Tampilkan postingan dengan label Satelite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satelite. Tampilkan semua postingan

Lapan Tahun Depan Meluncurkan Satellite Lapan A2

BOGOR-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tahun depan siap meluncurkan Lapan A2, satelit kedua buatan Lapan, namun menjadi yang pertama yang dibuat di Indonesia.

"Satelit Lapan A2 telah selesai dibangun dan siap diluncurkan tahun depan," kata Kepala Bagian Humas Lapan Elly Kuntjahyowati di Bogor, Jumat (31/8).


Satelit ini akan diluncurkan dengan menggunakan roket milik India dari Sriharikota, India. Satelit Lapan A2 dirancang untuk tiga misi, yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir.


Satelit ini memiliki sensor "Automatic Identification System" (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut. Dengan demikian, Lapan A2 akan memiliki kemampuan untuk memantau lalu lintas wilayah laut Indonesia.


Satelit dengan berat 78 kilogram ini akan mengorbit pada ketinggian 650 km. Pada orbit tersebut Lapan A2 akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas sekitar 20 menit.


"Pada orbit tersebut AIS Lapan A2 akan mempunyai radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maksimum 2.000 kapal dalam satu daerah cakupan," ujarnya.


"Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial. Nantinya Lapan A2 akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial," katanya.


Menurut dia, pembangunan Lapan A2 merupakan keberhasilan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi antariksa. Awal keberhasilan ini, ditandai dengan dibangunnya satelit pertama buatan Indonesia sebelumnya, Lapan-Tubsat.


Satelit yang diluncurkan pada 2007 dari India tersebut, lanjut dia, hingga kini masih beroperasi dengan baik, padahal awalnya diperkirakan usianya hanya mencapai dua tahun.


"Lapan-Tubsat murni buatan para peneliti dan perekayasa Lapan meskipun pembangunannya bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin di Jerman," katanya.


Keberhasilan pembangunan Lapan-Tubsat ini, menurut dia, kemudian memberikan semangat bagi Lapan untuk mengembangkan satelit berikutnya yaitu Lapan A2.


"Lapan A2 ini sepenuhnya dibangun di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat," tambahnya.


Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat, namun, memiliki sensor yang lebih ditingkatkan dibandingkan satelit pendahulunya.


Sumber : Metrotvnews

Juni 2013 Indonesia Siap Orbitkan A2, Satelit Buatan Dalam Negeri

JAKARTA-(IDB) : Indonesia siap mengorbitkan satelit hasil karya anak bangsa. Rencananya satelit dengan nama A2 ini akan diluncurkan ke orbit pada Juni 2013 di India.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang S Tedja mengatakan, pengerjaannya sudah selesai dan tinggal menunggu peluncurannya saja. ”Sudah dites juga,tinggal diluncurkan. Sebelum peluncuran kami simpan sambil terus dijaga fungsionali tasnya, ”katanya seusai penutupan Ritech Expo 2012 di Auditorum Sasana Budaya Ganesa, Jalan Tamansari, Kota Bandung,kemarin.

Menurut dia, serangkaian proses uji coba telah dilakukan pada satelit A2 ini, antara lain uji solar cell,uji center of grafity, uji air bearing seluruh fungsi kontrol, dan uji transportasi. Satelit ini juga diuji oleh tim ahli dari Berlin, Jerman yang menjadi tempat pembuatan satelit pendahulu A2, yaitu A1 yang saat ini masih beroperasi. Soal pemilihan India menjadi tempat peluncuran satelit Indonesia,menurut dia, Indonesia memiliki kerja sama dengan India.

Tapi, tidak menutup kemungkinan pada tahap selanjutnya Indonesia akan bekerja sama dengan China. Meski satelit yang akan di orbitkan ini diklaim sebagai produk Indonesia yang pertama dengan waktu pembuatan dua tahun ini,tapi tidak semua bahannya menggunakan bahan lokal karena keterbatasan material yang ada di Indonesia. Sehingga hanya struktur satelit saja yang berasal dari dalam negeri. Satelit A2 akan digunakan untuk memantau permukaan bumi, termasuk mengetahui kapal apa saja yang ada dipermukaan laut.

Selain itu, satelit juga akan dimanfaatkan untuk membantu penanganan bencana,salah satunya untuk koordinasi bidang komunikasi pada radio-radio amatir. Untuk pusat datanya, stasiun pengendali satelit berada di Rumpin,Bogor. ”Selanjutnya kami akan terus melakukan pengembangan dan menciptakan satelit A3,A4, bahkan satelit yang lebih besar,”ucapnya.

Selain siap mengorbitkan satelit A2,pada penutupan Ritech Expo 2012 juga dilakukan penandatanganan selesainya roket RHAN 122 dan pesawat tanpa awak buatan dalam negeri. Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek Amin Soebandrio mengatakan, Indonesia tidak kalah dengan negara lain soal teknologi. ”Untuk kita harus terus dorong peneliti Indonesia agar mau mengembangkan potensi Indonesia.Misalnya tanaman obat sehingga bisa menjadi produk nasional,” jelasnya.


Sumber : Sindo

Agustus 2012 Indonesia Akan Orbitkan Satelit LAPAN-A2

JAKARTA-(IDB) : Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.

“Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.

Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.

Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. “Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.

Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. “Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.

Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulang`n bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. “Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.

Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.


Sumber : Republika

Jepang Ancam Tembak Jatuh Satelit Korut

TOKYO-(IDB) : Menteri Pertahanan Jepang Naoki Tanaka mengatakan, jika diperlukan  Jepang dapat menembak jatuh satelit milik Korea Utara (Korut) yang rencananya akan diluncurkan bulan depan.

Pernyataan Menhan Jepang Naoki Tanaka itu muncul setelah kantor berita Korut KCNA mengumumkan, Korut akan segera meluncurkan satelit ke luar angkasa dengan menggunakan roket jarak jauh. Hal ini dilakukan untuk merayakan hari ulang tahun ke-100 dari pendiri Korut Kim II-Sung. Demikian diberitakan New Kerala Senin, (19/3/2012).

Roket Unha 3 yang akan membawa satelit Kwangmyongsong 3 dikabarkan akan lepas landas dari Kota Cholsan antara tanggal 12 April hingga 16 April 2012.

Peluncuran satelit oleh Korut ini dinilai melanggar kewajiban internasional serta resolusi PBB yang melarang Pyongyang untuk melakukan peluncuran rudal balistik.

Sementara itu menurut Surat Kabar Sankei, untuk melindungi Jepang dari kemungkinan jatuhnya satelit Korut itu ke wilayah Jepang mantan Menteri Pertahanan Jepang Yasukazu Hamada telah diperintahkan untuk menggelar sistem pertahanan rudal.

Sebelumnya pada tahun 2009 Korut juga pernah melakukan peluncuran serupa yang mengundang kecaman internasional serta menyebabkan jatuhnya sanksi dari Dewan Keamanan PBB.

Menanggapi pengumuman Korut yang akan meluncurkan satelit itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengatakan, Korut telah melakukan sebuah tindakan provokatif.

"Niat Korut yang akan meluncurkan roket ini merupakan pelanggaran langsung terhadap kewajiban internasional dan amat provokatif. Melalui resolusi DK PBB 1718 dan 1874, jelas sekali melarang Korut untuk melakukan peluncurkan teknologi rudal balistik," pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton.

Sumber : Okezone

Lapan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

Satelit Mikro Jenis Lapan-Tubsat
BOGOR-(IDB) : Setelah berhasil meluncurkan satelit mikro jenis Lapan-Tubsat pada 2007 lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berencana meluncurkan satelit jenis Lapan A2 di India akhir tahun ini.

Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma mengungkapkan, keberhasilan mengorbitkan satelit Lapan-Tubsat memberi semangat bagi pengembangan satelit berikutnya di Indonesia. Dalam hal ini Lapan telah mengembangkan dua satelit, yakni Lapan A2 yang berorbit ekuatorial dan Lapan A3 berorbit polar. “Karena orbitnya yang ekuatorial, Lapan A2 akan melewati wilayah Indonesia 14 kali per hari.Peluncuran A2 dilakukan menggunakan roket India,”ujar Bambang di Bogor kemarin.


Bambang mengaku belum dapat menentukan kepastian tanggal peluncuran A2 karena menunggu India. Ini terkait dengan posisi satelit yang hanya sebagai penumpang di roket India yang lebih besar.Perkiraan peluncuran dilakukan pada akhir tahun. “Ditargetkan antara September hingga Desember 2012 meluncur ke orbit,” ujarnya. Satelit A2 merupakan satelit kedua bikinan Lapan yang akan diluncurkan ke orbit setelah satelit Lapan-Tubsat (A1) diluncurkan lima tahun lalu dan saat ini masih mengorbit. Satelit A2 membawa misi utama untuk melakukan observasi bumi dan alat komunikasi penanganan bencana.

Satelit ini dimuati video RGB camera surveilance,sistem deteksi kapal laut automatic identifiction system (AIS), dan alat komunikasi Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (Orari) untuk penanganan bencana. A2 juga bisa dipakai sebagai alat pertahanan negara. Bambang mengungkapkan, satelit Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India, merupakan keberhasilan bagi bangsa Indonesia. “Indonesia patut berbangga karena satelit pertama buatan anak bangsa ini sudah lima tahun mengorbit. Banyak satelit mikro sejenis Lapan-Tubsat hanya mampu bertahan mengorbit di angkasa selama dua tahun,” paparnya.

Menurut Bambang, satelit eksperimen berukuran kecil dengan bobot 57 kg itu mampu mengorbit di ketinggian 650 km.“Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub dan melintasi wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari,”jelasnya. Satelit Lapan-Tubsatini telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana seperti gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan permukaan bumi. “Keberhasilan ini merupakan bukti keandalan para peneliti dan perekayasa Lapan,” imbuhnya.

Ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Indradi mengaku bangga dan mengapresiasi program Lapan yang akan kembali meluncurkan satelit andalannya untuk kepentingan bangsa. Sebab, selama ini Indonesia masih bergantung pada negara luar untuk pengambilan video dan foto dari angkasa.

“Kami mendukung sekali upaya Lapan dalam mengembangkan sejumlah satelitnya. Ini merupakan lokomotif untuk menyatukan semua kemampuan yang dibutuhkan bangsa semisal pertanian, kehutanan, penataan ruang, mitigasi bencana,dan banyak lagi manfaatnya,”jelasnya.

Sumber : Sindo

Satelit Militer Sangat Vital Bagi TNI Bukan Hanya Sekedar Tank Dan Kapal Selam

Satelit Militer
JAKARTA-(IDB) : Salah-satu instrumen penting untuk operasi intelejen adalah adanya teknologi satelit. Dalam berbagai operasi penting di negara maju, satelit memegang peranan yang sangat vital. Dan Indonesia masih sangat terbelakang.

Hal itu dikatakan penerbang senior TNI-AL, Laksma TNI (purn) Eddy Tumengkol kepada Waspada Online hari ini. "Satelit memberikan kemampuan kepada tiap markas militer untuk menyaksikan serta mengendalikan aktivitas pasukan di lapangan," kata Eddy.

Mantan Atase Pertahanan RI di AS dan Australia itu mencontohkan, operasi rahasia AS menangkap Osama bin Laden, hanya mungkin dilakukan dengan penggunaan satelit. Dimana terjadi komunikasi intens antara markas pengendali dan petugas di lokasi. Operasi itu disaksikan langsung oleh petinggi Gedung Putih dan dikendalikan langsung secara taktis oleh pimpinan tugas yang bersangkutan, katanya.

"Seharusnya Mabes TNI, Mabes tiap angkatan; Mabes Polri, Markas Bakorkamla, Markas BIN, Kantor Kepresidenan dan sebagainya, dilengkapi dengan ruang kendali operasi," Eddy berpendapat.

Dari ruang kendali ini, lanjut Eddy, semua operasi di lapangan (darat, laut, udara) yang berlangsung dapat disaksikan langsung sekaligus dijalin komunikasi dengan petugas di lapangan. Dan ruang kendali itu harus dilengkapi dengan teknologi satelit. "Tapi sayangnya, sistem pendukung seperti satelit tidak pernah dibahas dalam berbagai forum Hankam kita. Selalu saja alutsista yang dibicarakan. Sementara, hal penting lain seperti dilupakan."

Fasilitas pendukung seperti satelit dan optimalisasi kemampuan personil pengguna seakan luput dari perhatian. "Seakan-akan para pemikir Hankam kita kurang tanggap akan perkembangan seni perang dan segala elemen pendukungnya," tambah Eddy.

Meski tidak tersedia informasi dan bukti pasti, dalam hemat Eddy, dengan teknologi satelit, tidak mengherankan bila Singapura dan Malaysia bisa mengikuti segala kegiatan yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia secara bebas. Dan Indonesia sama sekali tak dapat mencegahnya. "Sebaiknya Indonesia mengadakan kerja sama dengan negara-negara yang sudah lebih jauh dalam penggunaan satelit serta fasilitas canggih lainnya," usul Eddy.

Menurut Eddy lagi, kerja sama itu sangat penting, karena nanti, satelit juga bisa dimanfaatkan untuk bidang-bidang non-Hankam, seperti perhubungan dan industri.

Jaleswari Pramodhawardani, peneliti LIPI dengan spesialisasi bidang pertahanan dan militer, mengatakan hal yang serupa. Berbeda dengan radar, teknologi satelit ini merupakan sistem pemantau situasi sebuah wilayah yang menggunakan pencitraan satelit. Teknologi ini mampu menangkap gambar secara nyata dan real time. "Sebaiknya TNI dan Kemhan memasukkan ini dalam Renstra yg diterjemahkan dalam MEF," katanya kepada Waspada Online.
 

Sumber : Waspada

Indonesia Siap Gunakan Satelit Terbaru AS

Antena telah dipasang di Bogor dan Parepare. Dana sekitar Rp40 miliar untuk persiapan ini.

BALI-(IDB) : Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan ke-40 operator stasiun bumi, Landsat. Pertemuan tersebut berlangsung sejak tanggal 30 Januari hingga 3 Februari di Hotel Padma, Kuta, Bali.

Menurut Kepala Bagian Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Elly Kuntjahyowati, pertemuan tersebut dihadiri oleh 19 negara pengguna satelit, termasuk pemilik satelit Amerika Serikat.

"Indonesia sendiri diwakili oleh LAPAN yang merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang berkiprah melakukan penelitian kedirgantaraan," ujar Elly di Kuta, Bali, 29 Januari 2012.

Landsat merupakan penginderaan jarak jauh milik Amerika Serikat. Sejak diluncurkan pada tahun 1972, Landsat telah menghasilkan jutaan citra yang disimpan dalam stasiun-stasiun bumi penerima Landsat di seluruh dunia. Citra Landsat telah digunakan di seluruh dunia untuk berbagai penelitian di bidang pertanian, geologi, kehutanan, perencanaan daerah dan pendidikan.

Sementara itu, Kepala LAPAN, BS Tejakusmana mengatakan, pertemuan tersebut diikuti oleh lembaga antariksa dari berbagai negara yang mengoperasikan stasiun bumi satelit Landsat.

Negara-negara yang dimaksud adalah Indonesia, Amerika, Argentina, Brasil, Australia, Kanada, China, Jepang, Rusia, Thailand, Equador, Arab, Afrika Selatan, Taiwan, India, Italy, Swedia, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

"Dalam pertemuan tersebut, peserta akan membahas tentang aktifitas dan persiapan akuisisi data Landsat oleh operator-operator bumi di dunia termasuk Indonesia," ujar Tejakusmana. Saat ini sudah ada beberapa negara di Asia yang menggunakan satelit Amerika di antaranya Indonesia, Thailand, Taiwan, China, India dan Australia.

"Dalam pertemuan ini, Amerika sebagai pemilik satelit akan meluncurkan Landsat 8. Tetapi sebelum peluncuran tersebut para negara pengguna ingin mendengar langsung tentang laporan perkembangan jadwal, software perekam dan olah data dan sebagainya," kata Tejakusmana.

Indonesia sendiri sudah siap untuk mengopetrasikan satelit generasi terbaru Landsat 8. Antena sudah dibangun di Bogor dan Parepare untuk mengcover Indonesia Timur. Biaya keseluruhan sebesar Rp40 miliar.

Sumber : Vivanews

Awas, Satelit Rusia Jatuh Malam Ini

JAKARTA-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan satelit Rusia yang gagal meluncur ke Planet Mars, Phobos-Grunt, akan jatuh secara tak terkendali pada rentang waktu Minggu malam pukul 22.00 WIB hingga Senin (16/1) dini hari pukul 04.00 WIB.

"Dua jam sebelum jatuh baru akan diperoleh lintasan terakhirnya dan informasi prakiraan lokasi jatuhnya, yang itupun ketidakpastiannya mencapai ribuan km. Kalau ada pernyataan yang menyebut akan jatuh di Papua itu masih spekulatif," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Prof Dr Thomas Djamaludin kepada ANTARA di Jakarta, Minggu sore (15/1).


Saat ini Phobos-Grunt masih berada pada ketinggian 140 km dari bumi, ujarnya. Kalau sudah di ketinggian 120 km, satelit itu akan memasuki atmosfer yang sudah semakin padat dan memungkinkan benda tersebut terbakar dan pecah.


Satelit dengan berat total 13,2 ton yang diluncurkan pada 9 November lalu dan direncanakan sampai di Mars pada 2014 itu setelah terbakar, lanjut dia, diperkirakan masih akan menyisakan pecahan seberat 500-600 kg yang sangat perlu diwaspadai.


Phobos-Grunt, urai pakar Astronomi-Astrofisika itu, saat ini jatuh tak terkendali dan bergerak hanya dikendalikan oleh gaya gravitasinya dengan beban terbesar berada di depan jalur orbitnya.


Sebelum Phobos-Grunt, sejumlah satelit yang jauh lebih berat, menurut dia, juga pernah jatuh ke bumi, misalnya Mir milik Rusia yang beratnya sekitar 135 ton pada tahun 2000-an, namun Mir jatuh secara terkendali dan dijatuhkan di lokasi yang aman diperairan Pasifik Selatan.


Selain itu Skylab milik AS seberat 77 ton pada tahun 1980-an juga pernah jatuh secara tak terkendali di suatu gurun di Australia.


Ada pula pecahan roket kecil milik China yang pada 2003 diperkirakan jatuh di Jazirah Arab, ternyata jatuh di Provinsi Bengkulu, Indonesia, dimana masyarakat melaporkan adanya ledakan dan getaran, demikian pula jatuhnya tabung roket di Gorontalo, di Lampung dan di Flores NTT pada 2007.


Jika sampai satelit Phobos-Grunt tersebut jatuh di pemukiman dan mencelakai penduduk, hukum internasional sudah mengatur bahwa pemiliknya (Rusia) harus bertanggung jawab dengan memberi ganti rugi, ujarnya.


"Namun diakui kemungkinan jatuh di wilayah berpenduduk sangat kecil, karena wilayah orbitnya di antara 51,4 derajat lintang utara sampai 51,4 derajat lintang selatan sebagian besar merupakan wilayah lautan, gurun, dan hutan," kata Djamal.


Satelit Rusia Jatuh di Samudera Pasifik 

MOSKOW-(IDB) : Satelit Rusia yang diterbangkan untuk melakukan misi di bulan Planet Mars jatuh ke bumi dalam kondisi terbakar pada Minggu (15/1). Satelit itu jatuh berkeping-keping di wilayah Pasifik Selatan di lepas pantai Cile.

Pecahan dari Satelit Phobos-Ground yang sempat tertahan di orbit bumi, mendarat di wilayah laut yang terletak 1.250 kilometer di wilayah barat Pulau Wellington, Cile.

Juru Bicara Badan Pertahanan Udara dan Luar Angkasa Rusia Kolonel Alexei Zolotukhin mengatakan badannya terus memonitor jatuhnya satelit tersebut.

Sampah luar angkasa seharga US$170 juta itu merupakan salah satu yang terberat dan paling beracun yang pernah jatuh ke bumi. Namun, pejabat Rusia mengatakan risiko dari jatuhnya satelit itu minimal karena bahan bakar roket beracun dan mayoritas struktur satelit itu akan hancur saat memasuki atmosfer.

Satelit Phobos-Ground didesain untuk melakukan perjalanan ke salah satu bulan Planet Mars, Phopos untuk mengambil sampel tanah dan kembali ke bumi pada 2014. Satelit itu terjebak di orbit bumi saat diluncurkan pada 9 November. Upaya dari Rusia dan Badan Luar Angkasa Eropa untuk menghidupkan kembali satelit itu selalu gagal.  

Satelit AS Ungkap Kapal Induk China

DENVER-(IDB) :  Sebuah perusahaan satelit komersial Amerika Serikat mengklaim berhasil memotret untuk kali pertama kapal induk China yang sedang berlayar di Laut Kuning.

DigitalGlobe Inc mengatakan, Rabu (14/12/2011), salah satu satelitnya memotret kapal induk itu pada 8 Desember lalu. Seorang analis DigitalGlobe menemukannya pada Selasa (13/12/2011) saat melihat-lihat foto yang dihasilkan satelit tersebut.

Direktur pusat analisis DigitalGlobe, Stephen Wood, mengatakan, dia yakin sekali kapal raksasa dalam foto tersebut merupakan kapal induk China dengan memperhatikan lokasi dan tanggal foto tersebut. Kapal itu sedang menjalani uji coba berlayar.

Menurut perusahaan yang bermarkas di Longmont, Colorado, itu menjual citra satelit dan analisisnya. Klien-klien mereka termasuk militer AS, badan-badan respons situasi darurat, serta perusahaan swasta. Saat ini DigitalGlobe memiliki tiga satelit yang sedang mengorbit, sedangkan satu satelitnya sedang dalam proses pembuatan.

Keberadaan kapal induk China menimbulkan rasa penasaran internasional karena apa yang disebut dugaan atas iktikad China sebagai kekuatan militer.

Uni Soviet membangun kapal yang disebut Varyag, tetapi tidak pernah berhasil menyelesaikannya. Ketika Uni Soviet runtuh, Varyag jatuh ke tangan Ukraina, salah satu republik di bekas Soviet.

China kemudian membeli kapal itu dari Ukraina pada 1998 dan menghabiskan bertahun-tahun untuk melengkapinya. Saat dibeli, kapal itu tidak bermesin, persenjataan, atau sistem navigasi.

Selama ini China mengatakan bahwa kapal itu untuk keperluan riset dan latihan. Hal inilah yang memunculkan spekulasi bahwa negara itu berencana membuat tiruannya.

Sebelumnya, China tidak pernah berbicara banyak tentang rencananya soal kapal induk itu, tetapi dalam beberapa tahun terakhir negara itu mulai terbuka. Hal itu dikatakan Bonnie S Glaser, pakar tentang China di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

"Sebelum China benar-benar mengumumkan bahwa mereka mengirim kapal itu untuk uji coba, China mengakui, 'Ya, kami meluncurkan sebuah kapal induk'," kata Glaser.

"Kemajuan kapal induk itu selaras dengan perkiraan militer AS," kata Komodor Leslie Hull-Ryde, juru bicara Departemen Pertahanan AS.

Laporan Departemen Pertahanan ke Kongres tahun ini menyatakan bahwa kapal induk itu bisa dioperasikan oleh Angkatan Laut China akhir tahun ini, sekalipun tidak ada pesawat yang diangkutnya.

"Dari titik itu, diperlukan beberapa tahun sebelum kapal induk itu memiliki armada pesawat yang layak dioperasikan," jelas Hull-Ryde dalam surat elektronik kepada kantor berita Associated Press.

Hull-Ryde menolak untuk mengomentari foto yang disebut DigitalGlobe dengan alasan hal tersebut merupakan urusan intelijen. 

Sumber : Kompas

Jepang Kembali Luncurkan Satelit Mata-mata

TOKYO-(IDB) : Jepang, Senin (12/12), kembali meluncurkan setelit mata-mata. Ini adalah yang kedua yang dilakukan Jepang pada tahun ini.

Badan Ruang Angkasa Jepang, JAXA, mengatakan, peluncuran pada Senin (12/12) ini berhasil dan redar sudah berfungsi dengan normal. Tetapi para pejabat menolak menjelaskan secara detail tentang kemampuan satelit itu.

Laporan media massa Jepang menyebutkan bahwa satelit itu melengkapi satelit optik Jepang yang sudah diluncurkan untuk merekam data tentang apa saja yang terjadi di bumi pada malam hari atau yang ditutupi kabut.

Jepang meluncurkan pasangan satelit mata-mata pada 2003. Peluncuran satelit ini didorong oleh program senjata nuklir Korea Utara (KOrut).

Saat ini, Jepang memiliki empat satelit informasi optik di orbit. Sebelumnya, Jepang meluncurkan dua radar satelit intelijen, tetapi keduanya tidak berfungsi.

Sumber : SuaraPembaruan

Iran Siapkan Peluncuran Satelit Zafar ke Orbit Bumi

TEHRAN-(IDB) : Seorang pejabat senior kedirgantaraan Iran mengkonfirmasikan rencana Tehran meluncurkan satelit canggih baru yang akan mereka peta beresolusi tinggi dan foto udara dari seluruh lokasi di penjuru dunia seperti yang terlihat dari luar angkasa.
 
IRNA Ahad (9/10) melaporkan, Kepala Departemen Dukungan Teknis Satelit di Universitas Sains dan Teknologi Tehran, Hossein Bolandi, mengatakan Iran akan mengirim Zafar (Triumph) satelit ke ruang angkasa pada tahun 2012.

Pejabat kedirgantaraan Iran itu menjelaskan bahwa Zafar memiliki bobot 90 kilogram dan akan ditempatkan di orbit pada radius 500 kilometer. Zafar akan menjalankan misinya selama satu setengah tahun dan akan merekam gambar dengan resolusi 80 meter kemudian mengirimkannya ke stasiun di bumi.

Bolandi menegaskan bahwa sistem kontrol satelit Zafar tiga kali lebih akurat daripada Navid (Herald) satelit.

Navid adalah satelit berbobot 50 kilogram, produksi dalam negeri, yang dapat mengambil gambar pada ketinggian rendah sekitar 250-375 kilometer dari bumi.

Rektor Universitas Sains dan Teknologi Tehran, Muhammad-Saeid Jabalameli mengumumkan rencana peluncuran satelit Navid pada hari Sabtu (8/10).

Menurut Jabalameli, Navid telah lolos uji coba dan akan dikirim ke pusat peluncuran untuk dimasukkan ke orbit dalam tiga hingga empat bulan mendatang.

Sumber : Irib

Israel Luncurkan Satelite Baru Anti Iran

TEL AVIV-(IDB) : Rezim Zionis Israel mengkonfirmasikan soal peluncuran satelit spionase baru anti-Iran.
 
Televisi rezim Zionis Israel channel 10 melaporkan, Israel akan meluncurkan satelit spionase baru dalam waktu dekat ini. Satelit tersebut mempunyai kemampuan canggih dalam mengambil gambar dan akan digunakan untuk mengawasi aktivitas militer dan nuklir Tehran.

Sumber tersebut menambahkan, satelit tersebut mampu mengambil gambar dengan jelas dalam ketinggian 600 km. 

Sumber : Irib

Amerika : China Telah Menyerang Satellite Amerika Dengan Senjata Laser

MINNESOTA-(IDB) : Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Michele Bachmann,  menyatakan Cina telah menyerang satelit AS menggunakan laser dan menyebabkan satelit berfungsi namun menjadi 'buta'. Ia menguraikan hal ini dalam wawancara TV untuk program Laura Ingraham Show. Omongannya tentang serangan Cina atas satelit AS dalam konteks ia menguraikan kebijakan luar negerinya akan menfokuskan, antara lain, soal hubungan AS-Cina.

"Saya seharusnya tak mengemukanan ini," katanya, "Tapi Cina telah membuat satelit kita buta dengan laser mereka."

Ia juga menyatakan, Cina merupakan pemasok senjata utama bagi Taliban, dan negara ini juga membantu pengiriman rudal Korea Utara ke Iran dan pakistan. "Cina juga mengasisteni Iran dalam program nuklirnya," katanya.

Tak hanya itu serangan Bachmann atas Cina. Ia juga menyebut negara yang berpaham komunis ini 'melakukan aktivitas mata-mata industri di Barat," katanya.

Dari mana seluruh data ia dapatkan? Berchmann berdalih, dia adalah anggota Kimote Intelijen Kongres, sehingga dia memiliki akses pada dokumen rahasia.

Sumber: Republika

Indonesia Sidah Mampu Membuat Satellite Sendiri

JAKARTA-(IDB) : Tim perekayasa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tengah menyelesaikan desain dan rancang bangun satelit mikro Lapan A2. Pembuatan satelit komunikasi dan pengindraan jauh ini di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, akan selesai pada September 2011.

"Keberhasilan ini menjadi bukti kemajuan kita untuk mencapai kemandirian dalam pembuatan satelit," kata Kepala Lapan Bambang Tedja Sumantri, Selasa (9/8/2011).

Menurut rencana, satelit Lapan A2 akan diluncurkan dari tempat peluncuran roket di India pada Januari 2012. Satelit ini akan ditumpangkan pada peluncuran satelit milik ISRO-India. Untuk pengiriman satelit ini ke India juga telah dipersiapkan kargo khusus.

Satelit ini akan beredar di orbit khatulistiwa dan memiliki jangkauan lebih lebar. Berbeda dengan generasi terdahulu, Lapan A2 telah dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis. "Dengan sarana ini, satelit dapat memantau pergerakan kapal laut yang lewat wilayah Indonesia berdasarkan sinyal yang dipancarkannya," tutur Bambang.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata menambahkan, pihaknya telah melakukan pengujian komponen muatan satelit tersebut.

Sementara itu, untuk peluncuran berikutnya dipersiapkan pula satelit pencitra di orbit polar. Semula satelit mikro yang menggunakan sistem optik ini akan diluncurkan bersamaan dengan satelit Lapan A2, tetapi karena kendala teknis, diputuskan perubahan ke orbit polar.

Satelit mikro ini dilengkapi dengan kamera high density television (HDTV). Pengujian kamera ini telah dilakukan dengan menumpangkannya pada pesawat terbang.

Terkait dengan pengoperasian satelit ini, dilakukan pula modifikasi rekayasa stasiun penerima agar mampu menangkap sinyalnya pada S-band.

Sumber: Kompas

Lapan Segera Persembahkan Roket Pembawa Satellite Dan Rudal Jelajah

JAKARTA-(IDB) : Lapan sedang mempersiapkan roket pengorbit satelit (RPS). Roket ini masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan di semua sisi teknologinya. Demikian disampaikan Kepala Bidang Teknologi Struktur dan Mekanik - Pustekroket Lapan, Lilis Mariani, M. Eng. dalam acara Iptek Voice RRI Pro2 FM di gedung BPPT, Jakarta, Rabu (03/08).

Dalam upaya menyiapkan dan meningkatkan hasil litbang teknologi dirgantara, Lapan bekerja sama dengan pihak-pihak ahli baik dalam maupun luar negeri. Rancang bangun dan kebutuhan akan teknologi peroketan terus ditingkatkan. Pembuatannya sangat ditentukan berdasarkan misi dan desain.

Menyambut hari kebangkitan teknologi nasional (Hakteknas) 2011, Lapan akan memamerkan beberapa hasil litbang, antara lain roket dua tingkat berdiameter 550 mm. Roket ini memiliki kecepatan maksimal mencapai tujuh kali kecepatan suara. (1 kecepatan suara = 340 m/s)

Lalu roket kendali eksperimen (RKX-200) dengan kecepatan berkisar 0,6 s.d 0,7 mach. Roket ini sengaja dirancang untuk tidak mempunyai kecepatan tinggi agar mudah mempelajari sistem kendali roketnya. Selain itu, Lapan juga memamerkan roket high speed flying test-bed ( HSFTB) berdiameter 200 mm.

Tidak hanya roket, Lapan juga rencananya akan memamerkan hasil litbang lainnya, seperti satelit Lapan-TUBsat, citra satelit penginderaan jauh, dan pemantauan atmosfer lainnya. Tujuan dari ikut sertanya Lapan dalam pameran ini adalah untuk menunjukkan eksistensi Lapan akan penelitian di bidang peroketan kedirgantaraan. Juga mengenalkan masyarakat akan manfaat dan kemajuan teknologi dirgantara.

Ia berharap, dengan adanya pameran Hakteknas ini, masyarakat dapat mengenal manfaat dan kemajuan teknologi dirgantara Indonesia sehingga ketertarikannya dapat bertambah. Dan kelak, generasi muda Indonesia banyak yang memperdalam keilmuan teknologi dirgantara. Ia mengakui, sumber daya manusia yang berkecimpung di bidang kedirgantaraan ini masihlah sedikit.

Jika bangsa Indonesia serius dalam memajukan teknologi kedirgantaraan, diperlukan komitmen nasional. Karena, pengembangan teknologi dirgantara ini sangat besar, memerlukan biaya yang tinggi dan teknologi yang tinggi sehingga harus menjadi agenda nasional.

Sumber: Lapan

Iran Akan Luncurkan Bio-Kapsul dan Dua Satelit Baru ke Orbit Bumi

TEHRAN-(IDB) : Kepala Badan Antariksa Iran (ISA), Hamid Fazeli, mengkonfirmasikan rencana peluncuran bio-kapsul dan dua satelit baru ke ruang angkasa hingga akhir tahun kalender Iran (20 Maret). Ditambahkannya bahwa bio-kapsul Iran itu akan membawa makhluk hidup ke orbit awal September mendatang.

Dia juga menyinggung peluncuran satelit Fajr ke ruang angkasa pada akhir musim panas, dan satelit buatan siswa bernama 'Navide Elm-o-Sanat' (Harapan Sains dan Teknologi) akan diluncurkan ke orbit pada awal Februari tahun depan.

Pada bulan Maret lalu, Iran berhasil meluncurkan roket Kavoshgar 4, yang mampu mengirim satelit dan membawa makhluk hidup ke ruang angkasa.

Fazeli menilai sektor ruang angkasa Iran mengalami lonjakan pesat, dan menegaskan bahwa kemajuan itu merupakan jerih payah para pakar dalam negeri. 

Sebagai bagian dari program pengembangan sektor antariksa, Iran berhasil meluncurkan satelit, Rassad (Observasi), ke orbit bumi pada tanggal 15 Juni.

Misi Rassad adalah mengambil foto permukaan bumi dan mengirimnya kembali ke stasiun di bumi bersama dengan informasi telemetris.

Iran meluncurkan satelit produksi dalam negeri pertamanya pada tahun 2009 dengan mana Omid (Harapan). 

Iran merupakan satu dari 24 negara anggota pendiri Komite Penggunaan Damai Ruang Angkasa PBB, yang didirikan pada tahun 1959.

Sumber: Irib

Iran Berhasil Luncurkan Satelit Rassad

TEHRAN-(IDB) : Republik Islam Iran berhasil meluncurkan satelit kedua yang bernama Rassad ke orbit bumi. Peluncuran satelit yang berjalan dengan sukses, dilakukan pada malam kelahiran Imam Ali as.
 
Satelit itu diluncurkan oleh pembawa satelit Safir-e-Rassad pada Rabu malam, Kesuksessan ini kembali membuktikan bahwa Republik Islam Iran terus berupaya menggapai puncak teknologi, meski negara ini ditekan dan diembargo. Namun embargo dan tekanan bukanlah alasan untuk jumud teknologi dan sains. Bahkan Iran mampu menjadikan tekanan dan embargo sebagai peluang untuk maju.

Meskipun mempunyai berat 15,3 kilogram yang merupakan kategori satelit mikro, namun satelit Rassad memiliki semua fitur satelit besar. Satelit ini telah melewati semua tahap yang diperlukan untuk manufaktur, pengujian perakitan, dan persiapan untuk diluncurkan di dalam negeri. 

 
Satelit Rassad akan mengorbit bumi pada ketinggian 260 kilometer 15 kali setiap 24 jam.

Misi peluncuran tersebut adalah untuk mengambil gambar permukaan bumi dan menyampaikan pesan ke stasiun bumi dengan informasi telematika. Satelit dilengkapi dengan panel surya ini dan menggunakan energi matahari untuk bekerja.

Sebelumnya, Iran untuk pertama kalinya meluncurkan satelit Omid pada tahun 2009. Dengan peluncuran satelit Omid, Iran menjadi negara kesembilan yang mampu mengembangkan teknologi untuk peluncuran satelit. Tehran juga berencana meluncurkan satelit berawak ke luar angkasa pada tahun 2019.

Sumber: Irib

Satelit Telekomunikasi Ristek Hanya untuk Pemerintah

BANDUNG-(IDB) : Satelit telekomunikasi yang rencananya akan dibuat oleh Kementerian Riset dan Teknologi hanya diperuntukan bagi pemerintah. Pihak swasta tidak akan dilibatkan.

Alasan peruntukan ini, diungkapkan oleh Engkos Koswara, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Transportasi, Kemenristek karena tidak ingin membunuh bisnis telekomunikasi di Indonesia.

"Ini hanya untuk pemerintah. Mungkin nanti namanya Broadband Goverment Telekomunication Satelite. Atau apalah nanti kita pikirkan namanya. Yang jelas ini peruntukannya hanya untuk pemerintah," katanya saat berbincang dengan detikINET di Novotel Bandung.

Alasan Engkos tidak mau melibatkan pihak swasta dalam proyek ini adalah karena teknologi yang dipergunakan bisa menjadi 'pembunuh' bagi industri telekomunikasi di Indonesia.

"Kalau dilempar ke swasta itu bisa mati semua. Ini killer teknologi bagi bisnis telekomunikasi. Karenanya kita benar-benar akan gunakan ini untuk kepentingan pemerintah saja. Tidak untuk komersil," paparnya.

Teknologi yang nantinya akan ditanamkan dalam satelit ini, sambungnya, akan memungkinkan penggunaan pita lebar. Bahkan cakupannya bisa seluruh Indonesia.

"Kecepatannya bisa mencapai 191 Gbps dengan cakupan seluruh Indonesia. Tinggal ground stationnya saja kita pasang. Dan ground station tersebut menggunakan teknologi terbaru. Bentuknya kecil tidak besar seperti yang dulu," terangnya.

Kemenristek berencana membuat satelit komunikasi ini bersama dengan ITB. Rencananya dalam 3 tahun mendatang, satelit ini bisa mengangkasa. Masa pakai satelit ini bisa mencapai 15 tahun.

"Untuk urusan itu kita kan punya slot. Tapi slot satelit harus dari Kominfo. Satelit Garuda 1 kan sudah mati. Kita bisa pakai bekas slotnya di atas Sulawesi. Mudah-mudahan Kominfo mau memberikan. Ini kan buat pemerintah juga," harapnya.

Sumber: Detik

Kemenristek Siap Membuat Satelit Telekomunikasi

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) saat ini tengah menggodok rencananya untuk membuat satelit telekomunikasi yang bisa digunakan untuk pemerintah.

Hal ini diungkap oleh Prof. Dr. Engkos Koswara N., M.Sc, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Transportasi, Kementrian Riset dan Teknologi saat berbincang dengan detikINET di sela acara ASEAN Workshop to Draft The Implementation Plans of Commite in Science and Technology (COST) Flagship Programmes.

Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menggodok rencana pembuatan satelit telekomunikasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Biaya komunikasi yang terlalu mahal menjadi landasan pembuatan satelit tersebut.

"Kita sudah ngobrol dengan tim ITB. Kebutuhannya mendesak karena komunikasi di kita terlalu mahal," katanya saat ditemui di Novotel Bandung, Jalan Cihampelas, Selasa (3/5/2011).

Engkos menambahkan, selama ini biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk komunikasi sangat besar. Besarnya biaya ini dikarenakan harus menyewa bandwith.

"Informasinya, untuk Jardiknas saja perlu Rp 200 jutaan buat sewa bandwith. Kalau kita punya sendiri pasti lebih murah karena tidak perlu bayar sewa ke luar," katanya mencontohkan.

Keseriusan Kemenristek dalam membuat satelit ini pun dibuktikan oleh Engkos dengan menggandeng pihak-pihak yang terkait. Khususnya instansi pemerintah yang membutuhkan akses komunikasi.

"Minggu depan saya akan bicara dengan pihak lain yang berkepentingan. Seperti Migas, Hankam, Diknas, Dinkes, TNI dan Polri. Mereka ini kan juga membutuhkan. Ayo kita sama-sama duduk bareng, membicarakan ini," katanya.

Selain Kemenristek, LAPAN juga tengah menyiapkan satelit. Namun satelit ini adalah satelit terestrial. "LAPAN juga lagi buat. Tapi satelit terestrial. Mudah-mudahan sih ada komunikasinya juga. Jadi kan bisa membantu," harapnya.

Di masa lalu, Indonesia termasuk sebagai negara yang mampu memproduksi satelit. Bahkan menempati posisi nomer 3 di Asia yang mampu membuat satelit.

"Dulu kita nomer tiga loh. Sekarang kenapa ngga bisa? Bisa dan harus bisa terealisasi satelit ini," katanya saat ditanya kemungkinan keberhasilan proyek ini.

Sumber: Detik

NASA Pensiunkan Stardust

Stardust Nasa
SINDO-(IDB):Pesawat peneliti Stardust kemarin akhirnya dipensiunkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) atau NASA setelah 12 tahun mencari komet di antariksa. Stardust menyusul pesawat ulang alik Discovery yang juga dipensiunkan NASA pertengahan bulan ini.

WASHINGTON – Pesawat peneliti komet Stardust telah mengikuti jejak Discovery. Stardust yang setia merekam pergerakan pada sistem Tata Surya akhirnya berlabuh panjang di rumah asalnya,Bumi. Kamis (24/3) lalu, Stardust menyelesaikan misi finalnya. Tepatnya pukul 16.33, ketika salah satu pesawat peneliti kebanggaan Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (AS) atau NASA itu menuntaskan proses transmisi data terakhirnya ke bumi. Stardust tidak akan kembali ke dekat Sistem Tata Surya. Pesawat itu, sekali lagi, akan beristirahat panjang di Bumi.


Stardust memang tidak akan lagi mengangkasa. Tapi paling tidak, kita bisa mengingat berbagai pelajaran yang dengan rela dibagikan Stardust. “Stardust telah mengajarkan kita tentang sistem Tata Surya sejak diluncurkan pertama kali pada 1999,”demikian kata manajer proyek Stardust- NexT,Tim Larson, seperti dikutip spacedaily.com. Menjadi wajar kala misi final Stardust begitu dinanti para ilmuwan.

Salah satu anak kesayangan NASA itu telah mengucapkan selamat berpisah pada semesta luas, ruang yang selama ini dijelajahinya. Pesawat antariksa seberat 300 kilogram yang dilengkapi dengan sistem robotik itu terhitung “perangkat tua” dalam dunia luar angkasa. Sejak diluncurkan pertama kali pada 7 Februari 1999, Stardust sudah menjalankan beberapa misi penting yang diprakarsai NASA.Selama itu pula Stardust selalu mengirim kejutan- kejutanbagiparailmuwan yang bersiaga di stasiun pengendali di bumi.Beroperasi selama 12tahun1bulandan21hari,Stardust berhasil mendekati komet Tempel 1.Waktunya 15 Februari 2011 atau sekitar sebulan lalu.

Sebelumnya sistemStardustpernah pula “dikunjungi” pesawat andalan NASA yang lain,Deep Impact (4 Juli 2005). Selama 12 tahun, Stardust mengumpulkan debu-debu semesta untuk kemudian dibawa ke laboratorium NASA di bumi. Stardust dibuat atas beberapa alasan.Yang terkuat berkaitan dengan kehadiran komet Halley. Belasan tahun setelah Halley terakhir mengunjungi bumi (1994), NASA berpikir untuk menciptakan perangkat yang bisa mendekati komet sejenisnya.

Maka lahirlah Stardust, pesawat antariksa berbiaya rendah. Awalnya banyak yang menyangsikan kemampuan Stardust. Namun, yang kemudian terjadi, Stardust bisa menunjukkan kemampuan terbaik di balik gunjingan bahwa “pembuatan berbiaya rendah, kemampuan pun tidak seberapa”.

Sumber: Sindo