Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan

Keel Laying Kapal Tunda Kedua untuk TNI AL di PT PAL

22 September 2012

Sesuai dengan Minimum Essential Force maka jumlah kapal tunda samudera TNI AL akan ditambah sehingga menjadi tujuh unit (photo : Ivan Meshkov)

TNI AL Pesan Dua Unit Kapal Tunda PT PAL Indonesia

TNI Angkatan Laut memesan dua Kapal Tunda Samudera kepada PT PAL Indonesia (Persero). Sebagai tanda dimulainya pembangunan kapal tersebut diselenggarakan Keel Laying yang disaksikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Bengkel Assembly CBL, Divisi Kapal Niaga, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jumat (21/9).

 Kapal ini merupakan kapal kedua dari dua unit kapal tunda 2400 HP yang dipesan oleh TNI Angkatan Laut berdasarkan surat perjanjian jual beli nomor: KTR/1055/02-48/XII/2011/Disadal. Kontrak jual beli ini efektif berlaku sejak tanggal 20 Desember 2011 lalu, antara PT PAL Indonesia (Persero) dengan TNI Angkatan Laut dalam hal ini Dinas Pengadaan Angkatan Laut (Disadal) dan sesuai rencana akan diserahkan bulan Juni 2013.

Kapal tunda yang diawaki 10 personel ABK tersebut, memiliki ukuran panjang keseluruhan 29.00 meter, panjang garis air 26.50 meter, lebar 9.00 meter, tinggi sampai geladak utama 4.50 meter, sarat air desain 3.50 meter, tinggi ruang akomodasi 2.50 meter, dan memiliki bollard pull (daya tarik) pada daya maximum motor pokok (100 % MCR) sekitar 30 ton pada kondisi sarat desain.  Kecepatan normal operasi (free running) 100% MCR pada sarat kondisi muatan 50% adalah 12 knot, pada perairan dalam dan tenang serta kondisi cuaca tidak melebihi skala Beaufort 2. Kecepatan menunda ≥ 5 knot.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan berita acara Keel Laying, di Bengkel Assembly Curve Bock Line (CBL) Divisi Kapal Niaga oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto bersama Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Edy Widarto, disaksikan Kasal Laksamana TNI Soeparno, Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin, Wakil Komisaris PT PAL Indonesia (Persero) Laksamana Muda TNI (Purn) Sunardjo, serta undangan lainnya.

Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin memiliki komitmen untuk selalu mendukung agar bangsa ini mandiri dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, hal tersebut telah dibuktikan oleh PT PAL Indonesia (Persero) dengan mempersembahkan karya terbaiknya berupa: 12 (dua belas) unit kapal patrol cepat 57 meter (FPB 57) dan Kapal Landing Platform Dock 125 meter kepada jajaran TNI Angkatan Laut.

“Sebagai wujud keseriusan PT PAL Indonesia (Persero) dalam ikut berpartisipasi aktif untuk memenuhi kebutuhan alutsista Kementerian Pertahanan khususnya kebutuhan kapal-kapal TNI AL, maka kami akan segera mengirimkan tenaga ahli dari PT PAL ke Belanda untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal 105 meter. Dimana dua orang akan mendalami bidang Manajerial, 10 orang untuk desain dan kombatan serta 29 orang untuk produksi,” katanya.

Ir. Firmansyah Arifin juga berharap, dalam kesempatan mendatang PT PAL Indonesia (Persero) masih terus dipercaya dan dapat berpartisipasi aktif untuk memenuhi kebutuhan alutsista Kementerian Pertahanan khususnya kebutuhan kapal-kapal TNI Angkatan Laut, termasuk rencana program pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 105 meter (PKR 105) dan pembangunan kapal selam. Sehingga dapat meningkatkan kemampuan PT PAL Indonesia (Persero) dalam penguasaan teknologinya.

Dirgantara Indonesia Beli Mesin Baru Pembuatan Pesawat

19 September 2012

Haas VF6-50 dan VR-11B (all photos : haas)

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak masuk pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

"Kami kebanjiran pesanan, makanya permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna.

Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasinya, sehingga selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, juga pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak delapan unit dan lima unit lainnya dalam proses kedatangan.

Mesin tersebut adalah mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P.

Mesin-mesin berteknologi tinggi dalam kondisi baru tersebut didatangkan dari beberapa pabrik di antaranya dari Jerman, Itali dan Taiwan.

Rakhendi menjelaskan, kemampuan mesin CNC dapat diandalkan dan pengalaman selama ini menunjukkan di samping mampu menyelesaikan pembuatan komponen untuk pesawat-pesawat produk sendiri, juga PTDI mampu memasok dalam jumlah besar komponen-komponen pesanan Airbus, Boeing dan Bombardier.


"Sebagaimana sering kami ungkapkan, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk bagian tengah, depan, sayap pesawat A380, pesawat terbesar di dunia yang berlantai dua," kata Rakhendi sembari menambahkan pihaknya saat ini memiliki lebih dari 100 unit mesin CNC dan TNC.

Mesin-mesin yang ada itu sebelumnya telah beroperasi dengan sangat produktif dan rata-rata dioperasikan sedikitnya 15 jam per hari guna memenuhi target produksi yang sudah dijadwalkan penyelesaiannya secara sangat ketat.

Guna menyambut program CN295, saat ini pembangunan Assy (Assembling) CN295 sedang disiapkan oleh PTDI.

Dasar pembuatan pesawat CN295 adalah hasil pengembangan dari pesawat CN235 oleh Airbus Military, di antaranya dengan menambah panjang badan pesawat sekitar3 (tiga) meter, landing gearnya diperkuat dan power enginenya ditambah.

Persiapan yang dilakukan untuk pekerjaan Assy (Assembling) pesawat CN295 yang akan dilakukan, PTDI menyiapkan badan pesawat (fuselage) yang lebih panjang, semua sedang dalam pengerjaan.

Dengan terus mempromosikan pesawat CN235, CN295, NC212-400 serta pesawat N219 (dalam tahap rancang bangun), PTDI saat ini terus berbenah diri dalam segala hal untuk menyambut prospek pasar di kawasan Asia Pasifik yang semakin meningkat, demikian Rakhendi.

Menang Tender di Thailand, PT DI Bidik Filipina

19 September 2012

Pesawat CN-295 yang akan diproduksi juga di PT. DI (photo : TNI AU)

Bangkit dari Keterpurukan, Butuh SDM Idealis

Setelah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir, PT Dirgantara Indonesia(Persero) kini mulai bangkit. Order pembuatan pesawat, komponen dan jasa datang dari berbagai negara. PTDI mulai merevitalisasi struktur dan SDM untuk mengimbangi meningkatnya pesanan dan kontrak pembuatan pesawat. Bagaimana itu dilakukan? Berikut wawancara wartawan FAJAR, Hasbi Zainuddin, dengan Direktur Umum & SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero), Sukatwikanto, di ruang redaksi Harian FAJAR, 12 September lalu.

PTDI lebih cenderung memproduksi pesawat untuk militer. Bagaimana perkembangannya?

Klaster pesawat yang dibuat PTDI itu memang lebih kepada military, karena memang sejak awal didirikan, PTDI itu memang memproduksi  pesawat militer. Orientasinya sebagai transportasi sipil dan membantu pertahanan. Meskipun kita belum memproduksi pesawat tempur.

Pembiayaannya bagaimana?

Jika dihitung, total nilai kontrak itu mencapai Rp8 triliun, hingga tahun 2016. Untuk modal dan pembiayaan pesawat ini, kita ambil dari APBN melalui bank pemerintah.

Pembeli itu datang dari mana saja?

Untuk pesawat-pesawat military ini, pembeli kita tahun ini semakin meningkat. Kita bahkan sudah punya kontrak pembuatan pesawat dengan beberapa pembeli dalam negeri dan negara luar. Baik itu berupa unit pesawat, maupun komponen dan jasa.

Selain dari dalam negeri, pemesan kita yang sudah deal itu datang dari beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, UAE (Uni Emirat Arab), Pakistan, Jepang, Malaysia, Brunei, Thailand, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Irlandia. Turki, Burkinafaso, dan Senegal. Negara-negara ini membangun kontrak pembelian pesawat, komponen, dan jasa.

Pesawat CN-235 versi transport (photo : ponriau2012)

Selain beberapa negara itu, kami juga sementara mengikuti proses tender penjualan pesawat di Filipina. Pesawat tersebut antara lain tiga unit jenis CN 295, 4 unit CN235 untuk seri maritim transport, dan satu unit NC212 untuk seri 200 untuk maritim patroli.

Tendernya sementara berlangsung di Finance State. Kita berharap tahun ini ada beritanya menang. Nah,  di Thailand, kita sudah memenangkan tender satu unit NC 212-200. Penjualan di Thailand dan Filipina ini menambah nilai kontrak Rp8 triliun itu.

Pesawat yang dipesan jenis apa saja?

Macam-macam. Salah satu pemesan kita, Korea, itu menggunakan salah satu jenis pesawat CN235 sebagai pesawat kepresidenan. Sementara Malaysia, menggunakannya sebagai pesawat VIP, setingkat di bawah presiden.

Untuk pesawat, kita mengandalkan CN295. Pesawat ini ordernya sudah sembilan unit sampai tahun 2014, oleh TNI Angkatan Udara. Tahun ini sudah ada dua yang jadi dan kita delivery.

CN295 ini adalah pesawat hasil pengembangan CN235 yang dilakukan Airbush Military. Bedanya, badan pesawat ini lebih panjang tiga meter, sehingga mampu membawa penumpang sampai 50 orang, dengan menggunakan mesin Turboprop Pratt & Whitney yang lebih besar. Pesawat ini juga mampu mengangkut satu unit mobil tank.

PT Dirgantara bekerjasama dengan berbagai pihak dalam hal produksi beberapa pesawat. Apa kerjasama yang paling strategis?

Jadi, pertama yang harus dipahami tentang konsep industri pesawat, tidak ada industri yang memproduksi sendiri pesawat secara utuh. Untuk PTDI, ada tiga jenis produksi kita.

Pertama, pesawat yang kita ciptakan sendiri, dan hak kita untuk memproduksi dan menjualnya. Produk itu misalnya, pesawat CN235 yang pembuatannya kita kerjasama dengan CASA. Pesawat jenis ini adalah buatan Indonesia.

Adajuga produk yang underlisence. Kita buat, tapi bukan kita pemiliknya. Itu seperti pesawat NC212-200 dan 400. Kita hanya berhak memodifikasi, mengubah sedikit hidungnya, dan sayap.

Pesawat NC-212 versi transport (photo : Edy Permono)

Ketiga, industrial cooperation. Artinya, kita hanya membuat komponennya. Nah, untuk ini, PTDI merupakan satu-satunya pembuat komponen untuk bahu pesawat Airbush A380. Untuk komponen itu, kita mendapat order sampai 10 tahun ke depan.

Nah, untuk pemasaran, kami saat ini juga bekerjasama dengan Airbush Military, yang dulunya bernama CASA, dengan ikut membantu mengelola pasar pesawat jenis NC 212-400, CN 235, dan CN 295, di Asia dan Pasifik.

Selain itu?

PTDI juga terlibat dalam pengembangan pesawat tempur multi roles IFX-KFX, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan. Pesawat ini merupakan pesawat tempur generasi 41/2, setara dengan F16++. Dari kerja sama ini, kita target mulai beroperasi tahun 2020 mendatang.

Komposisi saham Indonesia-Korea dalam kerja sama ini sebesar 20-80 persen. Selain PTDI, beberapa pihak yang terlibat dalam pengembangannya antara lain Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai koordinator, Kementerian Ristek (Riset dan Teknologi), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ITB, dan Balitbang Kemhan.

Nah, dengan kerjasama ini, kita tentu memiliki hak untuk memodifikasi, mendesain, dan membangun dua skuadron di Bandung. Meskipun, kalau ada pembeli dari luar negeri, kita dan Koreatentu harus duduk bersama, karena modalnya berdua. Selain itu, tentunya masih banyak lagi kerjasama dan kontrak yang kita lakukan, yang mencukupkan nilai kontrak itu sebesar Rp8 triliun.

Pesawat CN-235 versi martime-transport (photo : mamboccv)

PTDI saat ini menunjukkan prestasi yang baik, dan mampu bangkit dari keterpurukan sejak krisis 1998 silam. Apa faktor yang mendukung prestasi besar ini?

Tentu dari sisi kebijakan pemerintahan. Dulu, kita kesulitan karena barang yang dipesan itu bisa kita delivery dalam waktu paling cepat 36 bulan. Kenapa, karena kita dilarang stok. Jumlah barang yang ingin dibuat, harus berdasarkan order, dan pembiayaannya melalui APBN yang diputuskan setiap tahun. Sementara, pemesan maunya 12 sampai 18 bulan sejak ditandatangani kontrak.

Sekarang, pemerintah sudah membolehkan stok, sehingga, pesawat itu bisa kita kirim lebih cepat, bisa sekitar 12 sampai 18 bulan. Pemerintah juga memberi kebijakan, khusus produksi pesawat, pembiayaannya melalui APBN multiyear, bisa sampai tiga tahun sekaligus. Pemerintah juga sudah lebih terbuka memberlakukan kredit impor.

Target keuntungan dari order itu?

Kita sampai sekarang sebenarnya masih menggendong utang. Kita tahun kemarin telah menyelesaikan utang masa lalu terhadap pemerintah yang manfaatnya sebagian sudah kita nikmati. Nah, sekarang masih punya utang riil. Berupa utang bisnis, yang sehari-hari kita gunakan membeli berbagai perangkat industri. Kita perkirakan tahun 2014, dengan order tersebut, utang riil itu bisa kita selesaikan.

Apa harapan Anda?

Untuk itu, yang kami butuhkan adalah tenaga SDM. Kita sedang mencari sarjana teknik yang punya idealisme dan integrasi yang tinggi, yang sanggup bekerja keras, meskipun gaji minim. Kita siap untuk melatih. Perekrutan SDM ini kita lakukan, karena dari sekitar 2.300 tenaga di PTDI, sekitar 70 persen di antaranya akan pensiun sampai tahun 2016 mendatang.(*)

PT DI Selesaikan Konversi Pesawat CN-235 Ke-8 untuk AL Turki

18 September 2012

Proyek konversi pesawat CN-235 Turki menjadi versi MPA dikenal sebagai Meltem Project telah selesai untuk pesawat ke delapan, yang ditangani oleh engineer PT DI (photo : Brendon Attard)

PT DI Rampungkan Pesanan Turki Senilai Rp 151 Miliar

BANDUNG, TRIBUN - Tingkat kepercayaan dunia internasional kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) cukup tinggi. Itu terlihat pada jalinan kontrak antara lembaga BUMN yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Satu di antaranya, adalah Turki.

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, mengemukakan, sejak 6 tahun silam, pihaknya bersepakat dengan Turki untuk mengerjakan 10 unit CN 235. Pemesanan itu merupakan modifikasi. "Turki memfungsikan CN 235 tersebut menjadi pesawat Maritim Patrol," ujar Sonny di PT DI, Selasa (18/9).

Dalam perkembangan pembuatan pemesanan Turki itu, kini, pihaknya siap melakukan flight test (uji coba) pesawat ke-8. Sonny mengatakan, pihaknya optimistis, dalam dua tahun mendatang, pihaknya siap menuntaskan proyek pemesanan Turki tersebut mengingat kontraknya berdurasi 8 tahun atau hingga 2014.

"Nilai kontrak dengan Turki itu tergolong besar. Angka kontrak engineer-nya mencapai 2 juta dolar AS per tahun. Jadi, selama 8 tahun kontrak, nilainya sejumlah 16 juta dolar AS (sekitar Rp 151 miliar.RED)," sebut Sonny.  (*)

Local Shipbuilders Capable of Building Large Ships

18 September 2012

NGVTech Malaysia and DSME Korea are joined to build 1.270 ton Training Ship for Royal Malaysian Navy (all photos : Standdupper)

KUALA LANGAT : Former prime minister Tun Dr Mahathir Mohamad has expressed confidence that local shipbuilders are capable of building large vessels, including war ships.


He said they should be given the opportunity to prove their worth as proven by NGV Tech which had so far built over 140 ships of various sizes.


"I am confident that NGV Tech is capable of building large vessels and warships as it is a sophisticated company entrusted with building two Royal Malaysian Navy training ships through a joint venture with a South Korean company," he told reporters after attending a Hari-Raya open house hosted by NGV Tech here today.


Accompanied by NGV Tech executive chairman Datuk Zulkifli Shariff and Chief of Navy Tan Sri Abdul Aziz Jaafar, Dr Mahathir witnessed the construction of the two training ships worth RM148 million each at a shipyard owned by NGV Tech in Kampung Sijangkang.


Built through a technology transfer programme with Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co. Ltd., South Korea, NGV Tech expects both ships to be completed by the middle of next year.

China Mengeluarkan Prototipe Pesawat Tempur Baru

17 September 2012

Pesawat F-60 atau J-21 atau J-31 buatan Shenyang (photos : tiexue)

Belum lagi prototipe pesawat J-20 lansiran pabrikan Chengdu selesai menjalani uji coba,  pabrikan yang lain yaitu Shenyang telah mengeluarkan prototipe pesawat tempur generasi baru China yang lain yang dinamakan F-60 atau J-21 atau mungkin J-31.



Menilik bentuk pesawatnya, F-60 mempunyai dua sirip tegak dan dua mesin dengan lubang pembuangan udara tipe konvensional, sekilas pesawat ini lebih mirip dengan F-35 JSF termasuk air intake-nya namun bila JSF bermesin tunggal, F-60 ini menggunakan dengan mesin ganda. 



Mesin pesawat ini diperkirakan masih memakai produk Russia yaitu Klimov RD-33 (mesin yang dipakai untuk pesawat MiG-29) atau RD-93 (varian mesin RD-33) telah dipakai untuk pesawat lansiran China-Pakistan JF-17.



Berbeda dengan model yang dipamerkan, jika kita perhatikan roda pendarat bagian depan pada pesawat prototipe tersebut menggunakan roda ganda, pada umumnya roda pendarat depan tipe ganda digunakan hanya untuk pesawat yang beroperasi di kapal induk. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah pesawat ini memang diproyeksikan untuk mampu beroperasi dari kapal induk. 


Memang timbul pertanyaan, teknologi pesawat ini masuk kategori 4.5 ataukah 5.0. Melihat impresi artis berikut yang menunjukkan bahwa sebagian persenjataan yang ada akan dipasang pada hardpoint pada sayap dan bodinya bukan pada internal weapon bay maka pesawat ini lebih tepat dimasukkan ke golongan 4.5.


Pesawat tempur generasi kelima ditandai dengan fungsi stealth yang diperoleh dalam pengurangan RCS-nya dan penggunaan internal weapon bay untuk menyimpan semua persenjataannya. Ciri yang lain adalah sifat supercruise (mempunyai jangkauan operasi yang jauh), dan kemampuan networked (dapat bertukar data secara real time dengan satuan operasi yang lain).

(Defense Studies)

BPPT Siap Produksi UAV untuk Kepentingan Militer

12 September 2012

UAV tipe Alap-alap double boom (photo : BPPT)

BPPT Siap Produksi Pesawat Mata-mata Militer RI

VIVAnews -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tak hanya puas mengembangkan riset untuk senjata dan kendaraan taktis militer, yang salah satunya menghasilkan panser ANOA yang diproduksi PT Pindad. BPPT pun segera merintis pembuatan pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle), yang salah satunya untuk kepentingan militer.

"Sekarang kami sedang finalisasi pesawat itu untuk kepentingan pengintaian dan operasi," kata Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, usai penganugerahan BJ Habibie Technology Award 2012 di Aula BPPT, Jakarta, Rabu 12 September 2012.

Marzan menambahkan pesawat tanpa awak tersebut selain untuk kepentingan pertahanan juga dapat digunakan untuk pengamatan wilayah (survailence) dan kebakaran hutan.

"Pada waktu lalu, pesawat ini digunakan untuk mendukung pembuatan hujan buatan," tambahnya.

Pesawat dengan kemampuan tinggi terbang mencapai 8.000 kaki ini dioperasikan secara otomatis melalui pusat kendali. "Langsung bisa kirim data secara real time ke pusat kontrol," ujarnya.

Bulan September ini, lanjut Marzan, akan dilakukan ujicoba bersama dengan Kementerian Pertahanan. Setelah ujicoba baru kemudian akan dilanjutkan ke tahap produksi.

"Segera diujicoba di Halim Perdanakusuma, dari sana produksi diputuskan dan bagaimana  keperluannya," kata Marzan.

Pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh BPPT telah muncul dalam limavarian. Tiga merupakan jenis pesawat UAV untuk survei pemetaan sementara dua varian untuk kepentingan pertahanan. Pesawat ini akan dipakai oleh Kementerian Pertahanan maupun TNI. (ren)


Baca Juga :

Ini Spesifikasi Pesawat Mata-mata Militer RI
12 September 2012

UAV tipe Sriti (photo : Defense Studies)
 
VIVAnews - Bentuk pesawatnya kecil, ramping, bentang sayapnya kurang dari 4 meter, juga tak berawak. Namun, pesawat ini mempunyai peranan besar bagi pertahanan Indonesia, untuk melakukan misi pengintaian.

Indonesiasebentar lagi mempunyai pesawat pengintai tanpa awak (unmanned aerial vehicle) yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Saat ini sudah BPPT sudah membuat lima buah pesawat tanpa awak. Tiga merupakan pesawat tanpa awak untuk survei pengamatan wilayah, sedangkan dua jenis lainnya pesawat tanpa awak untuk pengintaian.

Pesawat tanpa awak ini didesain dengan konsep autopilot dan autonomous. Pesawat ini secara bergerak otomatis melalui kendali Ground Control System (GCS) dan jalur yang dilalui oleh pesawat juga terkendali.

"Jadi ini terkendali, pesawat nggak bisa kemana-mana, sesuai dengan kendali program di GCS," jelas Agus Suprianto,  staff engineering Unit Kerja Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan Kedeputian Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT di Jakarta, Rabu 12 September 2012.

Varian pesawat tanpa awak yang dikembangkan BPPT yaitu Alap-Alap Double Boom dan Sriti. Keduanya secara fisik lebih kecil dibandingkan pesawat tanpa awak untuk kepentingan survei pemetaan dan kemampuan tinggi terbang maksimumnya juga lebih rendah dari pesawat survei pengamatan.

"Pesawat pengintai mampu terbang 7.000 kaki, agar lebih jelas dalam meningkatkan performa fokus pengintaian pembajakan ilegal logging, pembajakan kapal, jadi lebih ke teknologi pertahanan," tambah Agus.

Untuk memotret obyek pengintaian, pesawat khusus ini dilengkapi dengan Gymbal camera video buatan Sony. Kamera ini beratnya mencapai 9 kg dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kamera biasa maupun kamera profesional.

Ia melanjutkan, pesawat melakukan pengintaian selepas proses climbing di udara. "Jadi tahapannya, setelah take off, kan climbing, nah setelah itu pesawat baru bisa merekam obyek pengintaian," paparnya.

Lantas bagaimana dengan pengiriman data pengintaian? Pesawat ini sudah dilengkapi dengan sensor yang langsung terhubung dengan GCS di daratan. Data bersifat real time, dapat langsung diolah di pusat kendali. "Ini merupakan generasi perintis, generasi awal pesawat tanpa awak di Indonesia," ujarnya.

Pesawat khusus ini akan dipakai oleh Kementerian Pertahanan dan TNI.

"Pengintaian akan dilakukan di TNI AL, dari kapal. Ini masih disesuaikan, semakin kecil semakin lincah," kata Agus.

BPPT dan Kemenhan akan melakukan ujicoba pesawat pada bulan ini di Halim Perdanakusuma.

Spesifikasi Alap-Alap Double Boom

Bentang Sayap : 3,510 m
Konfigurasi: inverted v-tail high wing dan double boom
Berat kosong: 8,5 Kg
Berat payload: 2,5 Kg
Berat maksimum take off, MTOW : 18 Kg
Kecepatan jelajah : 55 Knots
Lama terbang : 5 Km
Jangkauan terbang : 140 Km
Tinggi terbang maksimum: 7.000 kaki

Spesifikasi Sriti

Bentang Sayap : 2,988 m
Konfigurasi: flying wing
Berat kosong: 6 Kg
Berat payload: 2 Kg
Berat Maksimum Take Off, MTOW : 8,5 Kg
Kecepatan jelajah : 30 Knots
Lama terbang : 1 jam
Jangkauan terbang : 5 Nautical mile
Tinggi terbang maksimum: 3.000 kaki

Awak Kapal Trimaran KRI Klewang-625 Dilatih

10 September 2012

KRI Klewang-625 sepanjang 63 meter, berbahan dasar vinylester carbon fiber (infused), menggunakan teknologi maju di bidang pembuatan kapal perang antara lain kemampuan tidak terdeteksi oleh radar, tidak mengandung unsur magnet, serta tingkat deteksi panas dan suara yang rendah. (photo : fallenpx)

Surabaya(ANTARA News) - TNI AL menyiapkan personel yang akan mengawaki kapal canggih terbaru KRI Klewang-625 lewat pelatihan di galangan PT Lundin Industry Invest, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ini adalah kapal berlunas tiga (trimaran) bahan komposit sepanjang 65 meter dengan teknologi rancang bangun terkini.

Masalahnya tinggal melengkapi persenjataan, navigasi, dan sistem komunikasinya sesuai dengan kelasnya. Tanpa itu semua, kecanggihan kapal buatan dalam negeri yang setara dengan kualitas buatan Amerika Serikat itu bisa sia-sia belaka.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur, Letnan Kolonel Khusus Yayan Sugiana, di Surabaya, Senin, menjelaskan pelatihan itu saat ini sudah berjalan dan akan berakhir pada pertengahan September 2012.

TNI AL pada 31 Agustus lalu meluncurkan kapal cepat rudal jenis trimaran di Selat Bali, Kabupaten Banyuwangi. Meskipun sudah diluncurkan, kapal yang diklaim tidak bisa terdeteksi radar lawan itu masih memerlukan penyempurnaan dan nantinya akan bergabung dalam jajaran Koarmatim.

"Ada33 personel calon awak KRI Klewang-625 yang saat ini ikut pelatihan. Pelatihan ini penting agar personel itu mampu mengawaki kapal canggih itu secara baik," kata Sugiana.

Sementara Komandan Satgas Proyek Pengadaan KCR Trimaran, Kolonel Teknik Heru Sriyanta, diharapkan setelah pelatihan tersebut para pengawak KRI Kelewang-625 dapat mengoperasikan kapal dengan penanganan terbaik.

"Sehingga seluruh peralatan yang ada di kapal dapat dipelihara dengan baik dan dapat memperpanjang usia pakai kapal mejadi lebih lama," katanya. (*)

RI-Jerman Dalami Kerja Sama Pembuatan Tank Kelas Medium

10 September 2012

Chasis Marder 1A3 akan dipakai sebagai basis tank medium Pindad (photo : Militaryphotos)

JAKARTA – Pemerintah Indonesiamenjajaki kemungkinan melakukan kerja sama alih teknologi pembuatan tank medium dengan Jerman sebagai bagian dari pengadaan 100 unit tank tempur utama (MBT) Leopard.

Jika proses ini lancar, Indonesia ke depan bakal memproduksi tank medium merujuk pada Marder 1A3 milik Jerman. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto mengatakan, pemerintah sekarang ini dalam proses pembicaraan agar bisa dilakukan kerja sama alih teknologi pembuatan tank medium Marder 1A3 dari Jerman.“Semua pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) ada transfer of technology (alih teknologi/ToT),” tandas Eris di Jakarta kemarin.

Dalam pameran Eurosatory 2012 Jerman telah memperkenalkan varian yang lain dari Marder sebagai Medium MBT (photo :Defense Update)

Meskipun sekarang ini Indonesia tidak sedang melakukan pembelian tank medium tersebut, proses alih teknologi tetap memungkinkan dilakukan.Hanya, hal itu bergantung proses pembicaraan antarkedua negara. “Ini masih proses. Itu nanti merupakan bagian dari pengadaan MBT Leopard,”katanya. Dia mengaku, pemerintah telah mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah Jerman agar hal tersebut disetujui.“ Kita masih akan bicarakan lagi ke mereka.Saya belum bisa menyampaikan keputusannya,” imbuh Eris.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, pihaknya belum mengetahui rencana pemerintah tersebut. Namun, secara umum dia menyambut baik jika langkah alih teknologi pembuatan tank medium itu betul-betul bisa direalisasikan. Tubagus mengatakan, pihaknya akan menyetujui bilamana kerja sama yang dilakukan bisa memberikan keuntungan bagi badan usaha milik negara (BUMN) industri pertahanan. Apalagi dengan memproduksi tank medium,kebutuhan alutsista TNI ke depan tidak lagi bergantung pada asing.“Bisa juga untuk dijual. Adanilai tambah ekonominya,”ujarnya.

Di samping itu, memproduksi tank medium juga akan menguntungkan dari segi strategi pertahanan sebab tank-tank jenis inilah yang sebenarnya sangat cocok untuk karakter geografis Indonesia.

PT DI dan Pindad Kebanjiran Order

08 September 2012

Pembuatan CN-235 di PT Dirgantara Indonesia (photo : iwan hermawan)

Dahlan: Dirgantara Indonesia kebanjiran order

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan PT Dirgantara Indonesia saat ini memasuki tahap kebanjiran pesanan pembuatan pesawat dan komponen pesawat.

"Dirgantara Indonesia sedang kebanjiran pekerjaan. Dirgantara memperoleh kontrak pembuatan pesawat dan komponen pesawat senilai lebih Rp7 triliun," kata Dahlan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan, kontrak yang diraih perusahaan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Dirgantara Indonesia.

"Kemarin (Kamis, 6/9) saya langsung mengecek ke kantor Dirgantara di Bandung. Dalam sejarah perusahaan bahkan sejak perusahaan masih bernama IPTN pun, belum pernah meraih nilai kontrak seperti sekarang ini," ujar Dahlan.

Menurutnya, sederet pesanan yang harus diselesaikan Dirgantara yaitu sebanyak 68 unit helicopter, pesawat CN 212.

"Sebelumnya CN 212 buatan Dirgantara tersisa atau belum laku sebanyak 6 unit. Namun belakangan sanat diminati oleh sejumlah negara-negara di ASEAN dan Asia. Bahkan Merpati pun yang seharusnya mendapatkan pesanan tersebut tidak kebagian lagi," ujar Dahlan.
Tidak hanya itu, Dirgantara juga dipercaya untuk memenuhi kontrak memasok komponen pesawat untuk Airbus meliputi jenis A-320, A-330, A-340, A-380, dan A-350.

"Dirgantara memperoleh kepercayaan penuh Airbus dengan mendapatkan "life time contract", sebagai "pemasok komponen sepanjang  masa" atau selama perusahaan Airbus masih beroperasi," tegas Dahlan.

Sedangkan untuk pesawat jenis C 295, Dirgantara bekerjsama dengan Airbus Military sedang menyelesaikan pembuatan sebanyak 9 unit pesawat di mana komponen dipasok ke Spanyol tempat perakitan C 295.

Namun mulai akhir tahun 2013 diutarakan Dahlan, nantinya seluruh pesanan pesawat C 295 di Asia Pasifik akan dialihkan pembuatannya ke Dirgantara, Bandung.

Selain Airbus tambahnya, Dirgantara juga membuat komponen pesawat jenis Boeing yang dipesan oleh negara ketiga.
   
Perbaikan kinerja

Dahlan mengatakan, saat ini Dirgantara telah memasuki babak baru dengan kinerja keuangan yang sudah semakin membaik.

"Dalam sejarahnya, ibarat orang yang sakit dulu Dirgantara sempat masuk ruang ICU, rawat inap, rawat jalan. Sekarang perusahaan sudah menunjukkan performa yang lebih bagus dari waktu ke waktu," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dalam masa sekarang ini "Dirgantara harus belajar berjalan dulu, kemudian jogging, jangan diajak marathon".

Untuk memenuhi kontrak yang cukup besar tersebut perusahaan membutuhkan modal kerja yang cukup sejalan dengan restrukturisasi usaha perseroan.

 "Pemerintah sudah menyuntik dana sebesar Rp1 triliun pada 2011 yang mengakibatkan neraca keuangan Dirgantara menjadi lebih baik. Untuk itu saat ini perusahaan sangat layak untuk mendapat pinjaman pembiayaan dari perbankan," katanya.

Ia menjelaskan pada tahun 2011 lalu Dirgantara mendapat pinjaman sebesar Rp1 triliun dari Bank Rakyat Indonesia, yang merupakan pertanda bahwa perseroan semakin feasible untuk mendapat pembiayaan.

Dahlan juga memberikan bocoran selain Bank BUMN, Dirgantara juga akan mendapatkan kreditur perbankan asing seperti BNP Paribas.


Baca Juga :

PT Pindad Diusulkan Dapat Tambahan Modal untuk Genjot Produksi

08 September 2012

Dahlan Setuju Pindad Dapat PMN Revitalisasi Mesin

JAKARTA- Menteri BUMN Dahlan Iskan menyetujui PT Pindad Persero mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) yang akan dipergunakan untuk membeli serta merevitalisasi mesin-mesin pertahanan.

“Belum diusulkan PMN-nya, tetapi saya setuju bila diusulkan," kata Dahlan Iskan saat ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat. Dahlan beralasan, PMN tersebut sekaligus untuk mendorong kemampuan persenjataan di Tanah Air.

Ia menilai, kemampuan Pindad untuk memproduksi peralatan pertahanan dapat meningkat seiring dengan adanya sumber pendanaan. Sebab, potensi sekaligus minat luar negeri cukup besar untuk peralatan persenjataan. "Sayang sekali, kalau minat dari luar negeri begitu besar tetapi tidak bisa kita layani, karena keterbatasan pabrik," tuturnya.

Saat ini, mesin produksi persenjataan Pindad yang berada di Turen, Malang, sudah lama dan tidak mampu lagi memproduksi senjata secara massal. Padahal, pabrik senjata Pindad itu memiliki luas sekitar 200 hektar. "Diperkirakan butuh investasi Rp150 miliar untuk peremajaan mesin Pindad," imbuhnya.

Pindad sudah mengajukan penambahan modal sekitar Rp974 miliar untuk APBN 2012. Dalam Rencana Jangka Panjang Pindad 2011-2015, perusahaan yang bergerak di bidang alutsista, diperhadapkan dengan masalah fasilitas mesin yang sudah tua sehingga kapasitas produksi terbatas. Belum lagi sistem pengendalian produksi sudah tidak mampu menangani persoalan yang kompleks.

Pemerintah akan memberikan tambahan modal di setor sebagai pengalihan utang kepada pemerintah sekitar Rp277,3 miliar termasuk SLA, RDI, dan Ex BBD menjadi PMN, serta memberikan dana segar sekitar RP696,7 miliar untuk investasi yang bersifat mendesak. (ant/gor)

Tampilan Pertama Pesawat KFX Serie C103

06 September 2012

Model pesawat KFX/IFX serie C103 (all photos : KDN)

CRDC (Combined  Research & Development Center) sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah Korea dan Indonesia yang merupakan gabungan antara engineer Korea dan Indonesia yang bekerja bersama-sama untuk pengembangan jet tempur generasi 4.5 yang diberi nama KFX / IFX baru-baru ini merilis gambar pertama dari hasil kerjasama keduanya yang dinamakan versi C103.


C103 adalah rancangan baru dari program KFX/IFX yang mempunyai penampakan seperti F-22 Raptor dengan bentuk yang meminimalkan RCS (Radar Cross Section). Perbedaan yang paling menonjol adalah persenjataan yang dibawa C103 dapat terlihat semuanya karena digotong dibawah sayapnya. Pada F-22 Raptor persenjataan tersebut tersimpan dalam  Internal Weapon Bay sehingga pesawat tersebut dapat tampil full stealth.


C103 rencananya akan menggunakan radar AESA (Active Electronic Scanned Array) yang dikembangkan oleh perusahaan Korea LIG Nex1. Pesawat ini direncanakan untuk dapat membawa persenjataan 4 rudal udara ke udara jarak menengah sekelas AMRAAM, 2 rudal udara ke udara jarak pendek dan dapat membawa bom hingga 1,000 pound sekelas JDAM (Joint Direct Attack Munition), yang semuanya terpasang pada 11 cantelan di bawah sayap dan bodinya.


Dengan mesin yang mempunyai daya dorong 36.000 pound sekelas F404 / F414 / EJ200 maka C103 diproyeksikan akan mempunyai kemampuan di atas pesawat F-16. Keberhasilan program KFX/IFX ini akan menjadi kuda hitam dalam persaingan pemasaran pesawat tempur sekelas F/A-18E/F, F-16 Block 60, dan Eurofighter Typhoon.

(Defense Studies)

Launching of New 63 m Carbon Fibre Trimaran for the Indonesian Navy

03 September 2012


KRI Klewang 625 (all photos : North Sea Boats)

At 12.00 hours on Friday, the 31st of August, 2012, North Sea Boats Ltd successfully launched one of the most innovative warships in the world into the straits between East Java and Bali, at Banyuwangi, in the Republic of Indonesia.

Measuring 63m in overall length, the vessel will he named KRI Klewang - after a traditional Indonesian single edged sword. It combines a number of existing advanced technologies into a single, unique platform; a wave-piercer trimaran hull form, constructed exclusively of infused vinylester carbon fibre cored sandwich materials for all structural elements, with external "Stealth" geometry and features intended to reduce detection.

The result of a 24 month research, design and development collaboration with New Zealand naval architects, LOMOcean Design Ltd, the ship represents a significant step forward in the use of advanced warship building technologies in countries outside of Europe and the United States.

Offering stability and shallow draft, the vessel is designed for patrolling the littorals. The hull shape is intended to permit high speeds to be maintained and thus maximize crew operational capability in the short, steep seas characteristic of the coastline around the Indonesian Archipelago. The design borrows elements from previous trimarans from the same designer, including the 24m Earthrace (later Ady Gil), holder of the record for the fastest circumnavigation of the globe by a power boat.

The underwater sections have been optimized for extended range at fast patrol speeds; the length, transverse and longitudinal positions and immersion of each of the three hulls have been carefully tailored for least resistance using both slender body analysis and towing tank testing. Powering and propulsion is courtesty of multiple MAN V12 diesel engines, coupled to MJP 550 water jets, located in both the centre hull and each of the two side hulls for maximum propulsive thrust and manoeuverability.



The use of carbon foam sandwich composites on this scale in naval application is unprecedented outside or Scandinavia and is representative of the current state of the art in both maritime composites structural engineering and production technology.

The structural design was subject to third party approval by Germanischer Lloyd in Hamburg, using design and approval methodologies tailored specifically for the unusual geometry of a large, wave-piercing trimaran. The construction medium offers multiple benefits, including reduced weight (laminated carbon fibre has a density nearly half that of aluminium alloys), reduced maintenance (carbon composites cannot corrode and exhibit extremely high fatigue limits), tailorability of radar cross section (true flat panel geometry can be attained due to no distortion during assembly), extremely high geometrical accuracy (permits as-built hull shape to remain faithful to theoretical optimums), nil magnetic signature, reduced thermal and acoustic signatures etc.

Production engineering methodologies were selected and tailored to the local labour environment, with emphasis placed on the use of advanced manufacturing techniques and a combination of excellent training and robust systems guaranteed to offer high part quality, repeatability and geometrical accuracy. The use of infusion technology in particular offers high level of  confidence in the quality and consistency of fiber wet out, high resin to fiber ratios, low void content and excellent bond quality between skins and core as well as at core joints.

Traditionally, achieving high levels of quality in composite construction on a large scale has been problematical without a highly skilled, specialist workforce. The high volume, vacuum infusion systems introduced by North Sea Boats almost completely mitigates such risks and offers high confidence in the integrity of the structures involved. The flat, facetted panel geometry of the ship lends itself well to high volume production systems, minimizing tooling costs. And advances In numerically controlled milling machine technology also create extremely high levels of assembled part accuracy.



Accommodation is provided for a complement of twenty nine (officers and crew) on three internal decks (including bridge and combat control centre), with facilities and equipment also provided for deployment of special forces troops, including an 11 m high speed 50 knot RIB, also manufactured and supplied by North Sea Boats.

Trimarans offer very stable weapons platforms, and can carry various Missile systems; including Type 705 (up to 8), RBS15, Penguin or Exocet, and 40-57mm Naval Guns, or a CIWS (Close In Weapon System). These can be mounted high on the superstructure, giving better range and firing arc. Sensors can also be installed high up without concerns for stability. This first ship will carry a turn-key system delivered by CSOC and CPMIEC China, including rapid fire CIWS, combat control and missile systems. The exact configuration of this system is still classified.

Completion will take place after launching, and extensive sea trials and tests will commence in October. KRI KLEWANG is expected to be fully operational 2013.

VESSEL FEATURES
-  Highly seaworthy and stable weapons platform
-  Concealed missiles, naval gun and small arms
-  High strength, lightweight, carbon composite construction 
-  Minimal draft for inshore and shallow water operations
-  Capable of high average speeds in adverse weather 
-  Long range capability with low crew requirement
-  Stealth design with low detection signatures
-  Special Ops unit & 11 m high-speed RHIB

GENERAL SPECIFICATION
Length Over All : 63.0   meter
Length of Waterline : 61.0 meter
Beam Overall           : 16.0   meter
Water Draft              :   1.2 meter
Sprint Speed           :   30+ knots
Range                      : 2000+ nm
Fuel Capacity          : 50,000 litres
Main Engines          : 4 x MAN Marine Diesels

(North Sea Boats)