Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan

Venezuela Mulai Produksi UAV Atas Bantuan Rusia, China Dan Iran

KARAKAS-(IDB) : "Venezuela membangun pesawat tanpa awaknya dengan bantuan Iran, China dan Rusia," kata Presiden Hugo Chavez. Menurut dia, pesawat-pesawat tanpa awak itu untuk keperluan-keperluan militer dan sipil.

"Satu dari tiga pesawat yang dibuat di sini, dan kita akan terus memproduksinya," kata Chavez, Rabu, dalam satu pertemuan dengan para panglima pertahanan. Rusia, China, Iran dan negara-negara sekutu lainnya telah membantu proyek itu.
Chavez, yang berkuasa sejak 1999, adalah penentang keras apa yang ia sebut sebagai imperialisme Amerika Serikat di Amerika Latin, dan menjalin hubungan erat dengan musuh-musuh AS seperti Iran dan Kuba.

Pesawat tanpa awak itu memiliki jangkauan terbang 100 km, dapat mencapai ketinggian 3.000 meter. Jenderal Julio Morales, kepala pabrik senjata Cavin milik negara, yang membangun pesawat itu, menyatakan, "Pesawat itu dapat berada di ketinggian selama 90 menit dan dapat mengirim video dan gambar seketika."

"Kini sedang ditingkatkan kemampuannya untuk melakukan penerbangan pada malam hari," tambahnya.

Pesawat itu adalah bagian dari satu sistem semata-mata untuk pertahanan yang bertujuan melakukan pengintaian dan mengawasi pipa minyak, bendungan dan prasarana pedesaan lainnya, kata Morales.

Seorang pejabat lain mengatakan pesawat itu dibuat dari komponen-komponen yang dibuat di Venezuela dan dirakit para insyinyur militer yang dilatih di Iran.

Cavim sekarang sedang membangun pabrik-pabrik untuk memproduksi senapan-senapan, granat-granat, serbuk mesiu dan amunisi. Chavez memuji pembangunan belum lama ini --dengan bantuan Rusia-- satu pabrik untuk membuat senapan-senapan serbu AK-103.

"Kita punya hak (untuk memproduksi senjata-senjata)," kata Chavez. "Kita tidak ingin jika kita adalah satu koloni, tetapi kita adalah satu negara yang bebas dan merdeka." Apabila rampung, pabrik itu diharapkan akan memproduksi 25.000 senapan dan 70 juta peluru setiap tahun.

Chavez, yang telah pulih dari perawatan kanker hampir setahun, berencana untuk satu jabatan baru dalam pemilu akhir tahun ini.
 
 
Sumber : Antara

Russia Ready To Help Venezuela With Weaponry Purchases

MOSKOW-(IDB) : Russia is ready to loan Venezuela $4 billion on purchases of military equipment, Russia's Kommersant newspaper said on Friday citing a diplomatic source.

"Russia is ready to loan money to Venezuela," the source said. "Considering the current election campaign in the country, this loan would mean the opportunity to support our key ally in the region."

Venezuelan Minister of Finance and Planning Jorge Giordani is expected to visit Russia in the near future to discuss the conditions of the loan with Russian officials.

Earlier reports indicated that Caracas may ask Russia for an additional $6.5 billion on the development of infrastructure in the oil-rich Latin American country.

Between 2005 and 2007 Venezuela reached deals to buy $4-billion worth of arms from Russia, including Sukhoi fighter jets, combat helicopters, and guns. Chavez' government also secured a $2.2-billion loan in 2010 to purchase Russian T-72 tanks and S-300 air defense systems.
Source: Defencetalk

Venezuela, Tinggalkan Amerika Rangkul Iran

CARACAS-(IDB) : Menteri Energi Venezuela menyatakan Caracas akan terus menjalin hubungan dengan Tehran, meskipun AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak nasional Venezuela. 
 
Pada hari Selasa (24/5), Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap perusahaan raksasa minyak Venezuela, PDVSA sebagai bagian dari kampanye untuk memperketat sanksi terhadap Iran atas program nuklirnya. 

Di bawah tekanan sanksi, PDVSA didepak dari kontrak bisnis dengan pemerintah AS dan Washington melarang pembiayaan ekspor bagi perusahaan nasional Venezuela itu. 

Menteri Energi Venezuela Rafael Ramirez, yang juga kepala PDVSA, mengatakan Venezuela akan terus mempertahankan hubungan dengan Iran. 

"Ini adalah hak kami," tegas Ramirez, sebagaimana dilaporkan Reuter, Rabu (25/5). 

Pada tahun 2010 lalu, Dewan Keamanan PBB yang berada di bawah tekanan kuat AS mengadopsi putaran keempat sanksi atas Tehran, dengan mengulang klaim klise bahwa nuklir Iran berpotensi diselewengkan untuk kepentingan militer. 

Tak lama setelah DK-PBB menjatuhkan sanksi baru atas Iran, Amerika Serikat memberlakukan sanksi unilateral baru terhadap Iran di sektor keuangan dan energi. Tidak hanya itu, Washington juga mendorong negara-negara lain untuk meninggalkan investasi di pasar Iran. 

AS kemudian menekan Jepang, Kanada, dan Australia untuk mengamini sanksi sepihak atas Republik Islam, dengan target melumpuhkan investasi di sektor industri energi. 

Sebagai anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penandatangan traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran berhak menggunakan energi nuklir untuk kepentingan damai seperti pembangkit listrik dan penelitian medis.

Sumber: Irib