Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan

PT. DI Selesaikan Pesawat CN-235 MPA Turki Yang Ke 8 Dari 10 Yang Dipesan

BANDUNG-(IDB) : Tingkat kepercayaan dunia internasional kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) cukup tinggi. Itu terlihat pada jalinan kontrak antara lembaga BUMN yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Satu di antaranya, adalah Turki.

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, mengemukakan, sejak 6 tahun silam, pihaknya bersepakat dengan Turki untuk mengerjakan 10 unit CN 235. Pemesanan itu merupakan modifikasi. "Turki memfungsikan CN 235 tersebut menjadi pesawat Maritim Patrol," ujar Sonny di PT DI, Selasa (18/9).

Dalam perkembangan pembuatan pemesanan Turki itu, kini, pihaknya siap melakukan flight test (uji coba) pesawat ke-8. Sonny mengatakan, pihaknya optimistis, dalam dua tahun mendatang, pihaknya siap menuntaskan proyek pemesanan Turki tersebut mengingat kontraknya berdurasi 8 tahun atau hingga 2014.

"Nilai kontrak dengan Turki itu tergolong besar. Angka kontrak engineer-nya mencapai 2 juta dolar AS per tahun. Jadi, selama 8 tahun kontrak, nilainya sejumlah 16 juta dolar AS (sekitar Rp 151 miliar.RED)," sebut Sonny.



Sumber : Tribunnews

Angkatan Laut Pakistan Tertarik Akuisisi CN-235 MPA PT. DI

CN-235 MPA Korea Selatan
BANDUNG-(IDB) : Angkatan Laut Pakistan tertarik membeli beberapa unit CN235 yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

“Angkatan udara Pakistan telah membeli CN235. Mudah-mudahan angkatan lautnya segera menyusul, sebab Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan tertarik pada CN235 MPA untuk  kepentingan patroli maritimnya,” kata Kepala Tim Komunikasi PTDI, Sonny Saleh Ibrahim di Bandung pekan lalu.

Kamis pekan lalu, Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan Laksamana Muhammad Asif Sandila dan stafnya mengunjungi PTDI di Bandung, sekaligus menyatakan tertarik membeli pesawat CN235 MPA (Maritime Patrol Aircraft).

Menurut Sonny, kedatangan rombongan militer dari Pakistan ini untuk menggali informasi lebih jauh menyangkut kemampuan PTDI dalam membuat pesawat, termasuk pesawat CN235.

Saat itu mereka diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan direksi lainnya.

Pakistan adalah salah satu pelanggan PTDI, sementara Angkatan Udara-nya telah mengoperasikan empat unit CN235, meliputi tiga unit versi transportasi militer dan satu unit versi VIP.

”Dengan adanya kunjungan Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan ke PTDI diharapkan Pemerintah Pakistan membeli lagi pesawat CN235, karena CN235 merupakan pesawat serba guna dan mampu diandalkan untuk patroli maritim,” kata Sonny.

CN235 bisa menjadi salah satu alat utama persenjataan karena memiliki ”ramp door” (pintu pembuka dan penutup di bagian belakang pesawat sehingga barang-barang  besar bisa masuk dan keluar melalui pintu itu) dan ideal untuk menjangkau wilayah-wilayah berjarak sedang.

Sonny menjelaskan, Kamis pekan lalu itu datang juga ke PTDI delegasi Filipina dibawah pimpinan pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Pio Lorenzo F Batino, didampingi Dirjen Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Mayjen Puguh Santoso.

Menurut Kepala Tim Komunikasi PTDI, sebagian petinggi militer Filipina sempat mengira PTDI sudah tidak memproduksi pesawat lagi, sedangkan maksud kunjungan mereka ke Indonesia dan PTDI adalah ada  minat Pemerintah Filipina untuk membeli dua unit CN235 MPA.

Ia mengungkapkan, CN235 adalah pesawat “commuter” serbaguna. Salah satu varian yang dikembangkan oleh PTDI adalah untuk patroli maritim. TNI AU sudah mengoperasikan CN235 MPA sejak 2008.

TNI Angkatan Laut sudah memesan lima unit dan saat ini dalam proses pembuatan. Negara lain yang sudah mengoperasikan adalah Turki dan Korea Selatan. 


Sumber : Antara

Pesawat CN-235 MPA PT. DI Semakin Diminati Dunia Internasional

BANDUNG-(IDB) : Keandalan pesawat CN-235 versi patroli maritim terus diakui. Dua negara telah menyatakan minatnya. PT Dirgantara Indonesia berharap ketertarikan tersebut dapat segera diwujudkan dalam kontrak pembelian.

Kedua negara tersebut adalah Pakistan dan Philipina. Dalam pekan ini, delegasi kedua negara melakukan kunjungan ke pabrik pesawat terbang dalam negeri itu yang berbasis di Bandung. 

Dari hasil kunjungan itu, Pemerintah Philipina berminat untuk membeli sebanyak 2 unit pesawat CN-235 MPA (Maritime Patrol Aircraft). Jika gol, ini merupakan pembelian perdana negara tetangga di ASEAN itu untuk versi militer.

"Kalau untuk kepentingan militer, ini adalah peristiwa kali pertama, tapi kalau untuk versi sipil Philipina pernah mengoperasikannya beberapa waktu lalui melalui maskapai Asian Spirit," jelas Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna di Bandung, Jumat (13/7).

Untuk Pakistan, jumlah pesawat yang diinginkan belum disebutkan. Hanya saja, negara tersebut merupakan pelanggan PT DI karena pernah membeli 4 unit pesawat serupa terdiri dari tiga pesawat pengangkut dan satu unit lagi versi VIP. 

Diharapkan, kunjungan itu dapat membuka kembali opsi pembelian pesawat sejenis oleh Pemerintah Pakistan. Terlebih pesawat serba guna itu dikenal andal sebagai alat utama sistem persenjataan termasuk untuk kepentingan patroli maritim.

Terakhir, CN-235 Patroli Maritim itu diminati Pemerintah Korsel. Pesanan 4 unit pesawat tersebut telah dikirimkan ke Korsel seluruhnya pada Maret lalu. Pesawat yang mencakup operasi jarak sedang itu digunakan untuk patroli penjaga pantai di negara tersebut. 

Saat ini, PT DI juga tengah mengerjakan pesanan TNI Angkatan Laut sebanyak 5 unit. Sebelumnya, sejak 2008, pesawat patroli maritim itu sudah dioperasikan oleh TNI AU. Selain Korsel, pesawat itu digunakan pula oleh Turki.

Filipina Tercengan Melihat Aktivitas Perakitan Pesawat Di PT. DI

Komunikasi PTDI Hari ini Delegasi Filipina dibawah pimpinan “Under Secretary For Legal And Legislative Affairs And Departement Of National Defence’”, Mr. Pio Lorenzo F. Batino berkenan mengunjungi PT. Dirgantara Indonesia (Persero). Rombongan dari Filipina ini didampingi Dirjen Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Mayor Jenderal Puguh Santoso. Rombongan tiba pada jam 15.30 dan disambut langsung oleh Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, serta jajaran Direksi lainnya dan Kepala Divisi terkait.

Rombongan diterima di Gedung Pusat Manajemen Lantai 9, kemudian dilakukan presentasi oleh Direksi PTDI dan dilanjutkan dengan diskusi. Seusai diskusi Rombongan dari Filipina tersebut diajak mengunjungi Hanggar Aerostructure di Kawan Produksi II dan IV serta Hanggar Aircraft di Kawasan Produksi II. Rombongan Delegasi sempat tercengang melihat kegiatan produksi di PT DI, karena sebelumnya sebagian Petinggi Militer Filipina tersebut mengira bahwa PTDI sudah tidak memproduksi pesawat lagi. 

Adapun maksud kunjungan Delegasi Filipina ke Indonesia khususnya ke PTDI adalah adanya minat Pemerintah Pilipina untuk membeli 2 unit pesawat CN235 MPA (Maritime Patrol Aircraft). Pesawat CN235 merupakan pesawat commuter serbaguna. Salah satu varian yang dikembangkan oleh PTDI adalah untuk patroli maritim. Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU) sudah mengoperasikan CN235 MPA sejak tahun 2008 lalu. Sementara TNI Angkatan Laut sudah memesan 5 unit dan saat ini dalam proses pembuatan. Negara lain yang sudah mengoperasikan antara lain Pemerintah Turki dan Korea Selatan.  


Sumber : SuaraMerdeka

Coming Soon: C-295 AEW & C Indonesia


Langkah Indonesia untuk memesan dan bekerjasama merakit pesawat C-295 dari EADS CASA, Airbus Military, Spanyol, menjadi batu loncatan dalam menyusun defence system Indonesia yang modern.

Dalam kerjasama itu, Indonesia memesan 9 pesawat C-295, 3 diantaranya akan dirakit di PT DI, Bandung Jawa Barat. 

EADS CASA juga menjadikan PT DI sebagai manufaktur: Stabilisator bagian ekor (tail empennage), Badan pesawat bagian belakang serta panel-panel badan pesawat C-295.

“Kita sepakat membuat paket kerja untuk pengembangan sistem pelatihan berbasis komputer, pusat servis dan pengiriman serta lini akhir perakitan (FAL) di Indonesia“, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Pengiriman peswat pertama C-295 untuk Indonesia diperkirakan tahun ini. Sembilan pesawat C-295, ditargetkan diterima Indonesia tahun 2014.

C-295 AEW&C
C-295 AEW&C
 
Pada awal tahun 2011, EADS CASA Airbus Military menandatangani kesepahaman dengan Israel Aerospace Industries (IAI), untuk mengembangan pesawat pendeteksi dini CN 295 AEW&C. IAI merupakan pabrik pembuat UAV Heron TP yang dipesan Indonesia. 
 
Bulan Februari 2012, EADS CASA dan IAI telah melakukan uji terbang terhadap C 295 AEW&C (Airborne Early Warning & Control system) dan diklaim sukses.

“We have completed the flight trials and matured the aerodynamic configuration of the radome,” ujar Fernando Ciria, dari EADS CASA Airbus Military.

Dalam uji terbang itu, C-295 AEW atau AEW&C mampu terbang 8 jam lebih dengan maksimum altitude antara 20,000ft (6,100m) hingga 24,000feet.

C 295 ini diinstal perangkat “integrated tactical system mission” milik IAI/ Elta sebagai penyuplai “active electronically scanned array radar”, serta piranti pendukung lainnya. C-295 juga dilengkapi dilengkapi modul anti-surface/anti-submarine warfare.

Pesawat AEW&C atau AWACS berfungsi sebagai:BVR Missile Guidance, Electronic Warfare (EW) dan Reconnaissance. Ia menjadi mata dan backbone informasi bagi armada tempur sebuah negara.

Airborne early warning - control, 360 degree radar dome
C 295 AEW&C Indonesia
 
Benda berharga C-295 AEW&C, benar benar sudah didepan mata Indonesia. Beberapa pesawat C 295 dirakit di PT DI. Bahkan sekitar 65 persen komponen C 295 diproduksi oleh PT DI.
 
Selain itu, Indonesia juga telah bekerjasama dengan IAI/Elta Israel dalam pengadaan Skuadron UAV Heron Indonesia. Untuk itu, tidak ada kendala bagi Indonesia untuk mendapatkan piranti AEW&C Israel.

Pemerintah berencana mengadakan pesawat peringatan dini, C 295 AEW&C dengan budgetnya yang diambil dari anggaran belanja militer tahun 2014. 

Tampaknya pengadaan C 295 AEW&C ini tidak akan banyak kendala karena pesawatnya memang sedang dirakit di PT DI Bandung, Jawa Barat.

C-295 AEW&C
Kehadiran C-295 AEW&C akan memberikan airborne systems: membimbing pesawat tempur untuk mencari titik lemah formasi pesawat musuh, memberikan kordinat pesawat musuh, melakukan electronic counter. Singkatnya C-295 AEW&C akan menjadi “theatre of battle management”. Jika terjadi peperangan, tentu jet tempur musuh, pertama kali akan memburu pesawat AEW&C, untuk melemahkan pertahanan udara lawan. Namun karena AEW&C memiliki electronic counter, dia hanya bisa dilumpuhkan dengan rudal anti-radiasi, antara lain Kh-31P/ AS 17 Crypton, yang juga dimiliki Indonesia. 

Sumber : JakartaGreater

PT.DI Serahkan Pesanan Terakhir Pesawat CN-235 MPA Korean National Guard

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan menyerahkan pesawat CN-235 Maritime Patrol Aircraft (MPA) keempat pesanan Korea Selatan. Serah terima dilakukan di hanggar PTDI Jalan Pajajaran Kota Bandung, Jumat (9/3).

"Pesawat yang akan diserahkan besok adalah pesawat keempat pesanan Korea Selatan atau Korean Coast Guard, serah terimanya besok di hanggar CN-235," kata Kepala Bidang Humas PT Dirgantara Indonesia, Rokhendi di Bandung, Kamis (8/3).

Penyerahan pesawat versi militer tercanggih buatan PT Dirgantara Indonesia itu akan dilakukan oleh Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsudin kepada pihak Korea Selatan. Pesawat itu akan langsung diterbangkan ke pangkalan Korean Coast Guard di Gimpo Korea Selatan oleh pilot PTDI Kapten Pilot Adi Budi Atmoko dan Co-Pilot wanita Esther G serta awak pesawat.

Pada 2011, PTDI juga telah menyerahkan pesawat kedua dan ketiga pesanan Korea Selatan itu yang dilakukan pada Mei dan Deember 2011. Sebelumnya Korea Selatan memesan empat pesawat intai maritim menengah itu pada 2008, dan yang akan diserahkan Jumat besok merupakan pesawat pesanan terakhir.

Korea Selatan sejak 1994 tercatat telah menggunakan dua skuadron pesawat CN-235 untuk memperkuat angkatan udaranya. Korea Selatan merupakan negara yang paling banyak membeli pesawat CN-235 buatan PTDI. Selain pesawat CN-235/MPA juga sebelumnya membeli pesawat angkut militer, sipil bahkan versi VIP dan VVIP.

Sementara itu spesifikasi khusus CN-235 MPA antara lain dilengkapi instrumen radar khusus, forward looking infra red (FLIR-penjejak berbasis infra merah tinjauan bawah), ESM, instrumen identification friend or foe (IFF-pengenal wahana kawan atau musuh), navigasi taktik, sistem komputer taktis, kamera pengintai udara, dan beberapa yang lain. Dua mesin CT7-9C yang masing-masing berkekuatan 1.750 daya kuda dipasang di kedua pilon mesin di bentang sayapnya.

Secara fisik, CN-235 MPA ini berukuran lebih panjang dan memiliki struktur lebih kuat ketimbang seri sipil CN-235. Di bagian hidung di bawah jendela kokpit, terdapat tonjolan berisikan berbagai instrumen khusus itu. Struktur pesawat terbang juga diperkuat karena operasionalisasi CN-235 MPA lebih dominan di wilayah maritim yang berpotensi korosif terhadap metal penyusun pesawat terbang itu.

Sumber : Republika

Pengadaan Kapal Selam TNI AL, Transaksi Terpisah Dengan CN-235 MPA Korsel

JAKARTA-(IDB) : TNI AL membantah tudingan pembelian kapal selam dilakukan dengan cara barter dengan pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). 

Korea Selatan memang membeli CN-235, tapi merupakan transaksi bisnis yang terpisah dengan pembelian kapal selam tersebut.

“Itu side effect dari kedekatan hubungan yang terbangun antara Indonesia-Korsel,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma TNI Untung Suropati di Jakarta, Jumat (23/12). Menurutnya, memang banyak manfaat yang bisa didapatkan dari terjalinnya hubungan baik dua negara.
 
 

Untung mencontohkan pengadaan alutsista untuk TNI AL telah banyak dipenuhi oleh Korsel. “Pengadaan LPD (Landing Platform Dock), KRI Suharso juga kerja sama dengan Korea,” katanya. Sekedar diketahui, Korea Selatan telah menggunakan dua skadron CN-235 sejak 1994.

Untung menambahkan, produk alat utama sistem senjata (alutsista) buatan Korsel sudah teruji handal. “Kita juga harus sadar produk buatan korsel bagus,” katanya.

Sumber : Jurnas

PT.DI Serahkan Pesanan Ketiga Pesawat CN-235 MPA Korean National Guard

BANDUNG-(IDB) : Korean National Guard menerima pesawat CN-235 Maritme Patrol Aircraft  ketiga dari hanggar produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), di Bandung, Jumat. Total pesanan pesawat intai maritim menengah dari Korea Selatan itu sebanyak empat unit dengan total nilai kontrak sekitar 94 juta dolar Amerika Serikat.

"Sebelum pesawat CN-235 MPA yang ketiga ini diterbangkan ke Korea Selatan, pesawat telah menjalani serangkaian pengujian sesuai prosedur yang berlaku serta telah menjalani uji penerimaan," kata Direktur Aircraft Integration PTDI, Budiman Saleh.

Korea Selatan sebetulnya memiliki sendiri industri pesawat terbang yang cukup mumpuni di kelas dunia. Namun telah beberapa kali negara itu mempercayakan keperluan pesawat terbangnya kepada PT Dirgantara Indonesia. Ini menjadi bukti keampuhan produk dalam negeri Indonesia dengan harga bersaing di tingkat internasional.

Korea Selatan sejak 1994 tercatat telah menggunakan dua skuadron pesawat CN-235 untuk memperkuat angkatan udaranya.

"Kepercayaan ini tentu harus dipelihara terus agar PTDI memperoleh kontrak-kontrak berikutnya, bukan hanya dari Pemerintah Korea Selatan, melainkan juga dari pelanggan-pelanggan lain yang memang membutuhkan pesawat sekelas CN-235," ujarnya.

Saleh menjelaskan, pesawat CN-235 MPA untuk Korean National Guard pertama dan ke dua telah diserahkan pada Mei 2011, sedangkan untuk pesawat yang keempat akan diserahkan pada kuartal pertama tahun 2012. Kontrak jual beli pesawat KCG ini ditandatangani pada Desember 2008 lalu.

Spesifikasi khusus CN-235 MPA antara lain dilengkapi instrumen radar khusus, forward looking infra red (FLIR-penjejak berbasis infra merah tinjauan bawah), ESM, instrumen identification friend or foe (IFF-pengenal wahana kawan atau musuh), navigasi taktik, sistem komputer taktis, kamera pengintai udara, dan beberapa yang lain. Dua mesin CT7-9C yang masing-masing berkekuatan 1.750 daya kuda dipasang di kedua pilon mesin di bentang sayapnya.

Secara fisik, CN-235 MPA ini berukuran lebih panjang dan memiliki struktur lebih kuat ketimbang seri sipil CN-235. Di bagian hidung di bawah jendela kokpit, terdapat tonjolan berisikan berbagai instrumen khusus itu. Struktur pesawat terbang juga diperkuat karena operasionalisasi CN-235 MPA lebih dominan di wilayah maritim yang berpotensi korosif terhadap metal penyusun pesawat terbang itu.

Secara khusus, Saleh bersyukur dan gembira bahwa restrukturisasi bisnis di lingkungan PTDI terus berjalan. Program restrukturisasi bisnis tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi perusahaan.

Melalui upaya restrukturisasi itu PTDI terus mengembangkan dan mempertahankan lini CN-235, kelompok Aircraft Services, dan kelompok Manufacturing Services.

Selain itu PTDI juga terus mencari mitra strategis untuk lini N250, NC-212, Helikopter, dan kelompok Engineering Services, sementara lini usaha pertahanan keamanan dan Advanced Technology Education Center (ATEC) diupayakan agar mampu mandiri.

Sumber : Antara

TNI AL Proses Pengadaan 11 Helikopter AKS Dan 2 CN-235 MPA

JAKARTA-(IDB) : Kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut akan bertambah menyusul proses pengadaan 11 unit helikopter antikapal selam,antikapal permukaan, serta dua pesawat patroli laut.

Tambahan alutsista itu akan mengisi kelemahankelemahan yang dimiliki kapal TNI AL. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengatakan, keberadaan pesawat sayap tetap maupun sayap putar (helikopter) penting bagi TNI AL, karena mereka merupakan kepanjangan “mata” dan “telinga” dari kapal TNI AL (KRI).Wilayah laut Indonesia yang luas,menurut dia, tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh KRI mengingat kekuatannya yang terbatas.
Karena itu,keberadaan tambahan dua unit maritime patrol aircraft(MPA) dan11helikopter antikapal selam Seasprite itu sangat penting untuk mengisi kekosongan yang tidak terkover kapal-kapalTNI. “Pesawat ten-tunya memiliki kelebihan di manuver, fleksibilitas, jangkauan yang luas, dan kemampuan deteksinya juga lebih cepat,”tegas Untung di Jakarta,kemarin. Dua unit MPA yang akan menambah kekuatan TNI AL yaitu pesawat CN-235 yang rencana sudah mulai diterima TNI AL pada 2013.

Selain radar deteksi, pesawat ini juga akan dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan penindakan. Adapun untuk helikopter Seasprite sejumlah satu skuadron itu,memiliki kemampuan penindakan yang lebih ampuh. Enam dari 11 helikopter dilengkapi dengan senjata antikapal selam, sisanya lima unit merupakan antikapal permukaan. “Rencananya pada 2012 pengadaannya,”ujarnya. Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pengadaan CN-235 untuk MPA TNI AL masuk dalam prioritas alutsista TNI.

Rencananya, biaya pengadaan menggunakan alokasi dari pinjaman luar negeri sebesar USD60 juta,namun pemesanan di PT Dirgantara Indonesia. Sjafrie yang juga wakil menteri pertahanan itu menuturkan, dalam strategi pertahanan Indonesia, saat ini memang sedang dikembangkan penguatan di kawasan Indonesia bagian timur.

Sumber : Sindo

Sukhoi Dan Pesawat Boeing 737-200 TNI AU Pantau Ambalat

TARAKAN-(IDB) : TNI Angkatan Udara (AU) tetap mengerahkan beragam pesawat untuk memantau perkembangan di perairan Blok Ambalat, Kaltim, meski tidak ada indikasi pelanggaran kewilayahan. Komandan Pangkalan TNI AU (Lanud) Tarakan, Letkol Nav Budi Handoyo, mengatakan Mabes TNI mengintruksikan tugas rutin mengerahkan beragam pesawat untuk pengintaian.

Patroli dan pengamanan kawasan Ambalat lewat udara katanya, menggunakan pesawat Boeing 737, Sukhoi Su-27/30 MK, dan Hercules yang standby on call (siaga terbang) di Lanud Tipe C, Tarakan. “Sepekan lagi kami datangkan pesawat Sukhoi untuk operasi Ambalat, sambil mengecek fasilitas runway di Bandara Juwata Tarakan, apakah layak untuk operasi terus atau menunggu perpanjangan runway,” jelasnya.

Menurutnya, wilayah udara Kota Tarakan sebagai pulau terluar dalam pengamanan, menjadi kawasan penyiapan operasi yang dilaksanakan TNI AU. Kota Tarakan menjadi pangkalan pengamanan perbatasan dengan Negara Malaysia, sehingga beberapa fasilitas pendukung perlu dipersiapkan, seperti apron untuk parkir pesawat-pesawat tempur.

“Selama ini pesawat take off (lepas landas, Red.) dari Makassar (Sulawesi Selatan, Red.). Kalau dikondisikan standby di Tarakan akan lebih baik. Kendalanya di Lanud belum ada apron sendiri. Bulan ini sudah ada pengukuran rencana membangun apron, semoga cepat terealisasi,” ungkapnya.

Luas bangunan apron tambahnya, memerlukan 2-3 hektare untuk menampung pesawat tempur dan pesawat intai. Dalam bulan ini saja direncanakan 4 pesawat yang masuk. “Standarnya itu bisa ada pesawat Sukhoi, F-16, F-5 dan Hawk. Rata-rata 6 pesawat lah nanti bergantian dengan pangkalan lainnya,” tambahnya.

Jumlah personel di Lanut tipe C ini diperkirakan juga akan bertambah secara bertahap. Idealnya terdapat 120 anggota. Saat ini ada 70 anggota, namun dipastikan mampu mengkaver pengamanan.

“Pangkalan Aju inikan menjadi pendukung operasi, ya jumlah 70 personel sudah cukup, meski ditambah lagi juga baik. Kami terus berbenah, dan berkoordinasi dengan satuan samping lainnya di Tarakan,” tutupnya. 

Sumber: Kaltimpost

Setelah Senegal PT DI Akan Serahkan Dua Pesawat Ke Korea

BANDUNG-(IDB) : Selain mengirimkan pesawat ke Senegal Afrika, PT Dirgantara Indonesia juga akan mengirimkan dua pesawat terbang CN235 Maritime Patrol Aircraft (MPA) pada Korea Coast Guard. Satu pesawat akan diterbangkan pada Sabtu (7/5/2011) dan lainnya akan terbang pada Jumat (13/5/2011). Kedua pesawat tersebut akan diterbangkan oleh tim pilot PT DI.

"Minggu ini begitu berarti bagi PT DI karena selain hari ini akan menerbangkan pesawat ke akan berangkat Senegal, pada akhir pekan ini kami juga akan mengiirimkan pesawat ke Korea. Namun karena pilot yang kami miliki terbatas, jadi diterbangkannya tidak bisa bersamaan," ujar Dirut PT DI Budi Santoso saat ditemui dalam acara Ferry Flight CN235-220 ke Senegal Afrika, di Hanggar PTDI, Kamis (5/5/2011).

Pilot akan menerbangkan pesawat selama tiga hari untuk sampai ke Korea. Kemudian mereka pun akan kembali ke tanah air untuk kembali menerbangkan pesawat kedua. Untuk Korea Coast Guard (KCG), masih ada dua pesawat lainnya yang harus diselesaikan oleh PT DI. Nilai kontrak untuk empat pesawat tersebut mencapai 94 juta US dolar.

Budi mengaku, pengiriman pesawat untuk KCG mengalami keterlambatan, hal itu disebabkan mision system yang akan dipasangkan pada pesawat tersebut baru diapprove oleh pemesan di akhir pengiriman.

"Sebenarnya per November dan Desember 2010 lalu pesawatnya sudah jadi tapi aprove final acceptment tes untuk mision sistem baru dilakukan baru-baru ini," katanya.

Sistem yang dipasang pada pesawat KCG ini disebut Budi bisa mendeteksi adanya polusi laut, misalnya tumpahan minyak di perairan Korea.

Sumber: Detik

Singapura Kirim Pesawat Patroli Maritim F-50 ke Teluk Aden

F-50 MPA Singapura










Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) telah mengirim Republik Singapura Air Force (RSAF) Pesawat Fokker-50 Maritim Patrol Aircraft (F-50 MPA) untuk mendukung upaya internasional memrangi tindak pembajakan di Teluk Aden. Kepala Angkatan Udara Mayor Jenderal Ng Chee Meng memimpin upacara pelepasan Detasemen 38 F-50 MPA di Pangkalan Udara Changi.

 Detasemen F-50 MPA RSAF yang diterapkan ke Teluk Aden
Ini adalah pertama kalinya SAF mengirimkan  F-50 MPA untuk mendukung upaya internasional memerangi pembajakan. Selama tiga bulan penugasannya, F-50 MPA detasemen akan berbasis di Djibouti dan beroperasi berdasarkan lingkup multinasional Gabungan Task Force (CTF) 151.

Kepala Angkatan Udara, MG Ng Chee Meng (kiri), upacara pelepasan MPA-50 F .
F-50 MPA akan melakukan pengawasan udara maritim untuk memberikan KKP 151 dengan gambaran situasi yang disempurnakan laut Teluk Aden, serta melakukan operasi pencarian terkoordinasi untuk mencari dan menyelidiki kapal mencurigakan. Detasemen ini terdiri dari udara, darat dan dukungan kru komunikasi, serta personil logistik.

Sejak April 2009, SAF telah menempatkan dua tugas kelompok SAF ke Teluk Aden, masing-masing terdiri dari Kapal Landing Tank Super Puma dan dua helikopter.
 
SAF di bawah perintah KKP 151 dari Januari-April 2010.

KKP 151 saat ini dipimpin oleh Rear-Admiral (RADM) Harris Chan dari Angkatan Laut Republik Singapura (RSN), yang didukung oleh tim perintah SAF.
 
Sumber: Mindef

Coastguard Korea Selatan Menerima Empat CN-235S Baru

CN-235 untuk Coast Guard Korea Selatan

Penjaga pantai Korea Selatan akan menerima  empat pesawat patroli maritim CN-235-220 tahun 2011. 

Dua pesawat baru akan memperkuat jajaran penjaga pantai  pada April, dan dua pada bulan Agustus, kata salah satu sumber. Menurut sebuah laporan resmi dari kantor berita Korea Selatan, Yonhap, empat pesawat tersebut dibeli pada tahun 2008 sebesar $ 100 juta. 

CN-235 adalah pesawat ini memiliki kabin bertekanan dan pesawat juga  didukung oleh dua CT7 General-9C mesin Electric, setiap baling-baling berbilah empat.  

Pesawat ini memiliki kapasitas bahan bakar 4.000 kg dan daya jelajah sampai 8-10 jam.

CN-235 mempunyai kemampuan melakukan lepas landas dan pendaratan dengan landasan pendek dan memiliki daya angkut mencapai 16.100 kg. 

Angkatan udara Korea Selatan mengoperasikan 20 CN-235s, 12 diproduksi oleh Airbus Militer dan delapan oleh PT.DI

Sumber: Flightglobal

India Kembali Membeli 4 Pesawat Patroli Maritim P-81

Pesawat Patroli Maritim P-81 produksi Boeing
NEW DELHI-(IDB):Pemerintah India telah menyetujui tambahan pembelian empat pesawat patroli maritim jarak jauh dan anti-kapal selam P-8I dari Boeing. India telah memesan 8 P-8I senilai 2,1 milyar dolar pada Januari 2009, dijadwalkan dikirimkan Januari 2013 dan Desember 2015 pada Angkatan Laut India.

Boeing berharap India meneken kesepakatan pembelian 10 pesawat angkut berat C-17 Globemaster III dalam beberapa bulan kedepan, ungkap Presiden Boeing Chris Chadwick pada Dow Jones Newswires.

Pada Oktober 2009, Boeing mengajukan penawaran pada AU India helikopter serang AH-64 Apache Longbow dan helikopter angkut berat CH-47F. India membutuhkan 22 helikopter serang dan 15 helikopter angkut berat.

Chadwick tidak mengungkapkan nilai kesepakatan pembelian 4 P-8I, tetapi persetujuan telah diperoleh dari India dan pesawat diserahkan setelah 2015.

Boeing mengikuti juga tender pembelian 126 pesawat tempur untuk AU India senilai 10 milyar dolar.

Sumber: Online WSJ