Tampilkan postingan dengan label Kapal Fregat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Fregat. Tampilkan semua postingan

Fregat La Fayette Perancis Atau Orizzonte Italia Pengganti PKR Sigma 105

Fregat kelas Orizzonte Italia


JAKARTA-(IDB) : Bulan Juni 2012 merupakan batas waktu (dead line), apakah proyek Korvet/ Light Fregat Nasional, Sigma 10514 diteruskan atau tidak, dengan PT Damen Schelde Naval Shipbuilding, Vissengen, Belanda.
Perjanjian dengan Damen Schelde, telah ditandatangani di PT PAL Surabaya, tahun 2010. Namun ketika membahas pembagian kerja, tidak ditemukan kesepahaman.
PT Damen Schelde hanya bersedia memberi sebagian pembangunan badan kapal, serta sedikit sistem intergrasi-nya. 
PT PAL menolak tawan tersebut. “Jika kita hanya mendapatkan pembangunan hull (badan kapal), dimana alih teknologinya ?. Kita sudah bisa membuat hull lebih besar dari Sigma 10514 yang akan menjadi dasar proyek Fregat Nasional”, Ujar pejabat PT PAL.

Orizzonte Light Fregat
 
Proyek Sigma 10514 tampaknya akan kandas di tengah jalan. Untuk itu, Indonesia kembali mendekati Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri), kontestan kedua tender korvet Indonesia.

Pada tahun 2007, telah ada kesepakatan antara Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dengan Menteri Pertahanan Italia, Arturo Parisi, untuk membangun dua Korvet Nasional. 
Kriteria Korvet Nasional itu, mampu melakukan peperangan Anti Pesawat udara (AAW/Anti-Air Warfare), Peperangan kapal permukaan (ASuW/Anti-Surface Warfare), Peperangan Anti Kapal Selam (ASW/Anti- Submarine Warfare), dan Peperangan Elektronika (EW/Electronic Warfare).
 
Korvet Mosaic 2,2 ditawarkan ke RI tahun 2007

Pemerintah Italia sepakat dan menawarkan korvet kelas Orizzonte, tipe Mosaic 2,2. Italia menyiapkan kredit 85 persen. Sisanya ditanggung oleh Bank dari Indonesia. 

“Kita akan melakukan produksi bersama, bukan sekedar membeli”, ujar Juwono Sudarsono, saat mengunjungi galangan kapal Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri) di La Spezia, Italia 2007. 
Korvet tersebut akan dibangun tahun 2008- 2011. Namun rencana itu tidak terwujud.
 
Korvet Orizzonte Mosaic 2,2

Hanya keajaiban yang bisa membuat PT PAL dan PT Damen Schelde dapat bekerjasama untuk membuat Korvet Nasional. Perbedaan pandangan antara PT PAL dengan PT Damen, sudah terlalu jauh.
Saat ini PT Damen Schelde sedang sibuk menyelesaikan tiga Sigma pesanan Maroko. Baru satu light fregat yang diserahkan pada September 2011. Damen Schelde juga sedang menggarap 4 korvet Sigma pesanan Vietnam.
Di tengah lesunya ekonomi Eropa, Fincantieri, kembali menawarkan berbagai Korvet dan Light Fregat kelas Orizzonte Mosaic.
Jika Indonesia ingin membangun light fregat sekelas Sigma 10514, pilihannya adalah Orizzonte Mosaic 2,4.
Light fregat ini memiliki panjang 100 meter, berat 2400 ton dan kecepatan maksimal 30 knot. Light frigate Mosaic 2,4 disiapkan Italia untuk peperangan di garis depan (blue navy). 
Mosaic 2,4 mampu mengubah arah secara mendadak dan mampu memunculkan suara mesin tiruan, untuk mengecoh kapal selam musuh.
 
Orizzonte Mosaic 2,4
Fregat Mosaic 2,4 didukung radar surveillance 3D multi fungsi, yang mampu menjejak sasaran dengan sangat cepat. Karena itu pula Angkatan Laut Israel, tertarik dengan fregat ini.
Senjata yang diusung: 
 
Canon 76/62 mm otomatis, dikontrol FCS (CIWS); 2 senjata mesin 25 mm; Senjata anti Pesawat (Vertical Launch System); Anti Kapal (SSM); Peluncur Roket dan Torpedo.

Perangkat Elektronik:
 
Electronic Support Measures (ESM pasif); Electronic Counter Measures (ECM aktif); Perangkat ASW, Hull Mounted Sonar (HMS), additional Variable Depth Sonar (VDS); sistem navigasi- telekomunikasi yang terintegrasi.Light fregat ini mampu mengakut helikopter OTHT seberat 11 ton.

Fregat Stealth Formidable Singapura
Fregat La Fayette

Pilihan lain adalah Fregat kelas La Fayette Perancis. Singapura memiliki 6 fregat Formidable, turunan kelas La Fayette. Setengah diantaranya, dirakit di Singapura. 


Indonesia tentunya bisa belajar ke Singapura. Apalagi hubungan Indonesia dengan Perancis terjalin baik, untuk proyek Panser Anoa, Rantis/ APC Sherpa. Kerjasama pembuatan PKR dengan Singapura mengacu fregat Formidable/ La Fayette sedang dijajaki Kementrian Pertahanan

Sumber : JakartaGreater

Aljazair Beli Empat Fregat Baru Dari Jerman

PRETORIA-(IDB) : Angkatan Laut Aljazair dikabarkan telah menandatangani kontrak pembelian kapal-kapal perang tipe fregat kelas MEKO A-200 dari pabrikan Thyssen Krupp Marine Systems (TKMS) asal Jerman. Melihat nilai kontraknya, Aljazair diduga membeli sedikitnya empat kapal fregat dengan sistem tempur lengkap.
Menurut koresponden majalah pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW), Helmoed-Römer Heitman, di Pretoria, Afrika Selatan (Afsel), nilai kontrak kapal perang tersebut mencapai 2.176 juta euro (Rp 26,3 triliun). Pihak TKMS belum mengonfirmasi kabar tersebut, tetapi menurut sumber-sumber JDW, kontrak dengan pihak AL Aljazair sudah ditandatangani akhir Maret lalu.
Dengan nilai kontrak sebesar itu, diperkirakan Aljazair berniat membeli sedikitnya empat unit fregat MEKO A-200 beserta seluruh sistem persenjataan, ditambah enam helikopter AgustaWestland Super Lynx untuk diletakkan di kapal (setiap kapal mampu membawa dua heli Super Lynx) serta seluruh sistem pendukung dan pelatihan.
Kontrak tersebut juga meliputi pembangunan galangan kapal di Aljazair untuk membuat dua dari empat fregat yang dipesan. Kapal-kapal pesanan Aljazair ini akan berukuran lebih besar daripada fregat kelas Valour (MEKO A-200 SAN), yang lebih dulu dimiliki AL Afsel.
Ukuran kapal yang lebih besar diduga berkaitan dengan keinginan Aljazair untuk memasukkan persenjataan dan sensor yang lebih komprehensif daripada kapal-kapal milik Afsel.
Kapal dengan desain modern yang diklaim bisa mengecoh radar ini akan dilengkapi rudal-rudal antikapal Saab Bofors Dynamics RBS 15 Mk3, rudal permukaan-ke-udara Umkhonto IR produksi Denel Dynamics Afrika Selatan yang ditembakkan secara vertikal, meriam utama Oto Melara, dan senjata penangkis serangan udara jarak dekat Rheinmetall 27 mm.
Beberapa helikopter Super Lynx yang turut dipesan akan dipersenjatai dengan rudal udara-ke-permukaan berpemandu laser Denel Dynamics Mokopa dan torpedo ringan MU90. Salah satu sumber mengatakan, kapal-kapal tersebut akan menggunakan sensor utama EADS TRS-3D, yang menggunakan radar multimoda untuk melacak sasaran di permukaan laut dan udara.
Sistem manajemen tempurnya dikabarkan akan dipasok oleh Atlas Elektronik. 

Sumber : Kompas

KRI. Yos Sudarso-353 Sandar Di Pelabuhan Nusantara Pulau Baai Bengkulu

BENGKULU-(IDB) : Gelar Operasi Siaga Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dengan sandi Arung Pari-2012 dibawa kendali Komandan Gugus Tempur Laut Koarmabar (Danguspurlaarmabar) Kolonel Laut (P) Tri Wahyudi Sukarno, SE., yang onboard di KRI Yos Sudarso-353 sedang beroperasi di perairan Provinsi Bengkulu melaksanakan bekal ulang pelabuhan Nusantara Pulau Baai Kota Bengkulu dalam rangka melanjutkan operasi diperairan Selat Sunda dan perairan wilayah Barat Sumatera, baru-baru ini. 

KRI. Yos Sudarso-353 dengan Komandan Kolonel Laut (P) Khisdianto merupakan kapal Kombatan jenis Frigate TNI Angkatan Laut yang pertama kali bisa masuk dan sandar di pelabuhan Nusantara Pulau Baai Kota Bengkulu, yang telah 13 tahun alur masuk ke pelabuhan mengalami pendangkalan karena sedimentasi pasir laut yang tinggi. 

Sementara itu, Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Bengkulu Letkol Laut (P) Gandawilaga beserta jajarannya sebagai unsur pendukung operasional, telah menyiapkan segala dukungan dalam menerima kunjungan dan bekal ulang KRI Yos Sudarso-353 di pelabuhan Nusantara Pulau Baai Kota Bengkulu. KRI Yos Sudarso-353 saat sandar di pelabuhan Nusantara Pulau Baai Kota Bengkulu melaksanakan kegiatan open ship kepada masyarakat, pemuda-pemudi serta pelajar Kota Bengkulu untuk dikunjungi dan melihat secara langsung ke dalam KRI. Yos Sudarso-353. 

Kehadiran KRI Yos Sudarso-353 mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat dan menjadi kebanggaan serta memotivasi minat para pemuda-pemudi dan pelajar Kota Bengkulu untuk bergabung masuk menjadi prajurit TNI Angkatan Laut. 

Sumber : Koarmabar

Inilah Lima Armada Kapal Perang Kelas Fregat Milik Indonesia

ITODAY-(IDB) : Kapal Fregat  adalah suatu nama yang digunakan bagi berbagai jenis kapal perang pada beberapa masa yang berbeda. Istilah ini merujuk pada beberapa peran dan ukuran kapal yang berbeda. Kalau saat ini kapal perang Jenis Fregat lebih di kenal sebagai  kapal perang Perusak Kawal Berpeluru Kendali Indonesia juga memiliki beberapa kapal perang jenis ini.

Inilah 5 Kapal Perang Jenis Fregat Milik Indonesia :
 
1. KRI AHMAD YANI (351)

KRI Ahmad Yani (351) merupakan kapal pertama dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Fregat Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Jendral Ahmad Yani, salah seorang Pahlawan Revolusi.

KRI Ahmad Yani merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Van Speijk F804) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Koninklijke Maatschappij de Schelde, Vlissingen, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Surface to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

2. KRI SLAMET RIYADI (352)

KRI Slamet Riyadi (352) merupakan kapal kedua dari kapal perang Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Jenis Fregat milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Slamet Riyadi, salah seorang pahlawan nasional.

KRI Slamet Riyadi merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (Hr.Ms. Van Speijk (F802)) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini termasuk dalam Fregat kelas Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1963 oleh Koninklijke Maatschappij de Schelde, Vlissingen, Belanda dan mulai bertugas pada AL Belanda sejak 1967.

Pada tahun 1987, dibebastugaskan dari AL Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI-AL pada tahun 1987. Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal antipesawat (sea-to-air missile/SAM) Mistral menggantikan Sea Cat. Di Indonesia, kapal ini bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam dan anti-pesawat udara.

3. KRI YOS SUDARSO (353)

KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali  Jenis Fregat  milik TNI AL. Dinamai menurut Yos Sudarso, salah seorang pahlawan nasional yang gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran laut Aru pada masa kampanye Trikora.

KRI Yos Sudarso merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (F803) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

4. KRI OSWALD SIAHAAN (354)

KRI Oswald Siahaan (354) merupakan kapal keempat dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Fregat milik TNI AL. Dinamai menurut Oswald Siahaan, salah seorang anggota TNI AL yang gugur pada saat pertempuran Teluk Sibolga.

KRI Oswald Siahaan merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Isaac Sweers F805) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

5. KRI ABDUL HALIM PERDANAKUSUMA (355)

KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355) merupakan kapal kelima dari Fregat  milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Abdul Halim Perdana Kusuma, salah seorang pahlawan nasional yang namanya juga merupakan nama bandara dan Pangkalan Udara di Jakarta.

KRI Abdul Halim Perdana Kusuma merupakan kapal fregat eks-Angkatan Laut Belanda bernama HNLMS Evertsen (F815) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

Pada tahun 2007, bersama dengan KRI Ahmad Yani (351), selesai menjalani pergantian mesin yang dijalaninya selama 2 tahun. Saat ini KRI Abdul Halim Perdanakusuma kembali memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur

Sumber : Itoday

Indonesia Perlu Kapal Selam dan Fregat Baru

JAKARTA-(IDB) : Indonesia sedang menjajaki pembelian kapal selam dan kapal perang baru jenis fregat.

"Kemungkinan besar kita membeli dari negara Asia. Saat ini sudah dijajaki kapal selam buatan Korea Selatan," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Suparno, Selasa (4/10/2011) di Jakarta. 

Suparno menjelaskan, pihaknya tidak memilih kapal selam buatan Eropa Barat karena disesuaikan kemampuan keuangan. Menurut dia, tidak tertutup kemungkinan untuk membeli dari produsen lain di Asia, selaian Korea Selatan.

Korea Selatan kini sedang memperbaiki kapal selam KRI Nanggala yang akan kembali beroperasi awal tahun depan di Indonesia. Sedangkan pengadaan fregat, menurut Suparno, diharapkan bisa diwujudkan sebanyak tiga unit.

"Pembangunan fregat direncanakan dalam bentuk kerja sama asing dan dalam negeri. Sebagian modul dibuat di dalam negeri," kata Suparno.

Selain persenjataan, Suparno menegaskan, sangat penting menyediakan perumahan dan perbaikan kesejahteraan prajurit TNI AL. Dengan memenuhi kebutuhan dasar prajurit, mereka akan lebih fokus dalam bertugas. 

Sumber : Kompas

TNI AL Pengadaan 3 Kapal Selam Dari Korsel Dan Penjajakan Beberapa Fregat Dari Inggris

JAKARTA-(IDB) : Pengadaan tiga kapal selam untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) akan disediakan dari Korea Selatan.

Pengadaan kapal selam yang sempat tertunda 2-3 tahun ini akan dipercepat untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL dalam rangka pengamanan wilayah laut Indonesia. "Pengadaannya kami datangkan dari Korea Selatan," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno usai menghadiri Gelar Hiburan Prajurit dalam rangka HUT TNI yang jatuh pada 5 Oktober di Mabes AL Jakarta, Jumat (30/9).

KSAL menjelaskan, Korea dipilih untuk pengadaan kapal selam ini karena memiliki kemampuan sama dengan Eropa dalam menyediakan kebutuhan kapal selam yang diperlukan TNI AL. "Tapi harganya lebih murah," kata KSAL.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Herryanto mengatakan, pengadaan kapal selam ini sudah terlambat 2-3 tahun. Karenanya, pengadaan kapal selam ini akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun. Alokasi kapal selam untuk mendukung TNI AL ini berjumlah tiga unit. "Harganya dalam rupiah Rp9,5 triliun untuk tiga unit," kata KSAL.

Kapal Perang Ditambah Lagi

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) akan melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) berupa kapal perang dalam rangka menegakkan hukum dan menjaga keamanan wilayah laut Indonesia.

TNI AL telah melakukan penjajakan ke sejumlah negara untuk pengadaan kapal dan persenjataannya tersebut. "Kami sudah lakukan tinjauan ke Eropa untuk melihat langsung (alutsista yang akan dibeli)," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno usai menghadiri Gelar Hiburan Prajurit menyambut HUT TNI ke-66, 5 Oktober di Mabes AL Jakarta, Jumat (30/9).

KSAL menuturkan, dirinya telah melakukan perjalanan selama 10 hari ke negara-negara Eropa untuk meninjau langsung lokasi produsen alutsista terkait pengadaan alutsista bagi AL. "Ke Inggris untuk kapal perang jenis fregate, Spanyol kapal layar latih, Perancis kapal oseanografi," katanya.

Kapal oseanografi ini diperuntukkan bagi dinas hidrografi untuk menunjang tugasnya seperti membuat peta wilayah laut Indonesia. Selama ini, dinas hidrografi minim perhatian, padahal memiliki fungsi penting untuk mengetahui batas-batas wilayah laut Indonesia.

Untuk pengadaan mesin kapal, KSAL menambahkan, dirinya telah meninjau produsen alutsista di Jerman, sedangkan persenjataan untuk melengkapi kapal perang AL nantinya, dia telah melakukan peninjauan ke Belanda.

Dia berharap, pengadaan alutsista sebagai alat dukung AL dalam melaksanakan tugasnya ini dapat berjalan lancar dengan waktu tidak terlalu lama.

Sumber: Antara

First SIGMA-class Frigate Delivered to the Royal Moroccan Navy

DT-(IDB) : After successful sea trials and finishing of outfitting details, SIGMA-class Frigate Tarik ben Ziyad, built by Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) in Vlissingen, today was transferred to Rear Admiral Mohamed Laghmari, Commander in Chief of the Royal Moroccan Navy.

Once again DSNS has proven to be a highly reliable partner as the ship was delivered in time, on schedule and meeting all the requirements as stated in the contract.

The delivery of the first of three frigates was achieved within four years from the effective date of contract, after a period of thorough engineering and three years of construction.

The next two frigates for the Royal Moroccan Navy are well underway. After commissioning, the crew will continue with another three weeks of Sail Safety Training in Den Helder and North Sea. This training will be conducted by training teams of the Royal Netherlands Navy.

At the end of September, after conclusion of this training period, the Tarik ben Ziyad will start her maiden voyage to Morocco.

SIGMA Class Frigates

The three SIGMA-class frigates for the Royal Moroccan Navy have been designed according to Schelde Naval Shipbuilding's revolutionary SIGMA-approach and are a further development of the SIGMA-corvettes for the Indonesian Navy. The SIGMA approach applies modularity in many areas.

The Royal Moroccan Navy SIGMA Class frigates are equipped to conduct the traditional naval tasks as well as maritime security operations. The vessels are also suited to support humanitarian aid operations.

The Damen Shipyards Group offers a complete range of naval and patrol vessels ranging from 7 to over 200 meters. Part of this portfolio are the Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) naval combatants and auxiliaries, embodied by the SIGMA and ENFORCER series.

At present DSNS also has under construction for the Royal Netherlands Navy: four Patrol Ships and a Joint Logistic Support Ship (JSS), the largest military vessel built by DSNS so far.
Source: Defencetalk

Vietnam Boosts Naval Power With New Frigate

HANOI-(IDB) : Vietnam on Monday received the second of two Russian-made guided missile China. frigates, local media reported, boosting its naval firepower amid maritime tensions with 

The Gepard class frigate -- which an analyst called Vietnam's most modern warship -- arrived at Cam Ranh port on the country's south-central coast, reports said.

The first frigate reached Vietnam in March, state-controlled Tuoi Tre newspaper said.

"It alters the naval game," said Carl Thayer, a veteran Australia-based analyst of Vietnam. "A boat of that kind provides muscle for Vietnam."

The frigates were ordered several years ago as part of a naval upgrade by Hanoi, which is also buying six Russian submarines and foreign-built maritime patrol aircraft.

Beijing and Hanoi have a long-standing territorial dispute over the Paracel and Spratly archipelagos, which are potentially rich in oil and gas deposits and straddle vital commercial shipping lanes.

Relations reached their lowest point in years when Vietnam in May accused Chinese marine surveillance vessels of cutting the exploration cables of an oil survey ship inside the country's exclusive economic zone.

Vietnamese fishermen working in disputed waters have reported numerous seizures of their catch and equipment in recent years.

Thayer said the new helicopter-capable frigates will back up the fishermen with a more powerful vessel than the lightly-armed civilian-run Chinese surveillance ships.

Other nations in the region have also accused China in recent months of becoming more aggressive in enforcing its claims to essentially all of the South China Sea.

The Philippines, Malaysia, Brunei and Taiwan have also staked claims to the Spratlys.

Source: Defencetalk

Revamped Frigate Argyll Ready for Action

DT-(IDB) : The Royal Navy's oldest frigate, newly rejuvenated following a £20m, year-long refit, is ready to resume her place among the ships of the front line fleet.

It took 13 months to turn an inanimate, largely lifeless hull in the middle of a refit into a cutting-edge warship ready for anything that global events and nature can throw at her.

Nine months after emerging from that comprehensive makeover in Rosyth, the Devonport-based Type 23 Duke Class frigate came through her final, 'acid' test - operational sea training.

The ship passed, like she has done every trial and inspection this past year or so, 'with flying colours'.

Argyll began to 'crew up' in earnest in May 2010 - four months before her refit was due to conclude.

Just shy of 300,000 man-hours were devoted to the ship's refit as the Type 23 frigate received the latest version of the Seawolf air defence missile system, a new command system, one new main gas turbine, two generators, and the MOD's latest e-mail and internet system, DII(F).

She emerged from that refit three days ahead of schedule - and has maintained that impressive pace throughout the long road back to front line duties.

It all came to a head with two months in the hands of the Flag Officer Sea Training instructors and assessors this spring/summer.

A large part of the training consisted of simulated battles on a daily basis, whether externally with enemy missiles, aircraft, ships and submarines, or internally with fires, floods and machinery breakdowns - most of which occurred simultaneously on Thursdays in the infamous 'Thursday War'.

The final phase of training was specific to the role that Argyll will perform for real towards the end of the year when she deploys east of Suez on maritime security patrols:

"Argyll is ready, in all respects, to undertake any operational tasking as part of the fleet," said her Commanding Officer, Commander Paul Stroude.

"We have achieved this significant milestone with the perseverance, hard work and sheer determination of the crew.

"I am truly proud of the ship's company and the team that delivered her refit. The name of HMS Argyll is now synonymous with professionalism of the highest order."

Launched by Lady Wendy Levene in 1989 and commissioned into the Royal Navy on 30 May 1991, HMS Argyll has strong links amongst her sister services, including with HMS Vivid of the Royal Naval Reserve, The Argyll and Sutherland Highlanders, 5th Battalion The Royal Regiment of Scotland (5 SCOTS), and 47 Squadron RAF.
Source: Defencetalk

First Italian FREMM Frigate Launched

ITALIA-(IDB) : Today the Riva Trigoso (Genoa) shipyard celebrated the launch of the frigate “Carlo Bergamini”, the first of a series of Fremm vessels - Multi Mission European Frigates - ordered from Fincantieri by the Italian Navy within the framework of an Italo-French program of cooperation.

Godmother to the ship was Mrs Maria Bergamini Loedler, granddaughter of Admiral Carlo Bergamini. The frigate was named in honour of Admiral of the Fleet, Carlo Bergamini, who was decorated for military valour after sinking with his battleship, the Roma, on 8th September 1943.

Present at the ceremony were, General Biagio Abrate, Chief of Defence, Admiral Bruno Branciforte, First Sea Lord and Giuseppe Bono, CEO of Fincantieri and Corrado Antonini, Chairman of Fincantieri.

The vessel, which is due for delivery in early 2012, will feature a high degree of flexibility, capable of operating in all tactical situations. 139 metres long with a beam of 19.7 metres, the ship will have a displacement at full load of approximately 5,900 tonnes. The “Carlo Bergamini” will have a maximum speed of over 27 knots and will provide accommodation for a crew of 145.

The ships in the FREMM program constitute state of the art vessels of European and Italian defence in the Mediterranean and will replace the “Lupo” and “Maestrale” class frigates built by Fincantieri in the 1970s.

Participating in the initiative as prime contractor for Italy is Orizzonte Sistemi Navali (51% Fincantieri, 49% Finmeccanica) and, as prime contractor for France, Armaris (DCNS + Thales).

The cooperation has drawn of the highly positive experience of the previous Italo-French program “Orizzonte” under which two frigates were built for the Italian Navy, the ”Andrea Doria” and the “Caio Duilio”

Source: Defencetalk

FREMM Frigate Aquitaine Completes Second Series of Sea Trials

PARIS-(IDB) : First-of-class FREMM multi-mission frigate Aquitaine returned to DCNS’s Lorient shipyard after completing three weeks of sea trials on schedule. The trials and tests carried out by DCNS specialists demonstrated the satisfactory performance of all combat system sensors and confirmed that everything is on course for the ship’s delivery to the French Navy in 2012.

The trials were conducted off Groix island in the Bay of Biscay. The joint crew comprising French Navy personnel, customer representatives and DCNS employees tested the performance of the combat system sensors including radars, hull-mounted and towed-array sonars and the infrared search & track (IRST) system.

“Like the first trials, this second series yielded excellent results. This time the focus was on the ship’s combat system sensors. The results demonstrate the quality of DCNS’s integration of these sophisticated systems. All tests went as planned, further confirming the quality of the Aquitaine’s design and construction, said FREMM programme manager Vincent Martinot-Lagarde. “The first trials, in April, demonstrated the ship’s seakeeping and were very well received.”

Day and night, test followed test at a sustained pace. Highlights included the recording of the first radar tracks and the first IRST images as well as the first deployment of the towed-array sonar. The equipment specialists also played out the first operational scenarios. The aim here was to record sensor data and check the quality of the information and analyses displayed by shipboard systems compared with the results obtained during shore-based simulation studies.

During the three-week trials, over 200 people, including 60 Navy men and women, spent time on the Aquitaine. To save the ship returning to port, groups were ferried out and back from Lorient.

With sea trials completed, DCNS will now move on to final outfitting including the painting of over half of the vessel’s shipboard spaces and the installation of the last furnishings and fittings. FREMM frigate Aquitaine is scheduled to put to sea again in the autumn.

FREMM, a major programme for DCNS and partners

The French FREMM programme calls for 12 ships – 11 for the French Navy and one for the Royal Moroccan Navy.

FREMM frigates are among the most technologically advanced and competitively priced on the world market. These heavily armed warships are being built under DCNS prime contractorship to carry state-of-the-art weapons and systems including the Herakles multifunction radar, MdCN cruise missiles, Aster anti-air missiles, Exocet MM40 anti-ship missiles and MU90 torpedoes.

These innovative multirole frigates are designed to respond to all types of threats with unparalleled flexibility and availability. The contract to build a FREMM frigate for the Royal Moroccan Navy demonstrates that the type also meets the needs and expectations of international client navies.

Source: Defencetalk

Production Begins on the First Class 125 Frigate

BERLIN-(IDB) : With an official ceremony in Hamburg on 9 May 2011 Bloom + Voss initiated the production of the first Class 125 Frigate. Among the numerous guests were the Chief of Staff Navy, Vice Admiral Schimpf, members of the Naval Staff, representatives from politics, defense and industry, as well as representatives from the Naval Office, the Federal Office of Defense Technology and Procurement (BWB) and its agencies.

The German Navy procures four Class 125 Frigates, a completely new and innovative type of vessel that will usher in a new era of ship operation. In comparison to the preceding classes the new vessels require significantly less personnel for operation. They are designed for intensive use and long endurance periods at sea of up to 2 years without scheduled yard periods.

The F125 is equipped with state-of-the-art sensors and effectors that support stabilization tasks and, at the same time, provide the capabilities to detect, identify and counter asymmetric threats. The equipment includes a TRS-3D/NR multi-functional radar by EADS/CASSIDIAN, as well as a powerful electrooptical component to ensure the continuous surveillance, detection and tracking of targets at short and very short range.

Production of the first Class 125 Frigate starts at shipbuilding hangar 3 at Blohm + Voss’ shipyard Größere Abbildung anzeigenThe Class 125 Frigates will be the first ones to be equipped with four multi-role “fighting crafts”. Due to the F125’s signature requirements these 10 m long boats are stored behind panels in special recesses. They play an important role in the F125’s capabilities and the vessel’s overall construction.

Constructing robust systems and reducing the maintenance resources required while at the same time significantly cutting down on crew size – these are the main challenges of the F125 project.

Delivery of the first vessel, the “Baden-Württemberg”, is scheduled for March 2016. The remaining three vessels will follow in 11-month intervals so that the last vessel will undergo final acceptance trials and be handed over to the Navy in December 2018.
Source: Defencetalk

AL Thailand Upgrade Dua Frigate Kelas Naresuan


BANGKOK-(IDB) : Saab mengumumkan memperoleh kontrak upgrade ”combat management” dan sistem kontrol penembakan dua frigate kelas Naresuan senilai MSEK 454.

Kontrak meliputi upgrade combat management generasi terakhir dan sistem kontrol penembakan 9LV Mk4 dan CEROS 200. Saab akan memasang juga perangkat data-link di kedua kapal perang agar dapat berkomunikasi antara frigate, jet tempur Gripen dan Saab 340 yang dilengkapi sistem radar udara ERIEYE.

Pemerintah Thailand membeli empat frigate kelas Jianghu dan dua Tipe IV. Frigate Tipe IV diberi nama HTMS Taksin-622 (diserahkan November 1995) dan HTMS Naresuan-621. Frigate dibeli dengan harga persahabatan 2000 juta baht per-unit, dibandingkan 8000 juta baht buatan Barat.

Sumber: Saab

Kapal Perang Perancis Sandar di Tanjung Priok

JAKARTA-(IDB) : Tiga Kapal Perang Angkatan Laut Perancis FS Mistral (L9013), FS Georges Leygues (D640), dan FS Vendemiare (F734) mengadakan kunjungan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (24/5).

Kedatangan kapal-kapal Perancis disambut Asops Danlantamal III Kolonel Laut (P) Christh Paath. Kunjungan ketiga kapal perang Perancis ini dalam rangka untuk mempererat hubungan persahabatan dan kerjasama antara Angkatan Laut Perancis dengan TNI AL.

Menurut Kadispen Lantamal III Mayor Laut (Kh) Agus Susilo Kaeri, SS, MSi; dari ketiga kapal Perancis yang sandar di dermaga Tanjung Priok ini yang menjadi perhatian yakni FS Mistral
merupakan kapal jenis Amphibious Assault dan merupakan kapal terbesar dari dua kapal lainnya yang berjenis Frigate. 

Kapal FS Mistral ini panjang 199 meter dan berat penuh 21.300 ton dan mampu membawa helikopter ringan sebanyak 35 buah serta mampu mengangkut pasukan sebanyak satu batalyon.

Selama lawatannya di Indonesia kegiatan prajurit Kapal Perang Perancis antara lain melaksanakan kegiatan Courtesy Call ke Pangarmabar, Danlantamal III, Walikota Jakarta Utara, serta Kepala Otorita Pelabuhan. Selain kunjungan resmi kebeberapa pejabat TNI AL kru Kapal Perang Perancis ini juga akan melaksanakan kegiatan open ship dan eksibisi/pameran mini dengan Program French Defence Industry Exhibition di FS Mistral serta melaksanan kegiatan olahraga bersama dengan prajurit Lantamal II
 
Sementara itu Komandan FS Mistral Captain Noreau dalam kunjungan kehormatan ke Danlantamal III Brigjen TNI (Mar) Arief Suherman, kemarin yang diterima langsung oleh Danlantamal III di Ruang Tamu, Markas Komando Lantamal III Gunung Sahari. Dalam pertemuan itu dibicarakan antara lain rencana menggelar olahraga bersama cabang sepakbola dan rugby antara prajurit AL Perancis dengan Prajurit TNI AL.

Danlantamal III yang kebetulan sebagai Ketua Yanus Rugby TNI AL menyambut gembira ajakan dari Komandan Kapal Perancis ini. Pertandingan persahabatan dengan prajurit AL Perancis ini bisa dijadikan barometer kemampuan Tim Rugby TNI AL yang usianya masih tergolong muda, karena baru dibentuk sekitar dua bulan yang lalu oleh Kasal Laksamana TNI Soeparno.

Danlantamal III saat menerima tamu dari Angkatan Laut Perancis ini didampingi antara lain, Asintel Kolonel Laut (T) Wahyu Mujiono, Aslog Kolonel Laut (T) Suhariyanto, dan Aspers Kolonel Laut (E) FY Nevy Dwi Soesanto, ST. 

Sumber: HarianPelita

Direncanakan Hari Ini Kapal Perang Perancis Merapat Di Jakarta

JAKARTA-(IDB) : Tiga kapal perang Angkatan Laut (AL) Prancis berencana akan berlabuh di Tanjung Priok Jakarta pada 24 hingga 28 Mei 2011.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempererat persahabatan dan kerja sama antara pihak AL Indonesia dan Prancis, demikian kata siaran pers yang diterima ANTARA dari Kedutaan Besar Prancis pada Senin.

Kunjungan terbesar AL Prancis itu akan mendatangkan kapal pengangkut helikopter Mistral yang dikawal dengan kapal fregat anti-kapal selam Georges-Leygues, serta kapal fregat tipe pengawas ringan Vendemiaire.


 Mistral merupakan salah satu produk paling mutakhir industri perkapalan Prancis dan menjadi daya tarik kuat untuk ekspor dan siap untuk mempromosikan industri pertahanan Prancis.

Dalam kunjungan itu, akan diadakan pameran kecil peralatan pertahanan Prancis pada 25 Mei di atas kapal Mistral, yang berbobot mati 20.000 ton, panjang 200 meter dan mulai dioperasikan pada tahun 2006, dengan berbagai divisi Kementerian Pertahanan Prancis terkait, pihak Angkatan Bersenjata Indonesia, maupun industri pertahanan Indonesia.

Sekitar 20 perusahaan kecil, menengah dan besar dari Prancis akan hadir dalam pameran ini. Beberapa diantaranya sudah membuka perwakilan di Indonesia dan menjalin kerja sama dengan industri Indonesia.
Perusahaan lainnya sedang mengikuti tender, sementara yang lainnya masih menjajaki peluang kerja sama. Dengan demikian, pameran tersebut merupakan sarana bagi Prancis dan Indonesia untuk mengembangkan kerja sama industri strategis, yang sejalan dengan semangat deklarasi kemitraan bersama, yang pada bulan Desember 2009 telah disepakati oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.

Ketiga kapal yang akan berkunjung itu mengangkut lebih dari seratus perwira siswa, 18 diantaranya berkebangsaan asing yang sudah menyelesaikan pendidikan awalnya.

Sepanjang perjalanan dari Prancis, armada ini telah mengikuti berbagai operasi singkat, seperti evakuasi kemanusiaan di Tunisia dan penumpasan perompak di lepas pantai Somalia.

Kegiatan tersebut merupakan ajang latihan bagi para perwira yang masih mencari pengalaman.

Kapal Mistral dan Georges-Leygues melakukan sejumlah kunjungan bergengsi di berbagai wilayah Asia Tenggara, seperti turut serta dalam pameran pertahanan IMDEX Asia 2011 di Singapura.

Kapal Vendemiaire kerap mengadakan kunjungan ke sejumlah wilayah Asia Tenggara, terutama di Indonesia.

Kapal fregat itu, yang pernah singgah di Bali pada 2010, akan meneruskan perjalanan ke Surabaya pada 30 Mei - 2 Juni 2011.

Sumber: Antara

Kapal Perang Inggris Merapat Di Jakarta

JAKARTA-(IDB) : Kapal Perang Inggris Jenis Frigate HMS Richmond-F239 tiba di dermaga Pelabuhan JITC (Jakarta International Terminal Container) II Tanjung Priok, Jakarta, kemarin (Minggu, 23/5).

Dari keterangan Kepala Bagian Penerangan Pangkalan Utama TNI AL III, Mayor Laut Agus Susilo Kaeri, Kapal Frigate ini akan berada di Jakarta selama tiga hari dalam rangka kunjungan untuk lebih memperat jalinan persahabatan antara AL Inggris (Royal Navy) dengan TNI AL yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

Kapal perang HMS Richmond yang dikomondani Capt. Mike Walliker ini mempunyai panjang 133 Meter dengan lebar 16,1 meter merupakan kapal untuk peperangan anti kapal selam (Anti Submarine warfare). Kapal yang bermarkas di Portmouth ini selain memiliki senjata torpedo untuk melawan kapal selam juga dilengkapi dengan beberapa buah meriam dengan berbagai kaliber serta senjata harpoon.

Kapal ini telah dipergunakan dalam operasi-operasi pemeberantasan obat-obatan terlarang di wilayah Amerika, Atlantik Selatan, Teluk Arab dan Karibia juga untuk operasi bantuan bencana alam di kepulauan Turks, Caicos, Grenada dan Grand Cayman
.
Selama singgah di Indonesia prajurit Royal Navy ini akan melaksanakan kegiatan antara lain kunjungan kehormatan ke pejabat TNI AL, melaksanakan kegiatan diskusi dengan prajurit Koarmabar membahas masalah piracy dan melaksanakan kegiatan sosial ke pesantren Yayasan Nurul Zahro di daerah Koja Jakarta Utara serta olahraga sepak bola bersama dengan para selebritas.

Sumber: Ramol

Kunjungan Tiga Kapal Angkatan Laut Perancis ke Indonesia

Kapal LHD Mistral Perancis
JAKARTA-(IDB) : Tiga kapal perang milik Angkatan Laut Perancis akan singgah di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dari tanggal 24 s.d. 28 Mei 2011. Kunjungan tersebut akan semakin mempererat hubungan persahabatan dan kerjasama antara Angkatan Laut Perancis dan Indonesia. 

Armada Angkatan Laut Perancis ini terdiri atas tiga kapal. Untuk pertama kalinya Angkatan Laut Perancis singgah di Indonesia dengan armada sebesar ini. 

Mistral juga merupakan kapal perang Perancis dengan bobot mati terbesar yang pernah berkunjung ke Indonesia. Bertolak dari Toulon (Bagian Tenggara Perancis), kapal tersebut mempunyai spesialisasi di bidang operasi amfibi. Kapal ini sangat cocok untuk misi bantuan kemanusian, seperti penanggulangan bencana alam. 

Kapal perusak Georges-Leygues
Mistral dikawal oleh kapal perusak Georges-Leygues, yang berpangkalan di Brest (bagian Barat Perancis), dan fregat Vendémiaire, yang berpangkalan di Noumea, Kaledonia Baru. Fregat Vendémiaire kerap mengadakan kunjungan ke seluruh wilayah Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Kapal ini pernah singgah di Bali pada tahun 2010. Dari Jakarta, fregat ini akan berkunjung ke Surabaya, dari tanggal 30 Mei s.d. 2 Juni 2011.
Kapal Mistral dan Georges-Leygues mengemban tiga misi sekaligus. Keduanya melakukan sejumlah kunjungan bergengsi, ke berbagai tempat di Samudera Indonesia (misalnya, mengikuti pameran IMDEX di Singapura). Kapal-kapal tersebut juga mengangkut lebih dari seratus perwira siswa, delapan belas orang di antaranya berkebangsaan asing yang telah menyelesaikan pendidikan awal mereka. 

Dalam hal ini, MistralJeanne d’Arc yang termasyhur, yang kini telah dipensiunkan setelah aktif berkeliling dunia mengarungi samudera selama lima puluh tahun. Sebagai rangkaian dari misi tersebut, sejumlah kegiatan kerjasama dengan Angkatan Laut Indonesia diselenggarakan, selama kunjungan. Akhirnya, armada angkatan laut ini apabila diperlukan dapat bertolak kapan saja untuk mengemban tugas yang sifatnya lebih operasional. 

Kapal Fregat Vendémiaire
Sepanjang perjalanan dari Perancis, armada ini telah mengikuti berbagai operasi singkat, seperti evakuasi kemanusiaan di Tunisia dan penumpasan bajak laut di lepas pantai Somalia. Kegiatan tersebut tentunya merupakan ajang latihan bagi para perwira siswa. Dengan cara seperti ini mereka mempelajari pekerjaan yang akan menjadi santapan sehari-hari, dalam tugas mereka di kemudian hari. menggantikan peran kapal
Kapal Mistral dan Georges-Leygues mengemban tiga misi sekaligus. Keduanya melakukan sejumlah kunjungan bergengsi, ke berbagai tempat di Samudera Indonesia (misalnya, mengikuti pameran IMDEX di Singapura). Kapal-kapal tersebut juga mengangkut lebih dari seratus perwira siswa, delapan belas orang di antaranya berkebangsaan asing yang telah menyelesaikan pendidikan awal mereka. 

Dalam hal ini, MistralJeanne d’Arc yang termasyhur, yang kini telah dipensiunkan setelah aktif berkeliling dunia mengarungi samudera selama lima puluh tahun. Sebagai rangkaian dari misi tersebut, sejumlah kegiatan kerjasama dengan Angkatan Laut Indonesia diselenggarakan, selama kunjungan. Akhirnya, armada angkatan laut ini apabila diperlukan dapat bertolak kapan saja untuk mengemban tugas yang sifatnya lebih operasional. 

Sepanjang perjalanan dari Perancis, armada ini telah mengikuti berbagai operasi singkat, seperti evakuasi kemanusiaan di Tunisia dan penumpasan bajak laut di lepas pantai Somalia. Kegiatan tersebut tentunya merupakan ajang latihan bagi para perwira siswa. Dengan cara seperti ini mereka mempelajari pekerjaan yang akan menjadi santapan sehari-hari, dalam tugas mereka di kemudian hari menggantikan peran kapal
Sumber: Ambafrance

Dua Kapal Perang Thailand Merapat di Bali

HTMS Taksin akan dijaga ketat oleh 60 personel TNI AL selama 24 jam.
HTMS Taksin Fregat AL Thailand

BENOA-(IDB) : Dua kapal perang Thailand, HTMS Taksin dan Craiburi, dikawal KRI Rencong, masuk perairan Bali dan bersandar di Pelabuhan Benoa, Denpasar, siang ini.

Kedatangan dua kapal perang itu langsung disambut Komandan Lanal Benoa Denpasar, Letkol Laut (P) I Wayan Suarjaya di Dermaga Selatan sekira pukul 11.00 Wita.
Kedua kapal tersebut tengah membawa 260 taruna laut datang ke Bali selama empat, hari hingga Selasa 26 April 2011. 

"Kedatangan dua kapal perang Thailand ini selain berwisata di Bali, juga membawa misi persahabatan kedua negara," ujar Suarjaya didampingi Kapten Laut (KH) Bagus Parta Wijaya, Jumat, 22 April 2011.

Selama kunjungan di Pulau Dewata, mereka memiliki serangkaian kegiatan internal maupun bersama jajaran TNI AL. Di antara agenda kegiatan yang dihelat di kapal yang dilengkapi senjata canggih itu adalah "Cocktail Party".

Kegiatan lain para tentara laut negeri gajah putih itu adalah melakukan pertandingan persahabatan olahraga sepak bola, yang akan digelar Sabtu, 23 April 2011 besok, di Lapangan Pegok, Sesetan, Denpasar. Selain itu, mereka juga akan berwisata ke sejumlah obyek wisata di Bali. 

HTMS Taksin 422 Fregat AL Thailand
Bagus menambahkan, dari spesifikasi Kapal HTMS Taksin yang dinahkodai  Captain Aniruth Sawasdee, diketahui kapal bikinan Italia tahun 1939 itu, memiliki bobot 2.800 ton atau standar. 
Kapal tersebut memiliki panjang 120.50 meter dan lebar 13,70 meter dengan kecepatan 18 hingga 32 knot.

Sementara kapal perang Craiburi dinahkodai Kapten ED Youwananggoon, merupakan buatan Cina tahun 1992 dengan spesifikasi panjang 132,2 meter dan berat, 
2.400 ton. "Kapal ini memilki kecepatan 18 knot," imbuh Bagus.

Selama lawatan di Bali, kedua kapal asing dan KRI Rencong yang bersandar di Pelabuhan Benoa akan dijaga ketat oleh 60 personel TNI AL selama 24 jam untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. "Kedatangan dua kapal asing itu kan sebagai tamu, ya harus kita layani dan jamin keamanannya," Bagus menjelaskan.

Sumber: Vivanews