Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Pertemuan Wamenhan dengan Kuasa Usaha Perancis untuk Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Hubungan antara Indonesia dan Perancis telah berlangsung secara intensif, ditandai dengan saling mengunjungi antar pejabat kedua negara yang terkait dengan pengawasan dalam memodenisasi alutsista yang diproduksi Perancis. 

Hal tersebut diungkapkan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (7/9) saat menerima kunjungan Kuasa Usaha Perancis untuk Indonesia Mr. Stepahane Baumgart yang didampingi Atase Pertahanan (Athan) Perancis untuk Indonesia, di kantor Kemhan Jakarta. 

Dalam pertemuan tersebut, Wamenhan menjelaskan dalam kunjungannya ke Perancis nanti yang akan berlangsung dalam waktu dekat akan dibicarakan berbagai hal, diantaranya membicarakan kebijakan Indonesia dan target yang ingin dicapai. Selain itu juga direncanakan tim Kemhan akan mengunjungi pabrik di Perancis dan memonitor kerjasama pertahanan dalam hubungannya dengan industri pertahanan. Untuk itu Wamenhan berharap Kedutaan dan Athan dapat memantau perkembangan dan kemajuan kerjasama pertahanan tersebut.

Diungkapkan Wamenhan dalam perayaan Hari TNI 5 Oktober nanti akan di pertunjukan alutsista produksi Perancis sebagai kontribusi pemerintah Perancis dalam memodernisasi alutsista Indonesia. Untuk itu diharapkan Dubes Perancis bersama-sama dengan rakyat Indonesia dapat melihat produk-produk andalan Perancis pada HUT TNI nanti di Jakarta.

Turut hadir mendampingi Wamenhan dalam pertemuan singkat tersebut yaitu Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabadan Ranahan) Kemhan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, S.Ip, Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan (Dirjen Renhan) Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Kepala Pusat Pengadaan Baranahan Kemhan Marsma TNI Asep Sumaruddin, M.Sc.


Ditempat Yang Sama hari Sebelumnya Wamenhan Menerima Kunjungan Dubes Spanyol Untuk Indonesia

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kamis (6/9), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia HE Rafael Conde, di Kantor Kemhan, Jakarta. Kunjungan Dubes Spanyol untuk Indonesia kali ini adalah untuk meningkatkan kerjasama pertahanan kedua negara.  


Sumber : DMC

Perancis Obral Alutsista Dan ToT Ke Indonesia

rafale Last Tango in ParisBJKGR-(IDB) : Perancis datang ke Indonesia di saat yang tepat, akan tetapi sekaligus memberikan pilihan yang sulit. Negara pembuat Frigate La Fayette ini tiba tiba saja menawarkan transfer teknologi, untuk berbagai jenis mesin perang. Perancis seolah-olah tahu, Indonesia sedang “mumet” dengan urusan Transfer of Technology (ToT) yang beberapa kali “dikerjai” oleh negara yang diajak bekerjasama.

Dua tawaran yang disorong oleh Perancis adalah transfer teknologi untuk meriam kelas berat Caesar 155mm, jika Indonesia membeli dalam jumlah besar. Tawaran berikutnya yang menggiurkan adalah penjualan mesin pesawat tempur untuk Indonesian fighter jets experiment (IFX), jika Indonesia bersedia membeli pesawat Rafale.

IFX tampaknya harga mati yang dipatok oleh pemerintah untuk membuat lompatan teknologi di tanah air yang sudah lama terhenti. Pemerintah sangat percaya diri dengan pembangunan IFX, karena Indonesia cukup maju di teknologi dirgantara. 

Jika proyek IFX ingin berjalan mulus, TNI AU tampaknya harus berpaling dari rencana ke depan yang ingin membeli Sukhoi SU-35, ditukar dengan Rafale Perancis.

rafale1 Last Tango in Paris
Jet Tempur Rafale Perancis
Hingga kini belum ada negara asing yang membeli jet tempur Rafale, sehingga Perancis harus menambahkan opsi ToT, agar jet tempurnya dibeli orang. Pola pembelian alutsista plus ToT sudah dilakukan Indonesia untuk Panser Anoa dan Ranpur Sherpa. 
 
Persoalan lain bagi Indonesia sekaligus peluang bagi Perancis, adalah pembangunan 3 kapal selam Changbogo Indonesia, oleh Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan meminta uang 300 juta USD, jika Indonesia menginginkan transfer teknologi dari kapal selam tersebut.

Kalau klausal itu tidak dipenuhi, maka pengorbanan membeli tiga kapal selam kelas “anjing kampung” yang bergerak sangat lamban akan menjadi sia-sia. Untuk apa membeli kapal selam seperti itu, jika tidak disertai Transfer of Technologi.

Tapi apakah Indonesia yang uangnya pas-pasan mau merogoh kocek tambahan 300 juta USD, demi mendapatkan ToT kapal selam Changbogo ?. Godaannya adalah, dari pada menambah uang 300 juta USD, lebih baik dibelikan kapal selam Kilo Class Rusia.

Kemampuan tempur kapal selam Kilo Class, tidak perlu diperdebatkan lagi. Negara Barat saja menyebutnya sebagai lubang hitam (Black-Hole), bagi sistem pertahanan mereka.

Namun untuk mendapatkan Kilo Class, bukan perkara gampang, karena pengadaan alutsista harus disertai ToT, seperti yang diamanatkan Presiden SBY. Sementara kita semua tahu untuk urusan ToT, Rusia sangat “pelit”, terutama bagi negara non-sekutu lama mereka.

Di sinilah posisi Perancis menjadi penting. Perancis menawarkan penjualan kapal Selam sekaligus dengan ToT-nya kepada Indonesia.

“Kalau ingin membeli kapal selam yang bagus, jangan ke Korea yang “KW2″, beli langsung ke pembuatnya, seperti kami”, ujar salah seorang pejabat Perancis.

MalaysiaSub Last Tango in Paris
Scorpene Class Perancis, Milik Malaysia
Di tengah krisis Eropa saat ini, Perancis tidak terlalu perduli untuk membatasi transfer teknologi militer konvensional. 
 
Bahkan Perancis pun menawarkan penjualan rudal konvensional tercanggihnya Exocet MM40 Block III. Padahal sebelum krisis Eropa, untuk mendapatkan Exocet MM-40, Indonesia sangat kesulitan dan dihadapkan pada jalan yang berliku.
 
“Tuan….barang dagangan sudah digelar. Now…..make your Choice !”, mungkin begitulah yang disampaikan pejabat militer Perancis yang sudah tahu masalah yang dihadapi para Petinggi TNI dan Kemenhan.

Selain munculnya masalah dalam pembelian kapal selam Changbogo, pengadaan Light Frigate Sigma 10514 juga masih menyimpan persoalan.

Anggota Komisi 1 DPR, berniat menyoal pembelian Sigma 10514, karena tidak disertai dengan ToT yang diharapkan. Wakil Ketua Komisi 1 DPR, TB Hasanuddin, mempertanyakan mengapa Orrizonte Fincantieri Mosiaic Italia tidak jadi dibeli, padahal Italia bersedia melakukan ToT 25 %.

Di tengah persoalan itu, Perancis bisa menyambung ucapannya lagi. “Bagaimana tuan-tuan…?. Mau mencoba frigate La Fayette yang telah dilengkapi teknologi Stealth ?”, ujarnya sambil bersenandung lagu last tango in paris.

Tampaknya kecil kemungkinan bagi Indonesia membatalkan pembelian Sigma 10514 Belanda karena telah menandatangani kontrak. Kecuali mau membatalkan pembelian 3 korvet Nakhoda Ragam Class ex Brunei Darussalam, ditukar dengan Frigate La Fayette, berikut ToT-nya.

la fayette f 710 02 Last Tango in Paris
Frigate La Fayette Perancis
Pilihan yang sulit karena TNI AL harus mengejar kuantitas MEF (minimum essensial Force) 2014.
 
Tampaknya langkah Malaysia berpartner dengan Perancis untuk urusan kapal laut sudah tepat. Mereka memesan kapal Selam Scorpene Class ke Perancis. 

Dan kini Malaysia juga memesan 6 Light Frigat Gowind Class ke Perancis dengan imbalan ToT. Bahkan Gowind Class kedepannya akan dibangun di Malaysia.

Langkah yang diambil oleh Angkatan Laut Malaysia, terukur dan tepat sasaran.

Berbicara tentang ToT, kini Angkatan Darat terus melaju dengan pembangunan Rudal Nasional yang diharapkan memiliki jangkauan tembak di atas 100 km pada tahun 2014. Targetnya adalah peluru kendali dengan jarak tembak 300 – 500 Km. 

Begitu pula dengan TNI AU melaju dengan proyek IFX dan diharapkan 6 prototype IFX rampung pada tahun 2013.


Sumber : JKGR

AL Perancis Memodernisasi Armada Rafale

PARIS-(IDB) : Dinas perawatan dan perbaikan sarana militer Perancis (SIAe) dilaporkan telah memulai pekerjaan memodernisasi 10 pesawat Rafale-M, yang dioperasikan Angkatan Laut Perancis. Pesawat-pesawat tersebut akan ditingkatkan kemampuannya untuk memenuhi standar F3 (France 3).

Demikian diungkapkan majalah pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 2 Mei 2012. Menurut JDW, pengerjaan modernisasi itu dilakukan di fasilitas L'Atelier Industriel de L'Aeronautique (AIA) di Clermont-Ferrand, Perancis, sejak 23 April.

Kesepuluh pesawat tersebut adalah pesawat-pesawat Rafale pertama yang dikirim ke AL Perancis pada tahun 2000-an, dan masih memiliki spesifikasi F1. Dengan biaya 300 juta euro, pesawat-pesawat ini akan di-upgrade menjadi standar F3.

Dengan standar spesifikasi baru ini, Rafale tersebut akan mampu menjalankan misi pertempuran antikapal permukaan (ASuW) dengan rudal antikapal Exocet MBDA AM39 (Block 2 Mod 2) dan misi pengintaian dengan modul pengintai Thales Reco-NG.

Selain itu, Rafale standar F3 ini juga akan memiliki kemampuan serang nuklir dengan membawa rudal ASMP-A (Air-Sol Moyenne Portee-Ameliore). Proses modernisasi akan berlangsung sampai tahun 2012-2017. 

Sumber : Kompas

Perancis Sesalkan Keputusan Inggris Pilih F-35B

PARIS-(IDB) : Pemerintah Perancis, Jumat (11/5/2012), menyesalkan keputusan Inggris memilih varian pesawat F-35B untuk melengkapi kapal induk terbarunya.

Keputusan itu memengaruhi interoperabilitas kapal induk Perancis dan Inggris sehingga mengancam kerja sama militer kedua negara di masa depan.

"Pilihan ini mengancam akan membatasi kerja sama penerbangan angkatan laut kedua negara, yang tentu saja kami sesalkan," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Perancis, Bernard Valero.

Keputusan Inggris tersebut diumumkan hari Kamis (10/5/2012) dengan alasan penghematan anggaran. Sebelumnya, Inggris berencana membeli varian F-35C, yakni varian pesawat F-35 Lightning II buatan AS yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat di kapal induk secara konvensional.

Dengan F-35C, Inggris perlu melengkapi kapal induknya dengan pelontar (ketapel) hidrolis dan kabel penahan untuk membantu pengereman pesawat saat mendarat, seperti yang dimiliki kapal-kapal induk Amerika Serikat. Tentu saja, perangkat itu harganya mahal.

Sementara dengan F-35B, yang berkemampuan unik mampu mendarat secara vertikal dan lepas landas dari landasan pendek (short take-off and vertical landing/STOVL), Inggris tak perlu melengkapi kapal induknya dengan pelontar dan kabel penahan. Artinya, biaya pembangunannya akan lebih hemat.

Masalahnya, dengan hilangnya dua perangkat itu dari kapal induk Inggris, pesawat-pesawat Perancis tak akan bisa beroperasi dari kapal Inggris. Pasalnya, Perancis masih mengandalkan pesawat tempur Dassault Rafale-M untuk melengkapi kapal induknya. Rafale-M, seperti F-35C, membutuhkan sistem pelontar dan kabel penahan untuk beroperasi dari kapal induk.

Padahal, kedua negara sepakat pada 2010 untuk bisa saling beroperasi di kapal induk masing-masing. Inggris saat ini sedang membuat dua kapal induk baru untuk memperkuat angkatan lautnya. 

Sumber : Kompas

Kapal Perang AL Prancis Mampir di Makassar

Sejumlah awak Kapal perang Perancis jenis Fregat, FNS Vendemiaire F743 di sambut tarian tradisional saat bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Kamis (26/4). (Foto: TEMPO/iqbal Lubis)

26 April 2012, Makassar: Kapal Perang Angkatan Laut Prancis Frigate Vandemiare F-734 merapat di Pelabuhan Hatta, Makassar, Kamis (26/4). Kapal yang dikomandani Commander Stanislasdes Chargeres ini merupakan kapal perang kelas frigate buatan Chantiers de I'Atlantique 1992 dengan panjang 93,5 meter bobot 2.600 ton dengan jumlah anak buah kapal 89 orang.

Kapal ini sebelumnya berangkat dari pelabuhan Malaysia. Frigate Vandemiare akan berada di Makassar empat hari dan menggelar sejumlah kegiatan dengan bertemu anggota Lantamal VI, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintah Provinsi Sulsel, dan Kodam VII/Wirabuana. Bahkan, mereka juga akan mengunjungi sejumlah tempat wisata. "Kami juga akan menggelar laga sepakbola persahabatan dengan Lantamal VII dan nantinya akan menggelar latihan perang bersama AL Indonesia di Jakarta.

Ini sesuai dengan kesepakatan kerja sama Indonesia dengan Prancis dalam bidang militer saat kunjungan Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin di Prancis dua bulan lalu," terang Stanislasdes, Kamis. Selama berada di Makassar, AL Perancis juga memberi kesempatan bagi mahasiswa dan pelajar untuk melihat-lihat isi kapal perangnya tersebut pada Sabtu (28/4) dengan menggelar open ship.

Sumber: MICOM

Kapal Perang Perancis Frigate Vandemiare Singgah di Makassar


24 April 2012, Makassar: Seorang pasukan marinir TNI AL, berjaga-jaga di dekat kapal perang Frigate Vandemiare F. 734 milik angkatan laut Perancis saat sandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Sulsel, Kamis (26/4). Kapal perang kapal Frigate Vandemiare F. 734 yang membawa 89 ABK tersebut akan melakukan kunjungan di Makassar selama 26-30 April 2012 dan selanjutnya akan melakukan kunjungan ke Timor Leste dan Australia. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/ed/nz/12)

Kapal perang Perancis jenis Fregat, FNS Vendemiaire F743 di sambut tarian tradisional saat bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Kamis (26/4). (Foto: TEMPO/iqbal Lubis)

Kapal perang Perancis jenis Fregat, FNS Vendemiaire F743 bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Kamis (26/4). Kedatangan kapal tersebut dalam rangka kunjungan persahabatan antara AL Perancis dengan TNI AL selama 4 hari.(Foto: TEMPO/iqbal Lubis)

Kapal perang Perancis jenis Fregat, FNS Vendemiaire F743 di sambut tarian tradisional saat bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Kamis (26/4). (Foto: TEMPO/iqbal Lubis)

Indonesia Perancis Harapkan Perluas Kerjasama Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kamis (5/4), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Perancis untuk Indonesia Mr. Bertrand Lortholary di Kantor Kemhan, Jakarta. Kunjungan Dubes Perancis ini merupakan kunjungannya pertama kali kepada Menhan karena sebagai Duta Besar Perancis untuk Indonesia yang baru, dirinya baru beberapa minggu berada di Jakarta.

Dijelaskan oleh Dubes Perancis untuk Indonesia bahwa saat ini kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Perancis berjalan sangat erat lebih dari beberapa tahun yang lalu. Dan kedua negara juga senantiasa melihat kemungkinan untuk memperdalam dan memperluas cakupan dalam hal kerjasama pertahanan.  Pada 29 Februari lalu juga telah ditandatangani kerjasama teknis antara Kementerian Pertahanan RI dengan Perancis yang merupakan langkah yang cukup besar dalam peningkatan kerjasama pertahanan kedua negara. 

Dubes Perancis melanjutkan bahwa saat ini kesadaran untuk membangun kerjasama lebih erat diantara kedua negara termasukd alam bidang pertahanan sangat disadari oleh pengambil keputusan di Perancis. Karena itulah dirinya mengharapkan diadakannya pertemuan-pertemuan antara kedua petinggi di bidang pertahanan di masa mendatang untuk mempererat kerjasama tersebut.

Menhan Purnomo Yusgiantoro berharap hubungan kerjasama kedua negara ini dapat lebih dikukuhkan dengan memperluas cakupan kegiatan dalam hal kerjasama pertahanan termasuk di bidang pendidikan. Dubes Perancis juga mengundang Menhan Purnomo Yusgiantoro untuk datang ke Perancis menghadiri Army Show yang akan diadakan pada tanggal 11 – 15 Juni 2012.

Saat menerima Dubes Perancis untuk Indonesia, Menhan Purnomo Yusgiantoro didampingi Staf Ahli Menhan Bidang Ekonomi Dr Ir Eddy Herjanto SE, M.Sc, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin dan Kepala Biro TU Setjen Kemhan Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto, MA.

Sumber : DMC

Mirage 2000D Perancis Gantikan F-1CR ELINT Pada 2014

PARIS-(IDB) : Angkatan Udara Perancis tegas akan memensiunkan F-1CR dan mengganti peran mereka dengan F-2000D. Sebagai bagian dari program ini, adalah Thales yang diberi kontrak menerapkan pod elektronika taktis pengintaian ASTAC di pesawat tempur buatan Dassault itu.

Situs defense update, Jumat, menyatakan, proses ini paripurna pada 2014, saat F-1CR sudah purnawira dari jajaran dinas aktif pesawat-pesawat tempur Perancis.

Pod ASTAC ((Analyseur de Signaux TACtiques) dirancang bisa ditempatkan di tubuh (fuselage) F-4 Phantom, Mirage F1, dan Mirage 2000. Perangkat perang elektronika ini didedikasikan sebagai perangkat intelijen elektronika (ELINT) dan memiliki kemampuan pengintaian udara ke udara atau udara ke darat.

Termasuk di dalamnya adalah memonitor situasi seluruh medan pertempuran dan mengeluarkan perintah elektronika terhadap pertempuran yang dihadapi.

Kontrak kepada Thales itu meliputi seluruh modifikasi yang diperlukan untuk menjembatani pod ASTAC dengan Mirage 2000D, termasuk mengadaptasikan pijakan dan penentuan sistem penangkalan yang ditempatkan di pod.

ASTAC dirancang untuk bisa beroperasi dalam lingkungan jenuh medan magnet pancaran perang elektronika, menawarkan penentuan arah dan jarak secara sangat presisi dan pemakaian sistem algorietma sangat canggih guna menentukan lokasi pemancar sinyal elektronika yang bisa dijerap.

Parameter pokok sumber sinyal diukur dengan seluruh lingkungan elektromagnetik tinggi. Tahun-tahun belakangan ini Angkatan Udara Perancis memakai ASTAC dalam berbagai operasi di theater perang, di antara yang paling mutakhir adalah di Libia, saat F-1CR Perancis membuka serangan dalam Operasi Hamattan. 

Sumber : Antara

Inggris Perancis Perkuat Kerja Sama Industri Militer

PARIS-(IDB) : Inggris dan Perancis sepakat meningkatkan kerja sama di bidang industri militer untuk mempertahankan kekuatan sekaligus menghemat anggaran masing-masing. Beberapa sektor industri pertahanan yang akan mereka garap bersama, antara lain, pengembangan pesawat tak berawak, kapal induk, dan nuklir.

Kesepakatan tersebut tercapai dalam pembicaraan antara Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris David Cameron di Paris, Perancis, Jumat (17/2/2012). Dalam pertemuan tersebut, perusahaan-perusahaan pertahanan dari kedua negara menandatangani kontrak senilai 500 juta poundsterling (Rp 7,1 triliun) untuk membangun reaktor nuklir di Inggris dengan menggunakan teknologi Perancis.

Perusahaan penerbangan Dassault dari Perancis dan BAE Systems dari Inggris juga diminta untuk bekerja sama dalam proyek pesawat tak berawak atau drone MALE (medium altitude long-endurance) dan satu proyek pesawat tempur tak berawak (UCAV). MALE diproyeksikan akan beroperasi pada 2020, sementara program pesawat tempur tak berawak diharapkan rampung pada 2030.

Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, kedua negara sudah menunda kerja sama dalam pembuatan kapal selam, tetapi tetap melanjutkan proyek bersama membangun kapal induk yang juga akan dioperasikan kedua negara pada 2020. 

Sumber : Kompas

Kapal Perang Inggris Prancis Bergabung Dengan Armada Amerika di Selat Hormuz

JAKARTA-(IDB) : Kapal-kapal Inggris dan Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS dalam armada enam kapal perang yang melewati perairan sensitif Selat Hormuz, kata Departemen Pertahanan Inggris Minggu.

Kementerian itu mengatakan, satu kapal Angkatan Laut Kerajaan, HMS Argyll, merupakan bagian dari kelompok kapal induk yang dipimpin

Amerika Serikat berlayar melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah mengancam untuk menutup setelah tindakan Barat menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas program nuklir Teheran.

Seorang juru bicara mengatakan: "HMS Argyll dan satu kapal Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS transit melalui Selat Hormuz, untuk menggarisbawahi komitmen internasional tak tergoyahkan mereka dalam mempertahankan hak-hak berdasarkan hukum internasional."

Ia mengatakan Inggris mempertahankan "kehadiran terus -menerus di wilayah itu sebagai bagian dari kontribusi abadi kita untuk keamanan Teluk".

Kapal perang Inggris telah berpatroli di Teluk terus menerus sejak tahun 1980-an.

Selat Hormuz adalah rute transit utama untuk pasokan minyak global.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels pada Senin yang diperkirakan setuju terhadap pemberian sanksi kepada Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, namun Teheran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan damai.

Sumber : Antara

Perancis Akan Hentikan Produksi Rafale

PARIS-(IDB) ; Pemerintah Perancis memutuskan akan menghentikan produksi pesawat tempur Rafale apabila pihak pabrikan pesawat itu, Dassault Aviation, gagal menjual pesawat ini ke luar negeri. Produksi hanya akan dilanjutkan untuk menyelesaikan pesanan Angkatan Bersenjata Perancis.

"Jika Dassault tidak bisa menjual Rafale ke luar negeri, produksinya akan dihentikan," tandas Menteri Pertahanan Gerard Longuet kepada wartawan di Paris, Rabu (7/12/2011).

Menurut Longuet, produksi akan dihentikan begitu pesanan 180 pesawat dari Angkatan Bersenjata Perancis selesai dibuat pada 2018.

Pesawat bersayap delta, yang dibanggakan Perancis sebagai pesawat tempur canggih itu, belum satu pun terjual di luar negeri sejak pertama kali dioperasikan pada 1998. Saat ini, Rafale sedang bersaing dengan pesawat Eurofighter Typhoon buatan untuk memenangi kontrak pembelian 126 pesawat tempur multiperan menengah dari AU India.

Longuet mengatakan, pihaknya masih berunding alot dengan pihak Uni Emirat Arab (UEA), yang berencana membeli 60 pesawat generasi 4,5 ini. Namun, pihak UEA bulan lalu mengatakan penawaran dari Perancis ini tidak kompetitif dan memilih melirik Typhoon serta beberapa tawaran produk lain dari AS.

Bocoran kawat diplomatik rahasia AS yang dimuat WikiLeaks pada 2010 menyebutkan, Raja Hamad dari Bahrain pernah mengejek Rafale sebagai pesawat dengan "teknologi masa lalu".

Rafale juga tidak beruntung di Swiss, yang lebih memilih membeli pesawat Saab Gripen buatan Swedia untuk menggantikan armada angkatan udaranya yang sudah mulai menua.

Saat ditanya mengapa Rafale susah laku di luar negeri, Longuet mengakui, harga Rafale lebih mahal dibanding pesawat setara dari AS, karena diproduksi dengan jumlah jauh lebih sedikit daripada pesawat buatan AS. "Saat kami memesan 200 pesawat Rafale untuk program 10 tahun hingga 15 tahun, AS memproduksi 3.000 pesawat," ungkap Longuet.

Rafale dibangun oleh tiga kontaktor utama, yakni Dassault, perusahaan elektronik Thales, dan produsen mesin Snecma. Namun, secara keseluruan, proyek pengembangan Rafale yang sudah menelan biaya total 40 miliar euro (Rp 485,6 triliun) itu, melibatkan lebih dari 1.500 perusahaan Perancis.

Rafale, yang dijuluki sebagai pesawat "omnirole" (mahabisa) oleh pembuatnya, turut terlibat dalam operasi udara di Afganistan dan Libya, sehingga dilabeli "combat proven" (teruji dalam pertempuran) di laman resminya.

Pesawat ini dibuat dalam tiga varian, yakni Rafale C (berkursi tunggal, dioperasikan dari pangkalan darat), Rafale B (berkursi tandem, dioperasikan dari pangkalan darat), dan Rafale M (berkursi tunggal, dioperasikan dari kapal induk). 

Sumber : Kompas

Menlu Perancis: Serangan ke Iran Harus Dihindari

PARIS-(IDB) : Menteri Luar Negeri Perancis, Alain Juppe memperingatkan bahwa serangan militer terhadap Iran atas program nuklirnya dapat "benar-benar mengacaukan" Timur Tengah.
 
Hal itu dikemukakan Juppe kepada radio Europe 1 Ahad (6/11) seraya menegaskan bahwa "intervensi militer dapat menimbulkan kekacauan secara luas di kawasan."
 
Ditambahkannya bahwa sanksi terhadap Iran harus ditingkatkan dan "segala upaya harus dilakukan" guna menghindari agresi terhadap Republik Islam.
 
"Kami telah memberlakukan sanksi yang terus meluas, kami dapat meningkatkan tekanan terhadap Iran," katanya.
 
Ditegaskannya, "Kami akan terus melanjutkan jalan ini karena intervensi militer bisa menciptakan situasi yang benar-benar kacau di kawasan. Semuanya harus dilakukan guna menghindari [hal-hal] keterlanjuran."
 
Jumat (4/11) Presiden Israel Shimon Peres menyatakan bahwa kemungkinan serangan ke Iran semakin menguat.
 
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu kepada Knesset Senin pekan lalu berupaya menggalang dukungan bagi serangan militer terhadap Iran.
 
Didukung oleh Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, dan Menteri Luar Negeri, Avigdor Lieberman, Netanyahu menyatakan bahwa Israel harus terus mendorong Barat memberlakukan tekanan ekonomi dan politik lebih hebat terhadap Iran.
 
Dikatakannya pula bahwa setiap aksi anti-Iran harus dilakukan dengan koordinasi penuh Amerika Serikat.
 
Israel, yang memiliki lebih dari 300 hulu ledak nuklir, bersama dengan AS menuding Tehran mengacu pada produksi senjata destruksi massal dalam program nuklirnya.
 
Menyusul tekanan AS dan Israel, Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan empat putaran sanksi terhadap Iran.

Sumber : Irib

Prancis Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Denga Indonesia

PARIS-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin mengakui Prancis sangat bersemangat dalam meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Indonesia

"Prancis siap menandatangani kesepakatan antara kedua Menteri Pertahanan pada bulan November," ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai mengadakan pertemuan dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis, Marc Laffineur, di London, Minggu .

Dalam pertemuan dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis Marc Laffineur, Wamenhan didampingi Kepala Badan Sarana pertahanan Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Asisten Perencanaan dan Anggaran Angkatan Udara Marsda TNI Rodi Suprasodjo dan Atase Pertahanan KBRI Paris Kolonel PNB Erwin B Utama.

Kunjungan mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan itu ke Prancis adalah dalam rangkaian kunjungan kerjanya di tiga kota Berlin, Madrid dan Paris dalam upaya memantapkan kerja sama pertahanan dengan ketiga negara Eropa, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol selama seminggu dari tanggal 12 hingga 18 September 2011.

Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa latar belakang kunjungannya ke tiga negara khususnya ke Prancis adalah menindaklanjuti dari kunjungan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy ke Indonesia tahun 2009 dan Perdana Menteri Perancis Francois Fillion.

Menurut Sjafrie Sjamsoeddin, kunjungannya ke Paris intinya adalah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Prancis dan memastikan konsep dari kesepakatan yang dilakukan antara kedua kepala negara dalam Partnership Cooperation Agreement dalam waktu dekat bisa ditandatangani antara Menteri Pertahanan kedua negara.

Tidak Bisa Bertemu Langsung

Dikatakannya hal itu menjadi pembahasannya dengan Marc Laffineur, yang berlangsung pada Minggu pagi, yang dalam pertemuannya itu Menteri Pertahanan Prancis tidak bisa bertemu langsung dengannya menulis surat pribadi untuk Sjafrie Sjamsoeddin, dan menyampaikan pesan agar kesepakatan itu bisa segera terlaksana.

Dari hasil pertemuan antara Wamenhan dengan Marc Laffineur, yang dilakukan pada hari libur, Minggu disepakati dokumen perjanjian kerja sama dapat dilakukan pada bulan November 2011.

Wamenhan menghargai kesungguhan dari pihak Prancis yang bersedia menerima rombongan dari Indonesia meskipun pada saat hari libur, Minggu sekalipun. Hal ini memberikan arti bahwa Prancis menilai hubungan pertahananya dengan Indonesia sangat penting, ujar mantan Panglima Kodam Jakarta Raya .

Menurut mantan pengawal pribadi Presiden Soeharto, hasil dari pertemuan itu ada lima bagian yang mendapat penekanan penting yaitu dalam dokumen kesepakatan yang akan ditandatangani tersebut yaitu dialog strategi pertahanan, "exchange intelligent", "capacity building", "peacekeeping" dan "defence industry".

Sjafrie Sjamsoeddin yang ikut dalam operasi Flamboyan di Timor Timur mengatakan kelima poin tersebut menjadi substansi dari kesepakatan yang akan ditindaklanjuti diantara kedua Negara yang mendapat respon positif dari Menteri Muda Pertahanan Perancis melalui suratnya.

Dalam pembahasan kesepakatan kerja sama pertahanan Defence Cooperation Agreement/DCA antara Prancis dan Indonesia itu disepakati untuk mengikutsertakan pihak swasta seperti dari Indonesia seperti PT Pindad , perusahaan Industri Manufaktur Indonesia yang bergerak dalam bidang Produk Militer dan Produk Komersial serta PT. Dirgantara Indonesia (PTDI).

Menurut mantan Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI , kehadiran Dirut PT Pindad dan PTDI dalam kunjungannya ke tiga Negara di Eropa itu juga dalam rangkaian modernisasi peralatan militer Indonesia.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menginginkan agar peralatan militer Indonesia perlu diperbaharui dalam rangka memenuhi kebutuhan modernisasi.

Untuk itu pemerintah meningkatkan anggaran pertahanan dalam upaya modernisasi, tidak luput dari ketelitian manajemen dan kecermatan serta pembelian berbagai alat dengan tepat guna dan sesuai dengan sasaran dan kebutuhan TNI.

Mengenai arah kebijaksanaan industry pertahanan Indonesia, Kepala Staf Garnisun I DKI Jakarta mengatakan kebijaksanaan industri pertahanan Indonesia diharapkan akan menuju kemandirian sehingga perlu dilakukan berbagai langkah diantaranya transfer teknologi dengan melibatkan industri pertahanan yang saling menguntungkan baik dalam skala menengah yang didukung industri dalam dan luar negeri.

Menurut mantan Panglima Kodam Jakarta Raya, banyak negara mengakui keunggulan produk pertahanan Indonesia dan bahkan saat kunjungannya ke Airbus Militery di Sevilla, Spanyol , disebutkan bahwa saat ia menyaksikan perusahaan itu menyelesaikan berbagai pesanan banyak komponen pesawat yang dibuat di Airbus tersebut sekitar 40 sampai 60 persen diproduksi Indonesia.

Bahkan untuk CN 212, selain mesin, hampir 100 persen mengunakan suku cadang yang diproduksi oleh PTDI di Bandung. Ia menyatakan bangga suku cadang Indonesia digunakan oleh berbagai Negara dalam memproduksi pesawat semacam CN 235, NC295 dan CN212.

"Saya merasa bangga dan sebagai bangsa Indonesia meliat produki komponen yang diproduksi oleh perusahaan dari dalam negeri digunakan untuk membuat pesawat yang dilakukan Airbus itu merupakan suatu kehormatan dan membuat martabat kita meningkat," demikian Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Sumber: Antara

Indonesia Jajaki Kerja Sama Pertahanan Dengan Jerman dan Prancis

PARIS-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menjajaki kerja sama bidang pertahanan dengan tiga negara Eropa yaitu Jerman, Prancis, dan Spanyol untuk kepentingan produksi dan pemasaran bersama beberapa persenjataan.

"Jumat (16/9), Wamenhan dan rombongan berkunjung ke perusahaan Eurocopter Group, perusahaan manufaktur helikopter yang terbesar di industri turbin helikopter di kota Marseille," ujar Atase Pertahanan KBRI Paris Kolonel Erwin Buana Utama, Sabtu (17/9).

Kantor pusat perusahaan itu terletak di milik Marseille-Provence Bandara Internasional di Marignane, Prancis, dekat Marseille yang memiliki fasilitas utama Eurocopter di kantor pusat grup itu di Marignane dan Eurocopter Deutschland GmbH di Donauworth, Jerman serta Eurocopter Espa'a di Albacete, Spanyol.

Dalam kunjungan kerja di Prancis dari tanggal 16 hingga 18 September, Wamenhan RI dijadwalkan bertemu dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis dan mengadakan pertemuan dengan CEO Mistral MBDA dan kunjungan ke Nexter (Meriam 155) di Canjeur.

Sebelumnya, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakasad Letjen TNI Budiman dan Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Puguh Santoso mengunjungi test range pabrik senjata Heckler and Koch di Oberndorf, dekat Stuttgart, Jerman.

Sebelum ke Prancis, Wamenhan didampingi Dirut PT Pindad, Adik Avianto S dan Dirut PTDI Budi Santoso dan Dirut Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq mengadakan kunjungan ke Airbus Military di Spanyol dan menghadiri jamuan makan malam dengan Presiden Airbus Military. 

FREMM Frigate Aquitaine Completes Second Series of Sea Trials

PARIS-(IDB) : First-of-class FREMM multi-mission frigate Aquitaine returned to DCNS’s Lorient shipyard after completing three weeks of sea trials on schedule. The trials and tests carried out by DCNS specialists demonstrated the satisfactory performance of all combat system sensors and confirmed that everything is on course for the ship’s delivery to the French Navy in 2012.

The trials were conducted off Groix island in the Bay of Biscay. The joint crew comprising French Navy personnel, customer representatives and DCNS employees tested the performance of the combat system sensors including radars, hull-mounted and towed-array sonars and the infrared search & track (IRST) system.

“Like the first trials, this second series yielded excellent results. This time the focus was on the ship’s combat system sensors. The results demonstrate the quality of DCNS’s integration of these sophisticated systems. All tests went as planned, further confirming the quality of the Aquitaine’s design and construction, said FREMM programme manager Vincent Martinot-Lagarde. “The first trials, in April, demonstrated the ship’s seakeeping and were very well received.”

Day and night, test followed test at a sustained pace. Highlights included the recording of the first radar tracks and the first IRST images as well as the first deployment of the towed-array sonar. The equipment specialists also played out the first operational scenarios. The aim here was to record sensor data and check the quality of the information and analyses displayed by shipboard systems compared with the results obtained during shore-based simulation studies.

During the three-week trials, over 200 people, including 60 Navy men and women, spent time on the Aquitaine. To save the ship returning to port, groups were ferried out and back from Lorient.

With sea trials completed, DCNS will now move on to final outfitting including the painting of over half of the vessel’s shipboard spaces and the installation of the last furnishings and fittings. FREMM frigate Aquitaine is scheduled to put to sea again in the autumn.

FREMM, a major programme for DCNS and partners

The French FREMM programme calls for 12 ships – 11 for the French Navy and one for the Royal Moroccan Navy.

FREMM frigates are among the most technologically advanced and competitively priced on the world market. These heavily armed warships are being built under DCNS prime contractorship to carry state-of-the-art weapons and systems including the Herakles multifunction radar, MdCN cruise missiles, Aster anti-air missiles, Exocet MM40 anti-ship missiles and MU90 torpedoes.

These innovative multirole frigates are designed to respond to all types of threats with unparalleled flexibility and availability. The contract to build a FREMM frigate for the Royal Moroccan Navy demonstrates that the type also meets the needs and expectations of international client navies.

Source: Defencetalk

France Orders Third Barracuda Class SSN

PERANCIS-(IDB) : Defence procurement agency DGA has placed an order with DCNS for the third Barracuda-type nuclear-powered attack submarine for the French Navy.

This order comes under the framework program contract awarded to DCNS in December 2006 calling for the delivery of six next-generation SSNs between 2017 and 2028.

Barracuda-type SSNs will replace the six Rubis-class boats currently in service. The Barracuda weapons payload will include next-generation type F21 heavyweight torpedoes, SM39 anti-ship missiles and MdCN-type naval cruise missiles. The boats will also be fully equipped for missions with Nato naval forces and special operations.

DCNS is the programme prime contractor. The first-of-class Suffren and second-of-class Duguay-Trouin are under construction at the Group’s Cherbourg shipyard supported by DCNS centres around the country.

Source: Defencetalk

Russia Signs Contract for Two French Warships


MOSKOW-(IDB) : Russia Friday signed a long-awaited contract with France worth over a billion euros to buy two French Mistral-class warships that has alarmed ex-Soviet neighbors and the United States.

Russia's Rosoboronexport military corporation and DCNS, the warships' French maker, signed the contract on the sidelines of the Saint Petersburg Economic Forum, the biggest annual economic gathering in Russia, an AFP correspondent said.

France's Foreign Trade Minister Pierre Lellouche, speaking to reporters, estimated the contract at 1.12 billion euros ($1.6 billion).

Rosoboronexport director Anatoly Isaikin added that France had agreed to transfer sensitive technologies, a key demand of Russia in the deal and one of its most controversial aspects.

"They agreed to transfer all the technologies which have been promised from the very beginning," he told reporters without elaborating.

Russia has been keen to receive an advance naval operating system called SENIT-9 from France as part of the package.

Isaikin said the first two ships would be built in France. "The third and the fourth (ships) will be built in Russia but when I can't say so far. It's a lengthy process," he added.

The purchase -- the first by Russia of major military hardware from a NATO member -- has sparked concern in some of France's Atlantic Alliance partners as well as former Soviet states.

A Mistral-class ship can carry up to 16 helicopters, four landing craft, 13 battle tanks, around 100 other vehicles and a 450-strong force. It has facilities for a full command staff and is equipped with a 69-bed hospital.

Earlier in the day Russia's state shipbuilding holding United Shipbuilding Corporation and South Korean company STX Offshore and Shipbuilding signed a preliminary agreement to build a new shipyard in Saint Petersburg.

Under the deal estimated at some $720 million, the two companies will establish a joint venture in which the South Korean company will have a blocking stake, said United Shipbuilding Corporation spokesman Alexei Kravchenko.

If Russia agrees the purchase of another two ships from France, they would likely be built at the new shipyard, Kravchenko said, adding that the existing Admiralty Shipyards in Saint Petersburg will be involved in the construction of the first two Mistrals.

Source: Defencetalk

RI Ajak Prancis Kerja Sama Bisnis Pesawat

Prancis ingin bekerja sama dalam pembuatan helikopter.

Illustration

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah menyatakan akan menjalin kerja sama dengan Pemerintah Prancis pada bidang pesawat terbang dan telekomunikasi. Rencananya, pemerintah akan mengajak investor swasta asal Prancis dalam bidang penyediaan komponen pesawat terbang.

Menurut Menteri Perindustrian, MS Hidayat, rencananya nanti malam dirinya akan bertemu dengan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar untuk membicarakan hal tersebut.

"Nanti malam, saya diajak ketemuan dengan Emir biar mereka bangun pabrik di Indonesia. Ini saya masuk untuk membujuk mereka (investor Prancis)," ujarnya saat ditemui di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat 1 Juli 2011.

Saat ditanya mengenai nilai investasi, Hidayat belum mengetahui akan hal tersebut. Sebab, dirinya belum bertemu dengan investor swasta asal Prancis yang masuk dalam rombongan kunjungan pertama Perdana Menteri Prancis ke Indonesia sejak 61 tahun terjalinnya hubungan diplomatik kedua negara.

Selain komponen pesawat, MS Hidayat menuturkan, Prancis ingin bekerja sama dalam pembuatan helikopter. "Nantinya akan bekerja sama dengan PT DI (Dirgantara Indonesia)," kata dia.

Terkait lokasi pabrik penyuplai komponen pesawat tersebut, menurutnya, Bandung merupakan pilihan yang baik. "Lokasi yang oke mungkin di Bandung ya," tutur MS Hidayat.

Sedangkan industri otomotif yang notaben-nya juga merupakan industri andalan Prancis, kata MS Hidayat, saat ini belum berkomitmen menjalin kerja sama dengan Indonesia. "Untuk otomotif kayanya persaingannya dengan Jepang, jadi masih susah yah," ujarnya.

Sumber: Vivanews

Indonesia Perancis Bahas Kerjasama Pembelian Senjata

PM Prancis, Francois Fillon, dan Presiden SBY.

SBY dan PM Prancis juga membahas masalah kerja sama ekonomi dan energi.

JAKARTA-(IDB) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Prancis, Francois Fillon. Sejumlah Memorandum of Understanding terkait pendidikan, museum, energi dan sumber daya mineral, keselamatan navigasi di wilayah Indonesia Timur dan perkeretaapian untuk lintas Padalarang-Cicalengka, Bandung.

"Ini merupakan tonggak baru. Kunjungan ini tepat dari sisi
timing. Prancis, Ketua G20 dan Indonesia, Ketua ASEAN," kata Presiden SBY di Istana Merdeka, Jumat 1 Juli 2011.

Apalagi, ujar dia, hubungan Indonesia-Prancis bukan hanya sekadar urusan bilateral tetapi juga kemitraan strategis. "Kita ingin fokus dalam perdagangan, pendidikan, industri pertahanan, budaya, dan perubahan iklim," kata dia.


Kedua negara bersepakat  menciptakan peluang-peluang baru di masa mendatang, antara lain di bidang ekonomi dan  investasi. Saat ini volume perdagangan dua negara tercatat US$2,5 miliar," kata dia. Selain itu, Prancis merupakan investor ke-13 di Indonesia.


Sementara di bidang pertahanan dan keamanan, kedua negara juga bersepakat mengadakan pendidikan dan pelatihan perwira militer. "Kami juga sepakat untuk pembelian senjata alutsista yang tidak bisa dibikin di Indonesia," ujar SBY.


Dalam pertemuan, SBY menjelaskan, Indonesia dan Prancis juga menyepakati soal keamanan dunia. "Termasuk perompakan di laut dan terorisme," ujarnya. Pembicaraan SBY dan  Fillon juga menyinggung masalah penyelesaian konflik Timur Tengah.

Selain itu, Fillon mengatakan kemitraan strategis Indonesia-Prancis bisa menjadi dasar peningkatan di semua bidang. "Kami punya tantangan besar untuk meningkatkan kerjasama," kata dia.

Sumber: Vivanews

Perancis Akan Investasi Bidang Pertahanan Di Indonesia

PARIS-(IDB) : Semakin pentingnya peran Indonesia dalam kancah internasional menjadi perhatian Prancis di Asia. Apalagi, Indonesia dipandang sebagai model negara yang mampu menegakkan demokrasi dan pluralisme.

Atas dasar itu, Perdana Menteri Prancis Francois Fillon berniat mempererat hubungan kedua negara dalam kunjungannya ke Indonesia pada 29 Juni hingga 3 Juli mendatang. Bagi Fillon, kunjungan ke Indonesia merupakan kali kedua setelah pada 1996 dia bertandang dalam kapasitasnya sebagai Menteri Telekomunikasi Prancis.

Dalam kunjungan kali ini, Fillon dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menandatangani kerja sama kemitraan strategis. Adapun kerja sama itu meliputi, antara lain pelatihan militer kedua negara. Soal hubungan militer, sejumlah perusahaan Prancis tertarik berinvestasi di Indonesia, contohnya TCNS yang membuat kapal selam, Thales selaku produsen radar dan peralatan komunikasi militer, serta Panhard yang membuat kendaraan lapis baja.

Tujuan kedua kedatangan Fillon adalah meningkatkan hubungan dagang kedua negara. Apalagi sejak krisis 1998, volume perdagangan Indonesia-Prancis cenderung menurun. Melihat celah pasar di Indonesia, Prancis tertarik untuk menaikkan investasi. Sejauh ini, terdapat 110 perusahaan asal Prancis di Indonesia yang memperkerjakan sedikitnya 40 ribu karyawan.

Adapun bidang-bidang yang bakal dijajaki, antara lain energi, listrik, air, dan transportasi. Khusus untuk transportasi, sejumlah perusahaan Prancis ingin berinvestasi di sektor kereta api dan keamanan pesawat terbang.

Soal nilai investasi, Fabien Fieschi selaku penasehat teknis urusan strategis di kantor perdana menteri Prancis mengaku tidak ada target dalam bentuk angka.

"Tujuan utama adalah mencapai nilai ekspor sebelum krisis 1998. Tapi tentu saja ada kontrak-kontrak perdagangan yang penting, contohnya pembelian 20 pesawat Airbus A320 oleh maskapai Citilink," jelasnya saat ditemui Media Indonesia di Paris, kemarin.

Lepas dari bidang politik dan ekonomi, kunjungan Fillon menekankan pentingnya hubungan pendidikan dan kebudayaan kedua negara. Menurut Fieschi, Prancis akan berupaya meningkatkan kerja sama antaruniversitas, riset, hingga pengenalan bahasa Prancis di Indonesia.