Korps Marinir Segera Realisasikan Yonif-10 di Kepulauan Riau
Prajurit Marinir TNI AL (photo : Kaskus Militer)TNI AL Melakukan Repowering KRI Pulau Rangsang 727
KRI Pulau Rangsang 727, kapal penyapu ranjau kelas Kondor (all photos : TNI AL)
Kadismatal Tinjau Hasil Repowering KRI Pulau Rangsang-727
Jakarta, -- Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Sugianto Suwardi melakukan peninjauan ke salah satu unsur Kapal Republik Indonesia (KRI) yang berada di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yakni KRI Pulau Rangsang-727 setelah dilaksnakan repowering di Dermaga Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (18/1).
Peninjauan Kadismatal ke Kapal Perang yang sehari –hari di bawah pembinaan Satuan Kapal Ranjau (Satran) Koarmabar tersebut setelah dilaksanakan Repowering terhadap kapal perang dengan spesifikasi panjang berukuran 56,7 meter dengan lebar 7,8 yang dilengkapi dengan persenjataan Meriam 37 mm .Kadismatal Laksamana Pertama TNI Sugianto Suwardi dalam kesempatan peninjauan tersebut mengatakan, kemampuan kekuatan TNI AL di tandai dengan kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dengan KRI sebagai salah satu unsur pembentuknya.
Lebih lanjut dikatakan Saat ini ada beberapa KRI telah berusia tua dengan permesinan yang mengalami penurunan kemampuan. Dan dengan pertimbangan mengingat proses pengadan KRI memerlukan waktu dan biaya yang besar , perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat dilaksanakan untuk mempertahankan kesiapan teknis KRI. Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah melaksanakan Repowering.

Lebih lanjut Kadismatal mengatakan, Dinas Material Angkatan laut telah melaksanakan kegiatan Repowering KRI Pulau Rangsang-727 diantaranya paket kegiatan pengadaan motor pokok gear box dan sistem kontrol, perbaikan DG dan MSB, pengadaan cat bawah garis air dan zink anoda, perawatan bawah garis air, pemadangan MPK dan gear box baru.
Selain itu Kadismatal menambahkan kegiatan yang dilaksnakan di bidang perbaikan diantaranya perbaikan system air laut, perbaikan bangunan atas air, perbaikan system pendingin, perbaikan system akomodasi/ruangan-ruangan, pengadaan alat bahari, perbaikan kompresor berikut system, perbaikan dan pengadaan alat keselamatan, perbaikan dewi-dewi skoci dan memanfaatkan dan memberdayakan Fasilitas Pemeliharaan Perbaikan (Fasharkan) Jakarta dengan beberapa kegiatan sesuai dengan kemapuan dan fasilitas yang dimiliki.
Kadismatal Laksamana Pertama TNI Sugianto Suwardi lebih lanjut mengatakan kegiatan Repowering merupakan kegiatan memerlukan proses perencanaan yang teliti, rinci dan lengkap dan tepat waktu dengan hasil baik. Selain itu dibutuhkan kerjasama yang baik diantara semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Repowering KRI Pulau Rangsang-727.
Kunjungan Kadismatal ke KRI Pulau Rangsang-727 didampingi Asisten Logistik Aslog Pangarmabar Kolonel Laut (T) Dani Achdani, S.Sos., S.E., M.A.P, Kepala Dinas Pemeliharaan Kapal (Kadisharkap) Armabar Kolonel Laut (T) Puguh Santoso, Kasatharmatbar Kolonel Laut (T) I Wayan Wetha, Kafasharkan Lantamal III Jakarta Kolonel Laut (T) Mugiono, Kasubdismatkapur Disimatal Kolonel Laut (T) A. Hari Supriyanto dan Komandan KRI Pulau Rangsang-727 Mayor Laut (P) Agus Darmawan.
Empat Kapal LST Segera Dihapuskan
LST KRI Teluk Saleh 510 (photo : TNI AL)TNI AL Siap Menjadi 3 Armada dan 3 Divisi Marinir

KRI Kujang-642, TNI akan memperbanyak Kapal Cepat Rudal dan Kapal Cepat Torpedo menjadi 20 unit (photo : Silep-04 Kaskus Miliiter)
KASAL: Satu Kowil RI, Tiga Armada dan Tiga Divisi Marinir
TNI AL telah melaporkan kesiapan validasi organisasi kepada komando atas dan pemerintah tentang pembentukan Komando Wilayah Laut Republik Indonesia (Kowila RI) yang membawahi 3 Armada (Barat, Tengah dan Timur), Komando Latihan Wilayah Laut (Kolatwila) Komando Pemeliharaan Material Wilayah Laut (Koharmatwila), pembentukan 3 Divisi Marinir dan perubahan Korps Marinir menjadi Kotama Operasi.
Hal tersebut dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Soeparno dihadapan 700 Perwira Menengah (Pamen) dan Perwira Tinggi (Pati) TNI AL Wilayah Timur (Wiltim) pada olahraga bersama TNI AL Wilayah Timur di Lapangan Laut Maluku, Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Jumat (30/12).
Kemudian, lanjutnya, selain pembentukan Kowila, TNI AL memandang perlu meningkatkan Dinas Potensi Maritim menjadi Asisten Potensi Maritim, karena potmar dipandang sebagai salah satu tugas pokok TNI AL, kemudian membentuk Disopslatal, membentuk Pusat Intelejen Laut (Pusintelal) serta meningkatan Dinas Hidrooseanografi menjadi Badan Hidro Oseanografi.
Selain siap melakukan validasi organisasi, di tahun 2012 diharapkan kebijakan pemerintah dalam pembangunan kekuatan pertahanaan pada tingkat Minimum Essential Force (MEF) TNI AL dalam bidang penambahan Alat Utama Sisitem Senjata (Alutsista) dapat segera terrealisasi. Penambahan alutsista tersebut, diantaranya pembelian 3 kapal selam, 2 kapal permukaan frigate jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) dan 20 Kapal Patroli Cepat dan Kapal Cepat Torpedo (KCT).
Menurutnya, untuk membangun kekuatan militer yang handal tidak perlu beraliansi kepada salah satu blok teknologi alutsista, tetapi mampu mengadaftasi dan mengadopsi teknologi dari berbagai blok yang diarahkan untuk meraih keunggulan sendiri. Pada konteks ini penyiapan sumber daya manusia menjadi sangat vital.
“Kita harus akui, negara kita tidak sekuat negara barat yang kuat dalam teknologi mesin perangnya, oleh karena itu kita tidak usah cari musuh, lebih baik cari teman dan tidak menggantungkan kekuatan Alut kepada salah satu blok,” terangnya.
Selain menyoroti validasi organisasi dan alutsista, orang nomor satu di TNI AL ini mengingatkan kepada para perwira dibawahnya untuk senantiasa meningkatkan kembali pelaksanaan kode etik dan etika professional serta tatakrama dalam kehidupan seorang perwira.
Seorang perwira, lanjutnya, harus mampu membangun sendi-sendi kehidupan yang berdisiplin, memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab yang lebih tinggi dibanding dengan prajurit yang dipimpinnya.
“Pegang teguh Sapta Marga, 8 Wajib TNI, Trisila TNI AL dan malu berbuat cela,” serunya.
Ditahun 2011, lanjutnya lagi, masih ada agenda yang belum terealisasi dan akan dilanjutkan pada 2012 nanti diantaranya Kartika Jala Krida (KJK) KRI Dewaruci ke AS. Dimana pada KJK sebelumnya tidak pernah mengikutkan Kadet (taruna AAL;Red) dari Korps Marinir, pada KJK nanti akan diikutsertakan, kemudian latihan Armada Jaya pada medio September dan Latihan Gabungan TNI pada medio November 2012.
Sementara itu pada acara olah raga bersama penutup akhir tahun yang diisi dengan senam dan jalan sehat sejauh 3 kilometer di area Kesatriaan Kobangdikal tersebut, tampak hadir para Asisten KASAL, Pangkotama TNI AL wilayah timur dan barat, seperti Dankobangdikal Laksda TNI Sadiman, SE, Pangarmatim Laksda TNI Ada Supandi, Pangarmabar, Komandan Seskoal dan para Kepala Dinas di lingkunagn Mabesal, serta Pamen TNI AL se-Wilayah Timur.
(TNI AL)
Koarmabar Periksa Kesiapan KRI Clurit 641
KRI Clurit 641 kapal cepat rudal (FAC-M) terbaru buatan galangan kapal Indonesia (photo : Defender)Jakarta, -- Komandan Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Barat (Dansatkatkoarmabar) Kolonel Laut (P) Denih Hendrata melaksanakan pemeriksaan KRI Clurit – 641 dalam rangka kesiapan unsur di jajaran Satkatkoarmabar, di dermaga Tanjung Uban, Senin (22/8).
Dalam kesempatan tersebut, Dansatkatkoarmabar Kolonel Laut (P) Denih Hendrata melihat kesiapan dan kemampuan prajurit KRI Clurit – 641 melaksanakan latihan peran tempur secara profesional. Peran tempur tersebut antara lain meliputi peran tempur bahaya udara dan peran tempur bahaya permukaan serta latihan penanggulangan kebakaran (PEK) di kapal. Selain itu, Dansatkatkoarmabar juga melihat kesiapan material dan persenjataan yang berada di KRI Clurit – 641.
Dansatkatkoarmabar Kolonel Laut (P) Denih Hendrata mengatakan, dalam melaksanakan peran tempur agar seluruh prajurit KRI Clurit – 641 melaksanakan dengan sungguh-sungguh, sehingga dapat meningkatkan kemampuan tiap-tiap personel dalam mengawaki persenjataan dan peralatan yang ada di kapal sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Lebih lanjut Dansatkatkoarmabar mengatakan, prajurit KRI Clurit – 641 jangan ragu-ragu dalam bertindak, serta cepat dan tanggap menyikapi situasi yang terjadi di kapalnya.
Dansatkatkoarmabar menekankan, latihan peran tempur, latihan PEK dan juga peran lainnya agar senantiasa dilaksanakan secara terus menerus, baik pada saat kapal berlayar maupun pada saat kapal sandar di Pangkalan. Hal tersebut bertujuan untuk menanamkan jiwa, semangat dan naluri tempur sebagai prajurit matra laut.
9 Ranjau Laut Berhasil Dinetralisasi
Peledakan ranjau (photo : Armatim)Sebanyak 9 ranjau laut yang terdeksi oleh Satuan Tugas (Satgas) Latihan Tindakan Perlawanan Ranjau III/2100 berhasil dinetralisasi (diledakan) di sekitar Pantai Palang Tuban, Kamis (4/8). Peledakan ranjau ini merupakan hasil pendeteksian selama lebih kurang dua bulan dari area latihan seluas 37 juta meter persegi, memanjang dari pantai Palang sampai dengan 11 Nm ke utara.
Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 4 hingga 15 Agustus tersebut bertujuan untuk menghancurkan ranjau atau membuat rangkaian/system pemicu ledakan ranjau tidak dapat berfungsi.
Diperkirakan ranjau-ranjau tersebut merupakan peninggalan Perang Dunia II yang terbenam di bawah lumpur dasar laut sedalam 3 sampai 5 meter pada kedalaman laut 8 hingga 30 meter.
KRI Pulau Rengat 711 kapal pemburu ranjau jenis Tripartite class dari Belanda (photo : jonberbs)“Setelah proses netralisasi, kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan rechecking (chek ulang) untuk memastikan bahwa area tersebut benar-benar telah bersih dari ranjau,”kata Komandan Satuan Ranjau Koarmatim Kolonel Laut (P) Benny Sukandani, SE, MM yang sekaligus bertindak selaku komandan latihan.
Lebih lanjut dikatakan Komandan Satran Koarmatim, pada saat kegiatan dinyatakan selesai atau kontak ranjau yang ditemukan berhasil dinetralisasi, maka Mabes TNI AL dalam hal ini Dinas Hidro-oseanografi TNI AL akan membuat peta laut dengan memberikan tanda area yang telah dibersihkan sebagai daerah bebas ranjau, kemudian diinfokan kepada seluruh pengguna laut melalui Berita Pelaut Indonesia (BPI) bahwa area tersebut dapat digunakan untuk menunjang pembangunan nasional.
Kegiatan latihan itu sendiri dimulai sejak tanggal 23 Mei 2011, yang melibatkan 172 personel yang terdiri dari personel Satran Koarmatim yaitu Kapal Perang Type Buru Ranjau KRI Pulau Rengat-711, Diskesarmatim, Satkopaskaarmatim, Dislambair, Arsenal, Labinsen dan Dishidros TNI AL. Latihan direncanakan berakhir hingga tanggal 27 Agustus mendatang.
(Armatim)
KRI Diponegoro-365 “Bombardir” Pulau Gundul
Meriam OTO Melara 76mm KRI Diponegoro (photo : Koarmatim)Laut Jawa-Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Diponegoro-365 “membombardir” Pulau Gundul yang berada di sekitar Kepulauan Karimun Jawa Sabtu (02/06). Sebanyak sembilan butir peluru dimuntahkan dari moncong Senjata Artileri jenis meriam laras tunggal super rapid dengan kaliber 76mm berhasil menghujam daratan Pulau tak berpenghuni itu. Pulau Gundul merupakan daerah latihan milik TNI AL kusus untuk gladi tempur penembakan senjata artileri kapal-kapal perang.
Meriam kaliber 76mm Otomelara yang terpasang di Geladak Haluan kapal ditembakkan secara otomatis melalui Pusat Informasi Tempur (PIT) didukung radar senjata jenis LIROD MK2 sebagai tracking sasaran. Selain menggunakan kendali penembakan otomatis melalut PIT juga dilakukan penembakan secara manual dengan Target Designation Sight (TDS). Jarak tembak dari KRI Diponegoro menuju sasaran kurang lebih 5 nautical mile (9,8km).
Akurasi penembakan meriam 76mm sangat tinggi karena didukung Module Combat System (MCS) terintegrasi dengan senjata ini, berupa radar LIROD yang mampu melakukan tracking video dan memberikan data kontrol senjata secara tiga dimensi mulai dari jarak, baringan dan ketinggian sasaran. Radar tersebut juga memiliki kemampuan mengunci sasaran udara secara manual dan otomatis.
Peluru yang ditembakkan dari laras meriam 76mm merupakan proyektil jenis Target Practice(TP). Meriam buatan Italia ini mampu memuntahkan peluru sebanyak 120 butir per menit dengan jarak jangkau maksimal 16 sampai 20 kilometer sesuai dengan jenis Amunisi yang ditembakkan. Untuk Amunisi jenisSemi Armour Piercing Otomonition Extended Range (Sapomer) dapat menjangkau sasaran dengan jarak maksimum 20km.
Serbuan pagi hari itu merupakan program latihan yang dilaksanakan oleh kapal perang yang berada di jajaran Koarmatim tersebut, saat melakukan perjalanan Lintas Laut (Linla) dari Pangkalan Surabaya menuju Jakarta dalam rangka akan mengikuti Latihan Bersama (Latma). Disamping itu kapal ini akan mendapatkan tugas patroli laut wilayah barat yang berada disekitar Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Perairan Kepulauan Riau (Kepri), Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Tujuan galdi tempur penembakan senjata Artileri atas air tersebut sebagai tolak ukur untuk melihat sejauh mana kemampuan operasional persenjataan serta piranti pendukung yang terintegrasi dengan senjata tersebut. Selain itu juga untuk meninggkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit dalam mengawaki dan mengoperasikan persenjataan yang dimiliki oleh KRI.
“Latihan penembakkan ini berhasil dengan baik, karena seluruh peluru yang ditembakkan mencapai target dengan akurat”, kata Komandan KRI Diponegoro-365 Letkol Laut (P) Antonius Widyoutomo.
(Koarmatim)
Puspenerbal Rencanakan Tambah Armada Pesawat dan Helikopter
Armada pesawat dan helikopter Pusat Penerbangan Angkatan Laut (all photos : Antara)KSAL Akui Kekuatan Unsur Penerbangan TNI-AL Turun
"Memang banyak alutsista Penerbangan TNI AL yang usianya sudah tua dan perlu direvitalisasi," kata Soeparno usai menjadi Inspektur Upacara Hari Penerbangan TNI AL ke-55 di Apron Hanggar Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda, Surabaya, Jumat.
KSAL mengibaratkan unsur penerbangan adalah mata, telinga, kaki, dan tangan dari TNI AL, sehingga apabila kondisinya tidak prima dan menurun akan turut memengaruhi kekuatan TNI AL.
Rencana peremajaan alutsista penerbangan, menurut Soeparno, sudah menjadi agenda Markas Besar TNI AL, tetapi dikhususkan pada peralatan pokok yang mendukung kegiatan operasi.

"Seperti helikopter rencananya akan ditambah dua unit lagi, pesawat angkut pasukan mungkin tiga atau empat unit dan pesawat lainnya," ujarnya.
Laksamana bintang empat itu menambahkan, alutsista Penerbangan TNI AL yang usianya sudah tua dan berisiko tinggi untuk dioperasikan akan dipensiunkan, sementara yang masih bisa difungsikan tetap dipelihara dan dibenahi.
Menurut KSAL, keterbatasan anggaran menjadi faktor utama dalam pengadaan alutsista penerbangan, tetapi hal itu tetap harus disikapi dengan arif dan tidak boleh menjadi penghambat dalam melaksanakan tugas pengamanan wilayah NKRI.
Soeparno mengatakan Penerbangan TNI AL pernah mengalami masa kejayaan di era tahun 1960-an dengan memiliki tujuh skuadron udara yang tangguh, di antaranya Skuadron Antikapal Selam, Skuadron Pembom dan Skuadron Pengangkut Pasukan.
(Antara)
Lanal Pontianak Naik Jadi Lantamal
Pontianak, Kalimantan Barat (image : GoogleMaps)Menurut Parno, kondisi perairan laut di Kalbar dan sekitarnya aman. Tetapi TNI AL tetap bekerja menjaga keamanan karena potensi ancaman tetap ada. Pada bagian utara terdapat potensi perompakan. Bagian utara ini berada di zone ekonomi ekslusif (ZEE) termasuk Laut Natuna yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Selain itu juga terdapat ancaman kapal-kapal ikan asing yang mencuri ikan.Selama ini TNI AL memiliki pos pengamanan mulai dari Temajuk, Paloh, Pemangkat, Mempawah, Ketapang, Kendawangan, dan Serutu. Selain itu juga ada pos-pos kecil lainnya. ”Jika dilihat masih kurang, tetapi belum bisa disebutkan dalam angka,” ungkap Parno.
Ia berharap peningkatan Lanal Pontianak menjadi Lantamal dapat dilakukan secepatnya. Saat ini sedang dalam proses pengajuan. Pertengahan tahun Kasal sudah mengajukannya kepada Panglima TNI. Tetapi sebelum dilakukan peningkatan perlu menyiapkan infrastruktur seperti perkantoran dan hal ini sedang dilakukan. Nantinya Lantamal memiliki fungsi utama untuk mendukung angkatan perang TNI AL. ”Tentunya butuh bekal peralatan. Dengan jadi Lantamal kemampuan itu meningkat, termasuk personil untuk melayani kapal perang yang istirahat,” katanya. (uni)
(Pontianak Post)
Marinir Membeli Senjata Anti Serangan Udara dan Menambah Tank

Oerlikon GDF-002 twin canon 35mm buatan China (photo : Sinodefence)
Istana Dipasangi Senjata Anti-Serangan Udara
JAKARTA- Istana Negara, Jakarta bakal dipasangi senjata antiserangan udara. Senjata ini merupakan sebagian dari tujuh senjata antiserangan udara baru yang akan menjadi milik Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Alfan Baharudin mengatakan persenjataan seharga total 15 juta dollar AS atau Rp 135 miliar itu sebagian bakal dipasang di sekeliling Istana Negara, Jakarta, untuk pengamanan serangan dari udara.
"Sekarang sudah mulai dirakit dan akan dikirim ke sini akhir tahun," kata Mayor Jenderal Alfan Baharudin, Jumat (13/5).
Senjata itu berupa kendaraan tempur yang dilengkapi meriam kaliber 35 milimeter ini dan dibeli dari Swiss, tapi dirakit oleh perusahaan di China.
Alfan menjelaskan, selain untuk antiserangan udara, peralatan ini juga bisa dipergunakan untuk serangan darat. Sebagian senjata ini juga akan ditempatkan di Markas Korps Marinir di Kwitang dan Markas Brigadir Infanteri Marinir di Cilandak, Jakarta Selatan.
Tujuh senjata tersebut juga dibeli untuk melengkapi kebutuhan Batalion Artileri Pertahanan Udara Marinir dan mengganti peralatan lama yang umurnya sudah sangat tua. Peralatan baru pun digunakan untuk operasi-operasi militer, operasi tempur amfibi, dan pelatihan militer rutin.
Korps Marinir, kata Alfan, juga membeli lagi kendaraan tempur Tank BMP3F dengan senjata kaliber 100 milimeter buatan Rusia sebanyak 54 unit atau setara dengan satu batalion.
Dengan penambahan ini, Marinir akan memiliki tiga batalion resimen kavaleri. Tank ini dipesan sejak 2009 dan sudah tiba 17 unit.
Sekedar diketahui, tank BMP3F mampu melaju dengan kecepatan 70 kilometer per jam saat berada di darat. Sedangkan kalau di air mencapai 12 knot per mil. Tank ini menggunakan mesin buatan Ukraina. "Ini tank terbesar di Tanah Air," ujar Alfan.
TNI juga berencana membeli satu skuadron pesawat jet latih T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan untuk menggantikan jet latih Hawk MK-53 milik TNI Angkatan Udara yang sudah usang.
(Surabaya Post)KRI Clurit-641 Perkuat Armada Kapal Perang TNI AL
KRI Clurit 641 kapal baru jenis FAC-M untuk TNI AL (photo : Antara)BATAM, TRIBUN- Mentri Pertahanan Republik Indonesia (RI), Purnomo Yosgiantoro menegaskan kedepan tidak ada lagi cemehan untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebab saat ini TNI sudah memilik armada perang yang cukup bagus dan patut diandalkan.
Bahkan yang membanggakan lagi, armada perang yang baru ini, KRI Clurit-641, merupaka buatan atau produksi anak dalam negeri. "Jadi kedepan tidak perlu lagi kita minder, sebab kwalitas armada perang kita juga tidak kalah dengan tentara yang ada di luar sana," tegas Purnomo.
KRI Clurit-641 ini, terang Purnomo merupakan kapal perang jenis Kapal cepat rudal (KCR-40), dimana jarak tembak rudalnya itu mencapai 80 km.
"KRI Clurit-641 KCR-40 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pedadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul serta mampu menghindar dari serangan lawan dalam waktu singat pula," terang Purnomo.
Kapal yang berukuran panjang 43 meter, lebar 7,40 meter dan berat 250 ton ini, tambah Purnomo memiliki sistim pendorong handal yang mampu berlayar dan bermanuver dengan kecepatan 27 knot, serta memiliki daya tembak atau hancur yang besar karena dilengkapi persenjaan rudal C-750.
"Kelebihan kapal perang ini, dilengkapi dengan sistem persenjataan canggih berupa sensor weapon control (Sewaco), meriam caliber 30 mm, 6 laras sebagai close in weapon system (CIWS) serta meriam anjungan 2 unit caliber 20 mm," papar Purnomo.
Selain itu, kapal Clurit-641 KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar sampai 50 ton, air tawar 15 ton, 35 orang anak buah kapal dan masih mampu memuat 13 personel pasukan Khusus.
"Kapal ini juga memiliki peralatan navigasi yang akurat, sehingga memberikan keyakinan keamanan bernavigasi," sebut Dia.
Begitu juga dengan alat komunikasi, tambah Purnomo KRI Clurit-641 KCR-40 juga sudah dilengkapi peralatan komunikasi yang mampu digunakan untuk melaksanakan komunikasi antar kapal permukaan dan pesawat udara dalam satu kesisteman. Sehingga diharapkan mampu memberikan efek deterrence bagi pertahanan negara.
Rudal Rusia, Rudal China, dan Pertahanan Perbatasan
Peluncuran rudal Yakhont dari fregat KRI Oswald Siahaan (photo : Vivanews)
Lintasan rudal Yakhont buatan Rusia (photo : ARC)Kepala Pusat Penerangan Umum Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengatakan, keberadaan rudal Yakhont dalam persenjataan TNI lebih ditujukan sebagai detterent (penangkal) terhadap upaya agresi ataupun tindakan tidak bersahabat dari negara tetangga. ”Tentu saja kita mengutamakan perdamaian ASEAN. Apalagi Indonesia adalah negara yang menjadi teladan di ASEAN,” ungkapnya lagi.
Rudal China
(Kompas)
Rudal Yakhont Tenggelamkan KRI Buatan AS


KRI Imam Bonjol menembakkkan roket jenis RBU 6000 dengan sasaran eks-KRI Teluk Bayur-502 dengan jarak 135 mil laut (250km) di Perairan Samudera Hindia, sebelah barat Sumatera, Rabu (20/4). Latihan formasi tempur laut tersebut bertujuan meningkatkan profesionalisme dan kesiapan operasional Alutsista serta mengetahui kehandalan, tingkat akurasi perkenaan sasaran dan daya hancur. (photo : Antara-Yudhi Mahatma)
Indonesia Receives Two Warships from Brunei

KRI Salawaku 642 dan KRI Badau 643 (photo : TNI AL)
PONTIANAK, KOMPAS.com - Indonesia has received two warships, "KRI Salawaku 642" and "KRI Badau 643" from Brunei Darussalam under a grant, which will join the West Fleet Command (ARMABAR). Brunei government officially handed over the two warships on April 15, 2011, (Navy) Maj Komaruddin, the commander of KRI Badau said here on Monday.
Both ships were originally called "KDB (Kapal Perang Diraja Brunei) Waspada" and "KDB Pejuang" as part of the Royal Brunei Navy fleet, he said. In accordance with Decree of the Defense Forces (Military)Commander, "KDB Waspada" is now called "KRI Salawaku" with hull number 642 and "KDB Pejuang" is now "KRI Badau" with hull number 643.
"The two ships are part of the rapid ship missile (KCR)," Maj Komaruddin said, adding that the ships were designed in England and constructed in its plant in Singapore each with a cruising capacity of 28 knots.
The two warships can be operated for the next 10 to 15 years, and each with a crew of 37, consisting of 7 officers and 30 men, Maj Komaruddin added.PT- 76, Amfibi “Gado-Gado” Andalan Marinir


Lanal Simeulue Diresmikan 28 April
Panglima TNI Resmikan Simulator Kapal di Kobangdikal
KRI Teluk Bayur-502 Akhiri Masa Tugas
Kapal perang produksi Amerika Serikat tahun 1942 tersebut , telah memperkuat TNI AL sejak tanggal 17 Juni 1961. Dan Selama penugasan telah banyak menorehkan catatan sejarah mulai dari penugasan dalam operasi penegakkan kedaulatan RI dan berbagai latihan serta bantuan angkutan untuk pembangunan di daerah seluruh wilayah NKRI.
KRI Teluk Bayur-502 jenis Landhing Ship Tank (LST) , pertama kalinya jabatan Komandan KRI dijabat oleh Mayor laut (P) Handayana Sukendar . Kapal perang ini masuk memperkuat unsur jajaran Komando Lintas laut Militer pada tahun 1975 , dan sehari-hari dibawah pembinaan Satuan Lintas laut Militer (Satlinlamil ) Surabaya.
Kapal-kapal LST yang sudah tua digantikan dengan kapal LPD dan LST 117 meter yang akan diproduksi oleh PT. PAL (photo : Allair-Kaskus Militer)Kapal perang dengan spesifikasi panjang 99,89 meter dan lebar 15,25 meter saat masih aktif mampu menempuh kecepatan 8 knot memiliki dengan kemampuan angkut 17 tank di dek kapal dan pasukan sampai dengan 800 personel dengan perlengkapan lapangan.
Selain itu dalam kegiatan pembangunan pernah ditugaskan untuk mengangkut alat-alat berat Departemen Pekerjaan Umum ke beberapa daerah dan mengangkut berbagai kebutuhan pertanian untuk pemukiman transmigrasi serta kegitan bantuan sosial lainnya ke beberapa pulau di Indonesia.
Setelah bertugas hampir mencapai 50 tahun memperkuat jajaran TNI AL, direncanakan pada hari jumat ini dilaksanakan Upacara penurunan Ular-ular perang di dermaga Pangkalan TNI AL di Surabaya.
Upacara penurunan ular-ular perang merupakan simbol kapal perang yang harus berkibar di tiang gafel, sebagai salah satu tanda dari Kapal Perang Republik Indonesia. Selain penurunasn ular-ular perang merupakan suatu peristiwa simbolik yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian suatu KRI sebagai unsur kekuatan TNI AL.
Kolinlamil sampai saat ini masih diperkuat beberapa unsur kapal perang sejenis yang mendekati masa pengabdian sampai dengan 50 tahun, diantaranya Teluk Langsa-501, KRI Teluk Kau-504 dan Teluk Tomini-508. Kapal perang tersebut saat ini dalam tahap konservasi, dan tidak dilibatkan dalam kegiatan operasi.
Naval Aviation Combat Simulator (NACS) Puspenerbal
Fixed wing simulator (photo : Puspenerbal)Untuk mewujudkan keberhasilan misi Penerbangan TNI AL dan meningkatkan kemampuan personil dalam operasi maupun peperangan anti kapal selam Puspenerbal saat ini memiliki NACS (Naval Aviation Combat Simulator). Naval Aviation Combat Simulator (NACS) dibangun dan dikembangkan sebagai simulasi penerbangan sekaligus operasi taktis yang memiliki kemampuan peperangan laut meliputi peperangan permukaan atas air, peperangan bawah air dan udara.
Rotary wing simulator (photo : Puspenerbal)Fungsi dari NACS yaitu fasilitas simulasi sebagai sarana pelatihan taktik pertempuran laut yang melibatkan Fixed Wing, Rotari Wing, Surface Ship danSubmarine guna melaksanakan latihan tim dalam proses pengambilan keputusan taktis, koordinasi antara Crew pesawat udara maupun unsur dalam satu pertempuran laut, sebagai sarana latihan prosedur taktik peperangan AKPA, AKS peperangan elektronika, latihan navigasi dan juga sebagai sarana latihan komunikasi efektif secara realistis dalam bentuk tim meliputi unsur kapal (kapal atas air dan kapal selam), unsur udara (Fixed Wing dan Rotary Wing) serta latihan penerapan doktrin taktis yang berlaku. NACS sendiri memiliki kemampuan scenario kampanye militer dan perang tunggal atau kombinasi peperangan, Anti Submarine Warfare (ASW), Anti Surface Warfare (ASUW), Anti Air Warfare (AAW), Electronik Warfare (EW),Counter Measure (CM) dan Mine Counter Measure (MCM). Untuk dapat mencapai keberhasilan operasi dan keselamatan, maka Penerbangan TNI AL telah mengembangkan sarana latihan di darat dengan menggunakan simulasi berupa flight training device sistem dalam bentuk operasi taktis penerbangan TNI AL.

Surface ship and submarine simulator (photo : Puspenerbal)