Tampilkan postingan dengan label Iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iptek. Tampilkan semua postingan

Kebanjiran Order, PT. DI Beli Mesin Baru Pembuatan Pesawat

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak masuk pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

"Kami kebanjiran pesanan, makanya permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna.

Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasinya, sehingga selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, juga pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak delapan unit dan lima unit lainnya dalam proses kedatangan.

Mesin tersebut adalah mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P.

Mesin-mesin berteknologi tinggi dalam kondisi baru tersebut didatangkan dari beberapa pabrik di antaranya dari Jerman, Itali dan Taiwan.

Rakhendi menjelaskan, kemampuan mesin CNC dapat diandalkan dan pengalaman selama ini menunjukkan di samping mampu menyelesaikan pembuatan komponen untuk pesawat-pesawat produk sendiri, juga PTDI mampu memasok dalam jumlah besar komponen-komponen pesanan Airbus, Boeing dan Bombardier.

"Sebagaimana sering kami ungkapkan, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk bagian tengah, depan, sayap pesawat A380, pesawat terbesar di dunia yang berlantai dua," kata Rakhendi sembari menambahkan pihaknya saat ini memiliki lebih dari 100 unit mesin CNC dan TNC.

Mesin-mesin yang ada itu sebelumnya telah beroperasi dengan sangat produktif dan rata-rata dioperasikan sedikitnya 15 jam per hari guna memenuhi target produksi yang sudah dijadwalkan penyelesaiannya secara sangat ketat.

Guna menyambut program CN295, saat ini pembangunan Assy (Assembling) CN295 sedang disiapkan oleh PTDI.

Dasar pembuatan pesawat CN295 adalah hasil pengembangan dari pesawat CN235 oleh Airbus Military, di antaranya dengan menambah panjang badan pesawat sekitar3 (tiga) meter, landing gearnya diperkuat dan power enginenya ditambah.

Persiapan yang dilakukan untuk pekerjaan Assy (Assembling) pesawat CN295 yang akan dilakukan, PTDI menyiapkan badan pesawat (fuselage) yang lebih panjang, semua sedang dalam pengerjaan.

Dengan terus mempromosikan pesawat CN235, CN295, NC212-400 serta pesawat N219 (dalam tahap rancang bangun), PTDI saat ini terus berbenah diri dalam segala hal untuk menyambut prospek pasar di kawasan Asia Pasifik yang semakin meningkat, demikian Rakhendi. 



Sumber : Antara

India Kirim Misi Ke Mars Tahun 2013

BANGALORE-(IDB) : India berencana meluncurkan wahana luar angkasa yang mengorbit Planet Mars pada November 2013. Waktu ini dipilih karena pada saat itu Mars alias Planet Merah sedang berada pada jarak yang sangat dekat dengan Bumi.

Pihak India berniat menempatkan wahana luar angkasa pada sebuah orbit yang elips untuk mempelajari atmosfer dan mendeteksi adanya kehidupan di permukaan Mars.

Proyek ini akan menandai langkah lain dari program luar angkasa India yang ambisius. Tiga tahun lalu India berhasil menempatkan wahananya di permukaan Bulan. Langkah ini akan diikuti dengan pengiriman wahana luar angkasa berawak pada tahun 2016.

Menurut Kepala Riset Luar Angkasa India (ISRO) K Radhakrishnan, sebagaimana dikutip kantor berita AP, Selasa (18/9/2012), misi tak berawak ke Mars ini akan menelan biaya hampir 5 miliar rupee atau sekitar Rp 810 miliar. Langkah ini memberikan kebanggaan secara nasional bagi India, sekalipun tidak sedikit kritik pada pemerintahan di New Delhi yang belum juga mengatasi masalah kemiskinan dan kurang gizi di kalangan anak-anak.

Pada September 2009, wahana luar angkasa Chandrayaan-1 milik India membuktikan adanya air di permukaan Bulan. Hal ini membuktikan bahwa India sebagai negara dengan kemampuan luar angkasa dan punya pengalaman hebat dibanding negara-negara lain yang punya pengalaman luar angkasa. Sebagai informasi, AS, Rusia, dan China termasuk dalam negara yang sudah mengirim misi ke Mars. 



Sumber : Kompas



BANDUNG-(IDB) : HELI TANPA AWAK. Mahasiswa teknik penerbangan ITB melakukan pengecekan kondisi hasil rakitan heli tanpa awak Tricopter bersistem kamera pengintai, pada Indonesian Aerial Robot Contest (IARC) 2012, Bandung, Jabar, Minggu (16/9). IARC merupakan kompetisi robot pesawat tanpa awak se-Indonesia guna meningkatkan penguasaan teknologi penerbangan dirgantara Indonesia dan mengurangi resiko human error ketika misi pengintaian tempur, rescue dan bencana alam


Sumber : Antara

Robot "Kuda Tempur" Canggih Militer AS

WASHINGTON-(IDB) : Robot canggih ini akan segera melengkapi armada pasukan tempur Amerika Serikat. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) baru-baru ini menunjukkan prototipe produk andalannya, Legged Squad Support System (LS3), robot pengangkut militer yang bentuknya mirip kuda.

Robot itu mampu berlari, mengangkut perlengkapan militer yang superberat, bahkan diprogram untuk mengikuti perintah komandan.

"Kami telah menyempurnakan platform LS3 dan memulai uji lapangan dalam rangka memenuhi persyaratan yang diminta Korps Marinir," kata Letnan Kolonel Angkatan Darat, Joe Hitt, Manajer Program DARPA. "Visi LS3 adalah mengkombinasikan kemampuan mengangkut peralatan tempur dengan kecerdasasan setara hewan yang telah dilatih."

Dalam uji teknis, robot tersebut mampu membawa peralatan dan perlengkapan untuk keperluan sehari penuh bagi sepasukan marinir atau tentara angkatan darat.

Saat demonstrasi, robot berkaki mirip hewan itu tak hanya bisa mengangkut barang berat tanpa mengeluh kepayahan, tapi juga melewati medan berat, serta menginterpretasikan perintah verbal dan visual. Saksikan videonya di tautan ini.

Robot ini bukan satu-satunya produk terobosan DARPA. Mereka juga memproduksi robot Cheetah, robot berkaki tercepat sepanjang sejarah, bahkan melampaui rekor kecepatan manusia yang dipecahkan pelari Usain Bolt saat memecahkan rekor dunia lari 100 meter di Olimpiade Inggris, dalam waktu 9,58 detik. 



Sumber : Vivanews

Iran Peringkat 39 Dunia Negara Produsen Teknologi Tinggi

TEHRAN-(IDB) : Menteri Industri, Pertambangan dan Perdagangan Iran mengatakan, "Dari 80 negara produsen produk-produk dengan teknologi tinggi, Iran berada di peringkat 39."
 
Mehdi Ghazanfari, Menteri Industri, Pertambangan dan Perdagangan Republik Islam di acara penutupan Festival dan Pameran "Az Ilm Ta Amal" (dari ilmu hingga aplikasi) Jumat (7/9) di Musalla Imam Khomeini mengatakan, "Nilai ekspor produksi dengan teknologi tingggi di Iran mengalami pertumbuhan luar biasa. Angka pertumbuhan ekspor Iran dari 2,3 juta dolar di tahun 1375 Hs telah meningkat menjadi hampir 1 miliar dolar di tahun 1390 Hs."
 
Mehdi Ghazanfari memprediksi nilai ekspor produk-produk ini akan mencapai angka 2 miliar dolar di tahun 1394 Hs.
 
"Peningkatan ini berarti jaminan bagi nilai devisa negara dan jawaban lunak atas segala bentuk sanksi dan ancaman," ujarnya.
 
Menteri Ghazanfari menyatakan pasar produk-produk semacam ini di Timur Tengah sebesar 45 miliar dolar dan mengatakan, "Besarnya nilai produk-produk dengan teknologi tinggi dapat menjadi medan luas bagi pemasaran barang-barang produksi Iran."
 
Sekaitan dengan adanya dua harga mata uang asing antara harga acuan standar pemerintah dan harga acuan pasar Ghazanfari menjelaskan, "Patut disesali harga mata uang asing di pasar memiliki perbedaan yang jauh dengan harga acuan standar. Tapi dapat dikatakan bahwa tahun ini merupakan tahun paling baik untuk memperluas ekspor. Artinya, sebagian barang-barang produk Iran dapat diterima dengan baik di pasar-pasar timur Tengah dan pada saat yang sama sebagian dari kebergantungan negara dari ekspor migas dapat diisi oleh barang-barang produksi dalam negeri. 



Sumber : Irib

Menhan Kunjungi Tiga Perusahaan Industri Strategis di Bandung


BANDUNG-(IDB) : Di sele - sela kegiatan menghadiri Acara Puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bandung, Kamis Pagi (30/8) Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro berkesempatan melakukan kunjungan kerja ke tiga perusahaan industri strategis. 

Perusahaan industri strategis yang dikunjungi Menhan kali ini antara lain PT. LEN Industri, PT.CMI dan PT. Langit Biru Parasut.


Sumber : DMC

Perpres Kenaikan Tunjangan Peneliti Sudah Siap Ditandatangani

BANDUNG-(IDB) : Peraturan Presiden mengenai kenaikan tunjangan peneliti sudah siap ditandatangani. "Saya tanyakan sejauh mana Peraturan Presiden untuk kenaikan tunjangan peneliti, berita baiknya sudah siap saya tandatangani katanya. Jadi mudah-mudahan minggu ini sudah bisa saya teken dan bulan September para peneliti sudah mendapatkan kesejahteraan yang lebih tinggi," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada acara puncak peringatan ke-17 Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/8).

Selain menyampaikan kabar gembira tersebut, dalam pidatonya, Presiden SBY juga berbicara mengenai usaha untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju di abad 21. "Kita semua ingin menjadi negara maju pada abad ke-21 ini. Kalau 1 abad itu 100 tahun dan telah kita jalani 12 tahun, jadi menurut saya sangat masuk akal dan bisa diraih jika di abad ke-21 ini Indonesia benar-benar bisa menjadi negara maju," Presiden menerangkan.


Untuk mencapai hal tersebut, menurut SBY, dibutuhkan inovasi dan perkembangan teknologi. "Kalau kita bicara menuju negara maju, saudara pasti setuju bahwa pendorong perubahan yang paling besar itu tiada lain adalah teknologi," tegas Presiden.


“Saya juga mendapatkan laporan, ada revitalisasi puspitek di serpong dan berbagai universitas juga membangun yang disebut dengan pusat-pusat keunggulan. Ini tanda-tanda zaman yang baik,
insya Allah bangsa kita betul-betul bangkit dan teknologi menjadi sumber serta jalan menuju kemakmuran bangsa dan negara yang kita cintai," ujar SBY.


Sumber : PresidenRI

Presiden SBY Hadiri Hakteknas Ke-17 di Bandung

BANDUNG-(IDB) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri puncak peringatan Ke-17 Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/8), pukul 10.00 WIB. Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dicanangkan pada tanggal 10 Agustus 1995 bersamaan dengan penerbangan perdana pesawat karya anak bangsa N250, dan sejak saat itu menjadi tempat untuk mengukur kemajuan iptek di Indonesia.

"Salah satu maksud dilakukannya Hakteknas adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat hasil kerja keras masyarakat ilmiah selama setahun ini, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban kami terhadap dukungan dan sumber daya yang diberikan oleh bangsa dan negara," ujar Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta dalam sambutannya.


Pada puncak peringatan Hakteknas, dianugerahkan beberapa penghargaan bidang IPTEK tahun 2012, diantaranya Anugerah Budhipura untuk Provinsi Kaltim, Sumsel dan Sulsel, serta Anugerah Labdha Kretya untuk Inovasi masyarakat diberikan kepada Tunggul Dian Santoso, Ahmad Syaikhu, dan I Nyoman Damai.


Selain itu, diberikan juga penghargaan untuk Pranata Litbang (Prayogasala) yang diberikan pada Pusat Litbang PLN, Kopi dan Kakao, serta Badan Litbang Provinsi Jawa Tengah, dan penghargaan untuk wanita peneliti yang diberikan kepada Ines Atmosukarto untuk Biologi dan Genetika Molekuler pengobatan, Fenny Dwivany untuk Biologi Molekuler Hortikultura, Made Tri Penia untuk Bio Proses bagi produk obat dari sel punca, dan Sidrotun Naim Biomolekuler penyakit udang. Selain itu Eniya Listiani Dewi peneliti di bidang Teknologi Pemanfaatan Hidrogen sebagai sumber energi diangkat menjadi duta IPTEK.


Presiden SBY yang hadir didampingi Ibu Negara, dalam pidato pengarahannya mengatakan bahwa tema Hakteknas kali ini yaitu “Inovasi untuk Kemandirian Bangsa” sangat tepat dengan tujuan Indonesia saat ini. "Tema ini mengajak kita berpikir bersama untuk berkarya besar, karena hanya dengan berpikir bersama dan berkarya besar bangsa ini sungguh suatu saat menjadi bangsa yang besar. Semua harus dimulai dari tekad kita, semangat kita untuk mencapai Indonesia yang besar," Presiden menjelaskan.


Usai acara, Presiden dan Ibu Ani mengunjungi stan pameran yang disiapkan di sekitar Gedung Merdeka. Diantara stan-stan pameran tersebut ada yang memamerkan mobil-mobil ramah lingkungan hasil karya anak bangsa.


Turut mendampingi Presiden antara lain, Mendiknasbud M.Nuh, Menpora Andi Mallarangeng, Menteri Perhubungan E.E Mangindaan, Kapolri Timur Pradopo, dan Panglima TNI Agus Suhartono.


Sumber : PresidenRI

Habibie Turun Gunung, Program N-250 Dilanjutkan Kembali

BANDUNG-(IDB) : Media Indonesia dalam editorialnya hari ini menyoroti kebangkitan teknologi nasional. Penguasaan teknologi berperan dalam membentuk martabat sebuah bangsa. Semakin tinggi dan canggih teknologi dapat dikuasai sebuah bangsa, kian tinggi pula martabat yang diraih bangsa itu dalam peradaban. Sebaliknya, jika sebuah bangsa hanya mampu menguasai teknologi dalam skala dan level yang rendah, martabat dan derajat bangsa itu di mata dunia juga tidak dapat dibanggakan.

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17, yang kemarin diperingati dengan upacara bendera di Bandung, menegaskan betapa martabat bangsa Indonesia di bidang teknologi belum mencapai level membanggakan. Bahkan, dalam beberapa hal, penguasaan teknologi bangsa ini justru semakin memprihatinkan.


Pencetus Hakteknas, mantan Presiden BJ Habibie yang memberikan sambutan dalam upacara itu, mengingatkan bahwa pada 10 Agustus 17 tahun lalu, Indonesia sudah mampu melahirkan pesawat buatan dalam negeri, N250. Namun, hari ini, 17 tahun kemudian, pesawat itu tidak ada lagi. Bahkan pabrik pembuatnya, PT Dirgantara Indonesia, berada dalam kondisi terpuruk.


Kita pun akhirnya menggantungkan industri penerbangan kita kepada teknologi asing. Ketika pasar penumpang pesawat kita tumbuh seperti saat ini, kita harus mengimpor pesawat komersial karena industri pembuatan pesawat yang bisa memenuhi kebutuhan itu di dalam negeri justru berhenti beroperasi.


Ironi itu tidak hanya di bidang penerbangan. Di bidang otomotif, pasar kita bertambah besar, tetapi hingga hari ini kita belum mampu memenuhi kebutuhan itu dengan mobil atau bahkan sepeda motor produksi sendiri. Masih banyak fenomena lain yang dapat diketengahkan untuk menegaskan betapa di bidang penguasaan teknologi, kita tidak semakin mandiri, tetapi justru semakin tergantung.


Secara umum, kita lebih banyak menjual bahan mentah hasil sumber daya alam dengan harga murah. Bahan-bahan mentah itu lebih banyak diolah negara lain dengan penguasaan teknologi lebih baik dan kembali ke negeri kita sebagai produk dengan harga yang jauh lebih mahal. Itulah bentuk lain dari penjajahan yang terus kita kutuk, tetapi tidak mampu kita lepaskan dari kehidupan kita sehari-hari.


Hakteknas mengingatkan kita bahwa kondisi itu tidak boleh dibiarkan. Kita mesti bangkit kembali dan mandiri di bidang teknologi sehingga kemandirian dan kebangkitan di bidang lain pun dapat kita raih. Yang dibutuhkan ialah kesungguhan dan keberpihakan yang konsisten dari pemerintah. Sudah saatnya kita membuktikan kepada dunia bahwa di bidang teknologi kita juga mampu menjadi bangsa yang canggih dan bermartabat.
 
Sementara itu, tenaga ahli PT Dirgantara Indonesia dan BPPT akan dilibatkan dalam mewujudkan kembali visi pesawat komersial N-250. Mimpi agar Indonesia mampu memproduksi pesawat komersial sendiri ternyata masih hidup dalam diri mantan Presiden BJ Habibie. Habibie ingin agar visi yang sempat menjadi kenyataan 17 tahun lalu, tapi kandas, itu kembali dapat diwujudkan.
Seusai memberikan sambutan dalam upacara memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Bandung, kemarin, Habibie menegaskan ia mengambil inisiatif untuk meneruskan program pesawat terbang N-250.

Perusahaan milik mantan Kepala Bursa Efek Jakarta Eri Firmansyah, PT Eagle Cabin, dan perusahaan milik dua anak Habibie, Ilham dan Thareq Habibie, PT il Thabie, akan mendanai program itu. Kedua perusahaan bergabung dalam bendera PT Radio Aviation Industry (RAI).


"Saya duduk di dewan komisaris, tetapi juga terjun langsung bagaimana mengembangkan teknologi pesawat," kata Habibie tentang perusahaan yang 51% sahamnya dimiliki Ilham dan Thareq serta 49% oleh Eri itu.


Habibie menambahkan kedua pihak dijadwalkan menandatangani kerja sama untuk memproduksi pesawat sipil komersial di kediaman Habibie, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, hari ini.


"PT RAI sebagai perusahaan swasta akan memakai jasa PT Dirgantara Indonesia dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), termasuk uji desain, mesin, dan sebagainya akan dilakukan di laboratorium BPPT di Puspiptek, Serpong," kata Habibie.


Tenaga ahli dari PT Dirgantara Indonesia dan BPPT, tambah Habibie, juga akan dibutuhkan dalam mengembangkan pesawat komersial tersebut. "Namun, kelak pesawat itu bukan milik keluarga Habibie, tapi milik rakyat Indonesia," tegasnya.


Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar membenarkan bahwa SDM dan laboratorium BPPT akan dipakai PT RAI. "Jasa teknologi dan laboratorium uji desain, mesin, dan lainnya untuk pesawat sudah akan dipakai untuk uji N-250."


Pertumbuhan

Menurut Habibie, Indonesia memiliki aset SDM dan teknologi yang cukup besar. Selain itu, jumlah konsumen jasa penerbangan juga tumbuh 10% hingga 15% setiap tahun. "Ini pasar terbuka yang besar, dan jarak wilayah Indonesia cukup jauh. Jadi, kita ingin menghubungkan jarak wilayah itu dengan pesawat buatan Indonesia," kata Habibie.

Program N-250 dirintis sejak Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi pada era 1980-an saat pemerintahan Presiden Soeharto. Ketika itu, ia memprediksi pesawat jet memang masih akan dibutuhkan. Namun, kebutuhan pesawat baling-baling seperti N-250 akan semakin meningkat untuk melayani kota-kota dengan bandara perintis dan landasan pacu pendek.


Sayangnya, visi itu kandas akibat krisis moneter 1997. Pemerintah pun ikut memperburuk situasi dengan menghapus Keppres No 1/1980 tentang keharusan pemerintah memakai produksi pesawat dalam negeri. Namun, Habibie tidak menyerah. Ia kembali untuk mewujudkan impian yang kandas 17 tahun lalu. 


Sumber : Irib

Juni 2013 Indonesia Siap Orbitkan A2, Satelit Buatan Dalam Negeri

JAKARTA-(IDB) : Indonesia siap mengorbitkan satelit hasil karya anak bangsa. Rencananya satelit dengan nama A2 ini akan diluncurkan ke orbit pada Juni 2013 di India.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang S Tedja mengatakan, pengerjaannya sudah selesai dan tinggal menunggu peluncurannya saja. ”Sudah dites juga,tinggal diluncurkan. Sebelum peluncuran kami simpan sambil terus dijaga fungsionali tasnya, ”katanya seusai penutupan Ritech Expo 2012 di Auditorum Sasana Budaya Ganesa, Jalan Tamansari, Kota Bandung,kemarin.

Menurut dia, serangkaian proses uji coba telah dilakukan pada satelit A2 ini, antara lain uji solar cell,uji center of grafity, uji air bearing seluruh fungsi kontrol, dan uji transportasi. Satelit ini juga diuji oleh tim ahli dari Berlin, Jerman yang menjadi tempat pembuatan satelit pendahulu A2, yaitu A1 yang saat ini masih beroperasi. Soal pemilihan India menjadi tempat peluncuran satelit Indonesia,menurut dia, Indonesia memiliki kerja sama dengan India.

Tapi, tidak menutup kemungkinan pada tahap selanjutnya Indonesia akan bekerja sama dengan China. Meski satelit yang akan di orbitkan ini diklaim sebagai produk Indonesia yang pertama dengan waktu pembuatan dua tahun ini,tapi tidak semua bahannya menggunakan bahan lokal karena keterbatasan material yang ada di Indonesia. Sehingga hanya struktur satelit saja yang berasal dari dalam negeri. Satelit A2 akan digunakan untuk memantau permukaan bumi, termasuk mengetahui kapal apa saja yang ada dipermukaan laut.

Selain itu, satelit juga akan dimanfaatkan untuk membantu penanganan bencana,salah satunya untuk koordinasi bidang komunikasi pada radio-radio amatir. Untuk pusat datanya, stasiun pengendali satelit berada di Rumpin,Bogor. ”Selanjutnya kami akan terus melakukan pengembangan dan menciptakan satelit A3,A4, bahkan satelit yang lebih besar,”ucapnya.

Selain siap mengorbitkan satelit A2,pada penutupan Ritech Expo 2012 juga dilakukan penandatanganan selesainya roket RHAN 122 dan pesawat tanpa awak buatan dalam negeri. Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek Amin Soebandrio mengatakan, Indonesia tidak kalah dengan negara lain soal teknologi. ”Untuk kita harus terus dorong peneliti Indonesia agar mau mengembangkan potensi Indonesia.Misalnya tanaman obat sehingga bisa menjadi produk nasional,” jelasnya.


Sumber : Sindo

Satelit Buatan Indonesia Siap Diluncurkan 2013


12 Agustus 2012, Bandung: Indonesia siap mengorbitkan satelit hasil karya anak bangsa. Rencananya satelit dengan nama A2 ini akan diluncurkan ke orbit pada Juni 2013 di India.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang S Tedja mengatakan, pengerjaannya sudah selesai dan tinggal menunggu peluncurannya saja. ”Sudah dites juga,tinggal diluncurkan. Sebelum peluncuran kami simpan sambil terus dijaga fungsionali tasnya, ”katanya seusai penutupan Ritech Expo 2012 di Auditorum Sasana Budaya Ganesa, Jalan Tamansari, Kota Bandung,kemarin.

Menurut dia, serangkaian proses uji coba telah dilakukan pada satelit A2 ini, antara lain uji solar cell,uji center of grafity, uji air bearing seluruh fungsi kontrol, dan uji transportasi. Satelit ini juga diuji oleh tim ahli dari Berlin, Jerman yang menjadi tempat pembuatan satelit pendahulu A2, yaitu A1 yang saat ini masih beroperasi. Soal pemilihan India menjadi tempat peluncuran satelit Indonesia,menurut dia, Indonesia memiliki kerja sama dengan India.

Tapi, tidak menutup kemungkinan pada tahap selanjutnya Indonesia akan bekerja sama dengan China. Meski satelit yang akan di orbitkan ini diklaim sebagai produk Indonesia yang pertama dengan waktu pembuatan dua tahun ini,tapi tidak semua bahannya menggunakan bahan lokal karena keterbatasan material yang ada di Indonesia. Sehingga hanya struktur satelit saja yang berasal dari dalam negeri. Satelit A2 akan digunakan untuk memantau permukaan bumi, termasuk mengetahui kapal apa saja yang ada dipermukaan laut.

Selain itu, satelit juga akan dimanfaatkan untuk membantu penanganan bencana,salah satunya untuk koordinasi bidang komunikasi pada radio-radio amatir. Untuk pusat datanya, stasiun pengendali satelit berada di Rumpin,Bogor. ”Selanjutnya kami akan terus melakukan pengembangan dan menciptakan satelit A3,A4, bahkan satelit yang lebih besar,”ucapnya.

Selain siap mengorbitkan satelit A2,pada penutupan Ritech Expo 2012 juga dilakukan penandatanganan selesainya roket RHAN 122 dan pesawat tanpa awak buatan dalam negeri. Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek Amin Soebandrio mengatakan, Indonesia tidak kalah dengan negara lain soal teknologi. ”Untuk kita harus terus dorong peneliti Indonesia agar mau mengembangkan potensi Indonesia. Misalnya tanaman obat sehingga bisa menjadi produk nasional,” jelasnya.

Sumber: SINDO

LIPI Masuk 100 Lembaga Penelitian Terbesar Dunia

JAKARTA-(IDB) : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masuk peringkat 100 besar kategori penelitian dan pengembangan terbaik versi Webometrics edisi Juli 2012. LIPI tercatat di urutan 99 dari total 7.532 lembaga penelitian di seluruh dunia.

Peringkat pertama diraih Lembaga Kesehatan Nasional Amerika Serikat, disusul Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di urutan kedua.


Sejumlah lembaga penelitian mentereng lainnya juga masuk 100 besar, seperti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), European Organization for Nuclear Research (CERN), US Geological Survey (USGS), Max Planck Gesellschaft, dan Goethe Institut.


Peringkat Webometrics dipublikasikan dua kali dalam setahun, yaitu setiap bulan Januari dan Juli. Peringkat terbaru ini menjadi satu lompatan besar bagi LIPI setelah pada Januari lalu menempati peringkat 590 dunia.


Selain LIPI, lembaga penelitian asal Indonesia yang juga masuk peringkat Webometrics adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, yang bertengger di peringkat 290 dunia.


Peringkat Webometrics merupakan inisiatif dari Cybermetrics Lab, sebuah kelompok riset milik Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), badan penelitian publik terbesar di Spanyol. CSIC--yang berdiri sejak 2006 dan memiliki 126 pusat penelitian di seluruh Spanyol--adalah salah satu organisasi penelitian dasar pertama di Eropa.


Lembaga yang melekat pada Departemen Pendidikan Spanyol ini dibentuk untuk mempromosikan penelitian ilmiah guna meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi negara-negara di dunia. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini diharapkan berperan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di masing-masing negara.


Ada empat kategori yang digunakan dalam pemeringkatan Webometrics. Pertama, size, yang artinya jumlah laman yang bisa diakses melalui Google, Yahoo!, dan Bing. Bobot penilaian berdasarkan size ini sebesar 10 persen.


Kedua adalah visibility, atau jumlah tautan ke situs lembaga dari situs eksternal. Bobot penilaiannya 50 persen.


Ketiga adalah rich files, yang artinya jumlah dokumen dengan format PDF, DOC, PPT, dan PS, yang bisa diakses melalui Google, Yahoo!, dan Bing. Poinnya 10 persen.


Terakhir atau keempat adalah scholar, atau jumlah publikasi ilmiah yang diindeks Google Scholar selama lima tahun terakhir. Nilainya 30 persen.


Dikutip dari www.research.webometrics.info, Kamis, 2 Agustus 2012, pemeringkatan ini ditujukan untuk mempromosikan publikasi ilmiah yang dilakukan lembaga penelitian lewat Internet.


Keterbukaan dan kemudahan publik mengakses publikasi ilmiah dan materi akademik lewat Internet menjadi sasaran utama pemeringkatan ini. Namun, indikator situs secara langsung juga mendongkrak kinerja dan visibilitas lembaga penelitian.


"Situs ini mencakup tidak hanya publikasi yang bersifat formal, yakni e-journal dan repositori, tetapi juga media komunikasi informal lainnya," demikian pernyataan dalam situs Webometrics.


Publikasi ilmiah lewat Internet memiliki sejumlah keunggulan. Selain lebih murah, publikasi lewat Internet menjamin tingginya standar kualitas publikasi ilmiah yang dibaca publik (peer review). Keunggulan lain yakni bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Akses pengetahuan ilmiah bagi para peneliti dan lembaga penelitian yang berada di negara-negara berkembang menjadi lebih tinggi.


Publikasi lewat Internet juga bisa memberikan manfaat tidak langsung kepada pihak ketiga, yakni pengguna langsung dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan lembaga penelitian, seperti kalangan industri, ekonomi, politik, atau budaya.


"Kami bermaksud memotivasi setiap peneliti, sarjana, dan lembaga penelitian untuk memanfaatkan situs sebagai sarana publikasi ilmiah secara akurat," tulis situs Webometrics.


Sumber : Irib

Teknologi Kapal Siluman Dari Surabaya





Visby Class Corvette Swedia
SURABAYA-(IDB) : Teknologi siluman, yang memungkinkan kapal perang tak terdeteksi radar musuh, menjadi salah satu keunggulan penting bagi sistem pertahanan di negara maju. Hanya saja, untuk menciptakan teknologi canggih seperti ini membutuhkan anggaran besar. Tak mengherankan jika teknologi semacam ini seperti menjadi monopoli negara maju.

Benarkah teknologi seperti itu tak bisa dimiliki oleh Indonesia? Jawaban atas pertanyaan inilah yang ingin dipecahkan oleh Mochammad Zainuri, dosen Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melalui risetnya sejak 2009 lalu.  

Menurut dia, teknologi siluman sebenarnya bisa dikembangkan dengan dua cara. Pertama, membuat kapal dengan struktur dan desain yang tidak bisa dilacak dengan radar. Artinya, saat terkena radar, bagian dari kapal tersebut akan memantulkannya ke arah lain sehingga membuatnya tak terdeteksi. "Untuk membuat kapal sendiri dengan desain dan struktur canggih, butuh biaya sangat besar. Ini tidak mungkin saya lakukan," kata dia saat ditemui Tempo di rumahnya di Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu 29 Juli 2012. Ia menyadari anggaran untuk alat utama sistem persenjataan Indonesia sangat terbatas. 

Kedua, mengembangkan teknologi "kapal siluman" dengan menyulap kapal-kapal bekas yang dilapisi material nano komposit sehingga bisa menyerap gelombang radar. Konsep inilah yang sedang ditelitinya sejak tiga tahun lalu hingga kini. Pria 48 tahun ini terus mengembangkan teknologi siluman dengan mengembangkan material nano komposit, pelapis yang mampu menyerap gelombang radar. 

Material untuk nano komposit itu diambil dari bahan-bahan alam pasir besi di Pantai Bambang Lumajang, Jawa Timur.  Pertimbangannya, pasir di wilayah*ternyata mempunyai sifat veromagnetik (pasir besi). Untuk bisa menjadi bahan nano komposit, pasir besi ini terlebih dahulu dipisahkan, diekstraksi, dan direkayasa. Hasilnya lantas digabung dengan partikel listrik yang berbahan dasar PANi (ponianeline) dalam orde nano dan diikat sehingga bisa dilapiskan dalam bahan logam. 

Kenapa dalam ukuran orde nano? Kata Zainuri, semakin kecil ukuran partikel maka akan memperluas permukaan spesifik, sehingga kemampuan menyerap radar semakin besar. 

Setelah diuji coba, kata Zainuri, logam yang telah dilapisi dengan material ini tidak bisa dilacak radar jarak jauh microwafe dengan gelombang 8-12 GHz. Radar jarak jauh jenis ini biasanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kapal. Hasilnya, gelombang radar yang dikirim oleh alat deteksi tidak bisa terpantul kembali alias terserap atau (terabsorsi) oleh material tersebut hingga 99 persen.

Zainuri menambahkan, prinsip kerja radar adalah mengirim gelombang ke kapal tersebut. Biasanya kapal selalu memantulkan kembali gelombang yang dikirim tersebut, sehingga membuat keberadaannya terbaca di alat pemantau radar. "Jika diberi pelapis logam ini, maka kapal-kapal perang kita tidak akan terdeteksi oleh gelombang radar meski sebelumnya adalah kapal-kapal bekas yang selalu bisa terdeteksi oleh gelombang radar," ujarnya.

Ia mengungkapkan, ketertarikannya untuk menggunakan pasir besi pesisir pantai Lumajang menjadi bahan dasar pelapis logam anti radar berawal dari karena keterlibatannya dalam survey yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Jawa Timur. Ia diminta untuk meneliti bahan-bahan alternatif yang terkandung pada pasir pantai tersebut. 


Usai melakukan survey itulah muncul ide untuk berkontribusi terhadap ketahanan alutsista Indonesia. Ide semacam ini juga terpicu oleh tantangan Profesor Sirait, promotor Strata III-nya di Universitas Indonesia. "Lue bisa apa untuk bantu pertahanan keamanan Indonesia ?" kata Zainuri, menirukan ucapan promotornya. Zainuri adalah lulusan Strata 3 Metalurgi dan Material Universitas Indonesia tahun 2008. Strata 2-nya juga dari kampus yang sama. Sedangkan Strata 1-nya dari ITS.

Setelah itu, ia terus berfikir untuk meneliti sesuatu dan memanfaatkan ilmunya. "Awalnya ingin melakukan riset menciptakan peluru ramah lingkungan sehingga selongsongnya tidak terbuang sia-sia. Namun akhirnya menawarkan untuk mengembangkan teknologi anti radar," ujar dia. Dengan bantuan dana dari Departemen Riset dan Teknologi, ia kemudian mengembangkan riset teknologi siluman ini. 


ITS Berharap Bisa Berperan Lebih Di Bidang Pertahanan



Sebagai institusi pendidikan ternama di Jawa Timur (Jatim), ITS merasa belum diberi cukup kesempatan untuk berkarya. Yang terjadi justru sebaliknya, peran-peran strategis malah diberikan kepada pihak asing. Hal itulah yang dikemukakan oleh Rektor ITS, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA kepada Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) dalam Studi Strategis Dalam Negeri Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLVII, Rabu (25/7).

Dalam kesempatan ini, Tri Yogi banyak berbicara mengenai ketidakpercayaan berbagai pihak dalam memberikan kesempatan berkarya kepada ITS. Ia menyebutkan, beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Indonesia masih tergantung kepada produk-produk luar negeri. Padahal, produk-produk dalam negeri buatan sivitas ITS bisa sama bagusnya dengan produk luar negeri.

Tri Yogi menilai, ITS telah memberikan bekal yang cukup kepada mahasiswa dan dosennya untuk berkontribusi kepada negara melalui bidang keilmuannya. Namun, peran ini tidak bisa dilakukan secara maksimal karena tidak mendapat cukup tempat untuk mengaplikasikannya. Dosen Jurusan Teknik Mesin ini mengibaratkan, ITS telah bekerja keras untuk memberikan kail kepada mahasiswanya. "Percuma saja kami memberikan kail apabila semua kolam kesempatan ditutup," ujarnya beranalogi.

Pria asal Tulungagung ini mencontohkan, sebuah BUMN yang bergerak di bidang pembangunan kapal lebih mempercayakan kapalnya dibangun di negara lain ketimbang dibangun oleh mahasiswa ITS. Padahal menurutnya, kemampuan mahasiswa ITS dalam membangun kapal tidak perlu diragukan lagi. "Oleh karenanya, kerjasama kita belum bisa sepenuhnya dikatakan maksimal ," ungkapnya lagi.

Selama ini, ITS memang telah menjadi mitra kerjasama berbagai pihak mulai dari BUMN, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, industri, hingga Pemerintah Daerah (Pemda) Jatim. Namun dari banyak kerjasama tersebut, peran ITS hanya sebatas peran supporting (pendukung, red) yakni dengan memberikan rekomendasi saja. Padahal, ia meyakini, ITS mampu memberikan sumbangsih lebih besar lagi. "Kami sebenarnya berharap agar diikutkan dalam pembuatan kebijakan," tutur Tri Yogi.

Laksda TNI Sukatno SE, ketua rombongan Lemhannas menyatakan, data-data dan permasalahan yang dikeluhkan ITS akan segera diteruskan kepada Gubernur Lemhannas dan Pemda Jatim. Data-data ini kemudian akan menjadi rekomendasi bagi terlaksananya program pertahanan nasional di tingkat daerah. "Semoga dengan data-data ini kita bisa memantapkan ketahanan nasional di Jawa Timur," harapnya singkat.





Sumber : Tempo

Menguasai Teknologi, Memperkuat Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Sebab,penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Salah satu aspek penting pengembangan teknologi adalah untuk mendukung kemampuan pertahanan negara.

Dalam sejarah peperangan yang pernah terjadi, kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi sangat berpengaruh pada kemenangan. Sebab, penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Di Indonesia, pembangunan industri pertahanan telah dimulai sejak diterbitkannya Keputusan Presiden No 59/1983.Keppres itu membidani lahirnya sejumlah industri pertahanan seperti PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia/ PT DI) untuk bidang kedirgantaraan, PT PAL (untuk maritim), PT PINDAD (persenjataan dan amunisi), PT DAHANA (bahan peledak), PT LEN (elektronika dan komunikasi).

Industri-industri itu mulai tenggalam setelah dihantam badai krisis pada 1998. Sekarang, pengembangan kemampuan teknologi dalam mendukung pertahanan kembali digencarkan. Guna mendukung langkah ini, dibentuklah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang dipimpin Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan beranggotakan sejumlah menteri, termasuk Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta,Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyebut, ada tiga klaster dalam produksi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Yakni, yang bersifat untuk meningkatkan produksi,pelayanan,dan perlindungan. “Jadi, kita harus terus mengembangkan iptek untuk mendukung pertahanan,” katanya di kantor Bapeten,belum lama ini. Di antara yang sedang dikembangkan untuk pertahanan adalah pembuatan roket yang dinamai RHAN. Roket ini sudah beberapa kali diujicoba dan berhasil.Namun,daya jangkau masih belum memenuhi ekspektasi. “Kita ingin di atas tiga digit,”ujar Gusti.

Di Indonesia, ada banyak Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP), serta badan usaha milik swasta yang aktivitas usahanya berkaitan erat dengan bidang pertahanan.Di deretan pelat merah ada nama-nama seperti PT Dirgantara Indonesia,PT Pindad,PT PAL Indonesia.Dikalangan swasta ada beberapa industri galangan kapal seperti PT Palindo.

Kemampuan PT DI dalam memproduksi pesawat tidak perlu diragukan lagi.Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI Dita Ardoni Safri menyebutkan, beberapa pesawat yang sudah berhasil dibuat adalah CN 235,dan NC 212-200. Untuk pesawat CN 235 sekarang ini di antaranya dipakai oleh TNI Angkatan Udara sebagai pesawat angkut ringan, juga oleh TNI Angkatan Laut.Beberapa negara asing juga tertarik menggunakan pesawat ini,seperti Korea Selatan.

Selain pesawat, PT DI juga berhasil membuat roket FFAR (Fin Folding Aeriaal Rocket) yang dipakai untuk jet tempur TNI. Roket ini sebagian besar komponennya berasal dari dalam negeri. PT DI mampu memproduksi roket ini hingga ribuan unit per tahun.Roket jenis FFAR memiliki tiga tipe berdasarkan diameter serta jarak luncur.Yakni, tipe MK 60 dengan diameter 100 mm,tipe MK4 dan MK40 berdiameter 67 mm.

Roket ini pertama kali diproduksi dengan lisensi produsen roket Force de Zeeburg,Belgia. PT DI juga membuat torpedo berdiameter 122 milimeter yang memiliki jangkauan area hingga 40 km.Di luar teknologi yang sudah dikuasai,PT DI juga terlibat dalam berbagai pembuatan pesawat terbang selaku penyuplai komponen.Di antaranya bekerja sama dengan Airbus Military dan Boeing. Produk-produk Pindad juga sudah menembus pasar ekspor.

Bahkan untuk amunisi,jumlah permintaan melebihi kemampuan produksi.Sehingga manajemen berupaya untuk meningkatkan kapasitas dengan mendatangkan mesin baru.PT Pindad juga berhasil menciptakan kendaraan tempur angkut personel Panser Anoa 6x6. Penciptaan kendaraan ini dimulai ketika operasi militer di Aceh. Kala itu, banyak pasukan yang cidera karena menaiki kendaraan yang tidak memadai untuk operasi. Sehingga, Pindad dipesan untuk membuat kendaraan tempur angkut personel yang lebih aman dan lahirlah Anoa 6x6.

Kendaraan ini juga digunakan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian dunia di bawah kendali PBB. Bahkan, spesisifikasi Anoa 6x6 sudah memenuhi kualifikasi PBB. Beberapa negara asing pun berminat untuk membeli,seperti Malaysia. Saat ini,PT Pindad membuat prototipe kedua kendaraan perintis ( Rantis) 4x4 bekerja sama dengan TNI dan industri lain.PT Pindad sebagai leading sector industri termasuk pelaksana integrator desain,pengerjaan break system, steering system, serta senjata.

Sedangkan penyedia baja oleh PT Krakatau Steel dan penyedia power train, powerpack, electricalAC,engine,wich,driver set,dan pengecatan body assembling oleh PT Autocar Industri Komponen. Dalam bidang maritim,Indonesia juga sudah bisa membuat kapal perang oleh PT PAL maupun PT Palindo. Di antara kapal perang yang sudah diproduksi adalah landing platform dock (LPD) yang diproduksi setelah proses alih teknologi dalam pembelian LPD dari Korea Selatan.

Selain itu juga berhasil diproduksi kapal kawal cepat rudal (KCR) berbagai ukuran 40 meter dan 60 meter.“Ada roadmap pembangunan kapal perang. Ada tahapan-tahapannya,”kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.


Sumber : Sindo

TNI AL Manfaatkan Teknologi UAV Lapan

JAKARTA-(IDB) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akan memanfaatkan pesawat intai tanpa awak (UAV) milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh itu ditandai dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

KSAL Laksamana TNI Soeparno, mengatakan, kerja sama yang dilakukannya itu, ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, meningkatkan kapasitas atau kualitas SDM dengan cara pelatihan bersama, saling memberi, saling tukar informasi.

Sementara, jangka panjang memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, seperti penggunaan satelit dan pesawat intai tanpa awak (UAV).

"Kerja sama ini dapat membantu tugas TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara, seperti pengawasan kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia. Pulau-pulau terluar juga akan diawasi," kata KSAL.

Menurut dia, kerja sama itu dapat menghemat anggaran yang ada karena bisa memadukan dua instansi yang memiliki keterkaitan.

"Untuk pertama ini, kita akan coba lima tahun. Mungkin nanti ditambah lagi lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun sudah tercapai apa yang kita inginkan," katanya seraya berharap melalui kerja sama ini pengamanan laut bisa lebih optimal.

Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, mengatakan, teknis bantuan yang diberikan LAPAN kepada TNI AL, yakni pesawat intai tanpa awak (UAV) dan satelit sebagai penginderaan jauh untuk melakukan pengamatan di daerah laut.

"Kita akan membangun satelit yang bisa dipakai angkatan laut, umumnya TNI. Kami mencoba membangun kemampuan LAPAN ini yang bisa mendukung kegiatan di TNI AL. Satelit yang akan dibangun membawa sensor sistem identifikasi otomatis," katanya Menurut dia, tidak ada target pencapaian karena antariksa itu infrastruktur penting untuk pertahanan.

"Jadi tidak terbatas. Proyeksi ini akan terus diulang lima tahun dan diulang lagi sampai jelas bentuknya. Lima tahun ini kita lebih fokus ke penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL," kata Bambang.

Ruang lingkup kerja sama itu, meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan. Iptek kedirgantaraan itu sendiri mencakup, penginderaan jauh, sains dirgantara dan teknologi kedirgantaraan.

Selain itu, kedua instansi juga bekerja sama dalam bidang pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, dan tenaga ahli serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam acara itu, juga ditandatangani dua perjanjian kerja sama antara LAPAN-Dinas Pengamanan AL (Dispamal) tentang pendidikan, pelatihan, dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan LAPAN-Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Dishidros).

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam kerja sama itu karena teknologi ini sangat membantu dalam pemantauan dan pengamatan laut. Penginderaan jauh juga dapat memberikan data yang akurat, komprehensif dan dapat diterima setiap saat, sehingga membantu tugas TNI AL.


Sumber : Jurnas

TNI AU Kembangkan Komunikasi Tertutup

BANDUNG-(IDB) : TNI Angkatan Udara intensif mengembangkan jaringan komunikasi tertutup berteknologi canggih berbasis Information and Communication Tehnology (ICT). Modernisasi teknologi militer ini untuk mendukung operasi perang militer (OMP) dan operasi perang selain militer (OMSP)
 
Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Asops KSAU), Marsda TNI Ismono Wijayanto di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta, Kamis (19/7), menguji serta meresmikan penggunaan ICT yang mencakup Jaringan Komunikasi Berita (Jarkombra), Voice Over Internet Protokol (Voip) dan Video Conference (Vicon). ICT sebagai bagian dari moderniasi sistem komando, kendali, komunikasi dan informasi (K3I) TNI AU.
 
ICT berhasil dikembangkan TNI AU didukung PT Telkom Indonesia sebagai penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia.
 
Asops KSAU mengakui jika ICT menjadi penentu utama dalam proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. TNI AU menyikapi kemajuan teknologi dan arus modernisasi yang demikian cepat sehingga harus dimbangi dengan pengembangan teknologi pula. Ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan di segala aspek kegiatan khususnya di lingkungan militer.
 
Awal implementasi ICT dari penyatuan dan pengembangan K3I. Di bawah kendali yang sama, ICT dikembangkan menjadi sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan dan pengintaian.

K4IP, dikatakan Ismono, mutlak jadi sarana pengambil keputusan pimpinan secara cepat dan tepat tanpa terkendala oleh jarak dan waktu. "Sistem K4IP TNI AU harus sangat handal karena dislokasi satuan-satuan TNI AU yang tersebar diseluruh pelosok NKRI," ujar Asops KSAU.

Sistem komunikasi modern jaringan tertutup TNI AU ini dibangun dengan dukungan PT Telkom Indonesia sebagai penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia sehingga menjadi jaminan akan kehandalannya. Dukungan ICT jadi penting dalam mendukung operasi dan latihan, baik dimasa damai atau masa krisis. "Khusus untuk TNI AU sebagai organisasi militer penegak kedaulatan Negara di udara diperlukan untuk mendukung pelaksanaan OMP dan OMSP," ujar dia.

Organisasi Modern
 
General Manager Enterprise PT Telkom Indonesia, Muhamad Syalsabil mengatakan sistem komunikasi data berbasiskan ITC sudah merupakan kebutuhan utama dan bukan pelengkap lagi. Tehnologi Komunikasi dan Informasi Modern yang digunakan TNI AU telah menjadikan organisasi ini selangkah lebih maju menuju organisasi modern.
 
"Berdasarkan pengalaman PT Telkom saat mulai menggunakan teknologi yang sama bisa mempersingkat proses surat menyurat dan pengambilan keputusan dari empat hari menjadi hanya satu jam," ujar dia.
 
Sistem teknologi dan komunikasi TNI AU, ini sepenuhnya menggunakan jalur VPN-IP PT.Telkom Indonesia. Jarkombra akan berfungsi sebagai sarana untuk pengiriman berita secara online, sistim Voip sebagai sarana untuk komunikasi audio telephone dan system Vicon untuk komunikasi audio dan video.
 
Sistem tersebut merupakan hasil pengembangan TNI AU bekerjasama dengan PT Telkom TBK sebagai penyedia jasa jarring komunikasi serta pembangunan infrastruktur komunikasinya guna mendukung kesiapan operasional TNI AU .
 
Pada acara uji fungsi Jarkombra, Voip dan Vicon tersebut, Asops KSAU mengadakan uji komunikasi data (berita radiogram), komunikasi suara (voice) lewat VOIP dan komunikasi gambar (video) lewat VICON dengan seluruh satuan jajaran TNI AU yang telah dipasangi ICT. Hasil ujicoba komunikasi cukup memuaskan dengan kecepatan berita yang disampaikan interaksi suara dan gambar video cukup baik.

"Telkom Indonesia berjanji akan terus mendukung kebutuhan TNI AU dalam kebutuhan komunikasi baik menggunakan jalur komunikasi jaringan terbuka maupun jaringan tertutup," ujar Syalsabil.
 
 
Sumber : SuaraKarya

China Kini Bersaing Dengan AS Dan Rusia di Luar Angkasa

BEIJING-(IDB) : Pesawat luar angkasa China yang membawa tiga astronout, hari Minggu (24/6/2012) ini secara manual berhasil merapat di sebuah modul yang mengorbit bumi.

Peristiwa ini merupakan yang pertama bagi China sekaligus penegasan bahwa China kini bersaing dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam mengeksploitasi luar angkasa.

Kendaraan luar angkasa Shenzhou 9 bermanuver mendekati modul Tiangong 1. Peristiwa di luar angkasa ini dilihat langsung oleh seluruh rakyata China melalui televisi. Kejadian ini berlangsung manual. Pekan lalu, manuver dan menempelnya Shenzhou 9 pada Tiangong 1 dipandu dari pusat luar angkasa China di bumi.

Astronout China sudah tinggal dan bekerja di modul selama sepekan, sebagai bagian persiapan membuat sebuah stasiun luar angkasa permanen. Mereka kembali ke kapsul Shenzhou 9 awal hari Minggu dan melepaskan diri sebaga iperseispan untuk bersatu lagi secara manual.

Wu Ping, jurubicara program luar angkasa berawak China, kepada wartawan di Beijing, China, sebagaimana diberitakan kantor berita AP, proses manual dilakukan dalam mengontrol Shenzhou 9 dan posisinya untuk bersandar pada modul yang mengorbit.

Manuver berjalan "presisi dam sempurna, dan ketiga astronaut melakukan semua itu dengan "tenang dan penuh perhitungan".

"Kesuksesan dengan bersandar secara manual merupakan terobosan besar dalam teknologi sandar dan manuver dalam program luar angkasa kami," ujar Wu.

Target berikut China yakni mengirim misi berawak lainnya ke modul pada akhir tahun ini, dan menggantikan Tiangong I yang diluncurkan sejak tahun lalu. Tiangong 1 akan digantikan dengan stasiun luar angkasa permanen sekitar tahun 2020. Posisi ini memungkinkan dilakukan misi-misi luar angkasa lainnya, termasuk kemungkinan mengirim manusia ke bulan.

Stasiun luar angkasa permanen China seberat 60 ton, lebih kecil dari Skylab milik badan luar angkasa AS, NASA yang diluncurkan tahun 1970. Stasiun China ini juga seperenam dari ukuran Stasiun Luar Angkasa Internasional milik 16 negara.

Shenzhou 9 berawak tiga orang termasuk Liu Yang (33), seorang pilot AU China, sekaligus juga astronaut perempuan pertama China ke luar angkasa. Liu bergabung dengan komandan misi yang juga astronaut veteran Jing Haipeng (45) dan rekannya Liu Wang (43).

Misi ini diharapkan berakhir setelah 10 hari di luar angkasa. Ini merupakan misi berawak China yang keempat. Shenzhou 9 diluncurkan 16 Juni lalu dari pusat luar angkasa China Jiuquan di tepian gurun Gobi di China utara.

Menurut Wu, pada astronout akan melewatkan tiga atau empat hari lebih di modul sebelum kembali ke kapsul luar angkasa, dan mempersiapkan pelepasan secara manual dari Tiangong 1. Begitu kembali ke Shenzhou 9, mereka akan kembali ke bumi sehari kemudian.

Wu menegaskan, Chian membelanjakan 20 miliar yuan atau sekitar Rp 30 triliun untuk program luar angkasa antara tahun 1992 sampai tahun 2005. Dengan berhasilnya misi Shenzou berikutnya, Beijing akan membelanjakan 19 miliar yuan lagi untuk misi luar angkasa.


Sumber : Kompas

Agustus 2012 Indonesia Akan Orbitkan Satelit LAPAN-A2

JAKARTA-(IDB) : Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.

“Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.

Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.

Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. “Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.

Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. “Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.

Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulang`n bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. “Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.

Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.


Sumber : Republika

Menuju Kemandirian Dengan R-Han 122

RISTEK-(IDB) : Memiliki wilayah luas dengan belasan ribu pulau yang terpencar, Indonesia mengembangkan sistem pertahanan yang strategis untuk mengamankannya. Salah satu sarananya adalah roket. Kemandirian di bidang peroketan mulai dibangun dengan merintis pembuatan roket pertahanan R-Han 122.

Rancang bangun dan rekayasa roket pertahanan merupakan upaya Indonesia membangun kemandirian dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan. Rintisan dimulai lewat prototipe roket pertahanan sistem balistik berdiameter 122 milimeter disebut R-Han 122.

Roket pertahanan ini merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe Rx 1210.

Roket eksperimen (Rx) dikembangkan untuk misi nonmiliter, seperti pemantauan cuaca, pemantauan pelayaran, pertanian, bencana, dan observasi untuk perencanaan tata ruang. Roket dimuati radio, kamera, dan sensor. Adapun roket untuk pertahanan (R-Han) dipasang bahan peledak, demikian paparan Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bidang Hankam.

Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk tujuan militer, penguasaan teknologi peroketan tak mudah. Penyebarannya dipagari dengan beberapa aturan, antara lain, missile technology control regime dan center for information on security trade control.

Saat ini teknologi hankam tersebut hanya dimiliki negara tertentu. Di Asia negara yang tergolong maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Kemampuan rekayasa dan rancang bangun peroketan sampai batas tertentu dimiliki oleh BPPT, Balitbang Kemhan, dan PT LEN Industri. Dengan kemampuan masing-masing lembaga, kata Gunawan Wibisono, Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, terbentuk Konsorsium Roket Nasional tahun 2007.

Konsorsium terdiri dari Kementerian Ristek, Kementerian Pertahanan, TNI AL, lembaga riset (BPPT dan Lapan), perguruan tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dan Undip), serta industri strategis PTDI, Krakatau Steel, LEN Industri, Pindad, dan Perum Dahana. Konsorsium inti terdiri atas beberapa plasma yang menangani riset material, mekatronika, dan sistem kontrol atau kendali.

Kementerian Ristek menyediakan dana insentif untuk pembuatan prototipe roket. PTDI melaksanakan pengembangan struktur dan desain roket. PT Krakatau Steel menyediakan material untuk tabung dan struktur roket. Bahan bakar roket, yakni propelan, disediakan PT Dahana.

Bagian PTDI adalah membangun sarana peluncur roket dan sistem penembaknya dengan laras sebanyak 16. Kendaraan yang digunakan sebagai anjungan untuk peluncuran adalah jip GAZ buatan Rusia, Nissan Jepang, dan Perkasa buatan Tata, India.

Muatan teknologi

Meski bentuk roket sederhana, tabung bermoncong lancip, pembuatannya tidak sederhana. Di dalamnya termuat berbagai komponen berteknologi mutakhir, seperti material maju, mekatronika, dan propulsi.

Dibandingkan roket generasi lama, R-Han 122 mengalami beberapa pengembangan desain dan material. Pada roket eksperimen menggunakan baja. Pada R-Han digunakan aluminium dan karbon yang dua kali lebih ringan. Bahan itu lebih tahan panas. Untuk menjaga kestabilan dan daya jangkau yang tinggi, material yang digunakan harus tahan terhadap suhu 3.000 derajat celsius, kata Ketua Program Penggabungan Roket Nasional Sutrisno.

Pengembangan lain pada konstruksi roket, pada versi terdahulu, roket menggunakan sirip tetap. Untuk meluncurkan, roket harus ditumpangkan pada peluncur dilengkapi rel. Pada roket generasi baru dipasang sirip lipat yang dilengkapi pegas yang akan menegakkan sirip secara otomatis setelah keluar dari tabung peluncur.

Pada roket terdahulu, tabung propelan diisi langsung dan terikat permanen di tabung roket. Kini tabung propelan dibuat terpisah dan diberi lapisan isolasi termal. Saat ini bahan propelan masih diimpor. Untuk membangun kemandirian, pabrik propelan akan dibangun PT Dahana.

Untuk wahana peluncur, dilakukan modifikasi kendaraan jip berbobot 2,5 ton dan truk berkapasitas 5 ton. Dirancang pula bangun unit peluncur yang memuat 16 roket dan mampu meluncurkan secara otomatis sejumlah roket tersebut dengan hanya menekan satu tombol.

Uji peluncuran

Adi Indra Hermanu, Kepala Subbidang Analis Teknologi Hankam Kementerian Ristek, menyatakan, uji coba peluncuran roket R-Han 122 dilaksanakan akhir Maret di Baturaja, Sumatera Selatan. Sebanyak 50 roket diluncurkan di hutan lindung itu. ”Roket R-Han 122 yang diluncurkan rata-rata mampu melesat dengan kecepatan 1,8 mach atau 2.205 km per jam,” ujarnya.

Pada tahap peluncuran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berperan mengoperasikan sistem radar untuk memantau posisi jatuh roket. ITB memasang sistem kamera nirkabel untuk merekam gambar saat roket meluncur sampai di lokasi sasaran.

Dalam penggunaannya, R-Han 122 pada tahap awal akan menjadi senjata dengan sasaran target di darat yang berjarak tembak 15 km. Roket ini akan digunakan TNI AL untuk pengamanan pantai.

Menurut Sonny S Ibrahim, Asisten Direktur Utama PTDI, tahun ini tahap pengembangan teknis selesai. Persiapan industrialisasi saat ini sudah 80 persen. 


Sumber : Ristek

Uji Terbang UAV Dan Airborne Produksi Lapan

Tim UAV Pustekbang
PANGANDARAN-(IDB) : Bulan Maret 2012 merupakan bulan bersejarah bagi Pustekbang dan khususnya Tim UAV, karena pada bulan itu untuk pertama kalinya  dilakukan uji terbang UAV hasil manufaktur para engineer Pusat Teknologi Penerbangan bekerja sama dengan Industri Kecil Menengah (IKM). 
 
Bertempat di Bandara Nusawiru, Pangandaran, pada tanggal 8 s/d 10, uji terbang dilakukan pada dua unit UAV hasil didesain sendiri yang di manufaktur oleh IKM (FADEX),  dan hasil didesain IKM yang dimanufaktur oleh para engineer dan teknisi Pustekbang (Zen 1). 
 
Serta dilakukan pula uji terbang Airborne RS dan Skywalker pada sesi uji terakhir. Selain uji terbang hasil desain dan manufaktur, diuji juga sistem avionic seperti: sistem navigasi dan control (way point test), sistem telemetri dan tracking (TTC) long range dengan Mobile TTC, data handling dan sistem payload camera lengkap dengan sistem gymbalnya.

Uji terbang sistem kendali navigasi arah (way point system) dilakukan pada R Botix system yang bersifat autonomous arah terbang dengan menggunakan pesawat Zen 1 yang memang didedikasikan untuk test bed sistem avionic. 

Pesawat ini berukuran sedang dengan kemampuan terbang sampai ketinggian 800 m, air speed hingga 90 km/jam dan endurance hingga 2.5 jam. 

Pesawat ini seterusnya akan digunakan untuk aplikasi nyata seperti untuk pertanian, mitigasi bencana, pemantauan iklim dan lain-lain, bergantung bagaimana sistem payload dan avionic yang akan dimuatkan  ke pesawat tersebut. 

Para engineer Pustekbang telah berhasil melakukan manufaktur Zen 1 setelah pada tahun lalu mengambil kursus untuk membuat ulang pesawat yang belum di beri nama tersebut di Bandung. Ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam dunia UAV di Pustekbang.

Zen1
Zen1
FADEX (First Aircraft Design Experiment) merupakan pesawat dengan enginee turboshaft yang diharapkan menjadi embrio untuk pengembangan High Speed Surveillance System (HSSS) yang mempunyai misi untuk melakukan pengintaian, pemotretan secara cepat dan tepat dan kembali dengan cepat pula. 

Dalam uji pertama FADEX dilakukan uji taksi-taksi untuk menguji kekuatan landing gear, kecepatan awal, maneuver sederhana secara ground test, dan tentunya menguji enginee secara terintegrasi.  

Dalam hitungan desain, pesawat ini diharapkan terbang dengan kecepatan minimal 160 km/jam, dengan kemampuan membawa payload hingga 12 kg. Dengan kondisi tersebut lama terbang (endurance) awal yang bisa dilakukan adalah sekitar 1 – 1.5 jam.

FADEX
FADEX
Fadex
Uji terbang Airborne RS dilakukan dengan memberi beban antara 10 hingga 15 kg. Pesawat Airborne RS ditujukan untuk mampu menerbangkan muatan Centralized Polarization-Syntetic Aperture Radar ( CP-SAR ) dengan berat sekitar 20 kg yang merupakan muatan experiment dari Chiba University. 

Pesawat dengan bentang hampir 3.5 meter ini berhasil take off dengan mulus, dan menjalani uji kesetimbangan terbang baik pada posisi crusing maupun loiter beberapa kali sampai akhirnya landing dengan mulus juga, pada uji terbang berikutnya akan ditempatkan autonomous system di dalam system elektroniknya.

Airborne RS
Airborne RS
Airborne RS
Pada sesi pengujian terakhir dilakukan uji terbang pesawat skywalker untuk persiapan aplikasi pemotretan kubah Gunung Merapi bulan depan. Pengujiannya meliputi pemotretan dengan sistem payload camera lengkap dengan sistem gymbalnya dan terbang selama hampir 1 jam full autonomous dengan mengikuti jalur yang telah ditentukan.

Skywalker
Skywalker
Banyak pengalaman yang didapat dari Uji Terbang pertama ini, dari masalah sistem navigasi arah, sistem uji coba, pemotretan sampai manajemen uji coba untuk autonomous system. Langkah awal ini cukup membuat kita yakin bahwa para engineer mampu menguasai teknologi UAV tersebut.

Mobile TTC System Pustekbang
Mobile TTC System Pustekbang

Sumber : Lapan