Tampilkan postingan dengan label Kapal Support. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Support. Tampilkan semua postingan

Keel Laying Kapal Tunda Kedua untuk TNI AL di PT PAL

22 September 2012

Sesuai dengan Minimum Essential Force maka jumlah kapal tunda samudera TNI AL akan ditambah sehingga menjadi tujuh unit (photo : Ivan Meshkov)

TNI AL Pesan Dua Unit Kapal Tunda PT PAL Indonesia

TNI Angkatan Laut memesan dua Kapal Tunda Samudera kepada PT PAL Indonesia (Persero). Sebagai tanda dimulainya pembangunan kapal tersebut diselenggarakan Keel Laying yang disaksikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Bengkel Assembly CBL, Divisi Kapal Niaga, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jumat (21/9).

 Kapal ini merupakan kapal kedua dari dua unit kapal tunda 2400 HP yang dipesan oleh TNI Angkatan Laut berdasarkan surat perjanjian jual beli nomor: KTR/1055/02-48/XII/2011/Disadal. Kontrak jual beli ini efektif berlaku sejak tanggal 20 Desember 2011 lalu, antara PT PAL Indonesia (Persero) dengan TNI Angkatan Laut dalam hal ini Dinas Pengadaan Angkatan Laut (Disadal) dan sesuai rencana akan diserahkan bulan Juni 2013.

Kapal tunda yang diawaki 10 personel ABK tersebut, memiliki ukuran panjang keseluruhan 29.00 meter, panjang garis air 26.50 meter, lebar 9.00 meter, tinggi sampai geladak utama 4.50 meter, sarat air desain 3.50 meter, tinggi ruang akomodasi 2.50 meter, dan memiliki bollard pull (daya tarik) pada daya maximum motor pokok (100 % MCR) sekitar 30 ton pada kondisi sarat desain.  Kecepatan normal operasi (free running) 100% MCR pada sarat kondisi muatan 50% adalah 12 knot, pada perairan dalam dan tenang serta kondisi cuaca tidak melebihi skala Beaufort 2. Kecepatan menunda ≥ 5 knot.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan berita acara Keel Laying, di Bengkel Assembly Curve Bock Line (CBL) Divisi Kapal Niaga oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto bersama Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Edy Widarto, disaksikan Kasal Laksamana TNI Soeparno, Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin, Wakil Komisaris PT PAL Indonesia (Persero) Laksamana Muda TNI (Purn) Sunardjo, serta undangan lainnya.

Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin memiliki komitmen untuk selalu mendukung agar bangsa ini mandiri dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, hal tersebut telah dibuktikan oleh PT PAL Indonesia (Persero) dengan mempersembahkan karya terbaiknya berupa: 12 (dua belas) unit kapal patrol cepat 57 meter (FPB 57) dan Kapal Landing Platform Dock 125 meter kepada jajaran TNI Angkatan Laut.

“Sebagai wujud keseriusan PT PAL Indonesia (Persero) dalam ikut berpartisipasi aktif untuk memenuhi kebutuhan alutsista Kementerian Pertahanan khususnya kebutuhan kapal-kapal TNI AL, maka kami akan segera mengirimkan tenaga ahli dari PT PAL ke Belanda untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal 105 meter. Dimana dua orang akan mendalami bidang Manajerial, 10 orang untuk desain dan kombatan serta 29 orang untuk produksi,” katanya.

Ir. Firmansyah Arifin juga berharap, dalam kesempatan mendatang PT PAL Indonesia (Persero) masih terus dipercaya dan dapat berpartisipasi aktif untuk memenuhi kebutuhan alutsista Kementerian Pertahanan khususnya kebutuhan kapal-kapal TNI Angkatan Laut, termasuk rencana program pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 105 meter (PKR 105) dan pembangunan kapal selam. Sehingga dapat meningkatkan kemampuan PT PAL Indonesia (Persero) dalam penguasaan teknologinya.

Wamenhan Resmikan Pembangunan Tiga Kapal Perang

01 Agustus 2012

Kapal Tanker/BCM berukuran panjang 122,40 meter, lebar 16,50 meter dengan kecepatan maksimal 18 knots sedangkan untuk kapal LST berukuran panjang 117 meter, lebar 16,40 meter dengan kecepatan maksimal 16 knots (photo : DMC)

Jakarta, DMC – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Irjen Kemhan  Laksdya TNI Sumartono, dan Wakasal Laksdya TNI Marsetyo serta sejumlah Pejabat Mabes TNI dan Angkatan, Selasa (31/7), meresmikan pembangunan tiga kapal perang di Galangan Kapal PT. Dok dan Perkapalan (DKB) Kodja Bahari, di Jakarta, yang ditandai dengan peletakan lunas (keel laying) pembangunan satu unit kapal perang jenis Bantu Cair Minyak (BCM) serta pemotongan baja pertama (first steel cutting) untuk pembangunan dua unit kapal jenis Landing Ship Tank (LST)

Dalam sambutannya, Wamenhan mengatakan, Peristiwa peresmian ini merupakan bukti satu langkah maju dari peran PT Dok Kodja Bahari dalam membangkitkan industri pertahanan, sekaligus menjadi peran pemerintah sesuai dengan apa yang telah dicanangkan oleh Presiden RI untuk memodernisasi alutsista TNI. Terlebih, produk yang dihasilkan akan menjadi bahan laporan Bapak Presiden kepada rakyat Indonesia pada 5 Oktober 2014 di Surabaya.

Karenanya, kata Wamenhan lebih lanjut, PT Dok Kodja Bahari masih ada 2 episode tantangan lagi yang harus dimenangkan oleh PT Dok Kodja Bahari yaitu, masalah kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian pembangunan kapal. Sedangkan ke depan, Wamenhan berharap PT Dok Kodja Bahari juga harus mampu berbicara tidak hanya pada skala nasional saja, tetapi juga pada tingkat regional. Dan untuk mewujudkan upaya tersebut, sedang dipikirkan wacana mengadakan joy sea trip bagi tamu-tamu dari negara luar pada event Indonesian Defence mendatang, sebagai bagian memperkenalkan kepada negara-negara luar tentang industri perkapalan khususnya yang berada di Jakarta, untuk menopang kebangkitan industri pertahanan. Mengingat, hal tersebut dapat menjadi cermin serta Indonesia dikenal dengan kebangkitan industri dan tidak mengenal krisis ekonomi global.

Sementara itu, Dirut PT Dok Kodja Bahari Riry Syeried Jetta dalam laporan kesiapan penyelesaian pembangunan kapal – kapal tersebut menyampaikan, bahwa kapal jenis BCM yang berukuran panjang 122,40 meter, lebar 16,50 meter, memiliki kecepatan maksimal 18 knots dan berkapasitas bahan minyak cair sebanyak 5500 m3 akan selesai pembangunannya dan diserahkan pada Bulan Desember 2013. Pola pembangunan kapal tersebut menggunakan Multiyard Single Construction Methode dengan sistem Integrated Hull Construction Outfitting & Painting, yakni dilaksanakan di tiga galangan di Jakarta yang dilakukan secara paralel serta pengerjaan konstruksi bangunan kapal sudah mencapai 550 ton dari total 1.770 ton. Sedangkan untuk kapal LST berukuran panjang 117 meter, lebar 16,40 meter dengan kecepatan maksimal 16 knots, diproyeksikan dapat mengangkut tank tidak hanya jenis BMP 3F tetapi juga untuk tank sekaliber Leopard.(BND/SR)

(DMC)

Australia and Spain Agree to Share Auxiliary Oil Replenishment Ship

04 Juli 2012

SPS Cantabria A-15 (photo : Militaryphotos) 

The Deployment of Spanish Armada Ship Cantabria to Australia in 2013

The Minister for Defence, Stephen Smith, today announced that the Royal Australian Navy (RAN) would participate in a unique deployment to Australia of the Spanish Armada Ship, SPS Cantabria, with a series of training exercises in Australia from mid-February until November 2013. 

The Cantabria deployment will strengthen the bilateral relationship between Spain and Australia, as well as providing important training and capability assessment outcomes for both the Spanish Armada and the RAN.

The Cantabria is a modern Auxiliary Oil Replenishment ship, similar to HMAS Success, which is capable of supplying fuel, food, stores and ammunition to ships underway.

This will be the longest deployment undertaken by Cantabria and will allow the Spanish Armada to trial the ship’s full range of capabilities including through activities involving both Cantabria and RAN ships and helicopters.

This training program will also include an exchange program between personnel from Cantabria and RAN units.

These exercises with RAN Ships and helicopters will culminate with Cantabria’s participation in the Australian International Fleet Review in October 2013. 

The Cantabria’s deployment will also provide a valuable opportunity for the RAN to conduct early training for personnel earmarked for service in the Australian Navy’s new Canberra Class Landing Helicopter Dock (LHD) ships and Hobart Class Air Warfare Destroyers (AWD).  

Many of Cantabria’s systems are the same as the LHDs and AWDs, which are based on Spanish ship designs.

The deployment will provide a unique opportunity for Defence to undertake an assessment of the capability offered by Cantabria as Defence considers the replacement of HMAS Success and Sirius.

The deployment of Cantabria will also reduce the capability risk during Success’ next major maintenance period in 2013.

Cantabria will augment the afloat support capability provided by HMAS Sirius.  Sirius is currently in maintenance at HMAS Stirling, which is due for completion next month.

The RAN and Spanish Armada will work together over the coming weeks to finalise the details of the deployment.

The Chief of Navy, Vice Admiral Ray Griggs, will travel to Ferrol, Spain, next week to represent Australia at the launching and naming of the second LHD, the future HMAS Adelaide.

PHN Tentukan Sempadan Maritim Negara

01 Juli 2012

KD Perantau (photo : Militaryphotos)

Salah satu tugas anggota PHN adalah mengkaji dan meneliti peta hidrogafi negara.
SEJARAH pengukuran hidrografi di perairan Malaysiabermula sejak kurun ke-18 oleh Tentera Laut Diraja British (TLDB).

Pengunduran British dari Tanah Melayu telah memberi ruang kepada Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) mewujudkan perkhidmatan hidrografinya sendiri tanpa bantuan daripada TLDB.

Pada awal 1965, kumpulan pertama pegawai dan anggota hidrografi TLDM telah dihantar menjalani latihan di Australia.

Penubuhan Cawangan Hidrografi dalam TLDM direalisasikan pada 1969 dan kapal penyapu periuk api yang telah diubah suai merupakan aset pertama digunakan sebagai alat pengukuran hidrografi.

Pada 31 Oktober 1972, TLDM dilantik sebagai agensi yang bertanggungjawab melaksanakan pengukuran hidrografi di Malaysia oleh Kabinet.

Sejak itu, pembangunan dan peranan yang dimainkan oleh Cawangan Hidrografi TLDM terus berkembang selaras dengan penglibatan negara dalam Pertubuhan Hidrografi Antarabangsa (IHO) pada 1975.

Melalui penglibatan tersebut, secara tidak langsung Ketua Pengarah Hidrografi merupakan wakil rasmi kerajaan Malaysiake persidangan IHO yang diadakan setiap limatahun.

Dari segi aset pengukuran, kapal hidrografi pertama iaitu Kapal Diraja (KD) Mutiara telah diperoleh pada 1977 bagi meningkatkan keupayaan pengukuran hidrografi TLDM sekali gus membolehkan penerbitan carta nautika yang pertama dibuat pada 1984.

Ia diikuti perolehan kapal hidrografi kedua iaitu KD Perantau pada 1998 yang dilengkapi sistem pengukuran terkini dan tercanggih di rantau Asia Tenggara ketika itu.

Dalam pada itu, proses penerbitan Carta Pandu Arah Elektronik (ENC) telah mula diterbitkan pada 2000 dan sehingga kini, 103 sel ENC telah diterbitkan untuk pasaran antarabangsa atau kegunaan domestik.

Penubuhan Pusat Hidrografi Nasional (PHN) secara dasarnya telah dicadangkan di bawah program Pembangunan Istimewa Angkatan Tetap (Perista) sejak 1979.

KD Mutiara (photo : Aus DoD)

Bagaimanapun, atas sebab-sebab tertentu pembangunan PHN hanya dapat dilaksanakan pada 2002 dan siap sepenuhnya pada 2005.

Pembangunan PHN dilaksanakan secara berperingkat-peringkat melibatkan kawasan paya bakau yang ditebus guna seluas 50 hektar di Pulau Indah, Pelabuhan Klang, Selangor.

Sehingga kini, pembangunan hanya melibatkan fasa pertama merangkumi pembinaan Bangunan Pentadbiran, Bangunan Cetak, Blok Kediaman Bujang, Bangunan Kartografi dan Oseanografi, Bangunan KD Sri Klang (KDSK), Jeti dan Gedung Senjata yang disiapkan pada 15 Oktober 2005.

Hari Hidrografi Sedunia

Sambutan Hari Hidrografi Sedunia telah ditetapkan pada 21 Jun setiap tahun sejak 2005. Tarikh itu dipilih bagi memperingati hari penubuhan Biro Hidrografi Antarabangsa (IHB) pada 1921 di Perancis. Biro berkenaan ketika itu hanya disertai oleh 19 negara.

Pada 1970, IHO telah ditubuhkan bagi menggantikan IHB. Bagaimanapun, IHB masih dikekalkan sehingga kini sebagai badan yang menguruskan pentadbiran IHO. Bagi mengiktiraf peranan yang telah dimainkan oleh IHB, IHO dan komuniti hidrografi antarabangsa, pengisytiharan tarikh sambutan Hari Hidrografi Sedunia telah dibuat secara rasmi melalui satu resolusi oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) pada 29 Jun 2005.

Tema sambutan hari hidrografi sedunia pada tahun ini adalah Kerjasama Hidrografi Antarabangsa Pemangkin Keselamatan Pelayaran'.

Kepakaran Bidang Hidrografi

Tugas asal perkhidmatan hidrografi TLDM adalah melaksanakan pengukuran hidrografi dan penghasilan produk nautika untuk kegunaan pelayaran di perairan negara.

Produk yang dihasilkan lebih mengutamakan keperluan pertahanan dan keselamatan pelayaran.

Namun, peranan tersebut telah meningkat merangkumi pelbagai cabang bidang hidrografi seperti oseanografi, kartografi dan meteorologi selaras dengan perkembangan industri maritim dan pertahanan negara.

Sumbangan

Sumbangan warga hidrografi TLDM terhadap industri maritim negara begitu sinonim dengan kewujudan PHN sendiri sebagai sebuah agensi yang layak dan bertanggungjawab untuk melaksanakan pengukuran hidrografi di Malaysia.

IHO mendefinisikan hidrografi sebagai satu cabang sains gunaan yang berkaitan dengan pengukuran dan penerangan ciri-ciri fizikal lautan, laut, kawasan persisiran pantai, tasik dan sungai serta ramalan perubahan ke atas elemen tersebut mengikut peredaran masa.

Ia bagi tujuan keselamatan pelayaran dan menyokong aktiviti-aktiviti marin lain termasuk pembangunan ekonomi, keselamatan dan pertahanan, penyelidikan saintifik serta perlindungan alam sekitar.

Definisi tersebut cukup menggambarkan kepentingan dan sumbangan bidang hidrografi kepada sesebuah negara.

Ia tidak terhad kepada anggota hidrografi TLDM, tetapi turut melibatkan individu yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam bidang itu di negara ini.

Sebahagian besar sumber ekonomi negara datangnya dari laut melalui industri perikanan, perkapalan, cari gali minyak. Laut juga merupakan laluan masuk serta keluar komoditi utama negara.

Bagi membolehkan kesemua aktiviti berkenaan berjalan dengan lancar, carta pandu arah diperlukan sebagai rujukan bagi menentukan kedudukan sesuatu kawasan atau platform (kapal, pelantar minyak dan sebagainya) di laut.

Carta pandu arah ini membolehkan keseluruhan perairan negara diterokai untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber asli yang terdapat di dasarnya. Menggunakan carta pandu arah juga, sesebuah kapal dapat belayar dengan selamat.

Secara ringkasnya, sumbangan warga hidrografi TLDM kepada industri maritim negara lebih kepada memastikan keselamatan pelayaran di perairan negara melalui penerbitan produk nautika.

Sumbangan yang diberikan turut melibatkan isu-isu teknikal persempadanan zon maritim negara, kajian saintifik marin, kajian hidraulik, pembangunan pesisir pantai, pelancongan dan sebagainya

Secara umumnya, TLDM mempunyai dua platform yang boleh melaksanakan pengukuran hidrografi di laut iaitu kapal hidrografi KD Mutiara dan KD Perantau.

KD Mutiara mula beroperasi dalam perkhidmatan TLDM pada 1977. Selain dilengkapi sistem pengukuran hidrografi, ia juga dilengkapi empat bot ukur dan dua bot kerja untuk pengukuran di kawasan cetek.

KD Perantau yang mula beroperasi pada 1998 telah direka dan dilengkapi khusus untuk operasi pengukuran hidrografi serta melaksanakan pemerhatian meteorologi dan cerapan oseanografi.

Ia turut dilengkapi sistem pengukuran terkini untuk navigasi dan hidrografi seperti Navigation and Command System (NACOS) dan Digital Survey and Mapping System 'HYDROMAP'.

Peralatan lain termasuk Sistem Perbezaaan Pemposisian Sejagat (DGPS), Pemerum Gema Berbilang Sisi, Hull Mounted Acoustic Current Profiller (ADCP) dan kelengkapan lain untuk operasi oseanografi serta meteorologi. Kapal itu juga dilengkapi dua buah bot ukur iaitu Bot Ukur Utarid dan Pluto. Kedua-dua kapal berkenaan berpangkalan di Pangkalan TLDM Lumut.

Wamenhan Tinjau Pesanan Kapal Tanker ke-2 di PT. DKB


08 Mei 2012

Kapal tanker Angkatan Laut berukuran panjang 122m akan diselesaikan dalam 24 bulan, sedangkan LST akan dimodifikasi sehingga dapat membawa tank BMP3F dan Leopard 2 (photo : DMC)

Wamenhan Meninjau Proses Pembuatan Kapal BCM di Dok dan Perkapalan Kodja Bahari

Jakarta, DMC - Sehari setelah melakukan kunjungan kerja ke PT Anugrah Buana Marine untuk mengetahui sejauh mana proses pembuatan kapal Bantu Cair Minyak (BCM) Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Irjen Kemhan  Laksdya TNI Sumartono, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Pejabat Mabes TNI dan Angkatan, Selasa (8/5), Mengunjungi PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, yang juga sedang  mengerjakan pembuatan kapal Bantu Cair Minyak  kedua untuk TNI AL.

Setibanya di PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Wamenhan beserta rombongan disambut  oleh Wakasal Laksdya TNI Marsetio dan Dirut PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Riri Syeried Jetta beserta staf langsung menyaksikan proses pengerjaan pemotongan baja sebagai material kapal BCM.

Usai melakukan kunjungan ke Galangan kapal II, Wamenhan menuju Aula PT.  Dok dan Perkapalan Kodja Bahari menerima penjelasan seputar proses penyelesaian pembuatan satu kapal BCM yang menggunakan material 100% local content dan direncanakan di bangun selama 24 bulan.

Kapal Landing Ship Tank

Selain mendapat penjelasan tentang pembuatan kapal BCM, Wamenhan juga mendapat penjelasan tentang rencana pembuatan dua kapal jenis Landing Ship Tank (LST) yang sudah ditandatangani kontraknya, namun masih dalam tahap rancang bangun, karena design awal kapal Landing Ship Tank dengan 354 ABK hanya dapat mengangkut kendaraan Tempur (Ranpur) jenis Tank BMP 3F, yang dimodifikasi menjadi kapal Landing Ship Tank yang juga dapat mengangkut tank jenis Leopard.

Sementara itu untuk jenis kapal BCM itu sendiri, memiliki spesifikasi panjang 122,40 m , lebar 16,50 m, memiliki kecepatan maksimal 18 knots dan dapat memuat bahan minyak cair sebanyak 5500 m3.

Adapun modifikasi ataupun perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pembuatan kapal, Wamenhan mengharapkan proses pembangunannya sesuai dengan target yang telah ditetapkan atau tidak melewati batas waktu tahun 2014.

(DMC)

TNI AL Pesan Kapal Tanker

30 April 2012


Kapal tanker ini akan selesai dalam 18 bulan dengan biaya Rp 160 Milyar (photo : Berita Cilegon)


Kapal Perang Dibuat di Bojonegara, 1 Kapal Seharga Rp 160 Miliar


BOJONEGARA, BCO – Bangsa Indonesia sudah mampu membuat kapal untuk kebutuhan berperang. Dan siapa menyangka kalau ternyata kapal perang yang dipesan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI ini dibuat di wilayah Provinsi Banten, tepatnya di wilayah Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Ini diketahui setelah, Kamis (26/4/12) pagi tadi, Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, meresmikan pembuatan kapal perang jenis tangker pertama oleh PT Anugrah Buana Marine (ABM) Bojonegara.


Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto mengatakan, kepada Berita Cilegon Online (BCO) bahwa untuk membuat kapal tersebut dibutuhkan waktu selama 18 bulan (1,5 tahun), dengan kebutuhan dana lebih dari 160 miliar. “Sebelumnya kemenhan juga telah berhasil membuat kapal perang di beberapa wilayah, di antaranya di Batam, Suarabaya dan Jakarta. Kalau proyek pembuatan kapal (perang tangker-red) BCM ini berhasil, kita akan buat kapal perang di Banten, terlebih di sini (Banten-red) juga banyak bahan bakunya," ujar Sru.


Saat ini TNI AL tercatat mempunyai 5 kapal tanker yaitu : KRI Balikpapan 901, KRI Sambu 902, KRI Arun 903, KRI Sungai Gerong 906, dan KRI Sorong 911 (photo : TNI AL)


Dikatakan bahwa pembuatan kapal dilakukan di wilayah Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk pemberdayaan sember daya manusia (SDM) lokal dalam menciptakan perangkat perang TNI. “SDM lokal sebenarnya sudah mampu menciptkan kapal-kapal perang. Akan tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Mulai dari sekarang kita manfaatkan SDM itu untuk membuat produk berkualitas di negeri sendiri," Sru menuturkan.


Dalam kesempatan yang sama, saat mendampingi Aslog Kasal Laksamana Muda TNI, Danlanal Banten Kolonel Laut (p) Agus Priyatna mengatakan, TNI AL memang saat ini sangat membutuhkan kapal BCM. Sebab, saat ini TNI AL di bagian barat hanya memiliki satu kapal BCM yang kondisinya sudah tua dan perlu diganti. “Kapal BCM  ini nantinya disiapkan untuk membantu kapal perang yang kehabisan bahan bakar di tengah laut,” ujar Agus seraya berhatap proyek pembuatan kapal itu sukses sehingga kapal perang terus bisa dibuat di wilayah Banten. 


Sementara itu, Direktur PT Anugrah Buana Marine (ABM) Bojonegara Nasrudin Umar menjelaskan bahwa sesuai desain, kapal tersebut akan dibuat dengan ukuran panjang 95,5, lebar meter, 17,5 meter dan  tinggi 9 meter dengan kapasitas tangker dapat mengangkut 5.000 matrik. Bahan baku berupa bajanya berasal dari PT Krakatau Steel (KS) yang nota bene Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di wilayah Kota Cilegon, Provinsi Banten, yang letaknya berdekatan dengan Bojonegara. “Kecepatan kapal sendiri dirancang hingga 14 sampai dengan 15 knot," Nasrudin menuturkan. (*)


(Berita Cilegon)

Handover of the Ocean Surveillance Ship

26 November 2011

Ocean surveillance ship named HSV-6613 Giáo Su Vien sĩ Tran Đai Nghĩa (all photos : QDND, ttvnol)

QĐND Online - in Danang, Song Thu Co. Ltd. (a member of the General Department of Defense Industry) held a ceremony to hand over the sea vessel surveillance called HSV-6613 Giáo Su Vien sĩ Tran Đai Nghĩa, Admiral Pham Ngoc Minh, Deputy Commander, Chief of Navy has attended.

HSV Tau - 6613 designed by the Damen Group (Netherlands) and constructed in the Song Thu Company contributions to overcoming the lack of equipment for research, survey, surveying the sea, all set chart warning waters of Vietnam, creating favorable conditions for exploration, exploitation, controlling and protection of marine resources.



This type of steel hull ships, unrestricted activity level, consistent with hydrographic features survey and marine survey measurements, meet standards and regulations for decentralization of shipbuilding steel shell of TCVN 6259/2003 Vietnam Register, Lloyd Register, as well as conventions and other regulations related to the survey ship, surveying the sea. The vessel line shape and drive systems for adaptive purposes, can be easily rotated even in narrow waters, storm strength on level 12.


The ship is powered by four diesel combination generators, two Azimuth propeller, a propeller nose with the equipment information, navigation, weapons and other modern devices. The scope of operation of the ship is 5000 nautical miles at an average speed of 10 knots.

The ship’s design meets capability allows continuous operation at sea for 60 days and nights. The basic specifications of the ship as follows: Length overall: 66.3 m, maximum width: 13.2 m, depth: 6.5 m, draft at full load 4m, full displacement : 1550 tonnes.

Ship HSV-6613 was officially started in July - 2008, ship was launched in October - 2010. Until this time used for training and sea-trials conducted by military service.

Kapal Auxiliary TLDM Bunga Mas Enam Terus Membawa Misi Melindungi Kapal-kapal Negara di Teluk Aden

09 Agustus 2011


Kapal Auxilary TLDM Bunga Mas Enam (photos : TLDM)



MISC Berhad dengan kerjasama Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dan Majlis Keselamatan Negara (MKN) hari ini telah melancarkan Kapal BUNGA MAS ENAM sebagai sebuah Kapal Auxiliary TLDM kedua bagi memperkukuhkan perjalanan Operasi FAJAR. Majlis pelancaran tersebut telah diadakan di limbungan Malaysia Marine and Heavy Engineering Sdn Bhd (MMHE), Pasir Gudang Johor dan dihadiri oleh Panglima Tentera Laut; YBhg Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Hj Jaafar dan Presiden/Ketua Pegawai Eksekutif MISC Berhad; YBhg Datuk Nasarudin Md Idris.



BUNGA MAS ENAM, sebuah kapal kontena bersaiz 699TEUs, merupakan kapal dagang kedua yang didaftarkan di Malaysia yang telah diubahsuai dan dilengkapi dengan peralatan keselamatan bertujuan melindungi dan mengiringi kapal-kapal MISC yang membawa kepentingan negara di Perairan Teluk Aden dan perairan sekitarnya. Kerja-kerja pengubahsuaian telah dijalankan oleh MMHE (sebuah anak syarikat MISC) di limbungan kapalnya yang terletak di Pasir Gudang, Johor. Sebelum ini, BUNGA MAS LIMA, Kapal Auxiliary TLDM pertama telah dilancarkan pada 1 Jun 2009 dan kini sedang ditugaskan di perairan Teluk Aden untuk mengiringi kapal-kapal dagang milik MISC yang menggunakan laluan tersebut. Sejak pelancarannya, BUNGA MAS LIMA telah berjaya mengiringi sebanyak 172 kapal-kapal dagang MISC merentasi Teluk Aden dan kawasan perairan berhampiran.


Projek pengubahsuaian BUNGA MAS ENAM adalah tepat pada masanya memandangkan statistik dan laporan mengenai aktiviti-aktiviti perlanunan di kawasan Perairan Teluk Aden menunjukkan peningkatan dan menjadi agak serius sejak akhir-akhir ini. Malah kawasan aktiviti perlanunan ini telah pun menjangkau sehingga ke Lautan Hindi. BUNGA MAS ENAM, yang kini dikenali sebagai Kapal Auxiliary TLDM BUNGA MAS ENAM akan menyertai operasi di Teluk Aden bersama-sama dengan KapalAuxiliary TLDM BUNGA MAS LIMA bermula pada pertengahan bulan Ogos 2011.



Merujuk kepada perundangan antarabangsa, kapal auxiliary adalah tergolong dalam jenis-jenis kapal selain dari kumpulan kapal-kapal perang yang dimiliki atau di bawah kawalselia pentadbiran tentera. Ianya dioperasikan oleh sesebuah kerajaan dan diberi keistimewaan kuasa imuniti atau lebih dikenali sebagai sovereign immunity.





Kedua-dua Kapal AuxiliaryTLDM dianggotai oleh anggota-anggota yang terlatih, terdiri daripada anak-anak kapal MISC dan anggota tetap pasukan Angkatan Tentera Malaysia (ATM). Kesemua anak-anak kapal MISC ini diserap sebagai anggota Pasukan Simpanan Sukarela TLDM (PSSTLDM) dan telah menjalani latihan-latihan asas ketenteraan. Setiap anggota yang ditugaskan mempunyai bidang tugas dan kepakaran masing-masing. Anggota tetap ATM adalah terdiri daripada pasukan khas ketiga-tiga cabang perkhidmatan, Unit Udara TLDM dan kumpulan sokongan dari bahagian kesihatan dan pentadbiran tentera. Bidang tugas utama mereka ialah operasi khas dan tugas perlindungan keselamatan. Manakala, bidang tugas utama bagi anak-anak kapal MISC tertumpu kepada tugas-tugas pengemudian dan pengendalian kapal yang melibatkan aspek pandu arah, komunikasi, elektrikal dan mekanikal kapal.



Dengan adanya Kapal Auxiliary TLDM seperti BUNGA MAS LIMA dan BUNGA MAS ENAM ini, TLDM mampu melaksanakan pemantauan di luar lingkungan operasi beyond normal operating envelope secara optimum dan berhemah. Menerusi pengoperasian BUNGA MAS LIMA, TLDM telah berjaya menjimatkan kos operasi sebanyak RM 3 juta sebulan. Lebih signifikan lagi, perkongsian bijak antara TLDM dan MISC ini telah berjaya memberi perlindungan terhadap barangan dagangan negara yang bernilai berbillion ringgit yang melalui Perairan Teluk Aden. Projek BUNGA MAS LIMA juga telah berjaya menempatkan Angkatan Tentera Malaysia di tangga kedua dalam Pertandingan Anugerah Inovasi Perdana Menteri bagi tahun 2011.



Bagi MISC, pengubahsuaian kapal-kapal dagang milik syarikat kepada Kapal Auxiliary TLDM ini telah membuktikan komitmen pihak pengurusan di dalam memastikan keselamatan anak-anak kapal dan aset negara terjamin, terutamanya ketika melalui Perairan Teluk Aden dan kawasan perairan yang berhampiran. Dari sudut perniagaan pula, pengoperasian kapal-kapal auxiliary ini telah berjaya meningkatkan keyakinan dan kesetiaan para pelanggan terhadap perkhidmatan MISC dan syarikat ini terus menjadi pilihan utama mereka dalam memastikan kargo yang dibawa sampai ke destinasi dengan selamat. MISC merupakan syarikat perkapalan utama di dunia yang menggunakan kapal tanker LNG. Dari segi pemasaran, perolehan aset dan pendapatan, ia merupakan syarikat perkapalan keempat yang terbesar di dunia. MISC juga menduduki tangga keempat di dunia dalam pengoperasian Aframax tankers yang membawa barangan dagangan berupa petroleum.


Perkongsian strategik antara TLDM dan MISC telah berjaya melahirkan Pasukan Latihan Pegawai Simpanan (Laut) atau PALAPES (L) di Akademi Laut Malaysia (ALAM) dan Pasukan Simpanan Sukarela TLDM (PSSTLDM) yang mempunyai kepakaran tertentu. Untuk rekod, pengambilan pertama PALAPES (L) ALAM yang dirasmikan pada tahun lalu mempunyai seramai 29 orang pegawai. Manakala terdapat 45 orang pegawai dan 43 orang lain-lain pangkat PSSTLDM yang berkepakaran perkapalan menerusi Operasi FAJAR. Bagi TLDM, Kapal AuxiliaryTLDM ini merupakan satu komponen penting di dalam merealisasikan konsep HANRUH (Pertahanan Menyeluruh) yang terkandung di dalam Dasar Pertahanan Negara yang bertujuan untuk membuka peluang kepada lebih ramai sukarelawan yang berminat untuk mendalami ilmu kelautan, pertahanan dan keselamatan.



Maklumat Kapal Auxiliary TLDM BUNGA MAS ENAM

a. Owner - MISC Berhad

b. Port of Registry - Port Klang

c. Builder - Malaysian Shipyard and Engineering

d. Hull Number - 6

e. Date Launched - 1 Aug 96

f. Date of Delivery - 22 May 97

g. Type of Ship - 699 TEUS Container Carrier

h. Length - 132.8 meter

i. Breadth - 22.7 meter

j. Gross Tonnage - 8,957 tonnes

k. Net Tonnage - 3,158 tonnes

l. Main Engine - MDE Sulzer 5RTA52U

m. Speed - 17 knots

n. Cruising Range - 9,000 Nm

o. Tank Capacity:

(1) Heavy Fuel Oil Tank (used for cruising) - 540 tonnes

(2) Marine Diesel Oil Tank (used for generator) - 50 tonnes

(3) Cylinder Oil Tank - 11,000 ltrs

(4) Fresh Water Tank - 980 tonnes

p. Fresh water making system:

(1) Alfa Laval Evaporator

(2) Average daily making rate - 8 tonnes

q. Endurance - 21 days


(TLDM)

TNI AL Akan Beli Dua Kapal Survei

22 Juni 2011


KRI Dewa Kembar 932 (photo : Kaskus Militer)

Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Laut akan membeli dua kapal survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut baik untuk kepentingan pertahanan dan militer maupun umum.

"Proses pengadaannya, kami sudah membuka lelang terbuka untuk pengadaan dua kapal itu," kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio di Jakarta, Rabu.

Ditemui usai membuka seminar nasional hidro-oseanografi, ia mengatakan, sudah ada beberapa negara yang menawarkan diri untuk membuat dua kapal tersebut.

"Sudah ada beberapa perusahaan dan negara yang menawarkan diri, namun belum kita putuskan yang jelas semua melalui proses lelang," katanya kepada ANTARA.

Tentang negara mana saja yang sudah tertarik untuk pengadaan dua kapal itu, Marsetio mengaku belum mendapatkan data rinci.

"Yang jelas sudah ada. Penambahan kapal survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut itu sangat penting, untuk memaksimalkan kegiatan mendapatkan data hidrografi dan oseanografi ," ujarnya.

Marsetio menjelaskan posisi geografis Indonesia yang berada di persimpangan dua benua dan dua samudra memiliki konsekuensi tinggi.

Karena itu, lanjut Marsetio, perlu kegiatan survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut yang memadai untuk mengetahui secara rinci kondisi, situasi dan apa yang terjadi di wilayah perairan nasional.

"Produk survei dan pemetaan yang berkualitas sesuai standar nasional tentu harus didukung wahana apung (kapal) survei dan pemetaan serta SDM yang memadai dan berkualitas pula," tuturnya.(*)


(Antara)

PHN Kaji, Ukur Struktur Laut Negara

22 Juni 2011

KD Perantau (photo : Secure Malaysia)

TENTERA Laut Diraja Malaysia (TLDM) bukan sekadar menjaga keselamatan dan kedaulatan perairan negara tetapi turut terlibat dengan tugas-tugas berkaitan hidrografi seperti mengukur kedalaman, bentuk dan morfologi laut, arah aliran ombak serta maklumat pasang surut air laut.
Tugas-tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada agensi di bawah TLDM iaitu Pusat Hidrografi Nasional (PHN).

Mungkin banyak pihak mempertikaikan keperluan tugas-tugas tersebut dilakukan tetapi hakikatnya ia penting dan amat diperlukan untuk tujuan pengukuran dan pelayaran.

Ketua Pengarah PHN, Datuk Zaaim Hasan berkata, peranan PHN tidak kurang pentingnya berbanding tugas anggota TLDM yang lain.

Malah katanya, tanggungjawab mereka lebih rumit kerana perlu teliti dengan setiap pengukuran yang dilakukan supaya tidak berlaku kesilapan yang boleh menyebabkan operasi pelayaran atau pemantauan di kawasan perairan negara terjejas.

“Setiap pengukuran perlu tepat. Kedalaman, bentuk lautan, kelajuan ombak, jadual pasang surut air laut, kesemuanya itu perlu diukur dengan teliti sebelum diterjemahkan dalam bentuk peta atau carta yang diguna pakai TLDM semasa pelayaran.

“Proses pengukuran meliputi keseluruhan kawasan perairan negara. Bayangkanlah keluasan laut yang perlu diukur dan kami tidak boleh melakukan kesilapan kerana khuatir boleh menyebabkan berlakunya kemalangan antara kapal yang melalui perairan negara.

“Proses pengukuran juga dijalankan secara berterusan. Kami tidak boleh kekal dengan ukuran yang sama bagi tempoh empat atau lima tahun kerana bentuk atau struktur muka bumi di dasar lautan sering berubah terutamanya apabila berlaku bencana seperti tsunami,” katanya ketika ditemui semasa sesi lawatan media ke PHN di Pulau Indah, Pelabuhan Klang baru-baru ini.

KD Mutiara 255 (photo : PBase)

Menurut Zaaim, penubuhan dan peranan PHN juga adalah selaras dengan dasar kerajaan untuk membangunkan sebuah Pusat Maklumat Infrastruktur Geospartial Marin (GIDC) di negara ini.
Beliau yakin hasrat untuk membangunkan pusat maklumat tersebut akan dapat direalisasikan dalam tempoh dua atau tiga tahun lagi.

“Kami optimis dengan pembangunan GIDC. Ia akan menjadi pusat pengumpulan serta penyimpanan maklumat marin terbesar di negara ini dan akan memudahkan penyaluran sebarang informasi kepada TLDM sekiranya diperlukan," jelasnya.

PHN juga katanya, ketika ini bercadang untuk menambah jumlah aset yang mereka miliki bagi memudah serta mempercepatkan tugasan mereka.

Katanya, setakat ini agensi itu mempunyai dua buah bot pengumpul hidrografi iaitu Kapal Diraja (KD) Mutiara dan KD Perantau.

“Tugas mengukur dan merekodkan struktur perairan negara mengambil masa yang agak lama. Berdasarkan jumlah aset yang dimiliki ketika ini, belum tentu kami mampu menyiapkan ukuran struktur perairan negara menjelang 2020.

“Jadi kami bercadang untuk menambah jumlah aset yang dimiliki supaya tugas-tugas pengukuran dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

New Navy Ship to Have 'Pirate Guns'

24 Mei 2011

HMNZS Endeavour (photo : NZ Navy)

The new ship to replace the navy's ageing tanker, Endeavour, could have some serious weaponry to fight off pirates. The 23-year-old Endeavour will be replaced with a new ship in 2018 at a cost of about $250 million.

Navy planners looking at the best ship to order said the new ship would at the least have .50-calibre machine guns and other measures to ward off pirates.

Endeavour was built on a commercial tanker design in Korea and modified for the navy as a fleet replenishment ship, which could refuel other ships at sea, carry stores and operate a helicopter.

However, it had no weapons on board other than 5.56mm Steyr assault rifles and pistols. The navy said it was looking at following global trends to give the new ship the ability to fight off pirates.

Commander Tony Hayes, the navy officer in charge of the acquisition programme, said as well as .50-calibre machine guns, they were also looking at a deck layout which would allow a mounting for a rapid-fire Phalanx Gatling gun similar to those fitted to the Anzac frigates, Te Kaha and Te Mana.

The 20mm, radar guided, close-in weapons system is used to ward off missile attacks, strike aircraft and fast inshore attack boats and could fire up to 4500 rounds a minute.

''We would consider in the design placement for such a thing. If you look at what the other major navies are doing, they are considering self defence weapons on these types of ships.''

Cdr Hayes said as more navies opted for more multi-role ships, including ships like HMNZS Canterbury and the Endeavour replacement, they did not have as many warships.

''These multi-role vessels are having to do more jobs and independently.''

''We would want appropriate anti-piracy measures.

Anti-piracy measures could include high pressure water systems, barbed wire and ''all sorts of attachments you will see on a lot of the major oil tankers.

''It is to physically to stop people climbing or putting grappling irons on the sides of ships.''

Endeavour will become non-compliant with International Maritime Organisation requirements in 2013 and be reclassified, with its cargo volume reduced.

Two years ago the navy spent about $2m closing off some of the tanks to effectively give it a double hull, reducing the capacity by 25 percent to about 5500 tonnes of fuel. From 2013 it would be limited to 5000 tonnes of fuel.

The replacement ship was likely to be more versatile than Endeavour but it would retain its main function as a fleet tanker.

''If budget permits and the base design permits we would like to see it with additional craneage, the ability to take a lot more containers and maybe support amphibious operations too.''

The ship would also be able to land the air force's new NH 90 helicopters and the navy's Seasprite helicopters and carry limited numbers of troops.

(Stuff)

TLDM Dijangka Dapat Kapal Tambahan Kedua September

18 Maret 2011

Kapal Bunga Mas 5 ketika berada di Oman. Kapal ini bertugas di Teluk Aden dibawah bendera TLDM untuk menjaga kapal-kapal dagang Malaysia dari serangan perompak (photo : Jerzy Nowak-VesselTracker)

KUALA LUMPUR – Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dijangka mendapat sebuah lagi kapal pengiring bagi melindungi keselamatan kapal-kapal dagang berkepentingan negara di perairan Teluk Aden pada September depan, kata Panglima Tentera Laut, Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Jaafar.

Beliau berkata, pada dasarnya syarikat perkapalan, MISC Berhad telah meluluskan penugasan sebuah lagi kapal dagang untuk ditransformasikan sebagai kapal tambahan TLDM yang kedua.
"TLDM dan MISC masih berbincang termasuk menentukan konsep, bentuk dan ciri-ciri kapal kedua itu,” katanya di pejabatnya di sini hari ini.
Bunga Mas 5 merupakan kapal milik Malaysian International Shipping Corperation (MISC) yang dialih fungsikan sebagai auxillary fleet bagi TLDM sekaligus kapal markas bagi pasukan komando TLDM di Teluk Aden (photo : DeltaMarin, KLSReview)

"Kapal tambahan pertama iaitu Bunga Mas 5 mengambil masa tiga bulan untuk perbincangan awal dan tiga bulan lagi untuk diubah suai menjadi kapal bantuan TLDM.

"Justeru dengan pengalaman itu, anggaran paling lama untuk kita melihat cadangan itu direalisasikan ialah enam bulan dan saya percaya MISC Berhad telah pun membuat penilaian untuk penugasan kapal kedua tersebut,” katanya.

Navy Commence Operations in Moreton Bay

19 Januari 2011

HMAS Huon, the minehunter vessel of RAN (photo : RAN)

A Coastal Mine Hunter, HMAS Huon has commenced operations in Moreton Bay today as part of Operation Queensland Flood Assist. Fitted with sophisticated sonar equipment the ship will search for debris that poses a navigational hazard to shipping in Moreton Bay and the Brisbane River.

The mission, as requested by Emergency Management Queensland will be directed by a Maritime Task Group, established at Bulimba Barracks. Commander Maritime Task Group Commander Pete Tedman said proving the main shipping channels are clear of obstructions from the floods ultimately allows the recovery effort to proceed faster, rebuilding to accelerate, and restores vital economic activity for all of Queensland.
Huon class, view from the rear (photo : RAN)

“Our mission is to assist in making Moreton Bay safe for shipping. It is a large task and will take considerable time but our men and women are well trained to achieve it,” he said.

“The opportunity for Naval personnel to help out their fellow Australians will be rewarding professionally and personally, and we remain committed to completing all tasks requested by Emergency Management Queensland,” Commander Tedman said.

The Task Group includes headquarters personnel, Clearance Divers, a Deployable Geospatial Team and three Navy Fleet units: HMAS Huon and two Hydrographic Survey Motor Launches, HMA Ships Paluma and Shepparton arriving later today.

HMAS Shepparton, hydrographic survey ship (photo : RAN)

Defence continues to operate closely with and in support of, Queensland Emergency Services to provide personnel on the ground, subject matter expertise, planning, and coordination of ADF helicopters and aircraft as part of the response and as we move to restoration and recovery operations.

As part of Operation Queensland Flood Assist, ADF personnel have been undertaking a multitude of tasks including clearance of rubbish and assistance in road closures. The ADF commitment to Operation Queensland Flood Assist currently consists of about 1600 personnel spread between Brisbane, Rockhampton, Townsville, Amberley, Ipswich, Toowoomba, the Lockyer Valley, Theodore and St George.

ST Marine has been Selected by Australia for Converting HMAS Success to a Double Hull Vessel

08 Oktober 2010

Australian replenishment tanker HMAS Success (photo : Casey H. Kyhl)

Success to be double hulled in Singapore

Singapore-based shipyard ST Marine has been selected by Defence to convert the Royal Australian Navy tanker HMAS Success to a double hulled vessel.

Double hulling will give Success two complete layers of watertight hull surface, creating greater safety.

The conversion will take place in Singapore where the ship has a scheduled visit while on deployment in Asia.

International Maritime Organisation standards require fuel tankers to be double hulled as a method of preventing or reducing spills following the sinking of the MV Erika off the coast of France in 1999, resulting in one of the world's greatest environmental disasters.

Three elements contributed to ST Marine's winning tender: the company came in under budget; work of this type will never again be carried out in Australia; and no Australian company had ever undertaken this type of work.

The money saved on this project will be re-directed towards the priority repair and maintenance work required on HMAS Kanimbla and HMAS Manoora, for which a precautionary Operational Pause was recently initiated by the Chief of Navy. This work will occur concurrently at Garden Island, Sydney.The on-going repair and maintenance of Navy ships happens in Australia and will stay in Australia. This includes the regular and on-going repair and maintenance of HMAS Success.

This year Defence will spend approximately $79 million on ship repair and maintenance in the Sydney region. In 2011 Defence has budgeted to spend $81 million on ship repair and maintenance in the Sydney region.

Next year Defence will also issue tenders for five-year contracts for the repair and maintenance of Navy ships at Garden Island. This work will all occur in Australia and is worth about half a billion dollars over the five years.

HMAS Success was launched in Sydney in 1984 and is the largest ship built in Australia for the Royal Australian Navy and also the largest ever built in the port of Sydney.