Tampilkan postingan dengan label Kapal Patroli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Patroli. Tampilkan semua postingan

Indonesia Butuh Banyak Kapal Cepat Rudal

17 September 2012

Kapal Cepat Rudal dengan lambung trimaran produksi PT. Lundin Industry Invest (photo : Kaskus Militer)

JAKARTA - Indonesiamembutuhkan banyak kapal cepat rudal (KCR) untuk mengimbangi wilayah laut yang begitu luas dan daratan yang tersebar. Keberadaan KCR dinilai mampu mempermudah TNI maupun para pengelola keamanan di laut untuk mengamankan wilayah maritim Indonesia. "Kita butuh banyak sekali kapal-kapal cepat seperti KRI Klewang," kata Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, di Jakarta, Minggu (16/9).

KRI Klewang, tambah dia, merupakan KCR buatan asli Indonesia yang memiliki bentuk unik. Kapal ini juga banyak dipuji sebagai kapal siluman yang memiliki kecepatan tinggi dan mampu menembus ombak besar karena memiliki tiga lambung. Tak heran jika biaya pembuatan satu pesawat ini mencapai 114 miliar rupiah.

Menurut dia, produk buatan PT Lundin Industry Invest ini juga merupakan kapal yang berpeluru kendali dan berguna untuk menjaga perbatasan dan potensi laut di Indonesia. Saat ini TNI baru membeli satu KRI Klewang untuk ditempatkan di Armada RI Kawasan Timur. Meski demikian, Soeparno menuturkan, pengadaan kapal KCR akan terus dilakukan sehingga jumlahnya lebih banyak lagi. Selain KRI Klewang, TNI AL juga mendapat tambahan beberapa unit KCR, yakni KRI Celurit dan KRI Kujang. Total KCR yang saat ini dimiliki TNI AL tak lebih dari 10 unit yang masing-masing berukuran 40 meter.

Kapal Cepat Rudal monohull produksi PT. Palindo Marine Shipyard (photo : Kaskus Militer) 

Idealnya 35 Unit

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Untung Suropati mengatakan, idealnya Indonesiamembutuhkan 35 unit KCR. "Perairan Indonesia cocok untuk pengoperasian KCR, terutama di wilayah barat karena cukup dangkal," jelasnya. Guna mendukung penambahan KCR, Kementerian Pertahanan telah bekerja sama dengan China untuk produksi peluru kendali (rudal) C-705.

Nantinya seluruh KRI akan dilengkapi dengan rudal berkemampuan jelajah hingga 140 kilometer itu. TNI AL sudah dua kali melakukan uji coba rudal ini. Hasilnya cukup memuaskan untuk dipilih sebagai senjata kapal KCR. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dengan produksi sendiri rudal, kemampuan persenjataan akan meningkat cukup signifikan.

"Kalau bisa produksi dalam negeri. Kami akan memasang rudal-rudal itu di daerah perbatasan untuk pengamanan," ujarnya. KCR ini berbahan dasar komposit serat karbon yang tercatat lebih ringan, dan 20 kali lebih kuat dari baja ini memiliki panjang keseluruhan (length overall) 62,53 meter, lenght on waterline 60,7 meter, water draft 1,17 meter, beam overall 16 meter, bobot mati 53,1 ton.

Kapal ini digerakkan oleh 4 unit mesin penggerak pokok ini, didesain sebagai kapal siluman (stealth) canggih yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi. Kehebatan kapal ini mampu menembus ombak setinggi 6 meter.

Pada acara peluncuran tersebut, Wakil Asisten Logistik Kasal, Laksma TNI Sayid Anwar menyatakan, bahwa momentum peluncuran kapal perang KCR pertama X3K Trimaran Class ini diharapkan akan menjadi titik awal pembangunan kapal sejenis yang akan mampu meningkatkan kemampuan TNI AL, sehingga menjadi salah satu kekuatan yang disegani. "Selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan in dustri militer dalam negeri," tambahnya. nsf/P-3

Awak Kapal Trimaran KRI Klewang-625 Dilatih

10 September 2012

KRI Klewang-625 sepanjang 63 meter, berbahan dasar vinylester carbon fiber (infused), menggunakan teknologi maju di bidang pembuatan kapal perang antara lain kemampuan tidak terdeteksi oleh radar, tidak mengandung unsur magnet, serta tingkat deteksi panas dan suara yang rendah. (photo : fallenpx)

Surabaya(ANTARA News) - TNI AL menyiapkan personel yang akan mengawaki kapal canggih terbaru KRI Klewang-625 lewat pelatihan di galangan PT Lundin Industry Invest, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ini adalah kapal berlunas tiga (trimaran) bahan komposit sepanjang 65 meter dengan teknologi rancang bangun terkini.

Masalahnya tinggal melengkapi persenjataan, navigasi, dan sistem komunikasinya sesuai dengan kelasnya. Tanpa itu semua, kecanggihan kapal buatan dalam negeri yang setara dengan kualitas buatan Amerika Serikat itu bisa sia-sia belaka.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur, Letnan Kolonel Khusus Yayan Sugiana, di Surabaya, Senin, menjelaskan pelatihan itu saat ini sudah berjalan dan akan berakhir pada pertengahan September 2012.

TNI AL pada 31 Agustus lalu meluncurkan kapal cepat rudal jenis trimaran di Selat Bali, Kabupaten Banyuwangi. Meskipun sudah diluncurkan, kapal yang diklaim tidak bisa terdeteksi radar lawan itu masih memerlukan penyempurnaan dan nantinya akan bergabung dalam jajaran Koarmatim.

"Ada33 personel calon awak KRI Klewang-625 yang saat ini ikut pelatihan. Pelatihan ini penting agar personel itu mampu mengawaki kapal canggih itu secara baik," kata Sugiana.

Sementara Komandan Satgas Proyek Pengadaan KCR Trimaran, Kolonel Teknik Heru Sriyanta, diharapkan setelah pelatihan tersebut para pengawak KRI Kelewang-625 dapat mengoperasikan kapal dengan penanganan terbaik.

"Sehingga seluruh peralatan yang ada di kapal dapat dipelihara dengan baik dan dapat memperpanjang usia pakai kapal mejadi lebih lama," katanya. (*)

Launching of New 63 m Carbon Fibre Trimaran for the Indonesian Navy

03 September 2012


KRI Klewang 625 (all photos : North Sea Boats)

At 12.00 hours on Friday, the 31st of August, 2012, North Sea Boats Ltd successfully launched one of the most innovative warships in the world into the straits between East Java and Bali, at Banyuwangi, in the Republic of Indonesia.

Measuring 63m in overall length, the vessel will he named KRI Klewang - after a traditional Indonesian single edged sword. It combines a number of existing advanced technologies into a single, unique platform; a wave-piercer trimaran hull form, constructed exclusively of infused vinylester carbon fibre cored sandwich materials for all structural elements, with external "Stealth" geometry and features intended to reduce detection.

The result of a 24 month research, design and development collaboration with New Zealand naval architects, LOMOcean Design Ltd, the ship represents a significant step forward in the use of advanced warship building technologies in countries outside of Europe and the United States.

Offering stability and shallow draft, the vessel is designed for patrolling the littorals. The hull shape is intended to permit high speeds to be maintained and thus maximize crew operational capability in the short, steep seas characteristic of the coastline around the Indonesian Archipelago. The design borrows elements from previous trimarans from the same designer, including the 24m Earthrace (later Ady Gil), holder of the record for the fastest circumnavigation of the globe by a power boat.

The underwater sections have been optimized for extended range at fast patrol speeds; the length, transverse and longitudinal positions and immersion of each of the three hulls have been carefully tailored for least resistance using both slender body analysis and towing tank testing. Powering and propulsion is courtesty of multiple MAN V12 diesel engines, coupled to MJP 550 water jets, located in both the centre hull and each of the two side hulls for maximum propulsive thrust and manoeuverability.



The use of carbon foam sandwich composites on this scale in naval application is unprecedented outside or Scandinavia and is representative of the current state of the art in both maritime composites structural engineering and production technology.

The structural design was subject to third party approval by Germanischer Lloyd in Hamburg, using design and approval methodologies tailored specifically for the unusual geometry of a large, wave-piercing trimaran. The construction medium offers multiple benefits, including reduced weight (laminated carbon fibre has a density nearly half that of aluminium alloys), reduced maintenance (carbon composites cannot corrode and exhibit extremely high fatigue limits), tailorability of radar cross section (true flat panel geometry can be attained due to no distortion during assembly), extremely high geometrical accuracy (permits as-built hull shape to remain faithful to theoretical optimums), nil magnetic signature, reduced thermal and acoustic signatures etc.

Production engineering methodologies were selected and tailored to the local labour environment, with emphasis placed on the use of advanced manufacturing techniques and a combination of excellent training and robust systems guaranteed to offer high part quality, repeatability and geometrical accuracy. The use of infusion technology in particular offers high level of  confidence in the quality and consistency of fiber wet out, high resin to fiber ratios, low void content and excellent bond quality between skins and core as well as at core joints.

Traditionally, achieving high levels of quality in composite construction on a large scale has been problematical without a highly skilled, specialist workforce. The high volume, vacuum infusion systems introduced by North Sea Boats almost completely mitigates such risks and offers high confidence in the integrity of the structures involved. The flat, facetted panel geometry of the ship lends itself well to high volume production systems, minimizing tooling costs. And advances In numerically controlled milling machine technology also create extremely high levels of assembled part accuracy.



Accommodation is provided for a complement of twenty nine (officers and crew) on three internal decks (including bridge and combat control centre), with facilities and equipment also provided for deployment of special forces troops, including an 11 m high speed 50 knot RIB, also manufactured and supplied by North Sea Boats.

Trimarans offer very stable weapons platforms, and can carry various Missile systems; including Type 705 (up to 8), RBS15, Penguin or Exocet, and 40-57mm Naval Guns, or a CIWS (Close In Weapon System). These can be mounted high on the superstructure, giving better range and firing arc. Sensors can also be installed high up without concerns for stability. This first ship will carry a turn-key system delivered by CSOC and CPMIEC China, including rapid fire CIWS, combat control and missile systems. The exact configuration of this system is still classified.

Completion will take place after launching, and extensive sea trials and tests will commence in October. KRI KLEWANG is expected to be fully operational 2013.

VESSEL FEATURES
-  Highly seaworthy and stable weapons platform
-  Concealed missiles, naval gun and small arms
-  High strength, lightweight, carbon composite construction 
-  Minimal draft for inshore and shallow water operations
-  Capable of high average speeds in adverse weather 
-  Long range capability with low crew requirement
-  Stealth design with low detection signatures
-  Special Ops unit & 11 m high-speed RHIB

GENERAL SPECIFICATION
Length Over All : 63.0   meter
Length of Waterline : 61.0 meter
Beam Overall           : 16.0   meter
Water Draft              :   1.2 meter
Sprint Speed           :   30+ knots
Range                      : 2000+ nm
Fuel Capacity          : 50,000 litres
Main Engines          : 4 x MAN Marine Diesels

(North Sea Boats)

Second Gunboats TT400TP Officially Handed Over to Navy

01 September 2012

 The ceremony of handed over HQ273 to the Vietnam Navy (photo ttvnol)

Hong Ha Shipyard held consoles gunboat TT400TP (No. HQ-273) for the Vietnam People's Navy. On 31/8, in Haiphong, Hong Ha shipbuilding company, under the General Department of Defence Industry, held a hand over the ship HQ-273 gun (gun ship 2) for the Navy. Lieutenant General Tran Quang Khue, Deputy Chief of Staff ceremony handed over the ship.

HQ-273 gun ship of the 2 Honghe company completed and handed over to the Navy.

HQ-272 and HQ-273 is a TT400TP class gunboat (photo : phunutoday)

HQ-273 of TT400TP type has a length of 54.16 m, a width of 9.16 m, the largest stretch of water is 446 tons, the average amount of water recreation is 413 tons, the ability to go to the beach when the sea level 6, level 8 .

Before delivery, the HQ-273 through the test phase 1, test distance and test the Air firing at sea level and accepting the end of ship crew training both phases.

From 6/2012 to now, the ship went through 8 to continue the voyage quality control and test council levels evaluated as to achieve the design requirements and quality, as well as aesthetics.

Kapal Siluman KRI Klewang Ditempatkan di Armada Timur

01 September 2012

Kapal trimaran 63m ini merupakan hasil kolaborasi riset, desain, dan pengembangan selama 24 bulan antara North Sea Boats Pte Ltd/PT Lundin Industry Invest dan arsitek kapal LOMOCean Design Ltd dari Selandia Baru (all photos : Kaskus Militer)

TEMPO.CO, Banyuwangi - Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Pertama Sayyid Anwar, mengatakan Kapal Cepat Rudal Trimaran KRI Klewang 625 akan ditempatkan di Armada Timur, Surabaya.

Meskipun begitu, kata dia, kapal bisa dioperasikan di seluruh kawasan di Indonesia sesuai kebutuhan. "Operasinya bisa di kawasan barat atau timur sesuai dengan kebutuhan," kata dia usai meluncurkan KCR Trimaran di galangan kapal PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jumat, 31 Agustus 2012.

Menurut Sayyid Anwar, KCR Trimaran ini berfungsi sebagai kapal perang. Kapal ini dilengkapi empat peluru kendali dengan daya jelajah hingga radius 120 kilometer. KRI Klewang juga diklaim memiliki teknologi khusus sehingga tidak dapat dideteksi radar musuh.


Kapal supercanggih yang dimiliki TNI AL ini merupakan pertama di Indonesia yang dibuat oleh perusahaan dalam negeri. Bahkan, PT Lundin menyatakan kapal ini merupakan yang pertama di kawasan Asia.

KRI Klewang memiliki panjang 63 meter, bobot 53,1 GT, dengan mesin utama 4x marine engines MAN nominal 1.800 PK sehingga mampu melesat dengan kecepatan maksimal 35 knot. TNI AL memesan kapal tersebut seharga Rp 114 miliar yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejak tahun 2009 hingga 2011.

Pemilik PT Lundin Industry Invest, John Ivar Alan Lundin, mengatakan perencanaan hingga realisasi kapal ini membutuhkan waktu lima tahun. PT Lundin membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk melakukan riset ke berbagai negara dan 2,5 tahun sisanya untuk pembuatan. "Saya sangat senang akhirnya selesai. Ini merupakan mimpi lama saya," kata dia.


Bahan utama kapal ini menggunakan serat karbon yang sebagian besar diimpor dari Cina. Teknologi kapal yang tidak terdeteksi tersebut sudah lebih dulu diaplikasikan di Selandia Baru dan Amerika.

PT Lundin didirikan di Banyuwangi tahun 2001 silam oleh Jhon Ivar. Pria berusia 43 tahun tersebut berasal dari Swedia dan merupakan keturunan keluarga pembuat kapal perang di Swedia bernama Sweed Sweap.

 Dia mendirikan galangan kapal di Banyuwangi setelah menikah dengan Lisa, perempuan asal Banyuwangi pada 1997 silam. Selain melayani kapal perang dalam negeri, PT Lundin juga banyak mengekspor kapal militer ke Malaysia.

KRI Klewang 625 Diluncurkan

31 Agustus 2012

KRI Klewang 625 berhasil diluncurkan dari galangan kapal PT. Lundin Industry Invest. Kementerian Pertahanan memesan 4 kapal trimaran dengan harga per unit Rp 114 miliar (photos : Commando, Kaskus Militer, image : Lundin)

TNI AL Luncurkan Kapal Siluman Tercanggih

KBRN, Banyuwangi: Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran / KRI Klewang 625 yang merupakan kapal siluman pertama didunia, Jum'at (31/8) secara resmi diluncurkan.


Kapal yang memiliki panjang 63 meter buatan Banyuwangi tersebut diklaim sebagai kapal perang tercanggih didunia karena sulit terdeteksi oleh radar.


Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama, Sayid Anwar, mengatakan peluncuran KRI Klewang merupakan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia karena merupakan kapal jenis combatan yang sulit dideteksi oleh radar karena dibuat dari bahan komposit yang ringan sehingga memiliki kecepatan sampai 35 knot.


"KRI Klewang ini sangat ringan sehingga memiliki kecepatan yang cocok untuk misi rahasia dan tempur," ujarnya.


KCR Trimaran merupakan kapal perang tercanggih yang dikembangkan sejak tahun 2009 oleh TNI AL dan PT. Lundin, akan dilengkapi  rudal jarak tembak 120 km membuat kapal ini menjadi kapal perang kebanggaan Indonesia.


"Kapal ini akan dilengkapi 4 rudal jenis C 705 produksi cina dan perlengkapan canggih lainnya," tambah Laksamana Pertama Sayid Anwar.


KRI Klewang tersebut akan diawaki oleh 27 ABK tersebut rencanya akan memperkuat Armatim TNI AL di Surabaya. (Sumarsono/DS/AKS)

(RRI)

TNI AL Siap Luncurkan Kapal Cepat Rudal Antiradar

30 Agustus 2012

Kapal cepat rudal Trimaran KRI Klewang 625 (all photos : Radar Banyuwangi, Lundin, Kaskus Militer)

KALIPURO – Proses pembuatan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran milik TNI AL sudah rampung. Kapal canggih yang diproduksi PT. Lundin Industry Invest, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi itu akan diluncurkan Jumat besok (31/8).


Dalam peluncuran armada baru TNI AL yang diberi nama KRI Klewang itu akan hadir sejumlah perwira tinggi dari mabes TNI AL. Kapal KCR Trimaran merupakan pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI untuk memperkuat armada TNI AL.


President Director PT. Lundin Industry Invest, Mr. John Lundin menjelaskan, KRI Klewang memiliki desain termutakhir yang dibuat berdasar model Trimaran atau kapal berlunas tiga. Bahan dasar yang digunakan adalah composite material dan memiliki panjang 63 meter.

KRI Klewang, jelas Lundin, tergolong salah satu dari kapal terbesar berlunas banyak yang dibuat di kawasan Asia Tenggara. Dengan bentuk lunasnya yang radikal, kapal itu dapat melaju dengan kecepatan maksimum lebih dari 30 knots. “Kapal ini dapat menembus ombak lautan sampai setinggi enam meter,” jelas Lundin.


Salah satu kemampuan KRI Klewang yang diunggulkan dan dibanggakan adalah stealth. Kapal ini didesain khusus agar tidak terdeteksi oleh radar manapun. Sebab, desain KRI Klewang unik dan bahan dasarnya adalah carbon fiber.

Carbon fiber memiliki karakteristik unik, yaitu tidak menginduksi panas dan lebih kuat daripada baja tapi lebih ringan. “KRI Klewang layak menjadi kebanggaan rakyat Indonesia sebagai salah satu alutsista andalan yang diproduksi industri pertahanan nasional,” tegas Lundin bangga.


Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Letkol Muhammad Nazif menambahkan, KRI Klewang merupakan satu-satunya kapal cepat combatan TNI AL yang menggunakan bahan composite. Tugas utama yang akan diemban kapal itu adalah sebagai kapal cepat rudal yang mampu melaksanakan operasi keamanan laut dan tempur laut. “Tugas tambahannya, patroli keamanan laut, pengamanan sumber daya alam dan objek vital di laut,” katanya.

KRI Klewang bisa melaksanakan patroli keamanan laut dengan kecepatan ekonomis dan operasi terus-menerus di daerah selama 10 hari. Selain itu, KRI Klewang juga mempunyai kecepatan tinggi dan mampu melaksanakan operasi laut gabungan dengan berbagai tipe kapal lain. “Kapal itu juga meiliki peralatan modern dalam rangka klasifikasi target sasaran, observasi, dan identifikasi,” jelasnya. (afi/c1/aif)

Formal Launching of KRI Klewang will be Held on End of August

24 Agustus 2012

KRI Klewang, the trimaran design of fast missile ship for TNI-AL (image : North Sea Boats)

The new 63 metre long vessel is a cutting edge trimaran design that it cosidered to be the most advanced naval vessel of its type ever built in South East Asia. It incorporates a radical wave piercing hull form for improved seaworthiness and stability, and has been built from full carbon fibre composite materials, utilising the vacuum infusion process and vinylester resin. This method results in a structure that has increased strength, but also offers the benefits of lower operating, maintenance, and lifecycle costs.

In 2009 PT Lundin signed a contract to build a one of the most advanced “stealth” warship for TNI-AL (Indonesian Navy). This was the result of an intensive Research and Development programme conducted by PT Lundin Industry Invest (North Sea Boats) and TNI-AL that commenced in 2007. Construction commenced in early 2010, but due to the advanced design and construction methods, the project has been kept largely confidential until now.

Members of the press are invited to attend this significant event. The launching ceremony will be held on Friday 31st August, 2012 at PT Lundin’s shipyard facility in Banuwangi, East Java. The ceremony will be attended by dignitaries and senior officers of TNI-AL during which a briefing and Press Conference and interviews will be conducted.

Two More Svetlyak Class were Sent to Vietnam

17 Agustus 2012

By 2008, Vietnam continued to contract with Rosoboronexport to purchase four patrol boats Svetlyak Project 10412. Two ships of which are located at JSC Almaz shipbuilding in St Petersburg and has been transferred to Vietnam in 2011. (all photos : Military Paritet)

"Svetlyak" Sending to Vietnam from Vladivostok

Spotters in Vladivostok was sealed for transport dock ship, Eide Transporter with two loaded on it designed for large naval patrol boats in Vietnam Project 10412 (code "Svetlyak") Vladivostok construction of "East Wharf." The vessel came to Vietnam in the morning August 16, 2012.

Two of these boats were built under contract with the Vietnam "Rosoboronexport", signed in 2008 by four 10.412 project. Two other boats were built at JSC Shipbuilding Company "Almaz" in St. Petersburg, and was transferred to the customer in Vietnam in 2011, received the Vietnamese refer to HQ-264 and HQ-265. Boats ordered" East Yard "(serial numbers 420 and 421) , was laid July 22, 2009, and is also designed to be completed in 2011, but completion was delayed afloat, mainly due to delays in the delivery of 76-mm gun mounts AK-176. As a result both of Vladivostok boats sent to Vietnam is only now .


The vessel Eide Transporter belongs to the Norwegian company Eide Marine Services AS and sails under the flag of the Bahamas. Built in 1983 and has 11,434 tons of dvedveyta. With a total length of 180 meters and 27 meters wide ship is docking length and a width of 153 feet 20. Eide Transporter has repeatedly been drawn for the transportation of military ships, boats and submarines - in particular, bringing to Vietnam two Russian-built missile boat project 12418 in 2010 and two frigates project 11661K "Gepard-3.9" in 2011.

Koarmabar Diperkuat Kapal Patroli Catamaran X-8 Produksi Lundin Banyuwangii

JAKARTA-(IDB) : Pangkalan Angkatan Laut  (Lanal) Sibolga yang dikomandani Letnan Kolonel (Letkol)Laut (P) Ivan Gatot Prijanto, S.E., menerima Patroli Keamanan Laut (Patkamla) jenis Combat Boat type X-8 Catamaran dari Dinas Material dan Perbekalan Komando Armada RI Kawasan Barat (Dismatbekarmabar). Patkamla tersebut diangkut dari Jakarta menggunakan KRI Sibolga-536.
 
Combat Boat Type X-8 Catamaran merupakan Alutsista terbaru buatan Banyuwangi, memiliki spesifikasi bottom  2 (dua) buah lunas dengan  2 (dua) mesin Marine Diesel VGT 400 PK bertenaga 220 HP  buatan Swedia yang memiliki  kecepatan jelajah maksimal 40 knot serta dilengkapi dengan alat navigasi dan komunikasi moderen, dilengkapi pula dengan senapan mesin jenis M 240 Kaliber 7,62 atau M 60 Kaliber 7,62 juga dapat diganti peluncur Granat Kaliber 40 mm.Kapal cepat selain diawaki 4 (empat) personel, juga mampu mengankut hingga 20 (dua puluh) orang dengan persenjataan lengkap.   
 
Danlanal Sibolga pada kesempatan tersebut mengatakan, kehadiran Combat Boat Type X-8 Catamaran yang di Lanal Sibolga  harapkan mampu menambah kekuatan unsur dalam  meningkatkan keamanan, pengawasan serta penegakan hukum  dilaut secara maksimal di Wilayah kerja Lanal Sibolga.
 
Patkamla jenis Combat Boat diterima Danlanal Sibolga (Letkol)Laut (P) Ivan Gatot Prijanto, S.E.,diterima di Dermaga Pelabuhan Sambas Sibolgabersama dengan Muspida setempat diantaranya Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Komandan Distrik Militer (Dandim) dan Kepala Polisi Resort (Kapolres) serta Kepala Pengadilan Sibolga. 


Sumber : Koarmabar

Combat Boat Type X-38 Catamaran Perkuat Lanal Sibolga

14 Agustus 2012

Combat Boat Type X-38 Trimaran (photo : Koarmatim)

Jakarta - Pangkalan Angkatan Laut  (Lanal) Sibolga yang dikomandani Letnan Kolonel (Letkol)Laut (P) Ivan Gatot Prijanto, S.E., menerima Patroli Keamanan Laut (Patkamla) jenis Combat Boat type X-8 Catamaran dari Dinas Material dan Perbekalan Komando Armada RI Kawasan Barat (Dismatbekarmabar). Patkamla tersebut diangkut dari Jakarta menggunakan KRI Sibolga-536.

Combat Boat Type X-8 Catamaran merupakan Alutsista terbaru buatan Banyuwangi, memiliki spesifikasi bottom  2 (dua) buah lunas dengan  2 (dua) mesin Marine Diesel VGT 400 PK bertenaga 220 HP  buatan Swedia yang memiliki  kecepatan jelajah maksimal 40 knot serta dilengkapi dengan alat navigasi dan komunikasi moderen, dilengkapi pula dengan senapan mesin jenis M 240 Kaliber 7,62 atau M 60 Kaliber 7,62 juga dapat diganti peluncur Granat Kaliber 40 mm.Kapal cepat selain diawaki 4 (empat) personel, juga mampu mengankut hingga 20 (dua puluh) orang dengan persenjataan lengkap.

Combat Boat Type X-38 Trimaran tampak dari belakang (photo : Koarmatim)

Danlanal Sibolga pada kesempatan tersebut mengatakan, kehadiran Combat Boat Type X-8 Catamaran yang di Lanal Sibolga  harapkan mampu menambah kekuatan unsur dalam  meningkatkan keamanan, pengawasan serta penegakan hukum  dilaut secara maksimal di Wilayah kerja Lanal Sibolga.

Patkamla jenis Combat Boat diterima Danlanal Sibolga (Letkol)Laut (P) Ivan Gatot Prijanto, S.E.,diterima di Dermaga Pelabuhan Sambas Sibolgabersama dengan Muspida setempat diantaranya Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Komandan Distrik Militer (Dandim) dan Kepala Polisi Resort (Kapolres) serta Kepala Pengadilan Sibolga.

Lantamal VIII Manado Dapat Tambahan Kapal Patroli Cepat

MANADO-(IDB) : Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) VIII Manado, ketambahan kapal patroli cepat dengan diresmikannya kapal "Patkamla Bunaken", pada pekan lalu.

Patkamla Bunaken, adalah kapal patroli kecil bertipe katamaran atau dua lambung yang diawaki oleh lima prajurit TNI AL.

Asisten Operasi Lantamal VIII Manado, Letkol Laut (P) Suradi Agung Slamet, di Manado, Senin, mengatakan, kapal ini merupakan kapal reaksi cepat yang bersifat pemburu.

"Dengan ketambahan satu kapal patroli ini, semakin memperkuat pertahanan kita meski sifatnya patroli terbatas hanya di perairan Manado. Namun kehadiran kapal dapat mempersempit ruang gerak para pelaku pelanggar hukum di laut, khususnya perairan Manado," kata Suradi.

Suradi Agung Slamet mengatakan, kehadiran kapal ini merupakan salah satu bentuk komitmen Lantamal Manado dalam menjalankan tugas menjaga pertahanan wilayah laut dari segala macam bentuk ancaman pertahanan maupun tindak pelanggaran hukum di laut.

"Jika dibutuhkan, Patkamla Bunaken itu bisa difungsikan juga sebagai kapal pengamanan VIP," kata Suradi.

Dinas Penerangan Lantamal VIII Manado, Lettu Very Muntahir mengatakan, kapal tersebut diresmikan, Komandan Lantamal VIII Manado, Laksamana Pertama TNI Guguk Handayani di dermaga TNI AL Samuel Languju, Bitung, pada Jumat (22/6).

Patkamla Bunaken tersebut beroperasi di bawah Komando Satuan Keamanan Laut (SATKAMLA) Lantamal VIII Manado.

Kapal patroli kecil bertipe katamaran yang akan beroperasi di wilayah perairan Manado dan sekitarnya, dikomandani Lettu Laut Sungkono.


Sumber : Kemhan

Keel Laying Ceremony for the New Boat of the Fleet

24 Juni 2012

M36 patrol boat by Marsun Shipbuilding (all photos : TAF, Marsun)


Institute of Defence was invited by Marsun Shipbuilding and the Navy to participate in the keel laying ceremony of the M36 boat for Naval fleet support at the Marsun Shipbuilding shipyard. Three M36 ships will be built by Marsun.
The mission is to support the operation of ships at sea surveillance patrols to prevent infiltration, protection of fishing boats and commercial vessels, prevention and protection of natural resources in the Gulf of Thailandand Andaman Sea. Law of the sea by naval authorities have been delegated to provide security and glory of the royal family.



The vessel has a Special Operations Unit, which can be delivered in the Royal Navy. Container or nursing, which can be introduced in hospitals and medical treatment to the ships for the victims. The concept of shipbuilding in the style of boat used for staff who work on offshore oil drilling. The new ship designs are used by the army is still preserved. Official standard hull made ​​of aluminum and is active in the Coast Guard fleet, based at Sattahip, Chonburi.



The purpose of this ship is at a low level threat protection and rescue people from disaster. This ship is armed, has a boat dock with a 30 mm machine gun and two 0.50-inch machine gun platform and bomb. The missile can be used if the mission is to find a high level of threat. The budget for the third ship of about 553 million baht.


Marsun Shipbuilding Co. will deliver the ship to the Navy in 2013. Use of this ship by the Navy in the country is considered as promoting self-reliance and sustainability and to express confidence in the quality craftsmanship of the Thai people with the ability to develop to meet international standards, thus the defense industry will continue to grow in a sustainable manner.

Austal on Track as Cape Class Patrol Boat Keel Layed

08 Juni 2012

Cape class patrol boat (image & photos : Austal)


Demonstrating the rapid progress of the Cape Class Patrol Boat Program, Austal today hosted a keel-laying ceremony for the first of eight high performance patrol boats it is building for the Australian Customs and Border Protection Service.

Keel-laying traditionally marks the first significant milestone in a ship’s construction. Historically this was the “laying down” of the main timber making up the backbone of a vessel. Austal’s advanced shipbuilding techniques means fabrication of ship modules begins well before they are actually joined. So today Austal celebrates keel-laying when modules are brought together for final assembly.

Although Austal’s design and manufacturing approach is thoroughly modern, the ceremony retained long held shipbuilding traditions. This included placing specially minted coins under a keel block as a symbol of good fortune and to bless the ship. These coins will be removed just prior to the patrol boat’s launch which is scheduled for later this year.

Coins were placed by Australia’s Minister for Home Affairs, the Hon. Jason Clare MP; Customs and Border Protection Chief Executive Officer Mr Michael Carmody; and Austal Chief Executive Officer, Mr Andrew Bellamy. Austal also invited Mr Clare to authenticate the keel by marking his initials on part of the boat’s aluminium structure. He was assisted by Richard Taylor, Austal’s Apprentice of the Year for 2011, who has now completed his apprenticeship and is working as a fabricator on the Cape Classprogram.

Speaking at the ceremony, Mr Bellamy said the Cape Class Patrol Boat Program was demonstrating Austal’s broad capability and world leadership in the defence field.

“Like our US Navy projects, this program shows that Austal can do more than design and manufacture world-class ships. We are also taking the prime contracting role and using in-house expertise to develop and integrate sophisticated electronic systems for command, control and communication. We are also building on our existing capabilities to establish and operate a comprehensive and effective in-service support system for the fleet,” Mr Bellamy said.



“This total solution capability represents the future of our Australian business, as we continue to expand and enhance the strategic industry capability necessary to meet the current and future defence needs of Australia and other nations,” he said.

Mr Bellamy said the fact that Austal had been awarded the contract after a rigorous, open international tender process by a highly experienced and meticulous customer reflected the company’s ability to successfully compete in the global market.


“This is the Australian Government getting the best possible value regardless of supplier nationality, and that’s the basis upon which we secured this work.

“The fact that we are on track to deliver that capability, as promised, is a credit to all involved. It reflects the skills and hard work of our staff, many of whom bring invaluable experience from previous government contracts carried out both here in Australiaand at our USshipyard,” he said.

Construction of the first Cape Class Patrol Boat will continue in accordance with schedule, with launch due in December this year prior to sea trials and delivery to Customs and Border Protection in March 2013. Austal’s eight year support contract for the fleet encompasses a full range of intermediate and depot level maintenance activities.

The Cape Class Patrol Boats will play a significant role in protecting Australia’s borders from multiple maritime threats, and have been designed to have greater range, endurance and flexibility, as well as enhanced capability to operate in more severe sea conditions than the current Customs and Border Protection fleet. The aluminium monohulls can operate at 25 knots and have a range in excess of 4000 nautical miles. Each can undertake simultaneous operations with two embarked 7.3 metre rigid hulled response vessels.

Navy Successfully Tests New Capability of OPV

29 Mei 2012

Seasprite helicopter undergoing trials above HMNZS OTAGO (photo : rnzaf.proboards)

The Navy has successfully conducted trials of flying an SH-2G Seasprite helicopter from the deck of one of its Offshore Patrol Vessels, HMNZS OTAGO, marking a significant milestone in achieving the ship's full operational potential.

The trials have been conducted over the past month during which the Seasprite conducted 161 landings and takeoffs from OTAGO’s flight deck.   The landings and takeoffs were done by day and by night in varying wind and sea conditions in the Hauraki Gulf and the Bay of Plenty sea areas.

"Operating helicopters from ships underway at sea is one of the most challenging activities any Navy undertakes," says Chief of Navy, Rear Admiral Tony Parr. "We have been flying helicopters from the frigates for many years, but now we are learning how to operate these aircraft from a different ship with different characteristics."

The trials proved that the Seasprite can conduct an airborne surveillance task from the OPV of up to 2.5 hours duration, which should enable 4500 square nautical miles to be covered in a single sortie by day or night.


 "The trials have proven the helicopter can operate off the ship across a wide range of sea and wind conditions.  Although it will be some time before the full potential is released the Navy can now begin helicopter operations during which time we will continue to learn and develop our capability."

The two Offshore Patrol Vessels—OTAGO and WELLINGTON— are large, complex vessels that operate from the freezing cold of the Southern Ocean to the tropical heat of the Pacific Islands, giving New Zealand a broad patrol and surveillance capability.

"The ability to land a helicopter on a ship underway at sea by day and night in different wind and sea conditions requires a rigorous and demanding test programme to determine what the limits of operation might be," said Admiral Parr. "The team in OTAGO, which included a number of RNZAF Seasprite technicians, were often operating in challenging conditions.   Nevertheless the trials were completed in a thoroughly professional, safe and timely manner. 

"There will still be a considerable period of learning as we gain experience operating the aircraft on actual deployments."

First Steel Cutting KCR-60 Dilakukan di PT. PAL

23 Mei 2012


Impresi artis tentang Kapal Cepat Rudal KCR-60 produksi PT PAL (image : incoherrent)

PT. PAL Indonesia Bangun 3 Unit Kapal KCR 60 M Pesanan TNI AL

Bersamaan dengan Sidang Pleno Ke-VI KKIP ini, dilaksanakan pula Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda).  Kapal tersebut merupakan pesanan dari TNI AL yang dibangun di PT. PAL Indonesia, sebagai wujud nyata komitmen PT PAL Indonesia (Persero) mendukung terciptanya kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan Alutsista dan kemajuan industri pertahanan nasional.

Pelaksanaan Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda) ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Menhan bersama dengan Menristek, Kepala Bappenas, Panglima TNI, Kapolri, Kasal, Wamenhan dan Dirut PT. PAL Indonesia.

PT.PAL Indonesia  menerima order pembuatan kapal KCR 60 M sebanyak 3 unit dan Kapal Tunda 2.400 HP sebanyak 2 unit.  Kontrak secara efektif telah ditandatangani  antara PT PAL Indonesia dan TNI AL melalui Dinas Pengadaan Mabesal pada tanggal 20 Desember 2012.

KCR 60 M memiliki spesifikasi panjang keseluruhan 59.80  M dan lebar 8.10 M, mampu melaju hingga 28 knot pada kecepatan maksimum dalam kondisi muatan 50 % . Kapal ini dipersenjatai dengan 1 x Meriam Utama 57 mm, 2 x senjata 20 mm, 2 x 2 Peluncur rudal anti kapal permukaan dan 2 x Decoy Launcher. Kapal ini mempunya olah gerak yang tinggi, lincah dalam posisi tembak dan mampu melaksanakan penghindaran dari serangan balasan lawan.

Sementara itu Kapal Tunda 2.400 HP memiliki spesifikasi dengan panjang keseluruhan 29 M dan Lebar 9 M,  dan pada sarat kondisi muatan 50 % kecepatan kapal mencapai 12 knot.

Melalui pelaksanaan Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda) pesanan TNI AL ini kembali membuktikan bahwa PT.PAL Indonesia berkomitmen dan siap menjadi lead integrator pembangunan produk Alutsista dan Almatsus bidang kemaritiman.

Sejak tahun 1980, PT. PAL Indonesia (Persero) telah menyelesaikan pembangunan kapal lebih dari 240 unit kapal berbagai jenis  dan ukuran untuk produk kapal niaga sampai dengan ukuran 50.000 DWT, sedangkan untuk produk kapal perang telah diproduksi berbagai jenis dan tipe kapal diantaranya: KCR 14 Meter, 28 Meter, 38 Meter, FPB 57 Meter dan Landing Platform Dock 125 Meter.

PT PAL juga berpengalaman memodifikasi kapal dan pemasangan Rudal diantaranya: Rudal Yakhont dan Fire Control System di KRI OWA-354, Rudal C-802 dan Fire Control System di KRI AHP-355 dan KRI YOS-353.

Dengan berbekal pengamalan tersebut diatas, PT PAL Indonesia (Persero) menyatakan siap menyelesaikan pembangunan KCR 60 dan Kapal Tunda 2.400 HP pesanan Kemhan dan Pengadaan Alutsista lainnya di masa mendatang. (BDI/SR)

(DMC)