Tampilkan postingan dengan label CHINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHINA. Tampilkan semua postingan

China Operasikan Kapal Induk, Sengketa Maritim Semakin Panas

BEIJING-(IDB) : Mungkin berupaya menunjukkan kemampuan tentara AL China yang bisa memicu kekhawatiran negara tetangga.

China mulai mengoperasikan  kapal induk seiring memanasnya sengketa maritim dengan Jepang, Selasa (25/9).


Negara tersebut mungkin berupaya menunjukkan kemampuan tentara angkatan laut (AL), yang bisa memicu kekhawatiran negara tetangga.


Berdasarkan penjelasan pihak kementerian pertahanan China, kapal induk yang diberi nama Liaoning itu akan memperkuat AL secara keseluruhan dan secara efektif melindungi kedaulatan, keamanan, serta kepentingan-kepentingan negara.


Pada dasarnya, kapal yang sudah melalui proses reparasi dan berasal dari Ukraina ini memiliki peran terbatas.


Kapal induk Liaoning diperuntukkan pada pelatihan dan uji coba menjelang peluncuran kapal induk buatan China pertama kalinya setelah 2015, demikian pendapat sejumlah analis.


Meski demikian, persoalan sengketa pulau masih membayang-bayangi China maupun Jepang.


“China tidak akan pernah mentoleransi segala tindakan bilateral oleh Jepang yang membahayakan teritorial kedaulatan China,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Zhang Zhijun.


Jepang, lanjut dia, harus menyingkirkan ilusi, melaksanakan refleksi pencarian dan melakukan tindakan-tindakan yang konkret untuk memperbaiki segala kesalahan.


Zhang juga menyampaikan agar Jepang kembali pada konsensus dan kesepakatan yang sudah disetujui kedua kepala negara.


Risiko konfrontasi militer cenderung kecil, tapi ketegangan politik antar dua negara ekonomi besar di Asia ini berpotensi memburuk. Sedangkan bagi AL China, penambahan armada kapal induk sudah menjadi sebuah prioritas untuk mengembangkan kemampuan.


China tercatat sudah menyampaikan seruan pada Amerika Serikat (AS), sehubungan dengan agresi Presiden Barack Obama ke wilayah Asia. Negeri Tirai Bambu itu mengingatkan AS tidak ikut terlibat dalam sengketa teritorial di kawasan Laut China Selatan, yang melibatkan Tiongkok dan sejumlah sekutu AS termasuk Filipina.


Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Hillary Clinton juga telah menyampaikan desakan pada RRT dan negara-negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara, untuk menyelesaikan sengketa tanpa paksaan, intimidasi, ancaman, dan menggunakan kekuatan angkatan bersenjata.


Narushige Michishita, ahli keamanan dari Institut Pascasarjana Nasional di Tokyo, Jepang, berpendapat bahwa pengiriman kapal induk tersebut tidak terkait dengan sengketa kepulauan. 


“China sedang berupaya meningkatkan kemampuan strategi angkatan laut,” kata dia. Ketegangan di Laut Cina Timur semakin kompleks dengan masuknya sejumlah kapal Taiwan , yang juga mengklaim kepemilikan pulau di wilayah sengketa. 




Sumber : Beritasatu

China's First Aircraft Carrier Commissioned

25 September 2012

China's first aircraft carrier was delivered and commissioned to the Navy of the Chinese People's Liberation Army on Sept. 25, 2012. The carrier, with the name "Liaoning" and hull number 16, was officially handed over to the Navy at a ceremony held in a naval base of northeast China's Dalian Port. (photo : AC Studio)

DALIAN (Xinhua) -- China's first aircraft carrier was delivered and commissioned to the People's Liberation Army (PLA) Navy Tuesday after years of refitting and sea trials.

Overseen by President Hu Jintao and Premier Wen Jiabao, the carrier was officially handed over by the navy's main contractor, the China Shipbuilding Industry Corporation, at a ceremony held at a naval base in northeast China's city of Dalian.

President Hu, also chairman of the Central Military Commission (CMC), endorsed a PLA flag and naming certificate to the naval unit that received the carrier.

The carrier, formerly known as the Soviet ship Varyag, was renamed Liaoning and underwent years of refitting efforts to install engines, weapons, as well as a year-long sea trial.

The ceremony made China the tenth country around the world and the last among the five permanent members of the U.N. Security Council to have an aircraft carrier in active service.

Premier Wen said in reading off a congratulatory letter sent from top central authorities that China's first aircraft carrier in active service will "be of great and far-reaching significance in inspiring patriotism, national spirit and driving national defense technologies."

"It will also be of great significance in enhancing national defense power and the country's comprehensive strength," Premier Wen said.

"China's development of an aircraft carrier was an important strategic decision made by the Communist Party of China (CPC) Central Committee, the State Council and the Central Military Commission," Wen said.

"The delivery and commission of the first carrier is a milestone in the PLA's history and embodies a major achievement of China's weaponry and equipment development, as well as its national defense modernization," he said.

Liaoning - China's first aircraft carrier (photo : msnbc)

After the commission ceremony, President Hu boarded the Liaoning, which was in full dress, and inspected the Navy's honor guard.

President Hu gave his firm appreciation for the construction of the Liaoning and ordered the Navy and relevant research institutes to keep up their good work.

The president and premier later came to the carrier's flight deck and some cabins where they talked with sailors, and scientists and engineers who developed the carrier.

According to the CMC, after being commissioned to the Navy, the Liaoning will continue to serve for scientific research purposes, as well as military training.

"The PLA's General Armament Department, the Navy and all comrades participating in the carrier program should make new contributions in promoting China's weaponry construction and safeguarding national sovereignty, security and territorial integrity," Wen said.

"The country and people appreciate all participants in the aircraft carrier program," Wen said.

Hu and Wen were accompanied by CMC Vice Chairmen Guo Boxiong and Xu Caihou, as well as State Council Secretary-General Ma Kai, director of the PLA's General Armament Department Chang Wanquan and Navy Commander Wu Shengli.

China announced its aircraft carrier program in July 2011, when the carrier was berthed in Dalian for refitting. Dalian is located at the south end of Liaoning province.

Armada Perang China Pertama Resmi Beroperasi

BEIJING-(IDB) : Kini, untuk pertama kali China memiliki armada kapal perang pembawa pesawat tempur. Armada ini sudah diserahkan ke Tentara Pembebasan Rakyat, julukan bagi angkatan besenjata China.

Berita ini muncul di tengah ketegangan hubungan China dengan negara-negara tetangga. Penyerahan kapal perang dengan panjang 300 meter ini berlangsung di Dalian, kota pelabuhan besar di China timur. Armada ini aslinya bernama Varyag.

Tahun lalu, China mengonfirmasikan perbaikan kapal lama milik Uni Soviet yang sudah bubar. Namun, China menegaskan keberadaan kapal ini bukan untuk menakut-nakuti atau mengancam tetangga, melainkan pada umumnya dipakai untuk proses pelatihan dan penelitian.

Namun, maneuver-manuver yang dilakukan armada, yang kini dinamai "Nomor 16", sejak Agustus 2001 memunculkan pertanyaan bagi negara-negara lain. China diminta menjelaskan mengapa memerlukan armada ini.

Konstruksi Varyag otomatis berakhir pada tahun 1991 setelah Uni Soviet bubar. China kemudian membeli kapal itu dari Ukraina, bagian dari Uni Soviet, pada tahun 1998 tanpa mesin dan baling-baling. Pada tahun 2002 perbaikan total atas Varyag dilakukan di Dalian.

Armada ini mampu memfasilitasi maneuver pesawat tempur di samudera sebagaimana dilakukan AS yang juga memiliki armada kapak perang terbesar di dunia. 



Sumber : Kompas

China Ancam Beri Sanksi Dagang Terhadap Jepang

BEIJING-(IDB) : China mengancam akan memberi sanksi dagang terhadap Jepang terkait keputusan Jepang membeli tiga pulau di Laut China Timur yang diklaim milik China. China berharap Jepang menghentikan rencana tersebut.

Demikian dikatakan juru bicara Partai Komunis China di Beijing, Senin (17/9/2012). Selama ini hubungan dagang antara China dan Jepang terjalin sangat erat. Tahun lalu, sejumlah perusahaan Jepang menginvestasikan dana di China sebesar 342,9 miliar dollar AS. Akan tetapi, hubungan tersebut kerap diwarnai ketegangan seperti yang terjadi saat ini.

Sanksi ekonomi China tidak hanya akan mengguncang perekonomian Jepang, tetapi juga akan berdampak serius terhadap perekonomian Asia, bahkan Barat.

Sebuah artikel komentar di surat kabar corong Pemerintah China, People’s Daily, mengatakan, perekonomian Jepang melemah sejak tahun 1990 dan semakin ambruk setelah krisis ekonomi serta gempa bumi 2011. Perekonomian Jepang akan semakin parah jika China menjatuhkan sanksi dagang sebagai buntut sengketa pulau yang disebut Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh China.

Di Jakarta, Asisten Kementerian Luar Negeri China Le Yucheng mengatakan, China siap diajak berdialog secara damai jika Jepang menghentikan langkah- langkah provokasinya. ”Semua ini bergantung pada Jepang karena mereka yang memulainya,” ujarnya.

Pada prinsipnya, lanjut Le, China tak akan mengalah menghadapi provokasi Jepang. China akan terus melawan, termasuk dengan kemungkinan memberi sanksi dagang.

Ia menjelaskan, kepulauan tersebut sejak dulu masuk dalam teritori China. Menurut Le, pada tahun 1895, Jepang mencuri dan mengklaimnya sebagai milik mereka. Selepas Perang Dunia II, semestinya Jepang menyerahkan kembali kepulauan tersebut kepada China.

Namun, faktanya, Jepang tidak pernah melepaskan kepulauan itu sehingga terjadi ketegangan dengan China. ”Kalau Jepang baik, kami juga baik,” ujar Le.

Menutup pabrik

Beberapa perusahaan Jepang menghentikan operasi pabrik- pabrik mereka di China. Perusahaan elektronik Panasonic menutup satu pabriknya di Qingdao, China utara, setelah dibakar massa. Perusahaan raksasa itu juga menyatakan akan segera menutup dua pabrik lainnya di China.

Hal serupa dilakukan produsen kamera Canon. Mereka menutup perusahaannya pada hari Senin dan Selasa guna menjamin keamanan para pekerja.

Para pekerja dan warga asal Jepang di China juga diimbau agar tidak keluar rumah guna menghindari amukan pengunjuk rasa.

Unjuk rasa anti-Jepang terus meluas di lima kota besar di China. Para pengunjuk rasa menyasar kantor dan bangunan perusahaan Jepang. Beberapa bangunan dirusak dan dibakar pengunjuk rasa.

Puluhan ribu warga Jepang tinggal di China saat ini. Di Shanghai saja setidaknya terdapat 56.000 warga Jepang.

Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, saat bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, mendesak agar Pemerintah China melindungi warga Jepang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei menegaskan, Pemerintah China akan melindungi warga dan perusahaan Jepang di China. Ia juga mengimbau agar pengunjuk rasa mematuhi hukum.

Sementara itu, Panetta mengajak agar Jepang dan China saling menahan diri dalam menyelesaikan kasus perebutan kepulauan tersebut.

Menurut dia, kasus ini menyangkut kepentingan banyak pihak. Oleh karena itu, China dan Jepang harus mencari cara penyelesaian tanpa memicu eskalasi ketegangan.

Masih terkait sengketa teritorial, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa mengatakan, tak ada jaminan tak akan ada masalah serius dalam konferensi tingkat tinggi para pemimpin ASEAN, November mendatang. Empat anggota ASEAN terlibat sengketa teritorial dengan China terkait Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.



Sumber : Kompas

China Mengeluarkan Prototipe Pesawat Tempur Baru

17 September 2012

Pesawat F-60 atau J-21 atau J-31 buatan Shenyang (photos : tiexue)

Belum lagi prototipe pesawat J-20 lansiran pabrikan Chengdu selesai menjalani uji coba,  pabrikan yang lain yaitu Shenyang telah mengeluarkan prototipe pesawat tempur generasi baru China yang lain yang dinamakan F-60 atau J-21 atau mungkin J-31.



Menilik bentuk pesawatnya, F-60 mempunyai dua sirip tegak dan dua mesin dengan lubang pembuangan udara tipe konvensional, sekilas pesawat ini lebih mirip dengan F-35 JSF termasuk air intake-nya namun bila JSF bermesin tunggal, F-60 ini menggunakan dengan mesin ganda. 



Mesin pesawat ini diperkirakan masih memakai produk Russia yaitu Klimov RD-33 (mesin yang dipakai untuk pesawat MiG-29) atau RD-93 (varian mesin RD-33) telah dipakai untuk pesawat lansiran China-Pakistan JF-17.



Berbeda dengan model yang dipamerkan, jika kita perhatikan roda pendarat bagian depan pada pesawat prototipe tersebut menggunakan roda ganda, pada umumnya roda pendarat depan tipe ganda digunakan hanya untuk pesawat yang beroperasi di kapal induk. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah pesawat ini memang diproyeksikan untuk mampu beroperasi dari kapal induk. 


Memang timbul pertanyaan, teknologi pesawat ini masuk kategori 4.5 ataukah 5.0. Melihat impresi artis berikut yang menunjukkan bahwa sebagian persenjataan yang ada akan dipasang pada hardpoint pada sayap dan bodinya bukan pada internal weapon bay maka pesawat ini lebih tepat dimasukkan ke golongan 4.5.


Pesawat tempur generasi kelima ditandai dengan fungsi stealth yang diperoleh dalam pengurangan RCS-nya dan penggunaan internal weapon bay untuk menyimpan semua persenjataannya. Ciri yang lain adalah sifat supercruise (mempunyai jangkauan operasi yang jauh), dan kemampuan networked (dapat bertukar data secara real time dengan satuan operasi yang lain).

(Defense Studies)

Asia Diambang Perang Karena Sengketa Wilayah

BEIJING-(IDB) : China dan negara-negara di Asia lain bisa terjerumus ke dalam perang yang dipicu sengketa wilayah. Ini bisa dipercepat dengan sikap berbagai pemerintahan yang provokatif.
Demikian dikatakan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta di Tokyo, Minggu (16/9/2012). Panetta memohon kesabaran Asia, terutama terkait sengketa di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

"Saya merisaukan negara-negara yang terlibat sengketa. Jika mereka terjebak aksi provokasi, maka itu meningkatkan kemungkinan salah interpretasi yang merujung pada aksi kekerasan dan selanjutnya berkembang menjadi konflik," kata Panetta. "Dan konflik ini bisa meluas."

Panetta berkunjung ke Jepang untuk menemui mitranya dan juga mitranya di China. Dia juga mengingatkan persaingan ekonomi bisa mendorong aksi perebutan kekayaan sumber daya alam. "Kita akan semakin sering menghadapi isu-isu seperti ini. Masalahnya banyak negara yang terlibat pencarian sumber daya alam," katanya.

Di Laut China Timur ada aksi provokatif yang dilakukan Jepang maupun China. Di Laut China Selatan juga ada aksi provokasi yang dilakukan China berhadapan dengan Vietnam dan Filipina. Korea Selatan dan Jepang juga terlibat aksi provokatif terkait Gugu Kepulauan Dokdo (dalam istilah Korea Selatan) atau Takeshima dalam istilah Jepang. 



Sumber : Kompas

Jepang VS China

japan Jepang   China di Ambang Perang
Japan Cost Guard Sergap Boat China
JKGR-(IDB) : Di tengah-tengah memanasnya suhu politik di Laut China Selatan, tiba-tiba saja Jepang membuat gebrakan dengan membeli sekelompok pulau yang tengah disengketakan dengan China. Pemerintah Jepang membeli tiga dari lima pulau di gugusan Senkaku yang selama ini disewa dari Keluarga Kurihara, seharga 26 juta dolar AS. Keluarga Kurihara membeli pulau yang tidak berpenghuni ini pada tahun 1972 dari keluarga Jepang lainnya.

Pemerintah China langsung bereaksi keras. Presiden China Hu Jintao memperingatkan pembelian tiga pulau itu oleh Jepang bersifat ilegal. Bahkan Perdana Menteri Wen Jiabao menegaskan tidak akan membiarkan sejengkalpun tanah Diayou yang kaya sumber daya alam dan gas bumi, lepas ke negara lain.

“Pulau ini bagian yang melekat pada China dan ini masalah kedaulatan wilayah”, ujar Perdana Menteri China. Untuk itu pemerintah China mengirim kapal patrolinya.

senkaku Jepang   China di Ambang Perang
Tahukah anda, apa reaksi Jepang atas gertakan China tersebut ?. Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, dengan dinginnya mengatakan: “Kekuatan militer China di wilayah sengketa adalah tantangan yang harus dihadapi”. 

Tentu China tidak menyangka respon dari Jepang seberani itu. Dengan kata lain Jepang telah bersiap untuk merespon dan memukul kekuatan militer China jika masuk ke gugus kepulauan Senkaku, China menyebutnya Diayou.

Sebagai seorang bushido, ucapan PM Jepang Yoshihiko Noda tentu bukan hanya gertak sambal. Militer Jepang pun tidak ragu ragu menangkap sekelompok aktivis China yang mendarat di pulau sengketa tersebut.

Kini bola berada di tangan China. Sejauh mana kapal patroli mereka berani mengganggu gugus kepulauan Senkaku.

senkaku island Jepang   China di Ambang Perang
Uotsuri, satu dari Pulau Sengketa di Senkaku
Saya sedang membayangkan. Kapan militer Indonesia bisa berbicara segagah Jepang, saat wilayah NKRI diklaim atau diganggu oleh negara lain. Nyali besar seperti yang ditunjukkan oleh Jepang, tentu harus didukung oleh kemampuan militer yang kuat.

Jika tidak, nasibnya akan seperti Filiphina yang bersengketa dengan China di laut China Selatan atas pulau / gugusan karang Karang Scarborough.

Awalnya militer Filipina menangkapi nelayan China yang melaut di sekitar Karang Scarborough. Namun tindakan itu direspon China dengan mengirim gugusan kapal perang yang besar dan membuat militer Filiphina mundur. “Mereka benar-benar ingin menguji apa sebuah negara kecil seperti Filipina dapat melawan negara raksasa,” ujar Mayor Ego Loel tak berdaya.

Kisah konflik Filiphina – China mirip konflik Jepang – China, namun berakhir berbeda. Hal itu menunjukkan tindakan militer atau aksi militer sebuah negara harus disesuaikan dengan kemampuan militer mereka, jika tidak mau konyol atau dipermalukan oleh negara lain.

japan dispute 2 Jepang   China di Ambang Perang
Gugus Kepulauan Senkaku, Laut China Selatan
 Lalu apa yang terjadi akibat konflik antara Jepang dan China ?

Amerika Serikat meminta China dan Jepang untuk tidak meningkatkan ketegangan menyangkut sengketa kepulauan yang diklaim kedua negara, dan memperingatkan ketegangan antara kedua negara itu akan berdampak pada global.

“Ini adalah arena ekonomi global dan pertikaian jangan diperbesar. Semua pemimpin harus mencurahkan perhatian secara jujur,” ujar Asisten Menlu AS Kurt Campbell di Washington.

“Kita memiliki banyak pilihan dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas. Kita yakin bahwa dialog damai dan pemeliharaan perdamaian. Stabilitas adalah sangat penting terutama dalam situasi kini.”

AS mengatakan pihaknya tidak akan berpihak dalam sengeketa wilayah itu, kendatipun Jepang satu sekutu dekat mereka. 

Walaupun diperingatkan oleh AS, namun China tetap saja bergerak. Selasa 11 September 2012, dua kapal pengintai China mulai berada di sekitar Pulau Diaoyu, yang disengketakan dengan Jepang.

Sumber dari China Marine Surveillance (CMS) mengatakan keberadaan dua kapal itu untuk menjaga kedaulatan China di sekitar wilayah tersebut, sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan menyusul pernyataan Pemerintah Jepang, yang membeli pulau tersebut.
china patrol Jepang   China di Ambang Perang
Kapal Patroli China Haijian 46 berlayar mendekati Senkaku
Sikap China ini langsung direspon oleh Jepang. Rabu 12 September 2012, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda memerintahkan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) untuk sepenuhnya siap menghadapi keadaan darurat, terutama terkait dengan masalah sengketa pulau dengan China.

Noda meninjau penjaga kehormatan JSDF di dalam Departemen Pertahanan, dan kemudian menghadiri pertemuan komandan senior JSDF, didampingi Menteri Pertahanan Satoshi Morimoto. Noda menyampaikan pidato kepada sekitar 180 komandan senior JSDF pada pertemuan tersebut.

Dalam pidato itu, Noda mengatakan ketidakpastian atas lingkungan keamanan di sekitar Jepang meningkat ke peringkat tertinggi karena aktivitas militer negara-negara di sekitarnya, termasuk Korea Utara, China dan Rusia, menjadi lebih aktif, sehingga JSDF harus memantau dan menganalisis negara-negara itu dengan ketat. Dia terutama menyebutkan bahwa China telah semakin aktif di laut sekitarnya.
japan shadow Jepang   China di Ambang Perang
Kapal Japanese Coastguard membayangi Kapal Patroli China
Kini situasi konflik di pulau Senkaku memasuki titik terpanas. Jepang siap merespon segala tindakan dari militer China, jika menganggu atau memasuki gugus kepulauan Senkaku. Semoga tidak terjadi perang China dan Jepang yang notabene kekuatan ekonomi kedua dan ketiga di dunia. Jika perang terjadi, sudah pasti imbas ekonomi akan dirasakan oleh seluruh dunia.

Terlepas persoalan konflik itu, gaya Jepang dalam merespon ancaman China terlihat cool dan keren. Semakin keren dan berwibawa karena Jepang tidak mencoba menarik-narik atau melibatkan Amerika Serikat dalam konflik (seperti yang biasa dilakukan Israel). Jepang memilih tampil tegak berdiri di kaki sendiri.


Sumber : JKGR

Analisis : Ketika AS Terusik China

ANALISIS-(IDB) : Suatu hari, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, bilang begini:”Kami tak takut kepada China.”

Ucapan ini disampaikan Obama di Darwin, sehari setelah diteken kesepakatan dengan Pemerintah Australia,November tahun lalu. Kesepakatan itu adalah soal penempatan 2.500 marinir AS di Darwin, Australia.

Obama boleh berkelit, tapi fakta di lapangan berbicara lain. Mau tahu, saat ini sejumlah pangkalan militer AS di Jepang, Guam, dan Australia melingkari wilayah China.

Jadi, kalau Obama bilang AS tak khawatir kepada China, itu tentu saja menggelikan. Soalnya, China sekarang, beda dengan China yang dulu. Sekarang, negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu maju sangat pesat, baik di bidang ekonomi, politik, maupun pertahanan.

Nah, tiga pilar kekuatan itulah yang saat ini begitu memengaruhi negara-negara di Asia. Lihat saja misi yang dibawa Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clionton, dalam kunjungan 3-4 September lalu ke Jakarta. Selain meningkatkan hubungan kemitraan bilateral dengan Indonesia, Hillary juga mengangkat isu yang belakangan ini mulai membuat risau Washington, yakni ketegangan di Laut China Selatan.

Dan, yang tak kalah menarik, menurut banyak pihak, Hillary juga membawa agenda ekonomi untuk mengamankan kepentingan AS di Indonesia. Maklum, AS begitu khawatir atas dominasi ekonomi China di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Apalagi, saat ini perekonomian AS sedang morat-marit.

Dominasi China

Memang, sejak Perjanjian Perdagangan Bebas Cina-Asean (Asean-Cina Free Trade Agreement/ACFTA) diberlakukan 1 Januari 2010, barang-barang China mulai dari peniti hingga mesin modal membanjiri pasar Indonesia. Maklum, dengan bea masuk 0%, barang-barang China leluasa masuk ke Indonesia. Sebelumnya, barang China sudah membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang sangat murah.

ACFTA memang membuat China makin bergairah menyerbu pasar Indonesia. Bahkan, beberapa perusahaan raksasa China terus hadir dalam berbagai pameran teknologi dan produk China. Hingga saat ini lebih 1.000 perusahaan China beroperasi di Indonesia, baik bidang infrastruktur, kelistrikan, energi, komunikasi, agrikultural, manufaktur dan sektor lainnya.

China juga dikabarkan sedang mengincar pertambangan di pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua, yang belum semuanya dieksploitasi oleh PT Freeport Indonesia. Di pegunungan ini masih terkadung biji tembaga, uranium, dan emas. Inilah salah satu alasan yang dikabarkan kenapa AS mendirikan pangkalan militer di Darwin.

Dalam beberapa tahun terakhir, boleh dibilang China merupakan investor paling agresif di sektor migas Indonesia. Pada awal 2002, CNOOC mengakuisi seluruh operasi migas Repsol-YPF senilai US$ 585 juta sehingga menjadikannya produsen minyak lepas pantai terbesar di Indonesia dengan output 125.000 barel per hari.

Selanjutnya September 2002, CNOOC juga menandatangani kontrak US$ 500 juta untuk membeli 2,6 juta ton per tahun gas alam dari Tangguh, Papua. Pada saat hampir bersamaan dengan akuisisi CNOOC atas Repsol-FPF, PetroCina juga berhasil membeli seluruh aset Devon Energy (AS) di Indonesia seharga US$ 262 juta.

Beberapa saat kemudian, PetroChina sudah mendapatkan kontrak kerja sama migas dengan Pertamina di Sukowati dan Tuban, lapangan migas yang bertetangga dengan Blok Cepu.

Sebelumnya, perusahaan-perusahaan raksasa AS mendominasi proyek migas, emas dan tembaga di Indonesia. Di minyak, ada ExxonMobil yang mengelola ladang-ladang minyak di negeri ini. Salah satu ladang minyak yang sempat mengundang kontroversi adalah blok Cepu, Bojonegoro.

Sebelum mereka malah sudah berdiri PT Freeport Indonesia, perusahaan emas dan tembaga kelas dunia yang beroperasi di komplekstambang pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua.

Di sektor pertambangan lain juga ada raksasa Newmont. Lewat PT Newmont Nusa Tenggara, perusahaan tambang emas asal AS ini beroperasi di Lapangan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Di bisnis jasa keuangan, beroperasi Citigroup lewat Citibank yang sudah cukup lama bermain di pasar Indonesia. Tahun lalu, Citibank masuk jajaran 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia, serta menjadi bank asing teratas di Indonesia. Citibank juga memiliki jaringan di kota-kota besar di Indonesia.

ACC dan TPP

Perebutan pengaruh dua negara raksasa ini, yang paling kentara adalah ketika berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-19 di Nusa Dua Bali, 17-19 November tahun lalu. Yakni, ikutnya AS dan China dalam hajatan besar 11 negara anggota Asean.

China, misalnya. Negeri Tirai Bambu ini merangkul negara-negara anggota Asean untuk meresmikan Asean-China Centre (ACC). Untuk mendirikan ACC, China rela menjadi penyumbang terbesar hingga 90%, sementara sisanya dibagi rata 11 negara anggota Asean. Tujuan utama ACC adalah memperkuat perdagangan dua arah antara negara-negara Asean dan China.

Bila China merangkul Asean lewat jalinan ACC, AS datang dengan konsep Trans Pacifik Partnership (TPP) yang digagasnya. Inti dari konsep tersebut adalah menjadikan pasar Asean sebagai pasar baru bagi tujuan ekspor AS. “Kami berkomitmen total, all in, untuk hadir di Asean dalam bentuk TPP ini,” ujar Hillary saat itu. TPP juga dimaksudkan untuk mengimbangi Asean-Cina Free Trade Agreement (ACFTA) dengan kebijakan penghapusan bea masuk.

Posisi Asean memang sangat penting bagi ekonomi dunia. Dengan jumlah penduduk 558 juta jiwa dan sumber daya alam yang sangat berlimpah, Asean bakal menjadi penentu bagi masa depan Asia Timur dalam menggeser hegemoni ekonomi dunia. Asean juga akan menjadi pendukung ekonomi negara-negara industri Asia, seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Nah, kini tinggal Indonesia harus bermain jeli melihat dua negara raksasa ini bertarung. Bila salah, Indonesia bisa terseret dalam konflik.



Sumber : Inilah

China Kirim Kapal Perang ke Kepulauan Sengketa

BEIJING-(IDB) : China mengirimkan dua kapal perangnya untuk 'menegaskan kedaulatannya' atas pulau-pulau yang menjadi pusat sengketa dengan Jepang, demikian diberitakan media pemerintah China, Selasa (11/9/2012).

Pengiriman kapal perang ini sebagai reaksi atas keputusan Tokyo untuk menyelesaikan pembelian pulau-pulau di Kepualauan Senkaku atau Diayou yang diperebutkan itu.

Kantor berita Xinhua melaporkan kedua kapal itu kini sudah berada di perairan kepulauan sengketa dan akan mengambil tindakan sesuai perkembangan yang terjadi.

"Ini (pembelian pulau) seharusnya tidak mengganggu hubungan Jepang dengan negara dan kawasan lain," kata Sekretaris Kabinet Jepang, Osamu Fujimura.

"Kami benar-benar tak memiliki ingin menimbulkan masalah yang bisa mengganggu hubungan Jepang-Cina. Sangat penting bagi kita untuk menghindari kesalahpahaman dan problem yang tak bisa diprediksi," tambah Fujimura kepada wartawan.

Beijing sebelumnya sudah memanggil Duta Besar Jepang untuk China dan mengajukan protes keras atas keputusan Tokyo membeli sejumlah pulau itu.

Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan pulau-pulau tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China dan bersumpah negeri itu tak akan menyerahkan sejengkalpun wilayah kedaulatannya.

"Kami sudah memantau perkembangan masalah ini dengan seksama dan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan China," demikian penjelasan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei kepada wartawan.

Kepulauan Daiyou adalah serangkaian pulau karang tak berpenghuni. Tetapi kepulauan itu sangat penting karena berada di perlintasan jalur perdagangan utama dan diyakini wilayah perairannya mengandung cadangan gas yang sangat besar.


Sumber : Kompas

Kisah Spionase di Balik Kemunculan J-20

ANGKASA-(IDB) : Perang Dingin sudah lewat, tetapi persinggungan Barat-Timur masih sering terjadi. Bola panas menggelinding setelah April lalu FBI menyiarkan penangkapan dua agen spionase Taiwan di Las Vegas. Mereka dituduh mencuri rahasia jet tempur stealth F-22 Raptor untuk China. Entah tuduhan itu benar atau tidak, faktanya tampang J-20 yang baru saja diuji terbang memang mirip jet tempur yang paling digdaya ini. Tuduhan spionase tersebut tiba-tiba menggema ke seantero jagat. Dalam waktu hampir bersamaan Kremlin dan Teheran balik menuduh Israel, negara yang berkiblat ke AS, melakukan upaya serupa. Sebaliknya AS juga menuduh Kremlin telah berusaha menggunakan sepuluh warga AS untuk mencuri informasi penting di Gedung Putih. Lebih jauh tentang hiruk-pikuk petualangan para James Bond di balik perancangan pesawat tempur ini.

Laiknya kisah spionase, berita tentang kegiatan mata-mata jarang sekali yang berakhir dengan kejelasan. Semua tetap beredar di wilayah abu-abu. Apalagi karena di sekitarnya juga beredar kisah-kisah serupa yang sama-sama menarik dan sama-sama tak jelas, seperti kisah dua penyelundup obat bius asal Taiwan yang April lalu ditangkap FBI (Biro Investigasi Federal AS) atas tuduhan mencuri rahasia jet tempur F-22 untuk China.

Berita tentang pasangan Hui Sheng Shen, 45 tahun, yang dikenal sebagai Charlie, dan Huan Ling Chang, 41 tahun, yang dikenal sebagai Alice itu, kini, menjadi isu spionase paling hot di dunia maya. Nama Shen dan Chang kini menjadi trending topic karena santer dibicarakan sebagai mata-mata yang menyuplai teknologi F-22 ke Chengdu Aircraft Industry terkait pembuatan J-20.

J-20 adalah pesawat kombatan yang tengah dikembangkan sebagai tulang punggung kekuatan udara China di masa datang. Belum lama ini China telah menggelindingkan keluar prototipe ke-2, untuk menjalani uji taxiing. Prototipe pertama telah lebih dulu menjalani uji terbang pada Januari 2011. Yang bikin ribut: tampang depan prototipe kedua J-20 amat mirip F-22.

China sendiri tak pernah mengumumkan kemunculan pesawat tersebut secara resmi. Penampakan jet kombatan yang kabarnya berkode Mighty Dragon itu bisa disimak di dunia maya dalam format foto-video hasil bidikan fotografer amatir. Mei lalu, pesawat ini tampak sedang melakukan uji-coba taxiing kecepatan rendah di sebuah lapangan terbang di Chengdu.

Benarkah J-20 dibuat berdasar rancang-bangun F-22? Meski dinas rahasia AS meyakininya sebagai hasil cyber-espionage, tak sedikit orang Amerika menyangsikannya sebagai jiplakan F-22. Itu karena banyak bagian pesawat ini berbeda dengan F-22. Tubuhnya, misalnya, lebih panjang, dan pesawat ini memiliki canard. Praktis memang hanya tampang depannya saja yang sama.

Shen dan Chang ditangkap ketika sedang memotret F-22. Berawal dari pembicaraan mengenai penyelundupan methamphetamine (bahan dasar obat bius) dari Hongkong ke AS musim panas setahun lalu, agen FBI yang sedang menyamar terperanjat ketika mereka menawarkan pula rahasia teknologi E-2C Hawkeye, sejumlah UAV, dan F-22 Raptor. FBI yang saat itu sedang menelusuri jejak hackers yang telah membobol rahasia teknologi jet tempur F-35 dari sistem komputer induk AS pun, segera menebar jebakan.

Penangkapan Shen dan Chang mengingatkan publik atas penangkapan Noshir Gowadia, mantan salah satu insinyur perancang pembom stealth B-2 yang terbukti membocorkan rahasia teknologi stealth ke China. Atas kesalahannya ini Gowadia yang keturunan India-Amerika diganjar hukuman 32 tahun.

Belum lagi pertanyaan demi pertanyaan tuntas terjawab, dinas rahasia AS kembali disibukkan dengan serangan spionase lain di lingkungan Gedung Putih. Juni lalu, sejumlah harian lokal mengabarkan, 10 orang warga AS ditangkap di beberapa tempat yang berlainan atas tuduhan menjual informasi tentang kebijakan pemerintah ke Rusia.

Kesepuluh orang itu ditangkap setelah FBI mendapati berita elektronik yang dikirim intelijen Rusia yang berkedudukan di Moskow kepada dua warga AS bernama Richard dan Cynthia Murphy di Montclair, New Jersey. "Pendidikan, rekening bank, mobil, rumah, dan lain-lain sudah kami bayar dengan satu tujuan. Selidiki dan jalin hubungan dengan para pembuat kebijakan di pemerintahan, lalu kirimlah intel," begitu bunyi pesan tersebut.

Apakah di antara kegiatan mata-mata yang dituduhkan itu ada yang saling terkait? (Baca laporannya lebih lengkap dalam Angkasa edisi September 2012)
 
Penempur, Pembom atau Pencegat?

Kini, pertanyaan paling santer yang beredar di permukaan adalah untuk misi apa gerangan J-20 dirancang? Untuk meraih keunggulan di udara, serang darat, pengeboman atau misi pencegatan? Minimnya data yang disiarkan pihak China, membuat spekulasi bermunculan bak jamur di musim hujan. Ulasan tak hanya diberikan pakar kemiliteran tetapi juga dari para pecinta penerbangan.

Tak kurang dari Vladimir Karnozov, pakar kedirgantaraan asal Rusia mengatakan, kemampuan pesawat ini sesungguhnya bisa diekstrapolasi dari dimensi ukuran tubuh, bentuk dan format tubuh serta sayap-sayap khusus yang disandang.

"Dari begitu banyak foto, meski semuanya serba amatiran, kita sebenarnya sudah bisa menilai untuk misi apa pesawat ini dibuat. Dari sayap utama yang berbentuk delta dan canard yang dipasang di muka sayap utama, bisa dikatakan J-20 disiapkan untuk misi atau operasi udara taktis. Tetapi, oleh karena bodinya lumayan panjang, gambaran itu kok menjadi kabur," ungkap Karnozov.

Ia pun menduga bentuk J-20 belum lah final. Chengdu Aircraft Industry, menurutnya, seolah masih terus mencari bentuk yang benar-benar pas sembari memilih mesin pendorong yang benar-benar tepat. Hal ini harus diungkap mengingat -- meski China memiliki kemampuan membuat mesin pesawat dan menjiplak mesin buatan Rusia – belum ada satu pun mesin yang dinilai cocok untuk disandingkan dengan J-20, baik dari segi ukuran maupun spesifikasi daya.

Chengdu, diberitakan, sempat mencobakan AL-31F pada prototipe pertama. Mesin buatan Lyuka (kini berubah nama jadi Saturn, dari Rusia) ini juga digunakan jet tempur Su-27, Su-30MKK dan Shenyang J-11. Tetapi, mengapa pada prototipe kedua, pilihan dialihkan ke WS-10? Apakah karena semata-mata mengutamakan buatan dalam negeri, atau ada pertimbangan lain?

Sementara pihak mengatakan, mungkin posisi mengambang seperti saat inilah yang disukai pejabat militer China. Laiknya pertarungan kekuatan di masa Perang Dingin, pertanyaan demi pertanyaan di seputar alut sista yang tengah dikembangkan secara rahasia akan mencuatkan misteri, dan misteri itu lah yang selanjutnya akan menaikkan posisi atau kekuatan tawar.

Di tengah kelangsungan program pengembangan jet tempur F-35 yang kerap tersandung masalah biaya dan keraguan pada kelangsungan pengerahan F-22 yang dinilai amat mahal, potensi ancaman dari negara-negara berpengaruh seperti China praktis memang menjadi hal yang sangat sensitif. Sementara kekuatan ekonomi negeri terus tumbuh dan melebar ke seantero dunia, sebagai negara yang paling digdaya, AS, mau tak mau memang harus berhitung.

Daily Tech, sebuah situs internet yang banyak mengulas topik kedirgantaraan di AS, kini menjadi salah satu wadah curah pendapat dan komentar di seputar kemunculan J-20. Roy Kahn, seorang warga AS, misalnya, mengirim komentar yang cukup menarik, khususnya menyangkut kegamangan AB AS dalam menanggapi pesawat tersebut. Ia mengatakan, kini pemerintah AS mestinya tengah bingung memikirkan bagaimana cara untuk mengimbangi kekuatan baru tersebut. Sebab, bagaimana pun, kemunculan senjata baru di China dikhawatirkan bisa menciptakan instabilitas di wilayah sekitarnya yang menjadi kepentingan AS.

Dari silang pendapat dan hujan komentar, alhasil muncullah faktor Taiwan yang selama ini memang selalu jadi "incaran" China. Benarkah J-20 disiapkan untuk menghadapi Taiwan? (Simak lebih lebih lengkap dalam Angkasa edisi September 2012).


 
J-20 & Kompetitor

Pembuatan J-20 Mighty Dragon (Naga Hebat) boleh saja masih jauh dari kelar. Pun, petinggi AB AS dan Rusia boleh saja mengenyampingkan teknologi stealth yang dikatakan tidak sempurna. Mereka melihat pemakaian canard, cerobong pembuangan gas mesin dan canard, misalnya, yang dinyatakan justru menurunkan kadar kesilumannya. Tetapi, diakui atau tidak, aura deterent Sang Naga telah terlanjur menyebar ke mana-mana. Kalau tidak, mengapa misalnya bagan perbandingan di bawah ini dibuat.

Berdasar skala kemampuan dan teknologi yang dipakai, J-20 memanglah sepadan jika disandingkan dengan tiga jet tempur yang paling menakutkan saat ini. Sukhoi Su-27 Flanker mewakili pesawat tempur yang selama puluhan tahun telah berhasil bikin gentar Barat oleh karena kemampuan manuverabilitasnya yang amat tinggi. Sukhoi T-50 PAK FA (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) mewakili monster buatan Rusia yang akan merajai di masa depan. Sementara, F-22 Raptor sebagai pembanding aktual yang kini telah eksis.



Sumber : Angkasa

Presiden dan Menhan Vietnam Temui Pemimpin Militer China

HANOI-(IDB) : Presiden Vietnam Truong Tan Sang kemarin sore (3/9) mengadakan pertemuan dengan Wakil Kepala Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok Ma Xiaotian yang menghadiri konsultasi pertahanan dan keamanan Tiongkok-Vietnam ke-6 di Hanoi. Pada kesempatan itu, kedua pihak telah mengadakan pembicaraan bersahabat mengenai hubungan bilateral. 

Truong Tan Sang dalam pertemuan itu mengatakan, pemimpin Vietnam sangat mendukung kerja sama antara tentara kedua pihak. Vietnam selalu berpendapat bahwa Tiongkok yang berkembang mantap menguntungkan perkembangan dan kestabilan Vitenam maupun kawasan. 

Ma Xiaotian menyatakan perlunya melihat perselisihan dewasa ini sacara benar, dan mengontrol krisis sacara efektif. Tiongkok berharap tentara kedua negara dapat menambah saling pengertian, meningkatkan saling percaya, dan mendorong kerja sama, menambah faktor positif bagi kemajuan hubungan kedua negara untuk memelihara situasi keseluruhan hubungan kedua negara. 

Kemarin sore, Menteri Pertahanan Vietnam Phung Quang Thanh bertukar pandangan dengan Wakil Kepala Staf Umum Ma Xiaotian mengenai hubungan kedua negara dan kedua tentara serta masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama. 

Phung Quang Thanh menilai tinggi hasil yang dicapai konsultasi pertahanan dan keamanan Tiongkok-Vietnam kali ini. Ia mengharapkan tentara kedua Negara terus meningkatkan komunikasi dan kerja sama di bidang pelatihan personil, kontak pertahanan perbatasan, komunikasi angkatan laut dan lain lain. 

Ma Xiaotian mengatakan bahwa hubungan militer adalah bagian penting dari hubungan kedua negara. Kedua pihak harus berupaya lebih banyak melakukan hal-hal yang menguntungkan kemajuan hubungan kedua negara. Diharapkan pula agar kedua pihak meningkatkan saling percaya, mengendalikan krisis, berusaha menjaga dan mendorong hubungan kedua negara agar berkembang sehat dan stabil. 



Sumber : CRI

Hubungan Indonesia-China Perlu Diperluas

JAKARTA-(IDB) : "Masing-masing pihak dari yang melakukan kerja sama, pasti memfokuskan pada kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, kerap tidak fokus pada kepentingan nasionalnya."

Tenaga ahli Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Wardiyono Suwaryo, mengatakan hubungan bilateral Indonesia dan China masih perlu diperluas, terutama menyangkut kepentingan politik Indonesia untuk mendukung ketahanan nasional.


"China kini menjadi salah satu negara yang maju di berbagai bidang baik ekonomi, politik maupun pertahanannya," kata Wardiyono, di Beijing, saat memimpin peserta pendidikan reguler angkatan ke-47 Lemhannas melakukan kunjungan kerja ke China, Senin (3/9).


Kemajuan China di berbagai bidang tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia yang banyak, dan kemampuan untuk membeli sumber daya dari negara lain yang tidak dimilikinya, antara lain dari Indonesia.

"Indonesia memiliki bahan tambang yang banyak. China sangat membutuhkan untuk mendorong roda industrinya. secara politik dan ekonomi Indonesia juga harus memikirkan ketersediaan bahan tambangnya untuk alam negeri. Karena ketahanan energi, ketahanan pangan di dalam negeri juga penting untuk menjaga ketahanan nasional," katanya.


Wardiyono menekankan dalam setiap kerja sama internasional yang dilakukan kepentingan nasional menjadi sangat penting.


"Masing-masing pihak dari yang melakukan kerja sama, pasti memfokuskan pada kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, kerap tidak fokus pada kepentingan nasionalnya," kata Wardiyono.


Diplomasi, militer, dan ekonomi disebutnya saling mendukung satu sama lain. Jika ketiganya bisa dibangun secara integral, maka kepentingan nasional, ketahanan nasional dapat diwujudkan maksimal. Menurut Wardiyono,  hal itulah yang dilakukan China, sehingga kini menjadi negara yang diperhitungkan.


Peserta didik PPRA ke-47 Lemhannas melakukan studi banding industri pertahanan dan sosial kemasyarakatan China di Beijing dan Shanghai, serta mengkaji bagaimana hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin baik dapat mendukung kepentingan serta ketahanan nasional secara maksimal.


Selain China untuk 2012 Lemhannas juga mengirimkan peserta didiknya ke Filipina, Thailand dan Selandia Baru. 

Siswa Lemhanas Studi Banding Ke China

Sekitar 30 siswa Program Pendidikan Reguler Angkatan 47 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) studi banding pengembangan militer dan pertahanan China, termasuk industri pertahanan negara itu.

Para peserta didik Lemhannas, di Beijing, Senin melakukan kunjungan ke salah satu grup industri pertahanan China yakni China Electronics technology Group Corporation (CETC) China North Industries Corporation (NORINCO).

Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Kolonel Elektonika Surya Margono, mengatakan pengembangan militer dan pertahanan China mengalami kemajuan cukup pesat, termasuk industri pertahanannya.

Mula pertama keberhasilan industri alat pertahanan China dari meniru produk-produk serupa buatan Uni Soviet; dilanjutkan mengembangkan sistem. Itu sebabnya bentuk dan "mahzab" sistem pertahanan China mirip dengan yang dimiliki Rusia saat ini, termasuk teknologi roket, satelit, dan kapsul angkasa luarnya.

Ia mengungkapkan CETC menjalin kerja sama dengan kementerian Pertahanan dan TNI terutama TNI Angkatan Laut dalam program Kapal Cepat Rudal (KCR).

"Demikian pula dengan Norinco, Kementerian Pertahanan dan TNI telah melakukan pula kerja sama untuk kebutuhan tertentu lainnya," ujar Margono.

Selain melihat langsung pengembangan industri pertahanan China, para peserta didik Lemhannas tersebut juga akan mengunjungi Universitas Pertahanan China, guna mengetahui program pendidikan yang diselenggarakan institusi pendidikan tersebut.

"Dengan melihat pula program pendidikan pertahanan yang ada, maka akan diketahui secara lengkap dan komprehensif bagaimana China mengembangkan sistem pertahanan dan militernya hingga menjadi besar seperti sekarang," katanya.

Tak hanya militer dan pertahanan para peserta didik Lemhannas itu juga mempelajari sosial kemasyarakatan masyarakat China, hingga bisa menjadi salah satu negara yang diperhitungkan.

"Para peserta Lemhannas itu kan para calon pemimpin bangsa, jadi mereka harus bagaimana mengelola dan mengembangan potensi sosial kemasyarakatan yang ada. Sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkesinambungan, berkelanjutan,` kata Surya menekankan.
 
 
Sumber : BeritaSatu

Semangat Proklamasi Tingkatkan Htbungan Indonesia China

JAKARTA-(IDB) : Duta Besar RI Untuk China merangkap Mongolia Imron Cotan mengatakan semangat Proklamasi 17 Agustus menjadi sarana untuk mempererat hubungan baik RI dengan China dan Mongolia.

"Saya meminta kepada seluruh warga negara Indonesia yang berada di China dan Mongolia untuk membantu meningkatkan hubungan Indonesia dengan China dan Mongolia," katanya, saat menjadi Pembina Upacara Peringatan HUT ke-67 RI di Kedutaan Besar RI di Beijing, Jumat.

Imron menekan,"siapapun WNI apapun profesinya, pelajar, mahasiswa, pengusaha dan lainnya marilah kita jadikan peringatan HUT-67 RI, semangat Proklamasi yang dilandasi Pancasila serta UUD1945 dimanfaatkan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dan China serta Mongolia,".

Ia menambahkan hubungan RI dan China dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatakan di berbagai bidang baik politik, sosial budaya, ekonomi dan militer.

Indonesia setelah melalui berbagai cobaan dan tantangan berhasil menjadi bangsa dan negara berdaulat dan menjadi salah satu negara demokratis terbesar.

"Secara ekonomi, Indonesia juga terus menunjukkan perkembangan positif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 6,5 persen per tahun atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 5,8 persen," katanya.

Bahkan kini Indonesia menjadi salah satu negara yang relatif tahan terhadap dampak krisis ekonomi Eropa dan Amerika, lanjut Imron.

"Dengan perkembangan ekonomi yang positif itu, kerja sama ekonomi Indonesia-China juga terus meningkat dari tahun ke tahun," katanya.

Demikian juga dengan kerja sama di berbagai bidang yang telah dijalin antara Indonesia dan China seperti militer.

Militer Indonesia dan China telah menjali kerja sama berupa pertukaran perwira siswa, latihan bersama dan peningkatan kerja industri pertahanan, kata Imron Cotan.

Hubungan RI dan Mongolia juga terus berjalan baik.

Upacara peringatan HUT ke-67 RI di Kedutaan Besar RI di Beijing diisi dengan obade yang menyanyikan delapan lagu nasional dan daerah.


Sumber : Antara

Indonesia China Sepakat Pelihara Stabilitas Kawasan Laut Cina Selatan

JAKARTA-(IDB) : Dalam upaya peningkatan hubungan bilateral, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Yang Jiechi, mengunjungi Indonesia, Jumat (10/08/2012). Selain membahas soal peningkatan kerjasama kedua negara dalam berbagai bidang, Menteri Yang, juga membicarakan upaya mengatasi konflik di Laut Cina Selatan.

Selepas memimpin pertemuan kedua Komisi Bersama Kerjasama Bilateral bersama Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok, Yang Jiechi menyatakan mendukung upaya penyelesaian damai di Laut Cina Selatan melalui adanya Kode Etik (Code of Conduct).


“Tiongkok berkeinginan untuk bekerjasama dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya untuk mengimplementasikan secara penuh dan efektif deklarasi etik dari pihak-pihak yang terlibat, membangun rasa saling percaya, meningkatkan kerjasama, memelihara perdamaian dan stabilitas dan bekerja atas dasar konsensus bagi diadopsinya suatu kode etik di Laut Cina Selatan,” demikian pernyataan Yang Jiechi dalam pernyataan di Jakarta.

​​Sebelumnya Menteri Yang Jiechi mengadakan kunjungan kehormatan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Keduanya membahas peningkatan hubungan bilateral kedua negara dan niat Pemerintah Tiongkok untuk meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang mencakup investasi dan perdagangan, pangan, energi, kelautan, pembangunan infrastruktur, teknologi, serta pertahanan dan keamanan.

Secara khusus mengenai isu Laut Cina Selatan, Staf Khusus Presiden Bidang Internasional, Teuku Faizasyah, mengatakan Presiden Yudhoyono berfokus pada upaya penyusunan substansi pada Deklarasi Etik atau Declaration of Conduct (DOC) menuju Kode Etik atau Code of Conduct (COC) atas wilayah yang kaya akan hasil laut dan energi itu.


“ASEAN dan Tiongkok fokus pada upaya penyusunan DOC menuju COC. Jadi apa yang sudah disepakati dalam pertemuan di Bali tahun lalu untuk kemudian diejawantahkan prosesnya lebih lanjut antara pihak Tiongkok dan ASEAN,” kata Teuku Faizasyah.


Beberapa pulau di Laut Cina Selatan selama ini diperebutkan oleh Tiongkok, Taiwan, dan negara-negara ASEAN, yaitu Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Meskipun tidak ikut dalam perebutan itu, Indonesia aktif mendekati negara-negara yang berpolemik, termasuk Tiongkok. 


“ (Pertemuan) tadi tidak secara rinci membahas langkah apa yang harus dilakukan antara satu negara dengan negara lain, tetapi semata melakukan re-group atau mengkonsolidasi ulang proses diplomasinya," ungkap Menlu Marty Natalegawa.


"Pasca pertemuan tingkat menteri luar negeri di Phnom Penh, Kamboja, sempat dipertanyakan soal kesatuan ASEAN. Kesatuan ASEAN sudah dipulihkan dengan adanya diplomasi Indonesia. Dengan Tiongkok pun kita melakukan hal yang sama dan intinya Tiongkok setuju proses diplomasilah yang harus diutamakan dan dikedepankan,” jelas Menlu RI.


Sementara Itu, Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Makmur Keliat, kepada VOA menilai langkah diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia sejauh ini sebagai upaya memindahkan persoalan perebutan wilayah itu menjadi ajang dialog, sementara kedatangan Menteri Tiongkok ini menurutnya sebagai upaya meyakinkan negara-negara ASEAN bahwa Tiongkok tidak bermaksud membuat situasi di kawasan ini menjadi rawan terhadap konflik militer.


“Kalau ada harapan bahwa Tiongkok akan menghilangkan klaim kedaulatan atas wilayah itu, saya kira harapan itu mungkin terlalu tinggi, karena hal itu akan menyulitkan para pengambil kebijakan luar negeri Tiongkok dalam mempertangungjawabkan sikap seperti itu di dalam negerinya. Tetapi jika harapan itu diturunkan tetap pada status quo, saya kira itu menjadi lebih realistis,” kata pengamat Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, Makmur Keliat. 



Sumber : Voanews