Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan

Night Flight Training for Su-30MK2V Fighter

24 September 2012

Preparing night flight on Su-30MK2 at 923 Regiment (photo : VTC News, Giaoduc)

Recently, the Regiment 923 fighter successfully conducted the flight night on new fighter Su-30MK2V.

After the preparation process on all sides, the middle of September, the 923rd Regiment (371st Division, Air Defense - Air Force) held the first night on the aircraft Su-30MK2V.


Monitor and direct flight training mission at night Regiment Major General Do Minh Tuan, deputy commander of the Air Defense - Air Force.

Board flight was a success, reaching 100% of the plan.

Major General Do Minh Tuan congratulate and commend the efforts of the officers and soldiers of the Regiment 923, and requests the next time, the regiment continued efforts to improve the quality of training and perform tasks on duty combat aircraft.

RMAF May Lease Gripens an Option

24 September 2012

Swedish Gripen (photo : Militaryphotos)

PETALING JAYA : The Royal Malaysian Air Force (RMAF) is considering an offer from Sweden to lease up to 18 JAS39 Gripen fighter jets for its Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) programme.

RMAF chief Tan Sri Rodzali Daud told theSun leasing the Gripens is a cheaper solution considering the huge capital expenditure needed for the procurement of new fighters.

"The Gripens had been leased to European air forces, so there is nothing new about such a deal.

"The aircraft also meets all of our MRCA requirements although I admit it is short on gas and range due to its small size," he said when asked to comment on claims by defence industry sources that Sweden has offered a lease-buy option for the Gripens.

Sources told theSun that offer was made after Gripen and the Sukhoi Su-30MKM were eliminated from the MRCA programme following technical evaluation by RMAF test pilots.

They said the three top contenders, namely Boeing F/A-18 Super Hornet, Dassault Rafale and Eurofighter Typhoon, would compete for the final stage of the programme, where their transfer of technology packages and off-set offers would be evaluated before the winner is selected.

Rodzali denied that Gripen and Sukhoi were no longer considered for the MRCA programme as "we are still evaluating all of the aircraft".

He also denied that RMAF had ranked the aircraft in the technical evaluation.

Instead, he said, the aircraft's strengths and weaknesses were documented for further evaluation.

According to him, one important factor for the final selection would be the lowest support cost. "If the Super Hornet is seen as the favourite, it is because we already have the Hornets (eight units) in service."

Asked how many Gripens will be leased if the offer is accepted, he said "preferably it will be 18 planes as specified in the MRCA".

He said despite budgetary constraints, the MRCA programme will go ahead as the air force has planned to retire the 10 MiG-29N Fulcrum air superiority fighters by 2015. "We may need a special budget, one that covers three Malaysian plans," he added.

Rodzali declined to confirm the budget allocation for the MRCA programme but sources told theSun the air force could only procure 12 jets if it opts for the Super Hornet, Rafale or Typhoon.

Hungary and Czech operate the Gripens under a 10-year lease-and-buy contract, for around RM398 million a year, which covers servicing and training.
Rodzali dismissed any hint of an arm race in the impending buy.

"The reason we are looking for new fighters is because of the capability gap. We need to ensure we are on par with other nations.

"Another reason is technology. Technology is moving rapidly. We cannot afford to be left behind."

Kehadiran Super Tucano Menuju The First Class Air Force

MALANG-(IDB) : Pengadaan pesawat terbang Embraer EMB 314 Super Tucano merupakan bagian dari program pembangunan kekuatan pertahanan untuk mewujudkan kekuatan pokok pertahanan (minimum essensial force) dan dalam rangka membangun kekuatan TNI AU menuju the first class air force.

Untuk tujuan tersebut, pada rencana strategis 2010-2014, pemerintah telah merencanakan pengadaan 16 unit pesawat Super Tucano untuk tercapainya satu Skuadron Super Tucano yang utuh.

Demikian disampaikan oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro pada acara Serah Terima Pesawat Terbang Embraer EMB 314 Super Tucano dan Follow On Support di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin (17/9).

Menurut Menhan, pesawat terbang Super Tucano ini akan memperkuat jajaran Wing 2 Lanud Abdurachman Saleh Malang khususnya Skadron-21 Koopsau 2. Penempatan Skuadron-21 Super Tucano di Lanud Abdulrachman Saleh Malang didasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas operasi pertahanan udara nasional serta penegakan hukum wilayah udara NKRI.

Menhan berharap keberadaan pesawat terbang Super Tucano dapat menjadi kebanggaan tidak hanya jajaran TNI dan TNI AU tapi bangsa Indonesia secara keseluruhan guna mengemban tugas mulia dalam melindungi dan mengamankan kedaulatan udara NKRI.

Pada kesempatan itu, Menhan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah Brasil serta apresiasi atas kerja sama yang erat dan bersahabat dalam meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan. "Kepada jajaran TNI khususnya TNI AU, dengan hadirnya pesawat terbang Super Tucano ini saya harapkan dapat memanfaatkannya secara optimal termasuk dalam sistem pemeliharaan dan perawatannya," kata Menhan.

Menhan berharap dengan kehadirannya pesawat Super Tucano ini, TNI AU khususnya jajaran Lanud Abdurachman Saleh, Malang akan lebih semangat dan termotivasi dalam pengabdiannya kepada negara dan bangsa ini," katanya.

Sebelumnya diberitakan, empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi memperkuat memperkuat kekuatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) di jajaran TNI Angkatan Udara. Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H. Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.



Sumber : Jurnas

Embraer Brazil Tawari Joint Production Super Tucano

MALANG-(IDB) : Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pascapenjualan Super Tucano ke Indonesia.

Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama.


”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang,kemarin. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.

Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah lima tahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.

Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU,hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82,dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi.Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan,kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah,melainkan jangka panjang.

”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan,Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesia membeli minimal dua skuadron.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesia mendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.



Sumber : Sindo

Embraer Tawarkan ToT Penuh Pesawat Super Tucano

18 September 2012

Pesawat Super Tucano dapat diproduksi di Indonesia bila pesanan mencapai 32 unit (Alejandro Hdez Leon)

 Super Tucano Bisa Mengangkut 1,5 Ton Senjata      
 
MALANG – Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pascapenjualan Super Tucano ke Indonesia.

Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama.

”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang,kemarin. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.

Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah limatahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.

Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU,hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82,dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi.Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan,kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah,melainkan jangka panjang.

”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan,Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesiamembeli minimal dua skuadron.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesiamendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.

Pesawat Super Tucano Resmi Diserahterimakan Kepada TNI AU

MUNADY/"PRLM"
MALANG-(IDB) : Empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi menjadi bagian dari alat utama sistem senjata di jajaran TNI Angkatan Udara.

Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.

Serah terima empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 ini merupakan bagian dari kontrak pembelian 8 (delapan) unit pesawat sejenis antara Kemhan RI dengan Embraer pada tahun 2010 dengan nilai total US$141,99 juta.

Sedangkan empat unit pesawat Super Tucano lainnya direncanakan akan tiba di Indonesia pada bulan Maret 2013. Delapan pesawat tempur ini ditempatkan di Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur untuk menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang secara resmi tidak lagi dioperasikan oleh TNI AU sejak tahun 2009.

Pesawat Super Tucano merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi counter insurgency, sebagai pesawat remote air control (pesawat kontrol udara) dan juga dapat digunakan sebagai pesawat intai. Keunggulan pesawat jenis Super Tucano ini tidak hanya lebih murah dibandingkan dengan pesawat tempur jenis F-16, akan tetapi juga paling murah biaya operasinya.

Keunggulan lainnya, pesawat Super Tucano mampu membawa amunisi minimal 1.500 kilogram. Selain itu, pesawat Super Tucano juga digunakan oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat. Pesawat Super Tucano ini juga lebih unggul karena bisa beroperasi minimal tiga jam. Di Brasil, pesawat Super Tucano ini berhasil mengurangi illegal logging dan trafficking.

Sebelumnya, empat unit pesawat Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (2/9). Pesawat-pesawat itu tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama dua minggu. Keempat pesawat Super Tucano yang diawaki pilot dan teknisi Embraer itu melintasi wilayah udara seperti Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand, dan mendarat di Pangkalan Udara Soewondo di Medan, Sumatera Utara.

Kemudian dilanjutkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan berakhir di Malang. Keempat pesawat Super Tucano tersebut telah diregistrasi dengan nomor ekor masing-masing TT 3101, TT 3102, TT 3103, dan TT 3104.

Tadi pagi, Senin (17/9) Menhan bersama rombongan take-off dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Lanud Abdulrachman Saleh dengan menggunakan pesawat Hercules.



Sumber : Jurnas

China Mengeluarkan Prototipe Pesawat Tempur Baru

17 September 2012

Pesawat F-60 atau J-21 atau J-31 buatan Shenyang (photos : tiexue)

Belum lagi prototipe pesawat J-20 lansiran pabrikan Chengdu selesai menjalani uji coba,  pabrikan yang lain yaitu Shenyang telah mengeluarkan prototipe pesawat tempur generasi baru China yang lain yang dinamakan F-60 atau J-21 atau mungkin J-31.



Menilik bentuk pesawatnya, F-60 mempunyai dua sirip tegak dan dua mesin dengan lubang pembuangan udara tipe konvensional, sekilas pesawat ini lebih mirip dengan F-35 JSF termasuk air intake-nya namun bila JSF bermesin tunggal, F-60 ini menggunakan dengan mesin ganda. 



Mesin pesawat ini diperkirakan masih memakai produk Russia yaitu Klimov RD-33 (mesin yang dipakai untuk pesawat MiG-29) atau RD-93 (varian mesin RD-33) telah dipakai untuk pesawat lansiran China-Pakistan JF-17.



Berbeda dengan model yang dipamerkan, jika kita perhatikan roda pendarat bagian depan pada pesawat prototipe tersebut menggunakan roda ganda, pada umumnya roda pendarat depan tipe ganda digunakan hanya untuk pesawat yang beroperasi di kapal induk. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah pesawat ini memang diproyeksikan untuk mampu beroperasi dari kapal induk. 


Memang timbul pertanyaan, teknologi pesawat ini masuk kategori 4.5 ataukah 5.0. Melihat impresi artis berikut yang menunjukkan bahwa sebagian persenjataan yang ada akan dipasang pada hardpoint pada sayap dan bodinya bukan pada internal weapon bay maka pesawat ini lebih tepat dimasukkan ke golongan 4.5.


Pesawat tempur generasi kelima ditandai dengan fungsi stealth yang diperoleh dalam pengurangan RCS-nya dan penggunaan internal weapon bay untuk menyimpan semua persenjataannya. Ciri yang lain adalah sifat supercruise (mempunyai jangkauan operasi yang jauh), dan kemampuan networked (dapat bertukar data secara real time dengan satuan operasi yang lain).

(Defense Studies)

Tampilan Perdana Pesawat KF / IF - X Serie C-103

Model pesawat KFX/IFX serie C103
SEOUL-(IDB) : CRDC (Combined  Research & Development Center) sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah Korea dan Indonesia yang merupakan gabungan antara engineer Korea dan Indonesia yang bekerja bersama-sama untuk pengembangan jet tempur generasi 4.5 yang diberi nama KFX / IFX baru-baru ini merilis gambar pertama dari hasil kerjasama keduanya yang dinamakan versi C103.

C103 adalah rancangan baru dari program KFX/IFX yang mempunyai penampakan seperti F-22 Raptor dengan bentuk yang meminimalkan RCS (Radar Cross Section). Perbedaan yang paling menonjol adalah persenjataan yang dibawa C103 dapat terlihat semuanya karena digotong dibawah sayapnya. Pada F-22 Raptor persenjataan tersebut tersimpan dalam  Internal Weapon Bay sehingga pesawat tersebut dapat tampil full stealth.

C103 rencananya akan menggunakan radar AESA (Active Electronic Scanned Array) yang dikembangkan oleh perusahaan Korea LIG Nex1. Pesawat ini direncanakan untuk dapat membawa persenjataan 4 rudal udara ke udara jarak menengah sekelas AMRAAM, 2 rudal udara ke udara jarak pendek dan dapat membawa bom hingga 1,000 pound sekelas JDAM (Joint Direct Attack Munition), yang semuanya terpasang pada 11 cantelan di bawah sayap dan bodinya.

Dengan mesin yang mempunyai daya dorong 36.000 pound sekelas F404 / F414 / EJ200 maka C103 diproyeksikan akan mempunyai kemampuan di atas pesawat F-16. Keberhasilan program KFX/IFX ini akan menjadi kuda hitam dalam persaingan pemasaran pesawat tempur sekelas F/A-18E/F, F-16 Block 60, dan Eurofighter Typhoon.
 
 
Sumber : KD

Tampilan Pertama Pesawat KFX Serie C103

06 September 2012

Model pesawat KFX/IFX serie C103 (all photos : KDN)

CRDC (Combined  Research & Development Center) sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah Korea dan Indonesia yang merupakan gabungan antara engineer Korea dan Indonesia yang bekerja bersama-sama untuk pengembangan jet tempur generasi 4.5 yang diberi nama KFX / IFX baru-baru ini merilis gambar pertama dari hasil kerjasama keduanya yang dinamakan versi C103.


C103 adalah rancangan baru dari program KFX/IFX yang mempunyai penampakan seperti F-22 Raptor dengan bentuk yang meminimalkan RCS (Radar Cross Section). Perbedaan yang paling menonjol adalah persenjataan yang dibawa C103 dapat terlihat semuanya karena digotong dibawah sayapnya. Pada F-22 Raptor persenjataan tersebut tersimpan dalam  Internal Weapon Bay sehingga pesawat tersebut dapat tampil full stealth.


C103 rencananya akan menggunakan radar AESA (Active Electronic Scanned Array) yang dikembangkan oleh perusahaan Korea LIG Nex1. Pesawat ini direncanakan untuk dapat membawa persenjataan 4 rudal udara ke udara jarak menengah sekelas AMRAAM, 2 rudal udara ke udara jarak pendek dan dapat membawa bom hingga 1,000 pound sekelas JDAM (Joint Direct Attack Munition), yang semuanya terpasang pada 11 cantelan di bawah sayap dan bodinya.


Dengan mesin yang mempunyai daya dorong 36.000 pound sekelas F404 / F414 / EJ200 maka C103 diproyeksikan akan mempunyai kemampuan di atas pesawat F-16. Keberhasilan program KFX/IFX ini akan menjadi kuda hitam dalam persaingan pemasaran pesawat tempur sekelas F/A-18E/F, F-16 Block 60, dan Eurofighter Typhoon.

(Defense Studies)

Kisah Spionase di Balik Kemunculan J-20

ANGKASA-(IDB) : Perang Dingin sudah lewat, tetapi persinggungan Barat-Timur masih sering terjadi. Bola panas menggelinding setelah April lalu FBI menyiarkan penangkapan dua agen spionase Taiwan di Las Vegas. Mereka dituduh mencuri rahasia jet tempur stealth F-22 Raptor untuk China. Entah tuduhan itu benar atau tidak, faktanya tampang J-20 yang baru saja diuji terbang memang mirip jet tempur yang paling digdaya ini. Tuduhan spionase tersebut tiba-tiba menggema ke seantero jagat. Dalam waktu hampir bersamaan Kremlin dan Teheran balik menuduh Israel, negara yang berkiblat ke AS, melakukan upaya serupa. Sebaliknya AS juga menuduh Kremlin telah berusaha menggunakan sepuluh warga AS untuk mencuri informasi penting di Gedung Putih. Lebih jauh tentang hiruk-pikuk petualangan para James Bond di balik perancangan pesawat tempur ini.

Laiknya kisah spionase, berita tentang kegiatan mata-mata jarang sekali yang berakhir dengan kejelasan. Semua tetap beredar di wilayah abu-abu. Apalagi karena di sekitarnya juga beredar kisah-kisah serupa yang sama-sama menarik dan sama-sama tak jelas, seperti kisah dua penyelundup obat bius asal Taiwan yang April lalu ditangkap FBI (Biro Investigasi Federal AS) atas tuduhan mencuri rahasia jet tempur F-22 untuk China.

Berita tentang pasangan Hui Sheng Shen, 45 tahun, yang dikenal sebagai Charlie, dan Huan Ling Chang, 41 tahun, yang dikenal sebagai Alice itu, kini, menjadi isu spionase paling hot di dunia maya. Nama Shen dan Chang kini menjadi trending topic karena santer dibicarakan sebagai mata-mata yang menyuplai teknologi F-22 ke Chengdu Aircraft Industry terkait pembuatan J-20.

J-20 adalah pesawat kombatan yang tengah dikembangkan sebagai tulang punggung kekuatan udara China di masa datang. Belum lama ini China telah menggelindingkan keluar prototipe ke-2, untuk menjalani uji taxiing. Prototipe pertama telah lebih dulu menjalani uji terbang pada Januari 2011. Yang bikin ribut: tampang depan prototipe kedua J-20 amat mirip F-22.

China sendiri tak pernah mengumumkan kemunculan pesawat tersebut secara resmi. Penampakan jet kombatan yang kabarnya berkode Mighty Dragon itu bisa disimak di dunia maya dalam format foto-video hasil bidikan fotografer amatir. Mei lalu, pesawat ini tampak sedang melakukan uji-coba taxiing kecepatan rendah di sebuah lapangan terbang di Chengdu.

Benarkah J-20 dibuat berdasar rancang-bangun F-22? Meski dinas rahasia AS meyakininya sebagai hasil cyber-espionage, tak sedikit orang Amerika menyangsikannya sebagai jiplakan F-22. Itu karena banyak bagian pesawat ini berbeda dengan F-22. Tubuhnya, misalnya, lebih panjang, dan pesawat ini memiliki canard. Praktis memang hanya tampang depannya saja yang sama.

Shen dan Chang ditangkap ketika sedang memotret F-22. Berawal dari pembicaraan mengenai penyelundupan methamphetamine (bahan dasar obat bius) dari Hongkong ke AS musim panas setahun lalu, agen FBI yang sedang menyamar terperanjat ketika mereka menawarkan pula rahasia teknologi E-2C Hawkeye, sejumlah UAV, dan F-22 Raptor. FBI yang saat itu sedang menelusuri jejak hackers yang telah membobol rahasia teknologi jet tempur F-35 dari sistem komputer induk AS pun, segera menebar jebakan.

Penangkapan Shen dan Chang mengingatkan publik atas penangkapan Noshir Gowadia, mantan salah satu insinyur perancang pembom stealth B-2 yang terbukti membocorkan rahasia teknologi stealth ke China. Atas kesalahannya ini Gowadia yang keturunan India-Amerika diganjar hukuman 32 tahun.

Belum lagi pertanyaan demi pertanyaan tuntas terjawab, dinas rahasia AS kembali disibukkan dengan serangan spionase lain di lingkungan Gedung Putih. Juni lalu, sejumlah harian lokal mengabarkan, 10 orang warga AS ditangkap di beberapa tempat yang berlainan atas tuduhan menjual informasi tentang kebijakan pemerintah ke Rusia.

Kesepuluh orang itu ditangkap setelah FBI mendapati berita elektronik yang dikirim intelijen Rusia yang berkedudukan di Moskow kepada dua warga AS bernama Richard dan Cynthia Murphy di Montclair, New Jersey. "Pendidikan, rekening bank, mobil, rumah, dan lain-lain sudah kami bayar dengan satu tujuan. Selidiki dan jalin hubungan dengan para pembuat kebijakan di pemerintahan, lalu kirimlah intel," begitu bunyi pesan tersebut.

Apakah di antara kegiatan mata-mata yang dituduhkan itu ada yang saling terkait? (Baca laporannya lebih lengkap dalam Angkasa edisi September 2012)
 
Penempur, Pembom atau Pencegat?

Kini, pertanyaan paling santer yang beredar di permukaan adalah untuk misi apa gerangan J-20 dirancang? Untuk meraih keunggulan di udara, serang darat, pengeboman atau misi pencegatan? Minimnya data yang disiarkan pihak China, membuat spekulasi bermunculan bak jamur di musim hujan. Ulasan tak hanya diberikan pakar kemiliteran tetapi juga dari para pecinta penerbangan.

Tak kurang dari Vladimir Karnozov, pakar kedirgantaraan asal Rusia mengatakan, kemampuan pesawat ini sesungguhnya bisa diekstrapolasi dari dimensi ukuran tubuh, bentuk dan format tubuh serta sayap-sayap khusus yang disandang.

"Dari begitu banyak foto, meski semuanya serba amatiran, kita sebenarnya sudah bisa menilai untuk misi apa pesawat ini dibuat. Dari sayap utama yang berbentuk delta dan canard yang dipasang di muka sayap utama, bisa dikatakan J-20 disiapkan untuk misi atau operasi udara taktis. Tetapi, oleh karena bodinya lumayan panjang, gambaran itu kok menjadi kabur," ungkap Karnozov.

Ia pun menduga bentuk J-20 belum lah final. Chengdu Aircraft Industry, menurutnya, seolah masih terus mencari bentuk yang benar-benar pas sembari memilih mesin pendorong yang benar-benar tepat. Hal ini harus diungkap mengingat -- meski China memiliki kemampuan membuat mesin pesawat dan menjiplak mesin buatan Rusia – belum ada satu pun mesin yang dinilai cocok untuk disandingkan dengan J-20, baik dari segi ukuran maupun spesifikasi daya.

Chengdu, diberitakan, sempat mencobakan AL-31F pada prototipe pertama. Mesin buatan Lyuka (kini berubah nama jadi Saturn, dari Rusia) ini juga digunakan jet tempur Su-27, Su-30MKK dan Shenyang J-11. Tetapi, mengapa pada prototipe kedua, pilihan dialihkan ke WS-10? Apakah karena semata-mata mengutamakan buatan dalam negeri, atau ada pertimbangan lain?

Sementara pihak mengatakan, mungkin posisi mengambang seperti saat inilah yang disukai pejabat militer China. Laiknya pertarungan kekuatan di masa Perang Dingin, pertanyaan demi pertanyaan di seputar alut sista yang tengah dikembangkan secara rahasia akan mencuatkan misteri, dan misteri itu lah yang selanjutnya akan menaikkan posisi atau kekuatan tawar.

Di tengah kelangsungan program pengembangan jet tempur F-35 yang kerap tersandung masalah biaya dan keraguan pada kelangsungan pengerahan F-22 yang dinilai amat mahal, potensi ancaman dari negara-negara berpengaruh seperti China praktis memang menjadi hal yang sangat sensitif. Sementara kekuatan ekonomi negeri terus tumbuh dan melebar ke seantero dunia, sebagai negara yang paling digdaya, AS, mau tak mau memang harus berhitung.

Daily Tech, sebuah situs internet yang banyak mengulas topik kedirgantaraan di AS, kini menjadi salah satu wadah curah pendapat dan komentar di seputar kemunculan J-20. Roy Kahn, seorang warga AS, misalnya, mengirim komentar yang cukup menarik, khususnya menyangkut kegamangan AB AS dalam menanggapi pesawat tersebut. Ia mengatakan, kini pemerintah AS mestinya tengah bingung memikirkan bagaimana cara untuk mengimbangi kekuatan baru tersebut. Sebab, bagaimana pun, kemunculan senjata baru di China dikhawatirkan bisa menciptakan instabilitas di wilayah sekitarnya yang menjadi kepentingan AS.

Dari silang pendapat dan hujan komentar, alhasil muncullah faktor Taiwan yang selama ini memang selalu jadi "incaran" China. Benarkah J-20 disiapkan untuk menghadapi Taiwan? (Simak lebih lebih lengkap dalam Angkasa edisi September 2012).


 
J-20 & Kompetitor

Pembuatan J-20 Mighty Dragon (Naga Hebat) boleh saja masih jauh dari kelar. Pun, petinggi AB AS dan Rusia boleh saja mengenyampingkan teknologi stealth yang dikatakan tidak sempurna. Mereka melihat pemakaian canard, cerobong pembuangan gas mesin dan canard, misalnya, yang dinyatakan justru menurunkan kadar kesilumannya. Tetapi, diakui atau tidak, aura deterent Sang Naga telah terlanjur menyebar ke mana-mana. Kalau tidak, mengapa misalnya bagan perbandingan di bawah ini dibuat.

Berdasar skala kemampuan dan teknologi yang dipakai, J-20 memanglah sepadan jika disandingkan dengan tiga jet tempur yang paling menakutkan saat ini. Sukhoi Su-27 Flanker mewakili pesawat tempur yang selama puluhan tahun telah berhasil bikin gentar Barat oleh karena kemampuan manuverabilitasnya yang amat tinggi. Sukhoi T-50 PAK FA (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) mewakili monster buatan Rusia yang akan merajai di masa depan. Sementara, F-22 Raptor sebagai pembanding aktual yang kini telah eksis.



Sumber : Angkasa

DPR Tunggu Penjelasan Pemerintah Perihal Tambahan Hibah F-16 AS

JAKARTA-(IDB) : Indonesia akan mendapat tambahan pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Menteri luar negeri AS,Hillary Clinton menilai hibah tersebut sebagai bentuk dukungan konkret AS terhadap keamanan Indonesia. Hal ini di sampaikan oleh Menlu RI Marti Natalegawa.

Namun sejauh ini, Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan hubungan luar negeri belum tahu apakah yang dimaksud dengan pemberian hibah pesawat F-16 itu seperti yang sudah di janjikan oleh AS sejak lama sebanyak 24 unit atau ada tambahan. "Sehingga jumlahnya lebih dari itu," ujar Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/9).

Oleh karena itu, kata Hasanuddin, posisi Komisi I saat ini menunggu penjelasan dari Pemerintah dan Kemenhan. "Kalau soal hibah F-16 sebanyak 24 unit itu sudah dibahas di Komisi I. Termasuk besaran anggarannya untuk perbaikan sekitar USD 600 juta," katanya.

Prinsipnya, sejauh hibah F-16 itu tidak ada persyaratan politiknya, tidak memberatkan kepentingan nasional dan tidak ada syarat-syarat lain dibelakang hari, maka Komisi I dapat memahami jika Pemerintah akan menerima tawaran hibah F-16 tersebut.

"Walau sesungguhnya Komisi I DPR sudah berulangkali mengatakan kepada Pemerintah perlunya modernisasi alutsista, termasuk soal pesawat dalam kondisi baru," tegasnya.



Sumber : Jurnamen

DPR Dukung TNI Akuisisi 2 Skuadron Super Tucano Dan T-50 Korsel

JAKARTA-(IDB) : Komisi I menyambut baik atas tibanya empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan pabrikan Embraer dari Brasil.

"Empat pesawat latih Super Tucano itu merupakan bagian 16 pesawat Super Tucano yang dipesan TNI AU untuk kepentingan pengkaderan bagi pilot tempur. Keseluruhan pesawat latih yang dipesan itu diharapkan pada 2013 secara keseluruhan mesti tiba di Tanah Air," ujar Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (3/9).

Menurut Mahfudz, DPR berharap kehadiran dua skuadron pesawat latih itu nantinya semakin mewujudkan modernisasi alutsista TNI, mendekati postur alutsista minimum. "Termasuk kehadiran pesawat latih tersebut sebagai upaya modernisasi bagi kapal latih tempur," ujarnya.

Mahfudz mengatakan, selain mendukung pengadaan dua skuadron pesawat latih Super Tucano, Komisi I juga telah memberikan dukungan bagi pembelian dua skuadron pesawat latih seri T-50 dari Korea Selatan.

"Diharapkan pesawat latih T-50 dari Korsel itu mulai 2013 juga mulai tiba di Tanah Air. Sehingga hal itu akan semakin memperkokoh skuadron satuan pesawat latih bagi TNI untuk mencetak pilot tempur di masa datang lebih banyak lagi, yang terampil dalam menguasai teknologi pesawat tempur yang canggih di era saat ini dan ke depannya," ujarnya.

Mahfudz mengatakan, dipilihnya pembelian pesawat latih T-50 dari Korsel itu, sebagai bagian dari upaya produksi pesawat tempur bersama bagi kedua negara, yaitu KFX. "Penggunaan pesawat latih T-50 menggunakan sistem dan teknologi yang telah mendekati dari teknologi yang digunakan pesawat tempur KFX, generasi lebih muda dari pesawat jenis F-16 dari AS," tegasnya.

Seperti diketahui, empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 tiba di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/9) siang. Pada 17 September 2012, keempat pesawat itu akan diserahkan secara resmi ke negara atau ke pihak TNI AU.



Sumber : Jurnamen

Si Ringan Super Tucano TNI AU

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Udara baru saja kedatangan empat pesawat tempur ringan, Super Tucano. TNI AU membeli 16 unit pesawat yang mempunyai kelebihan untuk menyasar target tersebut dari Brasil seharga Rp2,7 triliun.

Nama Super Tucano melejit sejak Operasi Phoenix Angkatan Udara Kolombia pada 2008. Pesawat Super Tucano negara tersebut berhasil menewaskan pimpinan pemberontak FARC, Raul Reyes, dalam suatu serangan lintas perbatasan ke Venezuela.

Pesawat ini memang digunakan di sejumlah negara Amerika Latin. Sebut saja Republik Dominika, Kolombia, Ekuador, dan Chile. Selain Indonesia, Brasil pun mengekspor pesawat ini ke Angola, Burkina Faso, dan Mauritania.

Dilengkapi mesin tunggal turboprop, Super Tucano memiliki kemampuan mengenai target dengan sempurna.

Dua senapan mesin dipasangkan pabrikan Embraer, Brasil, pada sayap serta 5 hardpoint di sayap dan fuselage untuk mengangkut rudal, roket atau bom seberat 1,5 ton. Pesawat ini pun didesain untuk melakukan serangan anti-gerilya, pengintaian, dan patroli.

Pesawat tempur turboprop memiliki fungsi yang berbeda dengan pesawat jet seperti F 16 atau Sukhoi SU 30. Pesawat turboprop mampu terbang rendah dalam waktu yang lama, sehingga cocok untuk anti-gerilya. Biaya operasi tidak tinggi, perawatan murah, dan bisa mendarat di landasan pacu sederhana.

Namun, pesawat ini memiliki daya angkut senjata yang terbatas. Super Tucano juga tidak memiliki radar warning receiver, sehingga tidak bisa mendeteksi rudal anti-pesawat yang dipandu radar. Kecepatan terbang yang rendah, juga mengurangi efektivitas pemakaian flare (jika dipasang) terhadap misil.

Sementara itu, pesawat jet tidak bisa terbang lama, berbiaya mahal, dan tidak bisa melakukan pengintaian. Namun, kelebihannya, mampu membawa amunisi lebih banyak, bisa cepat menyergap lawan, dan lebih sulit ditembak.

Menurut Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Muda Jhoni Sitompul, Super Tucano memang melengkapi pesawat-pesawat dengan kecepatan tinggi seperti pesawat jet. Dia menambahkan, 16 pesawat yang diimpor tersebut akan menggantikan pesawat OV-10 Bronco Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Pesawat jet lebih ditujukan untuk perang terbuka dan posisi pesawat turboprop hanya sebagai “air support”. Sementara itu, untuk perang irreguler atau gerilya, pesawat turboprop sangat diandalkan untuk menghancukan soft target dengan bekerja sama dengan pasukan darat.



Sumber : Vivanews

Empat Super Tucano TNI AU Mendarat Mulus Di Malang

MALANG-(IDB) : Empat unit pesawat Super Tucano, yang diberangkatkan dari Halim Perdana Kusuma, setelah dari Brasil, sudah tiba di Bandara Abd Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (2/9/2012), pada pukul 11.00 WIB.

Hadir dalam penyambutan super Tucano adalah Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, Pangkoops AU II Makassar didampingin Danlanud Abd Saleh, Malang, Marsekal Pertama TNI Gutomo dan hadir pula kepala daerah di Malang, Bupati Malang Rendra Kresna, Wali Kota Malang Peni Suparto dan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.

Sebelum mendarat, empat pesawat buatan Brasil itu beratraksi dikawal pesawat Hercules. Saat mendarat, para pilot langsung disambut tarian sambutan di depan Hanggar. Adapun para pilot pesawat tempur itu di antaranya Kapten Almir Sumar De Azevedo, Kapten Carlos Moreira Chaster, Kapten Airton Manoel Rodrigues dan Kapten William Souza.

Usai acara penyambutan kepada wartawan Pangkoops AU II Agus Supriatna mengatakan bahwa pesawat super Tucano itu untuk membantu operasi di darat maupun di laut.

"Pada 17 September mendatang, baru akan akan diserahkan secara resmi ke negara atau ke ke pihak TNI AU," katanya.

Saat ini jelas Agus, baru ada 4 unit pesawat yang tiba di Indonesia. "Totalnya ada 16 pesawat. Semoga dengan adanya hubungan baik dengan Brasil, pada akhir tahun depan, sisanya bisa selesai dan tiba di Indonesia," katanya.

Pesawat Super Tucano itu, menurut Agus Supriatna, untuk di tingkat ASEAN, baru Indonesia yang memakainya. "Negara di ASEAN baru Indonesia. Kalau di Amerika Latin, sudah lama pakai pesawat ini," katanya.

Ditanya soal keunggulannya, Super Tacano dinilai untuk jarak jangkaunya luar biasa. "Misalnya, kalau dari Malang, membawa bom, atau alat tempur, bisa kuat sampai ke Balikpapan. Dan pesawat ini bisa membawa 6 bom," katanya.

Mengapa ditaruh di Malang? 

Agus menegaskan, karena di Abd Saleh sudah dilengkap alat perawatannya. "Sudah 2 tahun lalu, alat perawatan untuk pesawat ini kita pikirkan. Tapi kalau dibutuhkan bisa langsung diterbangkan ke lokasi," katanya.

Semua fasilitas tambahnya, sudah ada di Lanud Abd Saleh Malang. "Kalau sudah memungkinkan akan dikirim ke lokasi, sekarang ditaruh di pangkalan induk (Abd Saleh). Tidak bisa kalau ditaruh di lokasi operasi. Misalnya ditaruh di perbatasan. Kalau sudah ada pangkalannya, bisa langsung ditaruh di perbatasan. Karena memang pesawat untuk perbatasan," katanya.

Sementara itu, menurut Dan Lanud Abd Saleh Malang Marsekal Pertama TNI Gutomo, untuk para pilot sudah dipersiapkan.

"Sejak 2 tahun lalu, untuk para pilot sudah mulai dididik kualitasnya. Para penerbang sudah disebar untuk meningkatkan kualitas penerbangan. Kalau sudah baik dan kualitas penerbangannya sudah bagus ditarik lagi ke sini untuk pesawat super Tucano," katanya singkat. 


Sumber : Kompas

Super Tucano Full Specification Perkuat Pertahanan Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Satu per satu alat utama sistem senjata (alutsista) modern masuk menjadi bagian kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI).Sehari setelah peluncuran kapal cepat rudal (KCR) KRI Klewang-625,kemarin giliran TNI Angkatan Udara (AU) menerima 4 pesawat tempur taktis Super Tucano EMB- 314.

Jumlah ini merupakan sebagian dari 16 pesawat yang dipesan Indonesia. Pesawat buatan pabrikan Embraer Brasil itu tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusumah, Jakarta,kemarin, setelah menempuh perjalanan berantai dari Brasil.Kedatangan 4 pesawat yang diawaki 8 pilot itu, yakni Capt Carlos Alberto (team leader)/ Capt Almir Suman,Capt CarlosMoreira/CaptMarco Antonio, Capt Airon/Capt Eduardo Torres,Capt Willian Souza/Capt Carlos Eduardo,disambut langsung Wakil Kepala Staf TNI AU (Wakil KSAU) Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi.

Pada Januari 2013 akan datang kembali 4 unit Super Tucano.Pesawat ini akan terus berdatangan ke Indonesia hingga mencapai 16 unit atau satu skuadron,” kata Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi seusai menyambut kedatangan pesawat Super Tucano. Dia menjelaskan, Super Tucano akan ditempatkan di Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Kehadiran pesawat ini akan menggantikan peran OV-10 Bronco yang dinyatakan grounded atau tidak lagi dioperasikan oleh Mabes TNI AU. Rencananya,Minggu, pesawat langsung diterbangkan ke Malang. Pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie menuturkan, kedatangan Super Tucano akan mengisi kekosongan pesawat jenis tempur taktis di jajaran TNI AU setelah dipensiunkannya pesawat tempur taktis OVF/ Bronco.

“Ini akan membuat deployment lebih cepat karena pesawat mumpuni,”ujarnya. Perempuan lulusan APCSS (Asia Pacific Center for Security Studies) Honolulu,Hawai, itu mengungkapkan, persiapan untuk counter insurgency (antigerilya) mutlak harus ada karena demokrasi yang berkembang di Indonesia memungkinkan munculnya ancamanancaman seperti pemberontakan.

Menurut Connie, upaya untuk memisahkan dan membentuk negara sendiri termasuk kategori tindakan terorisme. Di luar negeri,hal seperti ini pun ditindak oleh negara yang bersangkutan. “Kita jangan melihat ini akan melanggar HAM.Meskipun warga negara sendiri, kalau dia ingin memecahkan diri dari NKRI, yaharus ditindak,”sebutnya. Istri mantan Pangkostrad Letjen (Pur) Djaja Suparman itu menilai Super Tucano bukan pesawat sembarangan karena memiliki kemampuan yang canggih dan multifungsi.

Selain untuk antigerilya, bisa untuk close air support (dukungan udara dekat),reconnaissance (pengintaian), serta training pilot.“Kecepatannya 590 km/ jam. Setara dengan pesawatpesawat sekarang, khususnya masalah avionik dan kemampuan membawa senjata-senjata pintar. Jadi, jangan mau attackke dalam saja,tapi kalau ada dari luar pun kita siap dan mumpuni,”terangnya.

Meski demikian, lanjut dia, secara umum kehadiran Super Tucano belum cukup untuk membangun perimbangan kekuatan Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan. “Kalau bisa tambah lagi,jangan cuma Super Tucano,”imbuhnya. Pesawat Super Tucano TNI AU ini memiliki dasar loreng abu-abu dengan tambahan lukisan moncong hiu berwarna merah sesuai dengan tradisi Skuadron Udara 21 sejak pesawat P-51 Mustang.

 Super Tucano ditenagai oleh mesin turboprop asal Kanada Prat & Whitney PT6A-68A berdaya 16.00 tenaga kuda. Mesin ini telah dilengkapi dengan sistem pemantau dan kontrol otomatis. Harga pesawat ini mencapai USD143 juta untuk tiap satu paket yang terdiri atas 8 unit. Harga tersebut sepadan dengan kapabilitasnya.

Menurut Dede, Super Tucano memiliki kemampuan serang antigerilya (counter insurgency), pengendali udara depan (forward air control), dukungan udara dekat (close air support), penyekatan (interdiction), dan pertahanan udara. Pesawat ini juga bisa sebagai pesawat latih dan pengawasan udara (air surveillance). Pesawat bermesin tunggal turboprop berdaya 1.600 tenaga kuda ini berasal dari Kanada Prat & Whitney PT6A-68A.

Mesin ini telah dilengkapi dengan sistem pemantau dan kontrol otomatis. Adapun sistem persenjataan yang dicantelkan juga terbilang sangat lengkap. Persenjataannya antara lain rudal AGM-65 panduan inframerah, rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder, Python,dan Piranha. ‘’Pesawat dilengkapi juga dengan alat penjejak malam hari AN/AAQ-22 Safire. Pesawat yang kita beli ini full specification,”kata Dede.

Rencananya, Super Tucano ini akan dioperasikan untuk mengawal perbatasan, melawan terorisme, mengawasi alur laut kepulauan, mengawasi penyelundupan, dan mendukung operasi pasukan darat dan laut, operasi pertahanan udara secara terbatas, serta dukungan pengintaian. “Dengan kemampuan kecepatan yang dimiliki, (pesawat ini) mampu mendukung operasi pertahanan udara terhadap pesawat black flight berukuran kecil dan berkecepatan rendah seperti helikopter, pesawat propeller, dan pesawat tanpa awak,”jelas dia.

Walau cukup canggih, pesawat ini berpenampilan menyerupai pesawat zaman dulu. Setidaknya itu dari pengecatan di bagian moncong dengan lukisan hiu warna merah atau biasa dikenal dengan cocor merah.“ Ini kita sesuaikan dengan tradisi pesawat-pesawat yang pernah ada di Skuadron Udara yang dijadikan home base Super Tucano, seperti pesawat P-51 Mustang. Warna dasar loreng abu-abu kita pilih sesuai penelitian cocok untuk kamuflase di wilayah Indonesia,” ujarnya.

14 Hari Melintasi 12 Negara di 4 Benua

Dari pantauan Seputar Indonesia(SINDO) di lapangan, pendaratan Super Tucano di Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta berlangsung mulus. Sebelum mendarat, keempat unit pesawat tempur taktis tersebut terlihat terbang berjajar dalam jarak berdekatan. Satu per satu lantas berbalik arah ke sisi kiri untuk mengambil posisi mendarat di landasan. Setelah satu per satu pesawat mendarat, keempatnya melaju pelan menuju tempat parkir pesawat dibimbing sebuah mobil.

Jajaran petinggi TNI AU yang dipimpin wakil KSAU sudah menunggu sedari tadi kedatangan pesawat tersebut. Kedatangan pesawat tersebut dari Brasil bukanlah perkara mudah.Butuh waktu yang panjang untuk pesawat yang moncongnya berlukiskan hiu berwarna merah itu sampai di Jakarta.Pesawat yang dipiloti penerbang dari Embraer tersebut harus berhenti hingga 14 kali di 12 negara di empat benua.

Total jam terbang dari Brasil ke Malang sekitar 54 jam 35 menit. Menurut pilot Embraer, Capt William Souza, pesawat diberangkatkan dari pabriknya di Gaveao Peixoto San Jose dos Campos Brasil pada 20 Agustus 2012.Di Brasil pesawat berhenti dua kali,di Recife dan Fernando de Noronha Island. “Kemudian terbang ke Sal Island di Cape Verde.Perjalanan dari Brasil ke Cape Verde enam jam 15 menit,”terangnya usai mendarat.

Dari Cape Verde, penerbangan dilanjutkan menuju Gran Canaria Island di Spanyol, lalu terbang lagi ke Nador di Maroko. Dari Maroko, rombongan yang tiap pesawat diisi dua orang itu terbang ke Palermo (Italia) dan diteruskan ke Athena (Yunani). “Kemudian ke Luxor (Mesir), diteruskan ke Doha (Qatar), terbang lagi ke Muscat (Oman),” bebernya. Dari negara Timur Tengah, Super Tucano masuk wilayah Asia, yakni India.

Di negeri Mahatma Gandhi itu Super Tucano berhenti dua kali, masing-masing di Ahmedabad dan Kolkota. Penerbangan dilanjutkan ke Rayong,Thailand. “Baru kemudian masuk ke Indonesia di Medan dan hari ini (Sabtu, 1/9) tiba di Jakarta. Besok (Minggu, 2/9) ke Malang,” kata William.

Dalam kondisi normal, pesawat yang dilengkapi dua senapan mesin itu hanya sanggup terbang 3,5 jam karena daya tampung bahan bakar internal sebanyak 648 liter. “Kita pasang tiga drop tank sehingga bisa terbang selama kurang lebih tujuh jam,”tutur William Souza 


Sumber : Sindo

Empat Pesawat Super Tucano Tiba di Indonesia

01 September 2012

Empat Super Tucano batch pertama telah tiba di Indonesia, batch kedua yang terdiri dari empat pesawat akan datang ke Indonesia pada Januari 2013 (all photos : viva)

Jakarta (ANTARA News) - Empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan pabrikan Embraer Brasil tiba di Panggkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu siang, yang akan memperkuat Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Empat pesawat yang memiliki kemampuan serang antigerilya itu diawaki oleh delapan orang pilot, yakni Capt Carlos Alberto (team leader)/Capt Almir Suman, Capt Carlos Moreira/Capt Marco Antonio, Capt Airon/Capt Eduardo Torres, Capt Willian Souza/Capt Carlos Eduardo.

Mereka disambut oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkat Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi.


Keempat pesawat Super Tucano yang diberi Tail Number TT-3101, 3102, 3103, 3104 dengan desain moncong berwarna merah yang diterbangkan dari Lanud Suwondo, Medan yang sebelumnya diberangkatkan dari pabrik Embraer Brasil dengan "Farry Flight" melalui rute Brasil, Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand baru menuju Medan. Kemudian dari Medan menuju Lanud Halim Perdanakusuma.

"Jam terbang dari Brasil hingga ke Medan sekitar 54 jam, 35 menit selama kurun 14 hari penerbangan. Sebelum diterbangkan ke Indonesia keempat pesawat telah mendapat pemeriksaan meliputi klarifikasi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat dan uji terbang pesawat yang melibatkan personel ahli dan penerbang uji TNI AU," kata Wakasau.

Kemudian, keempat pesawat buatan Brasil itu akan meninggalkan Halim pada Minggu (2/9) menuju home base-nya di Lanud Abdulrachman Saleh (Malang).

Keberadaan Super Tucano tersebut untuk menggantikan pesawat latih tempur sebelumnya yakni OV 10 Bronco yang kini dikandangkan (grounded) oleh Markas Besar (Mabes) TNI AU.

EMB-314 Super Tucano merupakan pesawat latih kemampuan Counter Insurgency (COIN) atau pesawat serang antigerilya, pendukung tugas udara jarak dekat, yang memiliki mesin tunggal Turboprop Pratt dan Whitney PT6A-68C berdaya 1600 tenaga kuda.

Pesawat itu memiliki berat maksimum 5,4 ton dan mampu membawa senjata seberat 1.550 kg dengan menggunakan bahan bakar avtur.