolak sepeninggal Sadam Hussein. Proses penjajakan jual beli senjata dengan negeri itu sudah dimulai semenjak masa pendudukan Amerika berakhir pada 2003 lalu.  Sesudah melewati proses yang panjang,  Irak akhirnya memutuskan siap memborong senjata produksi Indonesia. 

Kisah penjajakan jual beli senjata dengan Irak itu dituturkan Direktur Utama PT Pindad, Adik Afianto kepada VIVAnews.com.  Komunikasi dengan pemerintah Irak, katanya, sudah berlangsung lama. "Komunikasi saat itu baru sebatas penjajakan tentang kerjasama berbagai hal," katanya. Adik menjadi  Ketua Tim Koordinator Kerjasama Industri Pertahanan ini dengan Irak.

Puncak dari negosiasi itu adalah ketika Perdana Menteri Irak berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Dia datang untuk memastikan penjajakan kerjasama itu. Sesudah itu negosiasi kemudian dilakukan di level teknis.

Adik dan timnya baru pulang dari Irak empat hari sebelum Lebaran kemarin.
"Alhamdulilah Irak serius dan tidak hanya dengan Pindad, melainkan dengan seluruh industri militer di Indonesia," kata Adik.

Irak memang berencana membeli alutsista dalam jumlah besar dari sejumlah industri strategis di Indonesia. Tidak hanya Pindad, tapi  PT PAL Indonesia (Persero), PT Dirgantara Indonesia, serta beberapa sentra industri kemiliteran lain.

Berapa jumlah senjata yang akan diborong? Adik  belum bisa mempublikasikannya. Tapi jenis senjata yang akan dibeli sudah ada dalam daftar. Adik sendiri yakin Irak akan berpaling ke Indonesia dalam hal kerjasama industri militer.


Sumber : Vivanews

PT. DI Serahkan Empat Unit Helikopter Bell 412EP Ke TNI AD

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Darat menerima empat helikopter serba guna Bell 412 EP dari PT Dirgantara Indonesia (Persero). Helikopter Bell berkemampuan teknis di atas jenis seri-seri helikopter terdahulu.

Penyerahan helikopter dilakukan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Dr. Budi Santoso kepada Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayor Jenderal TNI Sonny Widjaya di pangkalan Pusat Penerbangan Angkatan Darat di Skadron 21/Sena Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (10/8).


Budi Santoso berharap, empat helikopter itu akan membawa pengaruh besar bagi kemampuan TNI, khususnya TNI Angkatan Darat, dalam menghadapi tugas-tugas yang semakin berat. PT Dirgantara Indonesia menyadari kebutuhan alutsista bagi TNI akan terus meningkat.


"Hal ini tentu sejalan dengan tantangan yang semakin beragam, sehingga upaya antisipasi harus terus dioptimalkan. Kami sebagai salah satu penyedia produk alutsista, tentunya harus terus berupaya untuk dapat memenuhi tuntutan yang diminta," kata Budi Santoso.


Budi Santoso mengatakan, TNI Angkatan Darat merupakan pemakai terbesar helikopter-helikopter produksi PT Dirgantara. Di masa mendatang diharapkan TNI Angkatan Darat tetap mempercayakan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan helikopternya pada PTDI.


Bell 412 EP merupakan helikopter serbaguna yang ditenagai sepasang engine, Pratt & Whitney PT6T-3D, dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor. Helikopter ini termasuk kelas menengah dan diawaki oleh satu pilot dan satu ko-pilot serta mampu mengangkut 13 penumpang.


Helikopter Bell 412 EP merupakan Bell 412 generasi baru yang dapat diandalkan. Helikopter ini sebelumnya telah membuktikan kehandalannya dalam berbagai operasi baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.


Sumber : Metrotvnews

PT. DI Jajaki Pinjaman Perbankan Rp 1 Triliun

BANDUNG-(IDB) : Dari 9 pesawat tersebut, hanya tiga pesawat yang akan dikerjakan pada tahun ini

Dirgantara Indonesia (PTDI) menjajaki pinjaman dari sejumlah bank guna memenuhi kebutuhan modal kerja.


Pinjaman ini dimaksudkan untuk menalangi terlebih dahulu dana penyertaan modal negara, sebesar Rp 1 triliun yang hingga kini belum cair.


Menteri BUMN Dahlan Iskan menuturkan, pihaknya telah menyetujui PTDI untuk mencari pinjaman.


“Karena kurangnya anggaran, maka PTDI diizinkan untuk pinjam uang (bank), sekitar Rp 1 triliun lebih,” ujar Dahlan di Jakarta.


Direktur Utama PTDI Budi Santoso menuturkan, pinjaman perbankan tersebut dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis perusahaan tahun ini.


Pasalnya, dana PMN yang akan dikucurkan pemerintah sebesar Rp 1 triliun hingga kini tidak kunjung cair.


Budi mengaku proses penjajakan sudah dilakukan terhadap sejumlah bank BUMN, dan Bank Expor Indonesia guna memenuhi permodalan tersebut.


“Kami sudah ada dana PMN, tapi belum cair juga. Jadi kami cari pinjaman dari perbankan. Sudah ada penjajakan dengan BNI, Mandiri, BRI, juga dengan Bank Ekspor Indonesia. Credit line kami sudah cukup,” ujar Budi.


Menurut Budi, pinjaman tersebut dibutuhkan guna memenuhi modal kerja guna menyelesaikan pesanan yang cukup banyak pada tahun ini.


PTDI saat ini telah menerima pesanan pembuatan sembilan pesawat dari TNI AU hingga 2014 senilai Rp 7 triliun.


Dari 9 pesawat tersebut, hanya tiga pesawat yang akan dikerjakan pada tahun ini.


PTDI juga telah menerima pesanan pembuatan pesawat dari sejumlah negara tetangga.


“Kebutuhan investasi secara keseluruhan saya tidak ingat, tapi investasi untuk bengkel komponen saja sekitar US$ 230-270 juta,” terang dia.


Kerja Sama TNI AU


Sementara itu, PTDI dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyepakati serah terima operasional (BASTO), terkait penyelesaian permasalahan aset tanah di sekitar landasan udara Husein Sastranegara, Bandung.


Menurut Budi, kesepakatan antara PTDI dan TNI AU tersebut bertujuan menata kembali pemanfaatan dan status kepemilikan barang milik negara, yang berupa lahan dan perumahan antara kedua pihak yang berlokasi di sekitar landasan udara Husein Sastranegara Bandung.


“Kami berharap MoU dan BASTO ini merupakan langkah yang sifatnya merupakan win-win solution dan akan mewujudkan tertib administrasi dalam pengelolaan barang milik negara. PTDI dan TNI AU sepakat untuk melaksanakan tukar-menukar tanah milik TNI AU yang selama ini digunakan untuk kegiatan produksi oleh PTDI dengan tanah dan bangunan termasuk rumah dinas milik PTDI,” ujar Budi.


Budi menjelaskan, PTDI awalnya merupakan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) yang dibentuk oleh Kepala Staf Angkatan Udara pada 1961.


Dengan demikian, tidak aneh bila banyak aset TNI AU yang dipergunakan oleh PTDI, termasuk tanah yang akhirnya diserahkan kepada PTDI.


“Sayang masalah administrasi yang diperlukan untuk pengalihan status kepemilikan belum diselesaikan. Sebagian perkantoran dan hanggar untuk kegiatan produksi PTDI dibangun di tanah atas nama TNI AU,” tambah dia.


Di sisi lain, TNI AU membutuhkan lahan dan bangunan serta fasilitas rumah dinas yang terletak di sebelah selatan landasan udara Husein yang statusnya dimiliki oleh PTDI.


Oleh karena itu, dalam jangka panjang dan memudahkan kegiatan sehari-hari, kegiatan produksi PTDI akan dikonsentrasikan di area yang terletak di sebelah utara landasan Lanud Husein.


Sedangkan aset milik PTDI yang ada di selatan, akan diserahkan kepada pihak TNI AU untuk memenuhi kebutuhannya.


Dalam pertukaran tanah tersebut, pihak TNI-AU mengizinkan PTDI untuk melanjutkan pemanfaatan tanah miliknya, yang terletak di kawasan produksi IV seluas 115.355 m2 dan disposal area seluas 20.942 m2, ser ta tanah di kawasan produksi II seluas 397.000 m2, yang telah termasuk dalam ser tifikat hak guna bangunan (HGB) hingga berakhirnya masa berlaku pada 21 Mei 2014.


Hal lain yang disepakati adalah pemanfaatan aset lahan milik TNI AU seluas 50.278 m2 yang terletak di Landasan Udara Wiridinata Tasikmalaya, Jawa Barat, sesuai pola kerja sama pe- manfaatan (KSP) aset.


Sebaliknya, PTDI memberikan izin kepada TNI AU untuk memanfaatkan tanah dan bangunan termasuk rumah dinas miliknya, yang terletak di selatan Landasan Udara Husein seluas 110.815 m2, untuk pengembangan fasilitas penerbangan baik militer maupun sipil dan dukungan per umahan bagi personel TNI AU.


Sumber : BeritaSatu

PT. DI Tuntaskan Tiga Pesawat Korea KT-1B Pesanan TNI AU

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia berhasil menuntaskan pemesanan Korea untuk merakit tiga pesawat KT-1B. Proses pengerjaan pesawat ini memakan waktu lebih dari empat bulan.

"Pengerjaan perakitan pesawat KT-1B ini dimulai sejak April dan hari ini (Rabu) akan kami serahkan kepada Korea," ujar Manager Bisnis Integrasi Direktorat Aircraft PT DI Simet Kadan kepada wartawan usai acara Indonesia-Japan Join Airbone Campaign Pisar-L2 di kawasan PT DI, Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Rabu (8/8).

Dia menjelaskan pesawat ini memiliki akselerasi yang sangat baik sehingga tergolong pesawat aerobatik ataupun trainning. Pesawat ini bisa bergerak gesit karena didukung baling-baling turbo dibagian mocong pesawat.

"Ukurannya lebih besar dari maseraty dan mesinnya pun bandel," ucapnya.

Lebih lanjut dia menuturkan pada proyek perakitan pesawat ini, PT DI hanya berperan sebagai subkontraktor. Pasalnya, proyek kerjasama berlangsung antara Korea Selatan dengan TNI Angkatan Udara.

"Kita hanya subkontraktornya saja. Perjanjiannya sih antara Korea dengan TNI AU," jelasnya.

Setelah perakitan tiga pesawat ini, katanya, PT akan merakit dua pesawat lagi karena total ordernya mencapai lima pesawat. Korea Selatan menaruh kepercayaan kepada PT DI karena kerjasama serupa pernah berlangsung pada tahun 1998.

"Pada 1998 kami juga mendapat order dengan volume yang sama. Bahkan, PT DI juga telah diminta mengimprove pesawat yang lama dengan teknologi Automatic Radar Treat System (ARTS) di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Ada sekitar 11 orang yang mengerjakannya proyek tersebut," pungkasnya. 


Sumber : Inilah

PT. DI Diminta Menteri BUMN Manfaatkan Peluang Anggaran TNI Yang Sangat Besar

JAKARTA-(IDB) : Menteri BUMN Dahlan Iskan memerintahkan PT Dirgantara Indonesia untuk menyambut dan menangkap besarnya anggaran TNI pada tahun ini. Dengan besarnya anggaran TNI tersebut, otomatis akan membuat pesanan pesawat untuk pertahanan akan meningkat, sehingga PTDI mempunyai proyek yang cukup besar untuk dikerjakan. 

“Program ekonomi bisa lebih cepat lagi dengan sinergi ini. PTDI sedang menggeliat dan ini merupakan momentum bagi PTDI untuk naik,” ungkap Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (7/8). 

Besarnya anggaran TNI ini harus dimanfaatkan oleh PTDI sebagai bidang kerja strategis yang baik, dan pekerjaan akan banyak datang dari TNI dan pertahanan. 

“Ordernya akan sangat banyak. Teman-teman BUMN harus serius menangkap tugas dari kementerian pertahanan. Jangan terlambat,” tegas Dahlan. 

Mantan Dirut PLN ini kembali menyebutkan saat ini adalah momentum terbaik untuk PTDI setelah mengalami masa-masa sulit beberapa waktu lalu. Dahlan memerintahkan agar pengambilan kesempatan tersebut bisa dikerjakan dengan baik. “Bukan hanya PTDI, PT PAL juga harus memanfaatkan momentum ini dan anggaran dari kementerian pertahanan,” tambahnya. 

Untuk kemajuan ini, Dahlan juga membolehkan PT DI untuk meminjam uang kepada pihak ketiga jika kekurangan dana dalam bekerja. “Silahkan ambil ke bank untuk pembelian peralatan sebelum anggaran kementerian pertahanan turun,” pungkasnya. 

Tahun ini TNI telah menerima alokasi anggaran sebesar Rp 72,5 triliun atau naik 27 persen dibanding tahun sebelumnya.


Menteri BUMN Akan Rombak Direksi PT. Dirgantara Indonesia

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan tengah membenahi susunan direksi PT Dirgantara Indonesia Persero menyusul ketidakkompakan yang terjadi di BUMN industri pesawat terbang tersebut.

"Selama ini, orang-orangnya hebat-hebat namun saya meragukan kekompakannya. PT Dirgantara Indonesia akan memiliki tim yang kuat," kata Dahlan di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (7/8).


Menurut Dahlan, ketidakcocokan di antara manajemen harus dihilangkan, karena dapat mengganggu performa perusahaan. Oleh sebab itu, dalam pekan ini Dahlan akan mengumumkan tim baru Dirgantara Indonesia. "Kalau industri ini tidak kita majukan, takutnya kinerja semakin menurun. Ini tidak boleh terjadi," kata Dahlan.


Dahlan mengakui saat ini Dirgantara Indonesia mendapatkan proyek dari Kementerian Pertahanan. Namun, untuk merealisasikannya perseroan terkendala masalah keuangan. Oleh sebab itu, ia mengimbau perseroan meminjam fasilitas kredit perbankan.


"Untuk mengejar pekerjaan yang dipercayakan oleh Angkatan Udara, PT Dirgantara Indonesia bisa pinjam duit dulu sebelum anggaran dari Kemenhan cair. Kami mengharapkan teman-teman BUMN dapat menangkap peluang itu," urai Dahlan.


PT Dirgantara Indonesia menjalin kerja sama dengan TNI Angkutan Udara untuk melaksanakan tukar menukar tanah dengan bangunan, termasuk rumah dinas. Tanah milik TNI Angkatan Udara yang saat ini dipergunakan untuk kegiatan produksi PT Dirgantara Indonesia ditukar dengan tanah dan bangunan termasuk rumah dinas milik PT Dirgantara Indonesia, yang terletak di selatan landasan Lanud Husein Sastranegara.



Sumber : Metrotvnews

Sejarah 36 Tahun Jatuh Bangun PT. DI

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia (Persero), akrab disebut ringkas PTDI, adalah salah satu industri kedirgantaraan terkemuka Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang bangun, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang.
Agustus ini PTDI memasuki usia 36 tahun. Usia yang seharusnya membuat satu perusahaan sukses.

Namun karena sejumlah faktor, diantaranya krisis moneter 1997-2000, PTDI harus menjalani keadaan jatuh bangun. Bukan hal mudah mempertahankan keberadaan sebuah perusahaan, apalagi perusahaan kedirgantaraan.

PTDI resmi berdiri pada 23 Agustus 1976, namun aktivitas pembuatan pesawat terbang telah berlangsung setahun setelah Indonesia merdeka, ditandai dengan tdibentuknya Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat pada Tentara Republik Indonesia (TRI) tahun 1946.

Semula berkedudukan di Madiun, aktivitas itu kemudiann dipusatkan di Bandung. Lalu, pada 1953, mendapat wadah baru bernama Seksi Percobaan. Empat tahun kemudian menjadi Sub-Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat Terbang.

Pada 1960, ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP).  Lima tahuh setelah itu berubah menjadi Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP).

Pada 1966 KOPELAPIP digabungkan dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) dengan produk yang dihasilkan antara lain pesawat Sikumbang, Belalang 85/90, Kunang, Super Kunang, Gelatik / PZL-Wilga (lisensi dari Ceko–Polandia).

Tahun 1975, PT Pertamina membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) untuk menyiapkan infrastruktur bagi industri kedirgantaraan Indonesia.

Berdasarkan Akte Notaris No.15 tanggal 24 April 1976, berdirilah PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dipimpin Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie dengan menggunakan aset gabungan LIPNUR dan ATTP, berupa dua hanggar, beberapa mesin konvensional dan sekitar 500 karyawan.

Program utamanya memproduksi Helikopter NB)-105 (lisensi MBB) dan NC212(lisensi CASA Spanyol).

Perusahaan ini resmi didirikan pada 23 Agustus 1976 oleh Presiden Republik Indonesia.

Tiga tahun kemudian, bersama-sama CASA Spanyol, perusahaan ini merancang pesawat baru CN235 yang kini dioperasikan banyak negara di dunia, termasuk jenis pesawat serba bisa tidak mengenal tua yang mampu berperan pada segala zaman seperti C-130 buatan Lockheed, Amerika Serikat.

Pada April 1986, melalui Keputusan Presiden (Kepres) no.15/1986 dan Rapat Umum Pemegang Saham, nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio diganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pada priode ini, IPTN secara mandiri telah berhasil membuat rancang bangun pesawat terbang N-250.

Didesak perubahan lingkungan eksternal, perusahaan mereorientasi bisnisnya dengan diantaranya mengubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Nama baru ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Dengan visi perusahaan menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri dirgantara berbasis teknologi tinggi dan mampu bersaing di pasar global mengandalkan keunggulan biaya, PTDI membangun bisnisnya dalam beberapa penggolongan pekerjaan, Aircraft Integration, Aerostructure, Aircraft Services, Teknologi dan Pengembangan,

Pengakuan Di Tengah Keprihatinan

Kemampuan dan keberhasilan PTDI dalam menguasai teknologi yang diterapkan dalam bidang desians, manufaktur, jaminan kualitas, dukungan produk, pemeliharaan dan overhaul pesawat terbang, membuat PTDI memperoleh berbagai sertifikasi pengakuan dari pihak otoritas , baik dalam negeri maupun luar negeri.

Penguasaan teknologi dan pengakuan dunia telah membuat peran PTDI dalam pembangunan nasional sangat terasa dengan diproduksi dan dipasarkannya produk-produk dan jasa pesawat terbang ke pasar global.  Ini menghasilkan devisa dan pajak bagi negara.

PTDI juga menghasilkan SDM kedirgantaraan profesional yang berdampak positif pada industri lainnya.

PTDI juga secara nyata telah memberi kontribusi pada kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

PTDI masih terus memproduksi pesawat CN235 sebagai produk unggulan, di samping NC212 dan helikopter (Superpuma dan Bell 412), dan membangun produk terbaru N-219 yang berkapasitas 19 orang penumpang yang dirancang untuk melayani kebutuhan penerbangan perintis.

Untuk meningkatkan prospek bisnisnya, PTDI bekerjasama dengan Airbus Military untuk memproduksi dan memasarkan C295 di Asia Pasifik.

Pesawat ini basisnya adalah CN-235 sehingga pengerjaannya tidak mmemerlukan upaya lebih.

amun menginjak umur 36 tahun, PTDI boleh disebut belum mampu berdiri tegak karena dibelik banyaknya persoalan.

Berawal dari krissis moneter yang menimpa Indonesia pada 1997,  dilanjutkan dengan Letter of Intent (LoI) pemerintah Indonesia dan IMF pada 1998, membuat Indonesia salah satunya tidak boleh lagi berdagang pesawat sehingga pemerintah tidak boleh lagi mengucurkan dana kepada PTDI yang saat itu bernama PT IPTN).

Padahal saat itu PTDI telah menerima order milyaran dolar AS untuk produksi pesawat N250.

Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan, semua siap memproduksi N250 (pesawat hasil rancang bangun karyawan-karyawati PTDI), bahkan prototipe N250 juga sudah dibuat dua buah dan diterbangkan, siap jual serta tinggal menunggu proses sertifikasi saja.

PTDI juga telah merekrut karyawan begitu banyak sehingga total karyawan menjadi 17.000 karyawan. Ini total karyawan yang pantas untuk sebuah perusahaan dirgantara yang memang padat SDM. Sebagai perbandingan, Boeing memiliki personil sangat besar, 150.000 orang.

Namun kesepakatan dengan IMF itu menghancurkan mimpi. Proyek N250 batal, sementara perusahaan harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang terlanjur direkrut itu.

Akibatnya manajemen PTDI menawarkaan pensiun atas permintaan sendiri (APS).

Priode 1999 - 2001, PTDI berusaha bangkit dengan mengembangkan unit-unit bisnis, agar perusahaan tetap menjalankan roda bisnisnya. Pada priode ini, PTDI sempat menikmati keuntungan usaha.

Namun kemudian kian besarnya demonstrasi membuat kinerja PTDI merosot drastis, dan citra pun terkikis.

Pada 2003, manajemen PTDI memutuskan mengambil upaya penyelamatan dengan merumahkan seluruh karyawan, kecuali sebagian kecil yang benar-benar dibutuhkan.

Beberapa bulan kemudian karyawan dipanggil untuk bekerja kembali namun melalui saringan ujian tes tulis dan tes kompetensi.

Tahun 2004, Sebanyak 6.561 Karyawan Di PHK.

Berkurangnya karyawan, tidak membuat perusahaan menjadi efisien dan efektif. Hal tragis terjadi pada September 2007 ketika PTDI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta. Namun Desember tahun itu juga, statud pailit itu dicabut. Akal sehat bangsa ini ternyata masih logis.

Pada 2008 - 2009, PTDI berusaha bangkit kembali. Penjualan senilai Rp557 milyar pun diraup.

Hingga 2010, nilai penjualan PTDI meningkat kurang lebih Rp1 trilyun. Tapi PTDI sejatinya masih merugi. Keuntungan yang didapat belum bisa menutupi pengeluaran.

Sampai akhir 2011, jikaa tidak didukung dana talangan pemerintah, PTDI diprediksi mengalami defisit arus kas senilai Rp675 milyar akibat beberapa faktor seperti kesulitan likuiditas untuk membiayai pekerjaan yang sudah terkontrak dan tekanan beban operasional.

Itulah, serentetan masalah yang dialami PTDI dalam masa surut demi mempertahankan diri sebagai industri kebanggaan Indonesia tercinta ini.

Bangun Kembali

Hingar bingar PTDI terdengar sampai ke wilayah terpencil. Demontrassi eks karyawan PTDI untuk menjatuhkan perusahaan selalu menjadi headline suratkabar-suratkabar terkemuka.

Begitu juga kerasnya suara beberapa wakil rakyat yang menginginkan PTDI dibubarkan karena terus merugi.

Namun semua itu mampu dilalui PTDI dengan penuh sabar dan kerja keras. Semua usaha yang dapat menghasilkan duit telah dilakukan.

Hasilnya, PTDI bangkit kembali.  Masa sulit telah dilewati.

Pemerintah juga mulai serius melihat PTDI dengan menunjuk PT. PPA (Perusahaan Pengelola Aset) untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi PTDI.

Sayap bisnis kembali mengepak untuk terbang membawa PTDI menjadi perusahaan yang sehat dan stabil.

Di balik gerakan bangun kembali ini, berdiri kokoh jajaran manajemen puncak, menengah dan bawah dengan idealisme tinggi membangun PTDI.

Sambil menunggu turunnya dana program restrukturisasi dan revitalisasin sekitar Rp2 trilyun  --tahap pertama Rp1 trilyun pada 2012 dan sisanya tahun 2013-- beberapa pekerjaan tuntas dikerjakan.

Menunjukkan Kemajuan

Pada periode ini PTDI diam-diam mencatat satu demi satu keberhasilan bisnis, diantaranya mengirimkan 2000 komponen Airbus A320/A321, pesanan empat unit pesawat intai maritime canggih CN235 Korean Coast Guard, mengirimkan tailboom MK II EC725 / EC225 ke EuroCopter dan kontrak kerjasama dengan Airbus untuk pembuatan sembilan unit pesawat transportasi militer C295 untuk TNI AU.

Catatan istimewa, sejak 2011 PTDI telah disertakan dalam pekerjaaan rancang bangun oleh Airbus Industries dalam proyek pesawat komersil berbadan lebar untuk masa depan, Airbus A350.

Juli lalu, PTDI bersinergi dengan PT Merpati Nusantara (Persero) untuk pembuatan 20 unit pesawat NC212-400.

Sebelumnya, PTDI menandatangani nota kesepahaman pembelian 20 unit N219 dengan PT NBA yang meski menghasilkan pesawat kelas kecil tetapi punya arti strategis, baik bagi kepentingan negara 17.000 pulau ini, maupun bagi PTDI.

Catatan istimewa lain dalah kesertaan PTDI sebagai pembuat tunggal komponen penting sayap A380, pesawat komersil bertingkat dua dan terbesar dunia sekarang ini.

Catatan keberhasilan ini berlanjut dengan dipesannya tujuh unit helikopter NBell 412 versi militer di mana dua unit sudah bertugas untuk TNI AD dan satu lainnya oleh TNI AL.

Juga, kerjasama jangka panjang untuk membangun pusat unggul bidang pertahanan dan dirgantara bersama NSI (Nusantara Secom Interface) dan Dessault Systems Perancis, kontrak pembelian tiga unit CN235 oleh TNI AL, CN235 MPA yang telah diserahterimakan kepada TNI AU dan penyerahan CN235-220 AT VIP ke Senegal Air Force, kerjasama dengan Iberia Maintenance Spanyol dalam bidang perawatan, pemeliharaan dan operasi serta pekerjaan-pekerjaan komponen pesanan Boeing untuk B777 and B787.

Last but not least, langkah besar sampai puluhan tahun ke depan ini berpijak pada fondasi-fondasi yang dibangun PTDI berupa program pesawat temput supercanggih masa depan yang sementara ini dinamai KF-X.  Pesawat ini berkelas jauh di atas F-16 bahkan Sukhoi-30.

Selain itu mengirimkan personil-personil dan kader ke Korea Selatan, mendirikan pusat rancang bangun KF-X di Bandung yang berhubungan instan dengan gedung pusat KF-X di Daejon, Korea Selatan.

Semoga ini menunjukkan PTDI mampu membuktikan sebagai salah satu industri strategis yang benar-benar andalan bangsa, khususnya dalam penyediaan alut sista dirgantara.

Semua upaya ini tercepai berkat perhatian dan dukungan penuh pemerintah, kerja keras dan dedikasi ikhlas seluruh jajaran PTDI.
 
 
Sumber : Analisa

CN-235 Produk Unggulan PT. DI, Kebanggaan NKRI

BANDUNG-(IDB) : Dalam kesempatan kunjungan resmi ke Korea Selatan sebagai kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia,salah satu acara formal adalah mengunjungi lokasi strategis Angkatan Udara Korea di luar Kota Seoul.

Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk. Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat rotary wing yang tadi.

Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan. Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis CN-235.

Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP,sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang “asli” buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.

Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini.Konon,belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.

 Terus terang,sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih,termasuk lantainya.Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan Bandung!

Di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.Ada rasa ingin tahu,apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata,Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.

Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato’ Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya. Jenderal Dato’ Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.

Secara kebetulan, Jenderal Dato’ Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya “nikmat” menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules. Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.

Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun! Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.

Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global. Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.

CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita.Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur “asem dengan beling” alias assembling alias “jahit obras” belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.

 Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur assembly-lineaircraft manufacturer yang bernama PTDI.

Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan “jalanpintas” yang selalu saja merangsang alias “menggiurkan” itu. Marilah kita semua mempertebal iman di dalam bulan Ramadan yang suci ini. Selamat menjalankan ibadah puasa! 


Sumber : Sindo 

PT. DI Terus Kembangkan Pasar Komersial

BANDUNG-(IDB) : CN-235 dan N-295 memiliki keunggulan terutama untuk penerbangan perintis.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tak hanya membuat pesawat versi militer. Tapi, terus berupaya mendorong pasar pesawat sipil dan komersial.


"Dalam beberapa tahun terakhir ini pesanan ke PT DI kebanyakan pesawat militer. Tapi bukan berarti hanya membuat pesawat versi itu, pasar sipil terus dikembangkan, baik untuk CN-235 maupun N-295," kata Kepala Divisi Kepatuhan dan Komunikasi PTDI Sonny Saleh Ibrahim di Bandung, hari ini.


Dia mengakui, bila pesawat CN-235 yang diproduksi dalam satu dekade terakhir adalah versi Maritime Patrol Aircraft atau patroli maritim pesanan Korea Selatan. Juga pesanan sejumlah N-295 dari TNI-AL dan TNI-AU juga untuk versi militer.


Namun demikian, kedua pesawat andalan PT DI tersebut memiliki keunggulan untuk versi sipil terutama untuk penerbangan perintis.


"N-295 contohnya, langsung dipesan oleh TNI-AU sehingga ada image versi militernya. Padahal juga sangat cocok untuk pesawat sipil karena bisa melakukan pendaratan di landasan yang pendek," kata Sonny Saleh.


PT DI memiliki lisensi untuk pemasaran pesawat itu di kawasan Asia Fasific. Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan kerjasama bersama perusahaan pesawat terbang Eropa dan AS pengembangan pasarnya bisa lebih luas, termasuk ke Amerika Selatan.


Sonny menyebutkan, saat ini PT DI terjalin kerjasama dengan sejumlah pabrikan pesawat terbang dunia seperti Boeing, Eurocopter, Sukhoi, Airbus dan lainnya.


"Dalam memproduksi N-295 PT DI bekerjasama dengan Airbus Military, pemasaran ke Amerika Selatan cukup terbuka," kata Sonny.


Sementara itu. program revitalisasi PT DI yang ditandai dengan penanaman modal negara (PMN) diprediksi akan mengembalikan performance perusahaan dirgantara Indonesia itu terutama dalam memproduksi pesawat-pesawat terbang.


Menurut Sonny, CN-235 dan N-295 merupakan pesawat yang memiliki klasifikasi yang sangat bersaing. Bahkan Korea beberapa tahun lalu telah membeli empat pesawat CN-235 bersi VIP dan VVIP.


"Korea Selatan saat ini menjadi pengguna CN-235 paling banyak yakni 12 unit, termasuk untuk versi patroli maritim," katanya.


Terkait pasar N-295 yang akan dikembangkan PT DI, kata Sonny peminatnya cukup bagus. PT DI telah melakukan promosi dan mengikuti pameran untuk memperkenalkan produk terbaru produk perusahaan kedirgantaraan nasional itu.


"TNI-AU sudah jelas memesan untuk mengganti pesawat Fokker yang sudah di grounded, TNI-AL juga. Juga sudah melakukan penawaran ke sejumlah negara di Asia Fasific," kata Sonny Saleh menambahkan.


Sumber : BeritaSatu

PT. DI Hingga 2016 Sudak Kantongi Kontrak Senilai Rp. 8 Triliun

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia (DI) siap melakukan revitalisasi untuk mencapai kinerja terbaiknya. "Kami siap revitalisasi. Saat ini terjadi kesepakatan kontrak dengan berbagai pihak yang memberikan garansi kepada kami untuk meneruskan aktivitas perusahaan minimalnya hingga 2016. Nilainya mencapai Rp 8 triliun," kata Direktur Umum dan SDM PT DI, Sukatwikanto, di PT DI, Bandung, Rabu (18/7/2012). 

Sukatwikanto mengatakan, sampai kini pihaknya membutuhkan dana bagi modal kerja yang nilainya Rp 2,06 triliun. Saat ini pemerintah baru menyetujui dana modal kerja bernilai Rp 1 triliun. Dana itu bagi restrukturisasi perusahaan. 

"Dana modal kerja  Rp 2,06 triliun tersebut untuk pembelian sejumlah mesin baru agar meningkatkan kapasitas produksi. Jika kapasitas produksi bertambah, kami dapat memenuhi semua pemesanan sesuai kontrak," ujarnya. 

Sukatwikanto menyatakan, pihaknya telah menerima pemesanan pembuatan komponen pesawat dari berbagai negara. Satu di antaranya bekerja sama dengan Airbus Military yang bermarkas besar di Madrid, Spanyol. "Bentuk kerja sama itu bukan merger. Ini kerja sama yang menguntungkan. Soalnya, kami dapat melebarkan pasar secara lebih luas lagi," katanya. 

Dalam kerja sama itu, proses produksi CN 235 dan CN 295 tidak hanya berlangsung di Tanah Air, tetapi dapat juga dilakukan di Spanyol. 

Adanya kerja sama dengan Airbus Military ini membuat PT DI bersiap membidik Amerika Selatan sebagai pasar baru. Menurut Sukatwikanto, Amerika Selatan merupakan pasar potensial untuk memasarkan CN-235 dan CN 295. 

Dalam kerja sama PT DI-Airbus Military, kata Sukatwikanto, pihaknya tidak hanya membuat CN 235 dan CN 295, tetapi juga membuat komponen pesawat Airbus.

"Akan tetapi, sebaiknya harus ada perimbangan antara naiknya pemesanan dan ketersediaan serta kesiapan sumber daya manusia (SDM). Nah, rencana revitalisasi itu pun mencakup SDM," ujarnya. 

Karena itu, PT DI siap melakukan perekrutan karyawan terampil hingga 2017. Pihaknya menargetkan jumlah rekrutan baru sebanyak 1.500 orang karyawan. Setiap tahunnya, PT DI siap merekrut sekitar 300 orang karyawan yang merupakan tenaga ahli engineering untuk mengganti tenaga yang pensiun. 


Sumber : Kompas

Angkatan Laut Pakistan Tertarik Akuisisi CN-235 MPA PT. DI

CN-235 MPA Korea Selatan
BANDUNG-(IDB) : Angkatan Laut Pakistan tertarik membeli beberapa unit CN235 yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

“Angkatan udara Pakistan telah membeli CN235. Mudah-mudahan angkatan lautnya segera menyusul, sebab Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan tertarik pada CN235 MPA untuk  kepentingan patroli maritimnya,” kata Kepala Tim Komunikasi PTDI, Sonny Saleh Ibrahim di Bandung pekan lalu.

Kamis pekan lalu, Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan Laksamana Muhammad Asif Sandila dan stafnya mengunjungi PTDI di Bandung, sekaligus menyatakan tertarik membeli pesawat CN235 MPA (Maritime Patrol Aircraft).

Menurut Sonny, kedatangan rombongan militer dari Pakistan ini untuk menggali informasi lebih jauh menyangkut kemampuan PTDI dalam membuat pesawat, termasuk pesawat CN235.

Saat itu mereka diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan direksi lainnya.

Pakistan adalah salah satu pelanggan PTDI, sementara Angkatan Udara-nya telah mengoperasikan empat unit CN235, meliputi tiga unit versi transportasi militer dan satu unit versi VIP.

”Dengan adanya kunjungan Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan ke PTDI diharapkan Pemerintah Pakistan membeli lagi pesawat CN235, karena CN235 merupakan pesawat serba guna dan mampu diandalkan untuk patroli maritim,” kata Sonny.

CN235 bisa menjadi salah satu alat utama persenjataan karena memiliki ”ramp door” (pintu pembuka dan penutup di bagian belakang pesawat sehingga barang-barang  besar bisa masuk dan keluar melalui pintu itu) dan ideal untuk menjangkau wilayah-wilayah berjarak sedang.

Sonny menjelaskan, Kamis pekan lalu itu datang juga ke PTDI delegasi Filipina dibawah pimpinan pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Pio Lorenzo F Batino, didampingi Dirjen Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Mayjen Puguh Santoso.

Menurut Kepala Tim Komunikasi PTDI, sebagian petinggi militer Filipina sempat mengira PTDI sudah tidak memproduksi pesawat lagi, sedangkan maksud kunjungan mereka ke Indonesia dan PTDI adalah ada  minat Pemerintah Filipina untuk membeli dua unit CN235 MPA.

Ia mengungkapkan, CN235 adalah pesawat “commuter” serbaguna. Salah satu varian yang dikembangkan oleh PTDI adalah untuk patroli maritim. TNI AU sudah mengoperasikan CN235 MPA sejak 2008.

TNI Angkatan Laut sudah memesan lima unit dan saat ini dalam proses pembuatan. Negara lain yang sudah mengoperasikan adalah Turki dan Korea Selatan. 


Sumber : Antara