Tampilkan postingan dengan label Irak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Irak. Tampilkan semua postingan

Update : Irak Tertarik Akuisisi Panser Anoa Dan SS-2 Pindad

BAGHDAD-(IDB) : Perdana Menteri Irak Nouri Al Maliki kagum dengan Panser Anoa buatan PT Pindad. Karenanya, Al Maliki meminta Kementerian Pertahanan Irak untuk mendalami kerja sama militer antara Indonesia dan Irak.

Saat menerima Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Baghdad, Irak, Selasa (14/8), PM Irak sangat mendukung ide untuk meningkatkan kerja sama militer antara kedua negara.


Sjafrie menjelaskan bahwa Indonesia dan Irak bisa bekerja sama setidaknya di dalam dua bidang. Pertama, peningkatan capacity building melalui pertukaran perwira di antara kedua negara dan kedua melalui penguatan kerja sama peralatan militer.


Wamenhan yang didampingi Dubes Irak Safzen Noerdin, Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen Puguh Santoso, serta Dirut PT Pindad Adik Sudarsono menjelaskan bahwa PT Pindad bukan hanya mampu membuat senjata, tetapi juga kendaraan lapis baja. Selain senjata laras panjang dan laras pendek, panser buatan Pindad telah diekspor ke banyak negara.


 
PM Irak yang menerima cendera mata berupa senjata laras panjang SS tampak antusias melihat senjata buatan Pindad tersebut. Ia kemudian meminta pejabat yang mendampinginya untuk menindaklanjuti kemungkinan kerja sama itu dengan berkunjung langsung ke Indonesia.

Saat kemudian melanjutkan kunjungan ke Kementerian Pertahanan Irak, Sjafrie memamerkan semua peralatan dan pendukung militer yang diproduksi Indonesia. Kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Irak Jenderal Hafedz Saad, Wamenhan memperlihatkan mulai dari baju militer, topi baja, sepatu, makanan untuk tentara, hingga senjata laras panjang buatan Pindad.


Seperti halnya PM Irak, Hafedz tertarik dengan produk-produk buatan Indonesia. Ia memerintahkan beberapa direktur jenderal di Kemhan Irak untuk melakukan komunikasi dengan Dirut Pindad.


Sjafrie berharap kerja sama juga dilakukan di bidang personel militer. Wamenhan mengatakan pengalaman perang yang dijalani tentara Irak dan juga penanganan terorisme bisa menjadi bekal yang bermanfaat bagi tentara Indonesia.


"Saya kira baik kerja sama militer di antara Indonesia dan Irak kita tingkatkan. Kami juga ingin belajar pada Indonesia yang banyak berhasil dalam menangani terorisme," kata Hafedz.


Sjafrie juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Universitas Pertahanan untuk Studi Militer (DUFMS) yang dimiliki Irak. Wamenhan diterima langsung dan mendapat penjelasan dari Rektor DUFMS Letjen Jasim.


Uniknya, DUFMS di Irak adalah mereka menangani mulai dari akademi militer, sekolah staf komando, hingga lembaga ketahanan nasional. Bahkan sekarang ini DUFMS membuka akademi untuk prinsip-prinsip dan etika kemiliteran.


Sumber : Metrotvnews

Irak Tertarik Dengan Persenjataan Produksi pindad

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (13/8/2012) malam, bertolak ke Baghdad, Irak. Sjafrie akan menemui Perdana Menteri Irak Nouri Al-Maliki dan pejabat militer Irak.

"Ini baru langkah awal untuk capacity building dan kerja sama industri pertahanan," kata Sjafrie di VIP Room Bandara Soekarno Hatta, Senin.

Dalam rombongan ikut serta Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Sudarsono.

Menurut Sjafrie, Irak tertarik untuk membeli persenjataan minor, seperti senjata ringan.

Dari Irak, rombongan bertolak ke Kongo untuk meninjau kegiatan pasukan perdamaian Indonesia di Kongo, sekaligus upacara 17 Agustus bersama prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda XX-I. 


Sumber : Kompas

Menhan Menerima Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak, Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani, Selasa (26/6) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Turut mendampingi Menhan dalam kesempatan tersebut, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, Dubes RI untuk Irak Letjen TNI Marinir (Purn) Safzen Noerdin dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan.
 
Kunjungan Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak kepada Menhan RI ini merupakan bagian dari serangkaian kunjungannya ke Indonesia Sehari sebelumnya, Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak juga telah berkunjung kepada Wakil Presiden RI Boediono, Senin (25/6) di Istana Wapres RI. 

Kunjungannya ke Indonesia kali ini dalam rangka membicarakan kemungkinan kerjasama di bidang energi.   Dalam pertemuan dengan Menhan RI,  Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak menyampaikan sebagai sesama negara berpenduduk mayoritas muslim, Irak sangat menghargai persahabatan dengan Indonesia dan berharap kunjungannya bisa meningkatkan hubungan ekonomi dan kultural antara kedua negara jauh lebih erat lagi.

Menanggapi apa yang disampaikan Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak,  Menhan RI menyampaikan menyambut baik keinginan Irak untuk meningkatkan hubungan kerjasama dengan Indonesia.

Selain peningkatan kerjasama di bidang ekonomi, Menhan RI menyampaikan Indonesia juga berharap kerjasama pertahanan kedua negara dapat dibuka kembali. Peluang kerjasama kedua negara di bidang pertahanan diantaranya adalah kerjasama di bidang industri pertahanan.

Dijelaskan Menhan RI, bahwa Indonesia saat ini sedang meningkatkan kemampuan Industri pertahanan dalam negeri khususnya untuk teknologi menengah dan produk – produk pertahanan non Alutsista. 


Sumber : DMC

Irak Tertarik Kerjasama Dengan Industri Pertahanan Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Rabu (11/1), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Irak untuk Indonesia HE Dr Ismieal Shafiq Muhsin, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. 

Duta Besar Irak untuk Indonesia mengunjungi Menhan untuk menjelaskan bahwa pada akhir bulan Januari ini delegasi Senat Irak akan datang mengunjungi Indonesia dan berharap dapat bertemu dengan Menhan Purnomo Yusgiantoro untuk membicarakan mengenai kerjasama pertahanan yang dapat terjalin antara kedua negara. 

Kerjasama tersebut antara lain di bidang pendidikan dan industri pertahanan. Dalam kunjungan delegasi ini, Dubes Irak mengharapkan delegasi dapat mengunjungi beberapa industri pertahanan Indonesia. Menhan Purnomo Yusgiantoro menyambut hangat keinginan Dubes Irak dan bersedia mengatur kunjungan delegasi Irak ke beberapa Industri Pertahanan dalam negeri. 

Saat menerima kunjungan Dubes Irak untuk Indonesia ini Menhan Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin dan Direktur Kerjasama Internasional Ditjen Strahan Kemhan.

Sumber : DMC

Akhir 2011, Tiada Lagi Tentara AS di Irak

BAGHDAD-(IDB) : Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menegaskan, pada akhir 2011 tak ada lagi tentara AS di Irak. Menurut catatan AP dan AFP pada Sabtu (22/10/2011), keputusan ini dikeluarkan persis sembilan tahun sejak invasi Irak di era pemerintah George W Bush. "Pasukan Amerika Serikat meninggalkan Irak dengan kepala tegak. Itulah cara Amerika mengakhiri misi militernya di Irak," kata Obama di Gedung Putih seusai melakukan pembicaraan jarak jauh dengan Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki.

Meski menarik mundur pasukannya, Obama tetap mengharapkan kerja sama jangka panjang yang kuat dari Pemerintah Irak. "Amerika Serikat dan Irak sudah menyepakati cara-cara untuk melangkah ke depan," lanjut Obama.

Saat ini Amerika Serikat masih memiliki sekitar 39.000 prajurit di Irak. Jumlah ini menurun drastis dari jumlah 165.000 personel pada 2008. Berdasarkan data Kementerian Pertahanan, sebanyak 4.408 prajurit AS tewas di Irak sejak Maret 2003.

Imunitas

Rencana penarikan mundur seluruh pasukan AS di Irak sudah diumumkan sejak 2010. Bahkan, tenggat penarikan mundur secara total pada 2011 sudah dirancang di masa pemerintahan Presiden Bush.

Namun, rencana penarikan mundur ini tetap menimbulkan perdebatan yang tak berkesudahan. Pemerintah Irak masih menginginkan 5.000 personel militer AS berada di Irak untuk melatih militer negeri itu.

Terkait keinginan tersebut, ternyata Pemerintah Irak tidak akan memberikan imunitas hukum untuk para pelatih itu. Syarat inilah yang tak disetujui Pentagon yang menginginkan perlindungan dan imunitas hukum bagi semua personel militer AS di luar negeri. "Jika tidak ada kesepakatan soal imunitas, tak ada kesepakatan soal jumlah (personel militer AS)," kata juru bicara Pemerintah Irak, Ali al-Dabbagh, belum lama ini.

Sebagian besar warga Irak menganggap persoalan militer AS ini adalah masalah sensitif akibat banyaknya warga sipil yang tewas sejak invasi atas Irak dilakukan. Sejauh ini, pencabutan imunitas hukum sudah dilakukan untuk perusahaan-perusahaan keamanan swasta yang banyak beroperasi di Irak.

Sumber : Kompas

Iraq Requests Artillery Ammunition

BAGHDAD-(IDB) : The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Oct 5 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Iraq for various explosive projectiles and charges, as well as associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $82 million.

The Government of Iraq has requested a possible sale of 44,608 M107 155mm High Explosive Projectiles and 9,328 M485A2 155mm Illumination projectiles; also included are, M231 Propelling charges, M232A1 155mm Modular Artillery Charge System Propelling charges, M739 Fuzes, M762A1 Electronic Time Fuzes, M82 Percussion primers, M767A1 Electronic Time Fuzes, 20-foot Intermodal Containers for transporting ammunition, publications and technical data, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering, logistics, and technical support services, and other related elements of logistics support. The estimated cost is $82 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a friendly country. This proposed sale directly supports the Iraq government and serves the interests of the Iraqi people and the U.S.

The proposed sale will help Iraq’s efforts to develop an integrated ground defense capability, a strong national defense, and dedicated military force. As the drawdown of coalition forces continues, the Iraqi military continues to develop a force capable of assuming the lead in providing for the security of the Iraqi people.

The proposed sale of this ammunition will not alter the basic military balance in the region.

The ammunition will be supplied from U.S. Army stock. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.

Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Iraq.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.

This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.
 
Source : Defencetalk

Irak Tandatangani Pembelian Belasan Pesawat Tempur F-16

BAGHDAD-(IDB) : Irak telah menandatangani perjanjian pembelian 18 pesawat tempur F-16 Lockheed Martin untuk memperkuat angkatan udaranya, kata seorang penasihat Perdana Menteri Nuri al-Maliki seperti dilaporkan Reuters.

"Perjanjian telah ditandatangani... dan sebagian beaya pembelian telah dikirim ke rekening bank perusahaan tersebut," kata Ali al-Moussawi, penasehat media Maliki.

Ia tidak menyebutkan jumlah uang yang telah dibayar atau nilai pembelian itu secara keseluruhan.

Sumber: Antara

Iraq to Purchase F-16 Fighter Aircraft

BAGHDAD-(IDB) : Iraq’s potential purchase of 18 U.S. F-16 Fighting Falcon aircraft is an encouraging development that benefits both nations, the senior U.S. Air Force component commander in Iraq told Pentagon reporters today.

“I do not have any word yet that a letter of offer and acceptance is signed, but as you probably know, we did have a senior member of the Iraqi government visit Washington,” said Air Force Maj. Gen. Russell J. Handy, commander, 9th Air and Space Expeditionary Task Force-Iraq, and director, Air Component Coordination Element-Iraq.

“There was some great work done on that. Everyone that I talk to at every level of government in Iraq is convinced that that is the right approach for them,” Handy said. “And so we’re very encouraged by those words, and we feel that we’re very close to them signing that letter of offer and acceptance.”

Handy said the Iraqis could potentially buy more F-16 aircraft if, and when, they sign a letter of offer and acceptance.

“They are seeking to buy a larger number of F-16s than they had originally -- up to 36,” he said. “This first letter of offer and acceptance is for 18 of them … we hope to hear very soon that’s signed but no final word yet on that.”

Handy noted things remain very promising but challenging in Iraq with Iraqis “on a path to be able to stand alone as a stable, self-reliant and unified nation.”

“It’s very exciting … because we are afforded the opportunity to see the results of years of progress by many, many Americans’ -- hard-earned progress,” the general said. “It’s challenging because as we continue to establish this enduring strategic partnership, we are re-posturing or redeploying some 50,000 soldiers, sailors, airmen, Marines and civilians from Iraq and transitioning bases, facilities and infrastructure to the government of Iraq and our U.S. Embassy partners.”

Handy lauded U.S. military efforts in Iraq as troops conduct stability and transitioning operations.

“The airmen I have the privilege of leading in Iraq through this challenge have a very important role in the transition,” he said. “We continue to perform all the roles and missions we’ve done for a number of years.”

Handy said these missions include over watch of American forces with intelligence, surveillance, reconnaissance assets; close air support; air mobility; aerial port operations; personnel recovery; and air base management -- all while re-posturing U.S. forces.

“In addition to these traditional air component tasks, you’ll find airmen working together with their joint partners in just about every area in the country, to include engineering, analysts, logistics specialists,” Handy added.

The senior U.S. Air Force commander in Iraq also praised airmen for their performance as advisors to Iraqi air force personnel.

“Our Air Force personnel have helped the Iraqi air force and the Iraqi Army Aviation Command progress to where they are now and have much to be proud of,” Handy said. “These advisors have been very successful -- extraordinarily so if you think about it in the last five years.”

Iraqi air force and Iraqi Army Aviation Command ranks “have grown tenfold,” Handy said, noting American airmen have had an advisory role in those Iraqi units.

“As the Iraqis are moving forward and we’re transitioning, we are handing more and more of those functions completely over to the Iraqis,” Handy said. “Those proud, young Iraqi airmen I spoke of give us great hope.”
Source: Defencetalk

Iraq Army Receives Last Shipment of Abrams Tanks

BAGHDAD-(IDB) : The final shipment of M1A1 Abrams tanks, purchased by the Iraqi government, arrived at Besmaya Combat Training Center mid-August. The delivery included the last five of the 140 tanks ordered by the Iraqi government through a Foreign Military Sales agreement with the U.S.

"The M1A1 Abrams Tank Program was initiated to modernize the Iraqi Army's tank capabilities with 140 tanks and eight heavy-tracked recovery vehicles," said John Hutchings, a desk officer with the Army Modernization Program, United States Forces -- Iraq.

"The tanks are the latest digital tanks coming out of the United States," he added. "They are the most modern M1A1s in the Middle East."

Upon arrival the tanks are secured at the BCTC where they are unpackaged and tested before their transition to the Iraqi army.

"When the tanks get there they get de-processed," said Hutchings. "The de-processing team undoes all the strapping and takes all the packing out of the tank barrel, cleans them up, and tests them for quality assurance. If they should find anything wrong due to the shipment process, they will fix the issue before turning them over to the Iraqi army."

Currently, 85 tanks have been fielded to the Iraqi army and more than 40 are ready for transfer in the near future.

With the FMS package, the Iraqi army also receives training for their M1A1 operators and 
maintenance personnel.

"Maintenance training consists of basic-unit maintainer training and advanced-maintenance training for the turret and hull, and fire-systems training," said Hutchings.

Recently, 180 Iraqi army troops completed Operator-New Equipment Training and more than 40 of them completed OPNET Train-the-Trainer Program.

Also, 46 soldiers completed the Unit-Maintenance New Equipment Training and 14 more completed the UMNET Train-the-Trainer Program.

"We are training the Iraqi army so they can train, maintain and sustain all the tanks they have received," said U.S. Army Lt. Col. Mark Bliese, senior training advisor for BCTC, Iraq Training and Advisory Mission -- Army, USF-I.

The tanks will be distributed evenly within the four Iraqi Army tank regiments of the 9th Iraqi Army Mechanized Division. Each regiment will receive 35 M1A1s and two M-88A2 heavy-tracked recovery vehicles.

"Each battalion has three companies. Each company will receive 11 tanks which will be divided within the platoons and company headquarters," said Hutchings.

The delivery of the M1A1 main battle tanks and the training received provides the Iraqi army an increased capability to defend their country with one of the most modern tanks in the world.

"The M1A1 tanks provides the Iraqi army with the capability of defending its borders to protect the sovereignty of Iraq," said Bliese.

"The tanks provide a foundation for Iraq's mechanized infantry capability, said Hutchings. "It gives them a modern weapon platform capable of maneuvering on the battle field to provide a strong defense across Iraq."
Source: Defencetalk

Update : Irak Borong Pesawat dari AS Untuk Bangkitkan Armada AU-nya

PENTAGON-(IDB) : Jubir Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Pentagon), David Lapan mengkonfirmasi rencana kedatangan delegasi Irak ke Amerika pada bulan ini guna berunding soal pembelian 18 unit jet tempur AS.
 
AFP melaporkan, Lapan dalam jumpa persnya mengumumkan, "Irak mengajukan permohonan pembelian 36 unit jet tempur F-16 dan pada bulan ini delegasi Baghdad akan datang ke Washinton guna membicarakan pembelian 18 jet tempur dari total pesanan."

Ia menambahkan, kedua pihak masih pada tahap awal kesepakatan dan jika kesepakatan resmi tercapai, maka diperlukan waktu untuk menyiapkan jet-jet tersebut serta para pilot yang akan memberikan latihan. Ini adalah proses jangka panjang dan mungkin akan menelan waktu bertahun-tahun.

Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki Sabtu (30/7) dalam jumpa persnya menyatakan, "Pemerintah akan membeli 36 unit jet tempur F-16 Amerika dan jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dari jumlah yang sebelumnya direncanakan Baghdad."

Pembelian jet F-16 tertunda setelah para pejabat Irak mengambil keputusan untuk menggunakan dana sebesar 900 juta dolar dalam program tersebut untuk membeli bahan pangan dan menjatahnya. 

Kesepakatan ini akan membantu Irak untuk merekonstruksi armada angkatan udara negara ini yang sebelum invansi AS ke Irak merupakan yang terkuat di kawasan.

Al-Maliki kepada para wartawan mengatakan, "Dengan pembelian jet-jet tempur tersebut kita harus menjaga kedaulatan nasional Irak."

Sumber: Irib

Update : Irak Seriusi Pembelian Pesawat F-16 dari AS

BAGHDAD-(IDB) : David Lapan, juru bicara Pentagon Senin (1/8) menyatakan, sebuah delegasi Irak bulan ini akan berkunjung ke Amerika Serikat guna berunding dengan petinggi Washington soal pembelian 18 unit pesawat F-16.
 
"Irak berharap bisa membeli 36 unit jet tempur F-16 dan sebuah delegasi Irak bulan ini akan tiba di Washington untuk merundingkan transaksi pembelian 18 pesawat tempur dari jenis ini," ungkap Lapan kepada wartawan seperti dilaporkan Kantor Berita AFP dari Washington.

Ia menambahkan, kedua pihak kini baru sampai pada tahap awal transaksi dan jika tercapai kesepakatan resmi maka penyerahan serta pelatihan para pilot Irak akan memakan waktu cukup lama.

Jubir Pentagon ini menandaskan, ini adalah proyek yang membutuhkan waktu lama dan mungkin akan berjalan selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki hari Sabtu lalu mengatakan, dirinya menghidupkan kembali transaksi pembelian 18 jet tempur F-16.

Sumber: Irib

Update : Rencana Lanjutan Irak Untuk Membeli 36 Pesawat F-16 Amerika

BAGHDAD-(IDB) : Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki mengatakan negaranya akan meneruskan rencana membeli pesawat jet tempur dari Amerika Serikat.

Al-Maliki mengatakan Irak akan memulai kembali perundingan dengan AS soal pembelian 36 jet F-16, dua kali lebih banyak dari rencana semula.

"Kami serius dengan rencana ini. Saya telah menandatangani surat dua hari lalu dan delegasi Angkatan Udara Irak bersama dengan tim penasehat akan memulai kembali perundingan tentang kontrak pembelian," papar al-Maliki kepada para wartawan di Baghdad, hari Sabtu (30/7).

"Jumlah pesawat yang akan dibeli lebih besar. Kita harus memperbanyak pesawat guna menjaga kedaulatan negara. Insya Allah kita akan membeli 36 pesawat F-16, bukan 18," jelas al-Maliki.

Pernah kuat

Rencana ini sempat dibekukan karena anggaran untuk membeli pesawat tempur akan dipakai untuk mendanai program pangan.

Pembelian bernilai miliaran dolar ini ditujukan untuk membangun kembali Angkatan Udara Irak, yang pernah menjadi salah satu yang terkuat di dunia, namun hancur akibat perang Irak pertama.

Rencana pembelian pesawat tempur F-16 diumumkan ketika Irak dan AS membahas apakah AS akan menempatkan pasukan atau pelatih militer setelah seluruh kontingen pasukan AS ditarik mundur dari Irak pada akhir tahun ini.

Di antara ketiga angkatan, AU Irak adalah yang paling lemah.

AU Irak sangat tergantung dengan AU AS dalam menumpas berbagai kelompok perlawanan, delapan tahun setelah Presiden Saddam Hussein digulingkan.

Tingkat kekerasan di Irak turun sejak 2006-2007 namun kelompok perlawanan Sunni dan Syiah masih melakukan serangan dan pembunuhan.

Sumber: Irak

Irak Akan Membeli 36 Pesawat Tempur F-16 Dari Amerika

WASHINGTON-(IDB) : Irak memulai kembali perundingan untuk membeli 36 jet tempur Amerika Serikat dalam satu kontrak bernilai miliaran dolar yang Washington harapkan akan membantu menahan pengaruh Iran, kata surat kabar the Wall Street Journal, Senin.

Irak membekukan perjanjian 4,2 miliar dolar untuk membeli 18 jet tempur awal tahun karena ketidakstabilan berkaitan dengan situasi di negara Arab itu tetapi kini sedang mempertimbangkan satu pembelian yang bahkan lebih banyak, kata surat kabar itu mengutip para pejabat AS dan Irak.

Koran itu memberitakan keinginan itu sehubungan dengan pendapatan minyak yang diperkirakan lebih banyak ketimbang yang diperkirakan dan kekhawatiran kedua pihak menjelang penarikan 46.000 tentara AS yang tersisa dari negara itu akhir tahun ini.

Perjanjian yang mungkin dicapai itu bernilai miliaran dolar dan pelaksanaannya memerlukan beberapa tahun bagi pabrik pesawat itu untuk memproduksinya dan pelatihan para pilot Irak.

Surat kabar itu memberitakan Irak juga meminta sistem pertahanan udara yang ditempatkan di darat, termasuk rudal-rudal darat ke udara dan meriam-meriam besar.

Koran itu juga memberitakan Oman juga akan membeli 18 pesawat tempur F-16 dengan harga 3,5 miliar dolar.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan mendadak ke Baghdad, Senin mengatakan pasukan AS akan terus memburu pemberontak yang didukung Iran, dan mengatakan mereka telah membunuh banyak tentara AS.

Washington telah mendesak Irak membuat satu keputusan apakah negara itu menginginkan pasukan AS untuk tetap berada di negara itu setelah akhir tahun ini, saat seluruh pasukan AS akan ditarik sesuai dengan perjanjian keamanan tahun 2008.

Sumber: Antara

Iraq Says Ready to Buy Czech Made Combat Jets

Czech Air Force's Aero L.159 ALCA fleet
BAGHDAD-(IDB) : Iraq is ready to buy light attack aircraft, offered for sale by the Czech republic earlier this month, Iraqi Prime Minister Nuri al-Maliki said after talks with his Czech counterpart in Baghdad.

The visit to Baghdad by Czech Prime Minister Petr Necas, which began on Monday, focused on bilateral economic and political cooperation.


The single-seat L-159 ALCA is a light multi-role combat aircraft designed for a variety of air-to-air, air-to-ground and reconnaissance missions.

The jet was developed in the late 1990s by Aero Vodochody on the basis of the proven airframe design and aerodynamic configuration of the L39 Albatros and L59 family of combat trainers.

The aircraft is equipped with an advanced multi-mode radar for all-weather, day-and-night missions and can carry a wide range of NATO-standard payloads including air-to-air and air-to-ground missiles and laser guided bombs.

Sumber: Rian

AS Berkemas, Rusia Merapat ke Irak

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov
MOSKOW-(IDB) : Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan kesiapan negaranya untuk menjalin kerjasama dengan Irak di berbagai bidang bahkan di sektor militer. 
 
Kantor berita Fars (10/5) melaporkan, Lavrov pasca pertemuannya dengan sejawatnya asal Irak, Hushyar Zibari, di Baghdad, mengadakan konferensi pers bersama dan mengkonfirmasikan aktivasi sebuah komite kolektif di tingkat kementerian dalam rangka perluasan kerjasama bilateral.

Menlu Rusia dalam jumpa pers itu menyatakan bahwa Moskow siap melanjutkan kerjasama dengan Irak khususnya di bidang militer. Ditambahkannya, "Presiden Rusia menyampaikan pesan tertulis kepada Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki, yang akan segera saya sampaikan." Namun Lavrov menolak memberikan keterangan mengenai isi surat tersebut. 

Di lain pihak, Menlu Irak mengatakan, "Kementerian Luar Negeri Irak telah menyepakati aktivasi komite kolektif kedua negara. Komite tersebut hingga kini telah menggelar tiga kali pertemuan di Moskow dan diharapkan pertemuan selanjutnya dapat berlangsung di Baghdad."

Ditegaskannya bahwa pemerintah Irak mengapresiasi sikap tegas dan transparan Rusia dalam mendukung Irak agar ditarik dari butir ketujuh piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Apalagi Rusia juga telah menanamkan investasi di sektor gas, minyak, dan listrik Irak. 

Upaya perluasan kerjasama Rusia dengan Irak itu terjadi di saat Amerika Serikat tengah bersiap-siap menarik mundur pasukannya dari negeri yang telah didudukinya selama delapan tahun itu. 

Sumber: Irib

Republik Ceko Tawarkan Pesawat Tempur Ringan L-159 Ke Irak

Pesawat tempur ringan L-159 Ceko
PRAHA-(IDB) : Republik Ceko berencana menawarkan jet tempur ringan dan membantu memodernisasi armada helikopter Iraq, ungkap Menteri Luar Negeri Ceko Karel Schwarzenberg.

Perdana Petr Necas akan berkunjung ke Iraq 23-24 Mei, guna memperat hubungan ekonomi dengan Baghdad serta meneken kesepahaman perlindungan penanaman modal.

“Republik Ceko akan menawarkan pada Iraq pesawat tempur L-159, kami juga siap mengupgade helikopter Iraq,” ucap Schwarzenberg setelah menerima kunjungan Menlu Iraq Hoshyar Zebari di Praha, Senin (18/4).

Pesawat tempur ringan L-159 ALCA kursi tunggal dirancang untuk berbagai misi udara-ke-udara, udara-ke-darat dan pengintaian.

L-159 dikembangkan oleh Aero Vodochody pada akhir tahun 1990-an, berdasarkan disain airframe dan konfigurasi aerodinamis L-39 Albatros dan L-59 Super Albatros.

Pesawat L-159 pernah menjadi kandidat pengganti Hawk-Mk53 TNI AU, akhirnya dipilih T-50 Golden Eagle buatan perusahaan Korea Selatan.
Sumber: Rian