Vietnam Navy Launched K122 Ships
Kabar Militer Indonesia, Update Info Militer Dunia dan Indonesia, Alutsista Militer, Alutsista Negara Indonesia, Alutsista TNI
JHSV for USNavy ships (photo : Austal)
In the period of 1997-2001, RAN leased high speed ferry catamaran as HMAS Jervis Bay AKR-45 (photo : Idris Welch)
KD Sri Tiga 331, kapal cepat pengangkut pasukan Malaysia (photo : TLDM)
Proses Pembangunan
Angkatan Laut Malaysia mempunyai 2 kapal cepat pengangkut pasukan (fast troop vessel) yang masing-masing diberi nama KD Sri Gaya 331 dan KD Sri Tiga 332.
Pembangunan kapal ini dilaukukan oleh BHI/Boustead Heavy Industries (dahulu PSC-NDSB/Penang Shipbuilding & Construction - Naval Dock Yard Sdn Bhd) dimulai pada tahun 1998, dan komisioning pada tahun 2001.
Kapal dengan biaya RM 16 juta ini semula merupakan kapal feri cepat untuk sebuah perusahaan jasa ferry local namun tidak diteruskan karena perlambatan ekonomi yang melanda Asia Tenggara. Order kemudian diubah menjadi kapal cepat pengangkut pasukan (FTV) untuk Angkatan Laut Malaysia/TLDM.
Dalam mengerjakan kapal ini, Boustead yang berada di Lumut, Perak sebelumnya mengerjakan perawatan dan perbaikan kapal-kapal TLDM. Kerjasama kemudian dilakukan dengan Wavemaster International sebuah perusahaan asal Australia yang biasa membuat kapal ferry aluminium baik lambung tunggal maupun lambung/hull ganda (double hull = catamaran).
BHI mempunyai 2 dok berukuran panjang 160m dengan lebar 30m yang memungkinkan untuk dapat membangun 2 kapal ini secara bersamaan. Dengan dibangun di Malaysia terjadi penghematan 10-12 persen pada biaya pembangunan kapal ini.
Di BHI kapal dibangun dengan tenaga dan konten lokal, modifikasi oleh TLDM dilakukan dengan memperkuat struktur kapal untuk operasi militer dan kemudahan bermanuver di perairan yang dangkal.
Kedua kapal ini ditempatkan di Labuan, masuk ke jajaran skuadron 33 untuk melayani pergerakan pasukan yang cepat ke lokasi yang dibutuhkan dari Sabah dan Serawak.
Wavemaster International
Kapal ferry Wavemaster (photo : Sea Team Images)
KD Sri Gaya (photo : fnreng)Tenaga kapal ini diperoleh dari empat waterjet dan empat mesin, namun untuk menghemat bahan baker tidak semua waterjet harus dinyalakan.
Kecepatan kapal ini dapat mencapai 25-28 knot, suatu kecepatan yang terbilang tinggi untuk ukuran kapal angkut pasukan bagi militer.
Kapal yang mempunyai bobot max 116,5 ton ini mempunyai panjang 37,5 m dan lebar 7,2 m dengan kemampuan jelajah kapal ini mencapai 1000 km pada kecepatan 14 knot, kapal ini dapat membawa 32 pasukan bersenjata lengkap plus segala perlengkapannya. Untuk penggunaan ferry mampu membawa orang mendekati versi sipilnya.
Untuk membela diri kapal ini dilengkapi dengan senjata 20mm, bukan tidak mungkin persenjataannya akan ditambah mengingat fungsi strategis kapal ini.
Dengan design modular kapal ini dapat menjalankan multi fungsi : fast troop vessel, light logistic vessel 4x20 feet containers, general cargo, marine ambulance, diving platforms, dan patroli.
Spesifikasi Teknis
Tampak samping Sri Gaya class (image : Secure Malaysia)
Bobot penuh : 116.5 ton
Ukuran (meter) : 37.5 x 7.0 x 1.1 (panjang, lebar, draft)
Mesin : 4 MAN D2842 LE 408 diesel, 4 water-jets Hamilton 521
Kecepatan : 25-28 knot
Jangkauan : 1000 km pada kecepatan 40 knot
Awak : 8-9 orang
Kemampuan angkut militer : 32 pasukan + strores
Radar : Navigation radar Furuno, I-band.
(Defense Studies)
KRI Karang Unarang 985 (photo : Kaskus Militer)
HMAS Kanimbla (photo : Militaryphotos)
HMAS Manoora (photo : Wiki)
LPD ke-3 buatan PT. PAL (photo : PAL)
KD Lekiu frigat serbaguna milik TLDM (photo : A. Zainul)
Nomad N24 TNI-AL (photo : Jetphotos)Tujuh Nomad Sementara Tak Boleh Terbang
Terhalang kabut asap akibat kebakaran hutan, evakuasi pesawat diundur.
TNI AL memutuskan tidak mengoperasikan tujuh pesawat Nomad yang kondisinya masih laik terbang. Perintah diamanatkan Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno menyusul jatuhnya Nomad P-837 di Kecamatan Sekatak Bengarai, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, dua hari lalu.
"Diperintahkan tidak terbang sementara waktu," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa (8/9). Matra Laut memiliki 19 Nomad yang masih dapat dioperasionalkan. Tapi keterbatasan anggaran membuat hanya delapan unit yang saat ini dinyatakan sudah laik terbang, termasuk pesawat naas itu.
Iskandar mengatakan, saat ini tim investigasi TNI AL masih penyelidiki penyebab jatuhnya pesawat. Laporan awal pilot ke Tower Bandara Tarakan memang mengindikasikan adanya kerusakan mesin pada pesawat buatan Australia tahun 1982 itu.
Dari lokasi jatuhnya pesawat dilaporkan, proses evakuasi bangkai pesawat akhirnya diundur. Pasalnya, Bandara Juwata di Tarakan, Kaltim tengah diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan. Menurut Komandan Pangkalan TNI-AL (Danlanal) Tarakan, Letkol Laut (P) Bambang Irwanto, proses evakuasi Tim Salvage atau Search and Rescue (SAR) dari Armada RI Kawasan Timur (Armatim) yang berada di Surabaya, Jawa Timur seharusnya sudah mulai tiba di Tarakan Selasa (8/9). Evakuasi bangkai pesawat Nomad dijadwalkan Rabu (9/9), hari ini.
Nomad TNI-AL dalam suatu atraksi udara (photo : TNI-AL)
"Untuk menuju ke Sekatak melalui Tarakan. Karena kondisi bandara di Tarakan berkabut asap evakuasi terpaksa diundur," kata Irwanto kemarin. Proses evakuasi tim Salvage akan melalui perairan dengan menggunakan speed boat dari kota Tarakan menuju Sekatak, Bulungan.
Siaran pers Dinas Penerangan TNI AL menyatakan seluruh korban sembilan orang telah dievakuasi ke Tarakan oleh Satuan Tugas SAR, termasuk lima korban selamat. Mereka telah berada di Rumah Sakit TNI AL Tarakan untuk mendapatkan perawatan intensif. Empat korban meninggal dalam proses penyerahan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Di Istana Negara, Presiden SBY menyampaikan bela sungkawa atas tewasnya empat penumpang sipil dalam peristiwa jatuhnya pesawat intai TNI Angkatan
Laut di Sungai Sukun Mentadan, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan,
Kalimantan Timur, Senin (7/9) siang. n Rusli/Rizky Andriati Pohan/Adhitya Cahya Utama
(Jurnal Nasional)
Bunga Mas Lima saat diluncurkan (photo : Militaryphotos)
Bunga Mas Lima akan memulai perjalanannya (photo : Militaryphotos)
Bunga Mas Lima akan diikutkan dalam Operasi Fajar di Teluk Aden (photo : Militaryphotos)"Pada hakikatnya, konsep kapal auxiliary TLDM bukan suatu perkara baru dan ia telah wujud sejak perang dunia yang pertama. Sejarah Malaysia telah menunjukkan bahawa semasa perang dunia yang kedua, kesemua kapal-kapal dagang yang dimiliki oleh Tanah Melayu pada ketika itu, Singapura dan Hong Kong telah diubahsuai ke kapal dagang bersenjata melalui pewartaan authority of shipping di antara pihak admirality dan Kementerian Pengangkutan di London," katanya.
Abdul Aziz berkata, konsep kerjasama antara TLDM dan syarikat perkapalan negara yang wujud sejak sekian lama ini masih lagi diteruskan oleh kebanyakan negara membangun terutamanya negara-negara kuasa besar maritim.
Makassar class-landing platform dock (photo : Kaskus Militer)
KRI Tanjung Nusanive (973) eks KM kambuna (photo : TNI-AL)