Tampilkan postingan dengan label Kapal Perusak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Perusak. Tampilkan semua postingan

Tiga Kapal Nahkoda Ragam Class Dipastikan Datang 2013

JAKARTA-(IDB) : Program pengadaan kapal perang jenis fregat dari Brunei Darussalam diperkirakan mulai terealisasi tahun depan. Rencana pembelian itu sempat ditentang kalangan DPR karena kualitas kapal diragukan.

Meski demikian, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno memastikan bahwa kondisi kapal perang itu dalam kondisi sempurna.Tiga unit kapal buatan Inggris tersebut akan datang bertahap mulai 2013 hingga 2014. KSAL menilai Indonesia sangat beruntung mendapatkan tiga unit kapal itu. Pasalnya, kapal yang sudah dipersenjatai lengkap itu dibeli dengan harga murah.


“Hanya mengeluarkan USD380 juta untuk tiga unit.Brunei saja membeli kapal tersebut dengan harga satuan sebesar USD600 juta,” katanya di Jakarta kemarin. Menurut dia,Brunei tak jadi membeli kapal fregat dari Inggris tersebut karena merasa tak cocok secara nonteknis. “Mereka memesan kapal besar, tapi ternyata angkatan lautnya sedikit. Begitu (kapal) mau jadi, mereka bingung,” terangnya.

Di satu sisi,Indonesia tengah membutuhkan penguatan kapal perang untuk TNI Angkatan Laut. Hal ini dilihat sebagai peluang untuk mendapat tambahan kapal dengan harga murah karena Brunei sendiri tak jadi memakainya. Apalagi, kapal tersebut telah dipersenjatai lengkap. Tak hanya itu, kapal itu juga dibuat dengan spesifikasi yang tinggi.

“Saya sudah melihatnya, tidak ada kendala teknis. Alat-alatnya justru nomor satu semua karena yang memesan negara kaya,”lanjutnya. Soeparno menyebut, jika Indonesia memesan sendiri kapal jenis yang sama dengan spesifikasi serupa, tidak akan cukup anggarannya. “Kalau pesan sendiri, mana mungkin kita mendapatkan sebanyak itu,”cetus dia.

Kalangan wakil rakyat di Komisi I DPR sebelumnya mempersoalkan pembelian tiga kapal tempur berjenis Multi Role Light Fregate itu. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan ada persoalan teknis yang membuat Brunei tak jadi membelinya. Hasanuddin menilai, ada ketidaksesuaian spesifikasi pesanan dari BAE,perusahaan pembuat kapal tersebut.“Bahkan, ada informasi bahwa spesifikasinya diturunkan sehingga Sultan Brunei tidak mau membayarnya,”tuturnya.

Akibat membatalkan pembelian secara sepihak, BAE kemudian memerkarakan Brunei ke Arbitrase Internasional pada 2007. Brunei pun terpaksa membeli.Alhasil, kapal tak terpakai dan Brunei mencoba untuk menjualnya kembali. Dalam tahap penawaran, sejumlah negara menolak, termasuk Vietnam. Pada awalnya, Indonesia sempat menolak karena kapal ini memiliki kendala teknis yakni pada stabilitas kapal.

Pada saat dipakai pada kecepatan tinggi, kapal menjadi miring. Ada informasi juga yang menyatakan bahwa meriamnya tidak bisa tepat sasaran. Karena alasan inilah kemudian pembelian itu dipertanyakan. Protes juga dilayangkan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Salim Mengga.Menurutnya,mubazir jika TNI AL justru membeli kapal dengan spesifikasi yang diragukan ketangguhannya. 



Sumber : Sindo

Proses Pengadaan Kapal PKR Sudah Sesuai Prosedur Dan Kebutuhan

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan seluruh proses pengadaan 1 Unit Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 sudah sesuai prosedur dan terhindar dari unsur korupsi. Ketegasan ini disampaikan Kemhan untuk menanggapi berita dan informasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan pengadaan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 yang terindikasi korupsi. Sebelumnya salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mempermasalahkan beberapa hal yang terkait dengan pengadaan Kapal PKR dari Belanda. Salah satunya terdapat intervensi pemerintah kepada TNI AL agar membeli kapal tersebut, Kepala Staf TNI AL Laksmana Soeparmo, tersirat adanya penolakan terhadap rencana pembelian kapal perang dari Belanda itu dan permasalahan perbandingan pengadaan Kapal KPR dari Italia yang lebih dapat mengefisiensikan anggaran.

Sehubungan dengan hal tersebut, dapat dijelaskan bahwa pengadaan Kapal PKR dari Belanda kecil kemungkinan terjadinya korupsi karena pengadaan PKR sudah melalui proses yang panjang (hampir 2 tahun), dari mulai tahap perencanaan tanggal 16 Agustus 2010 sampai dengan ditandatangani kontrak pada tanggal 5 Juni 2012. Kontrak pengadaan PKR dengan skema joint production antara PT PAL Indonesia dan DSNS Belanda ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo dengan Direktur Naval Sale of Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Evert Van den Broek, di Kantor Kemhan di Jakarta.

Selama proses pengadaan Kapal PKR telah dibentuk Tim Manajemen Proyek Kerjasama Pembangunan dari TNI AL yang bertugas menunjang keberhasilan proyek khususnya dalam Transfer of Technology (ToT) dan pemberdayaan Industri Pertahanan (PT. PAL Indonesia) dan lokal Konten. Hal ini sudah sangat jelas menegaskan tidak adanya pemaksaan Pemerintah kepada TNI AL dan adanya penolakan dari Kasal.

Terkait pengadaan Kapal PKR milik Italia, penawaran ToT yang ditawarkan untuk membangun Kapal secara keseluruhan di PT. PAL, bukan menjadi penentu kemenangan proses pengadaan ini. Dukungan logistic terpadu, sistem pemeliharaan dan komunaliti dengan kapal yang telah dimiliki TNI AL juga menjadi pertimbangan yang digunakan.

Bila dibandingkan dengan pengadaan Kapal PKR dari Belanda tersebut sangatlah banyak terdapat kelebihan, diantaranya mencakup penyediaan Program Transfer of Technology kepada Industri dalam negeri dalam hal ini PT. PAL untuk pemahaman filosofi desain dan pembangunan konstruksi Kapal. Terdapat perolehan Hak yang menguntungkan, yakni pihak Belanda dapat memberikan lisensi untuk memproduksi dan hak untuk mengekspor setiap kapal PKR yang dibangun di Indonesia. Disamping itu tanpa adanya biaya royalti, Pemerintah Indonesia mempunyai hak untuk memberikan lisensi untuk produksi dan hak untuk mengeskpor kepada industri Nasional Indonesia. Mengenai program training yang disediakan pihak Damen Schelde Naval Shipbuilding Belanda meliputi Familiarization, pengoperasian Kapal dan pemeliharaan tingkat organik untuk Anak Buah Kapal (ABK) termasuk pemeliharaan tingkat menengah untuk ABK ini serta pemeliharaan tingkat depo untuk Base Maintenance Team (BMT)

Pada kesempatan ini, dapat diberikan gambaran tentang Nilai ToT yang diberikan pihak DSNS (Damen) kepada PT. PAL Indonesia (Persero) adalah sebesar 7 Juta Euro. Besarnya nilai ToT diperoleh berdasarkan hasil negosiasi Kemhan dengan DSNS yang mempertimbangkan beberapa hal.

Diantaranya adalah berdasarkan standar biaya yang diterapkan di Eropa Timur, dan prioritas pencapaian sasaran penggunaan alokasi anggaran untuk 1 unit kapal PKR yang telah disetujui oleh user/TNI AL. Sehingga ToT merupakan prioritas namun tetap menjadi bahan pertimbangan yang harus diwadahi di dalam setiap pengadaan alutsista. Nilai ToT yang diberikan kepada PT. PAL Indonesia (Persero) untuk biaya pembayaran dalam rangka penggunaan personel dan fasilitas PT. PAL. Indonesia (Persero), sedangkan bahan dan raw materiil untuk pembangunan kapal ini didukung langsung oleh DSNS.

Adapun rincian penggunaan dari nilai ToT yang diberikan ini adalah untuk biaya pembangunan empat bagian/modul kapal sebesar 5,5 juta Euro dan untuk pelatihan personel PT. PAL Indonesia (Persero) di Vlissingen, Netherland dan di Surabaya, Indonesia sebesar 1, 5 Juta Euro. Total dari nilai ToT sebesar 7 Juta Euro belum termasuk Intellectual Property, materi ajar dan Tuition fee yang jika di hitung maka nilainya akan melebihi 7Juta Euro

Kapal PKR 10514 ini dilengkapi dengan main engine 2xdiesel engine, 2xE Drive (CODOE). Diesel Generator 4x715 kw, dan 2x435 kw, dan Gear Box CODOE, heavy duty. Combat System, yaitu persenjataan antiserangan udara, antiserangan kapal selam, dan antiserangan kapal atas air. Data teknis platform, yaitu LOA 105 meter, lebar 14 meter, draft 3,7 meter, displacement 2.335 ton, speed max/cruise/economic 28/18/14 knot, range at 14/18 knot 5.000 NM, edurance 20 hari, sea keepinh upto sea state 5, crews 120 orang, helli pad 10 ton. Harga kapal PKR 10514 per unitnya sebesar 220 juta dolar Amerika dengan waktu penyelesaiannya selama 49 bulan.


Sumber : DMC

Proyek 10 Kapal Perang Baru Iran Capai 70%

TEHRAN-(IDB) : Wakil Panglima Angkatan Laut Republik Islam Iran urusan teknis, Laksamana Madya Abbas Zamini mengkonfirmasikan produksi dan pelengkapan 10 armada kapal tempur baru domestik menyusul produksi kapal perusak Jamaran dan Velayat.
 
Abbas Zamini dalam wawancaranya dengan Fars News (19/6), menyinggung kemampuan industri angkatan laut negara ini dalam mendesain dan memproduksi berbagai jenis kapal perusak baru dan berbagai jenis kapal pelucur roket dan mengatakan, kapal-kapal perusak baru itu merupakan bagian dalam proyek Moujeh 1 (Gelombang 1) dan dalam proyek Moujeh 2 (Gelombang 2) kapal perusak Velayat tengah diproduksi di kompleks indukstri  maritim Syahid  Tamjidi di Bandar Anzali yang prosesnya telah mencapai 70 persen.
 
Lebih lanjut Zamini mengataan, "Selain itu, tengah diproduksi pula berbagai kapal perusak baru tipe Mouj dan Sina yang masuk dalam proyek Moujeh 3 dan 4."
 
Kapal perusak berikutnya adalah Sahand yang akan diproduksi dalam proyek Moujeh 5 yang menurut rencana akan diselesaikan hingga tahun ini.
 
Zamini juga menyinggung produksi berbagai kapal perusak tipe Sina dalam proyek Moujeh 1, 2, dan 3, yang sedang dalam proses dan menurut rencana akan diproduksi kapal Peykan, Joushan, Darafsh. 
 
Kapal perusak tipe Sina 4, 5, 6, dan tujuh sedang dalam tahap desain dan persiapan produksi.
 
Di akhir pernyataannya, Zamini mengatakan, kapal perusak Sahand dan Sina 7  akan selesai diproduksi hingga akhir tahun ini. 


Sumber : Irib

DPR Minta Tinjau Ulang Kontrak Pembelian PKR 10514

JAKARTA-(IDB) : Kontrak kerja antara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dengan Director Naval Sale of Damen Schelde Naval Shipbuilding Evert van den Broek dipertanyakan Komisi I DPR RI. Rincian detail yang dilakukan pemerintah dinilai tidak berpihak kepada industri alutsista dalam negeri.

Meski begitu, kontrak tentang pengadaan Kapal Perusak Kawal Rudal 10514 telah dilaksanakan, Selasa (5/6) lalu. Rencana pengadaannya memang telah disetujui DPR RI. "Rencananya kapal perang itu akan dibangun di PT PAL dengan melibatkan para teknisi anak bangsa. Tapi ternyata rincian detail kontrak yang dilakukan pemerintah banyak dipertanyakan," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, Rabu (6/6).


Hasanudin menjelaskan, kapal itu sekarang dipastikan akan dibangun di galangan kapal Belanda. "Dari nilai kontrak sebesar USD 220 juta, Indonesia (PT PAL) hanya mendapat pekerjaan sebesar USD 7 juta saja atau kurang dari 3 persen," ungkap Hasanudin.


Sementara, lanjut Hasanudin, untuk TOT (transfer of technologi), Indonesia malah harus membayar lagi sebesar USD 1,5 juta. "Belum lagi harus membayar untuk sistem senjata dan pelurunya," imbuhnya.


Menurut Hasanudin, kondisi kontrak semacam itu bertentangan dengan jiwa Keppres No 35 tahun 2011 tentang pengadaan alutsista terutama pasal 4 ayat 2 ( d ).  "Di sana disebutkan, dalam pemenuhan kebutuhan alutsista TNI sekurang kurangnya memiliki syarat alih tehnologi/produk bersama untuk kepentingan pengembangan industri pertahanan dalam negeri," bebernya.


Untuk itu, kata Hasanudin, Komisi I DPR akan menanyakan rincian kontrak ini pada kesempatan pertama. "Mengapa harus memaksakan diri membeli dari Belanda" Padahal pabrik kapal Orizonte dari Italia menurut PT PAL sudah menawarkan diri bekerjasama membangun kapal itu di Indonesia dengan local content minimal 25 persen, dan siap melibatkan  perusahaan lain seperti PT Pindad, PT Karakatau Steel dan lainnya," pungkas Hasanudin.


Sumber : JPNN

Analisis : Kontrak PKR10514 Sebuah Keterkejutan Yang Wajar

ANALISIS-(IDB) : Hingar bingar belanja alutsista TNI yang  sedang menuju panen raya tahun ini tiba-tiba “dikejutkan” dengan kontrak kerjasama pengadaan 1 unit kapal perusak kawal rudal (PKR) antara Kemhan RI dengan DSNS (Damen Schelde Naval Shipbuilding) Belanda.  Kontrak itu ditandatangani Selasa tanggal 5 Juni 2012 di Jakarta.  Kemhan diwakili oleh Kepala Baranahan (Badan Sarana Pertahanan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan DSNS diwakili oleh Director Naval Sale Of DSNS Evert Van Den Broek.

Mengapa harus terkejut, karena komunitas militer dan publik kita tidak menyangka akan adanya penandatanganan kontrak PKR karena proyek itu sudah dianggap mati suri.  Padahal awalnya harapan begitu besar disandangkan terhadap proyek PKR light fregat ini yang kelak akan menghasilkan 10 kapal perang PKR dengan pola transfer teknologi.  Tetapi ketika membaca nilai kontraknya hanya menghasilkan nilai 1 produk yang biasa-biasa saja dan hanya bernilai kontrak US$ 7 juta untuk bagian PT PAL.  Sedangkan sisa dari nilai kontrak yang US$ 220 juta tetap milik Damen Schelde meski dinyatakan bahwa kapal itu akan dirakit bagian-bagiannya di PAL Surabaya.  Ironisnya ketika bicara transfer teknologi, RI harus bayar lagi sebesar US $ 1,5 juta pada guru mantan kolonialnya.
KRI Sigma Class dan LPD Class TNI AL dengan US Coast Guard di Laut Jawa Juni 2012
Diantara semua paket pengadaan alutsista TNI, paket kontrak dengan Damen Schelde ini merupakan paket yang berakhir anti klimaks padahal ereksi harapannya sudah cukup lama tapi tak mampu juga penetrasi.  Bandingkan dengan pengadaan Leopard yang sempat diributkan itu tetapi sesungguhnya komunitas forum militer dan publik tanah air mendukung kehadiran MBT Leopard.  Namun ketika kontrak pengadaan PKR 10514 (Kapal perang dengan panjang 105 meter dan lebar 14 meter, berat 2335 ton) ini di sign, kritik yang bertubi-tubi ditembangkan oleh komunitas itu tak terkecuali oleh wakil ketua Komisi I DPR TB Hasanudin.

Kalau dalam proyek pengadaan Leopard komunitas militer yang tergabung dalam formil kaskus sebagian besar kontra dengan TB Hasanudin maka kali ini sebagian besar mereka justru mendukung langkah TB Hasanudin untuk membawa persoalan kontrak itu dalam rapat dengan Kemhan minggu-minggu mendatang.  Banyak hal yang perlu ditanyakan, diklarifikasi sehubungan dengan pola kerjasama pengadaan alutsista kapal perang yang dinilai banyak kalangan bersifat setengah hati.  Setengah hati di pihak Indonesia sebangun dengan setengah hati pihak Belanda.

Proyek PKR ini sudah tersendat lebih dari empat tahun dengan berbagai cerita yang tak berujung.  Setelah KRI Sigma ke empat di terima, publik dilambungkan dengan rencana proyek Kornas (korvet nasional) atau yang disebut Sigma jilid 5, lalu berubah lagi dengan memajang proyek PKR, dan bahkan sudah pakai acara potong baja sebagai simbol dimulainya proyek itu.  Namun  setelah itu tak ada kabar lagi.  Lalu tiba-tiba ada rencana mengakuisisi 3 kapal perang dari jenis Nachoda Ragam Class, tiga perawan tua yang tak laku-laku.  Awalnya sudah dipinang Brunai namun tak lama dibatalkan karena spek teknisnya tak sesuai dengan permintaan Brunai walaupun negeri kaya minyak itu sudah membayar lunas maharnya.
Pangkalan Utama TNI AL Surabaya dengan 3 korvet Sigma Class
TNI AL memang masih membutuhkan banyak kapal perang berbagai kelas untuk memenuhi ambisinya membentuk 3 armada tempur.  Diantara berbagai proyek pengadaan kapal perang itu tercatat proyek kapal cepat rudal buatan galangan swasta nasional yang berjalan mulus.  Selama 2 tahun terakhir ini sudah jadi 2 KCR Clurit Class.  Proyek pengadaan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korsel sedang berjalan meski jalan ke arah sana berliku sampai membutuhkan 5 tahun untuk memilih jenis kapal selam yang bagaimana yang akan mengawal perairan RI.  Meski sempat bangga dengan rencana menghadirkan 2 kapal selam kelas Kilo dari Rusia namun akhirnya kapal selam kelas U209 dari Korsel yang terpilih karena ada sekolah transfer teknologinya.

Ada pertanyaan menggelitik mengapa untuk urusan pengadaan kapal pemukul permukaan kita harus berkiblat ke Belanda.  Padahal masih banyak negara yang mampu membuat jenis kapal yang sekelas dengan pola yang lebih ramah dalam perjanjian kerjasamanya, misalnya Italia.  Ada kesan dalam setiap pengadaan alutsista dengan negeri penjajah ini mereka selalu beranggapan bahwa mereka merasa diatas kita derajat kelasnya.  Lihat saja ketika kita mau pesan Leopard, Belanda mempersyaratkan berbagai macam hal seperti HAM dan Papua.  Namun ketika kita balik arah ke Jerman mereka senewen juga dan minta bagian separuhnya daripada tidak dapat sama sekali.  Menepuk air di dulang tepercik muka sendiri.

Sebagai negeri penjajah, sudah tiba saatnya bagi Belanda untuk memamerkan langkah kedewasaan sikap dengan lebih banyak membagi ilmu, mempertaruhkan langkah arifnya daripada sekedar berbisnis murni.  Proyek kerjasama dalam bentuk apa pun semestinya dijadikan langkah untuk mempromosikan diri sebagai bangsa yang menghargai nilai-nilai kebersamaan dan harkat.  Bukan selalu mendikte dan merasa paling pintar.  Ingat jaman IGGI, ingat lagak Mr Pronk dekade 90an. Sayangnya juga kita masih berada dalam lingkar langgam sebagai anak jajahan dengan pola pikir banyak mengangguk, sehingga kita juga tak mampu membebaskan diri dari pengaruh bathin 350 tahun itu.

Negara-negara industri alutsista di Asia seperti Korsel dan Cina selalu menampilkan gaya gaul yang setara dan ini memang kultur Asia yang selalu menghargai bangsa lain.  Dengan Cina kita sudah mendapatkan kerjasama teknologi rudal.  Demikian juga dengan Korsel dengan teknologi kapal selam.  Kerjasama pengadaan kapal perusak kawal rudal kelas light fregat awalnya sangat diharapkan menghasilkan jumlah kapal light fregat minimal 2 unit tahun 2014 dari opsi pengadaan 10 unit setelah tahun 2014.  Selain itu dengan pengadaan kapal sebanyak itu diharapkan RI dapat mengambil ilmu transfer teknologinya setelah kapal ketiga dan keempat.  Namun cerita dongeng sebelum tidur itu justru dianggap mati suri karena Damen Schelde dan PT PAL gagal bersepaham dalam kualitas dan kuantitas transfer teknologi yang diinginkan.

Nah ketika perjalanan pasal kontrak terhenti di terminal pasar transfer teknologi, sementara TNI AL sangat memerlukan kapal-kapal berkualifikasi korvet ke atas lalu muncullah tawaran 3 Nachoda Ragam (NR) Class.  Sebagai user TNI AL memang butuh banyak kapal perang untuk peremajaan kapal perangnya sekalian mengejar pencapaian target MEF tahap I yang berakhir tahun 2014.  Terlepas dari apapun kontroversi tentang NR sesungguhnya Angkatan Laut kita membutuhkan kapal perang ini karena kegagalan pencapaian kontrak PKR sesuai jadwal. Apalagi NR ini barangnya sudah ada. 
3 Nachoda Ragam Class yang diinginkan TNI AL
Kontrak PKR 10514 yang di sign tanggal 5 Juni 2012 itu hanya untuk pembuatan 1 kapal tok.  Ini juga sebuah bentuk keanehan karena biasanya kontrak kerjasama minimal untuk 2 kapal perang. Okelah kalau memang kontrak PKR 10514 itu dilakukan dalam rangka memenuhi payung hukum atau sekedar menggugurkan kewajiban, ke depannya tidak salah kalau kita melirik ke Cina, Perancis dan Italia.  Kita masih butuh kapal perang berkualifikasi fregat dan bahkan destroyer.  Negara-negara itu diyakini bersahabat dan tidak pelit ilmu teknologi sehingga jalannya proses pertambahan kapal perang RI dapat terpenuhi sekalian menimba teknologinya.  Catatan untuk PT PAL juga adalah jangan terlalu berharap banyak tentang ilmu transfer teknologi jika secara lahiriah dan bathiniah belum mampu menjalankan peran itu secara total.

Kita sangat mendukung perkuatan kapal perang TNI AL.  Ada proyek kapal cepat rudal  KCR 40 dan KCR 60 serta KCR Trimaran.  Ada proyek kapal tanker, ada proyek kapal LST, ada proyek kapal selam, semuanya sedang berjalan.  Ketersendatan proyek PKR dengan Belanda selayaknya dijadikan pengalaman berharga.  Ke depan kita mengharapkan pola kerjasama pembuatan kapal pemtkul berkualifikasi fregat dan destroyer dengan negara lain selain Belanda dapat berjalan.  Tidak satu jalan ke Roma bukan, dan hanya keledai yang bisa jatuh ke kubangan lebih dari sekali.

Sumber : Analisis

PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde Belanda

SIGMA FMM 10514 Morocco1 PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde
Light Frigat SIgma 10513 Maroko
JKGR-(IDB) : Apakah ini kategori berita sedih atau gembira, silahkan ditafsirkan masing-masing. Setelah tertunda-tunda selama 2 tahun, Departemen Pertahanan akhirnya memesan satu Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 ke perusahaan Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding. 
 
Kontrak ini ditandatangani di kantor Kemhan Jakarta, oleh Badan Sarana Pertahanan yang mewakili Kementerian Pertahanan. 
 
“Disamping untuk tugas tempur, Kapal PKR 10514 diperlukan untuk memberikan deterrent effect terhadap pihak yang mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI”, ujar Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Menurut pemerintah, Pembangunan Kapal PKR 10514 akan melibatkan joint production dengan PT. PAL Indonesia, berupa Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal.

Namun seperti apa bentuk ToT tersebut, belum diketahui secara jelas. Sebelumnya PT PAL pernah menolak transfer of teknologi yang ditawarkan Damen Schelde, karena hanya meliputi konstruksi desain. Menurut PT PAL, mereka telah menguasai konstruksi desain kapal sekelas PKR. Teknologi yang dibutuhkan justru instalisasi sistem dan persenjataan kapal.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, puluhan Insinyur PT PAL akan bertolak ke Belanda, untuk melakukan proses alih teknologi.

sigma maroko tarik PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde
Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko
Kapal PKR 10514 akan dibangun di tiga tempat: PT. PAL Indonesia, Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR akan dirakit di PT.PAL Indonesia lalu diserahterimakan pada tahun 2017. 
 
Pengadaan Kapal PKR 10514 ini menggunakan anggaran kredit eksport sebesar 220 juta dolar AS.

image025 PKR Contest: Winner Goes to Damen ScheldeSpesikasi Kapal PKR 10514
 
Harga 1 Unit: USD 220 juta dengan waktu penyelesaian 4 tahun lebih.

Panjang 105 x lebar 14 meter dengan bobot 2335 ton.

Speed: Max/Cruise/Economic 28/18/14 knot.
Range at 14/18 knot 5000 NM, Endurance 20 hari, Sea Keeping Sea State 5
Kru: 120 orang, Helli Pad 10 ton.

Persenjataan: Anti serangan Udara, Anti serangan Kapal Selam dan Anti serangan Kapal Atas Air.

Sejarah Sigma

 
Sebenarnya, kerjasama pembangunan PKR Sigma 10514 dengan Damen Schelde sudah ditandatangani sejak tahun 2010 di Surabaya Jawa Timur. Namun setelah itu tidak ada perkembangannya karena perbedaan pendapat dengan PT PAl soal ToT.

Hal ini mengingatkan kita dengan pemesanan 4 korvet Sigma ke Damen Schelde Naval Shipbuilding. Awalnya disepakati 2 korvet akan dibangun di Belanda dan 2 di Indonesia. Namun kenyataannya ke 4 korvet dibangun di Belanda. Setelah 4 korvet dikirim ke Indonesia, ahli ahli kapal Indonesia tetap saja tidak bisa membangun korvet seperti yang dicita-citakan dengan korvet Nasional. Selama pembangunan 4 Korvet tersebut, tidak ada transfer teknologi ke Indonesia.

Kini Indonesia memesan lagi satu Light Frigate Sigma 10514 dan dijanjikan ada transfer teknologi.
Transfer teknologi seperti apa yang anda harapkan dari pemesanan satu kapal perang ? Saat memesan 4 korvet dengan nilai sekitar 600 juta USD saja, Damen Schelde Naval Shipbuilding. tidak memberikan alih teknologi.

image022 PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde
Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko
Pemerintah Indonesia tampaknya sudah cinta kering dengan Perusahaan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Mengapa disebut cinta kering ?. Karena biasanya orang yang sudah jatuh cinta, tetap suka walau “dikerjai/diakali” oleh pasangannya. 

Mirip dengan kasus pemesanan 4 korvet Sigma dan 1 Light Frigat kepada Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. 

Sekarang Indonesia telah memesan satu Light Frigat ke Belanda. Bagaimana dengan nasib Light Frigat kedua, ketiga dan seterusnya ? Apakah akan dibangun di PT PAL Indonesia, atau tetap “Keukeuh” dibangun di Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda.


Sumber : JKGR

DPR : Kenapa Memaksakan Diri Beli PKR Ke Belanda ???

sigma maroko tarik PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde
Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko
JAKARTA-(IDB) : Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang menjadi Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Tubagus Hasanuddin, menyatakan bahwa Kontrak Kementerian Pertahanan dengan Director Naval Sale of Damen Schelde Naval Shipbuilding Evert van den Broek, Belanda, untuk pengadaan Kapal Perusak Kawal Rudal 10514 telah dilaksanakan kemarin, Selasa 5 Juni 2012.

Rencana pengadaannya memang telah disetujui DPR RI, yaitu bahwa kapal perang itu akan dibangun di PT PAL dengan melibatkan para teknisi anak bangsa. Tapi DPR RI kecewa dengan detail kontrak yang dibuat pemerintah, dalam hal ini Kemenhan.

"Ternyata rincian detail kontrak yang dilakukan pemerintah banyak dipertanyakan. Kapal itu sekarang dipastikan akan dibangun di galangan kapal Belanda, dan dari nilai kontrak seharga 220 juta USD, Indonesia (PT PAL) hanya mendapat pekerjaan sebesar 7 juta USD saja (kurang dari 3%), sementara untuk TOT (transfer of technology)  Indonesia malah harus membayar lagi sebesar 1,5 juta USD, belum lagi harus membayar untuk sistem senjata dan pelurunya," ujar Tubagus kepada VIVAnews, Rabu 6 Juni 2012.

Kondisi kontrak semacam itu, lanjut Tubagus, bertentangan dengan semangat Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan terutama sebagaimana diatur pasal 4 ayat 2 (d): "dalam pemenuhan kebutuhan  Alutsista TNI sekurang kurangnya memiliki syarat alih tehnologi/produk bersama untuk kepentingan pengembangan industri pertahanan dalam negeri."

Oleh karena itu, Komisi I DPR RI yang membidangi pengawasan kinerja pemerintah dalam program pertahanan, keamanan, dan politik luar negeri, akan memprotes kontrak antara Kemenhan dengan perusahaan galangan kapal di Belanda tersebut dalam agenda rapat kerja mendatang. "Komisi I DPR akan menanyakan rincian kontrak ini pada kesempatan pertama," kata Tubagus.

"Mengapa harus memaksakan diri membeli dari Belanda? Padahal pabrik kapal Orizonte dari Itali menurut PT PAL sudah menawarkan diri bekerjasama membangun kapal itu di Indonesia dengan local content minimal 25%  dan siap melibatkan perusahaan lain di dalam negeri seperti PT Pindad, PT Karakatau Steel dan lain-lain," ujar Tubagus.


Sumber : Vivanews

Pembuatan PKR 105 Resmi Ditandatangani Indonesia DSNS

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) melalui Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) secara resmi menandatangani kontrak pengadaan 1 unit  Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda.
 
Kontrak ditandatangani oleh Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo yang mewakili Kemhan RI dengan Director Naval Sale of DSNS Evert van den Broek yang mewakili pihak DSNS, Selasa (5/6) di kantor Kemhan, Jakarta. Hadir dan menyaksikan acara penandatangan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL. Hadir pula Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan dan Direktur Utama PT.PAL Indonesia (Persero) Ir M Firmansyah Arfin.

Pengadaan Kapal PKR 10514 ini dalam rangka untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AL guna mendukung tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.  Disamping digunakan untuk tugas  tempur, Kapal PKR 10514 ini juga diperlukan untuk memberikan deterrent effect (efek gentar)  terhadap pihak manapun yang akan mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.

Kabaranahan Kemhan RI  mengatakan,  dalam pembangunan Kapal PKR 10514 ini, Damen Schelde Naval Shipbuilding melakukan joint production (kerjasama produksi) dengan PT. PAL Indonesia (Persero) selaku industri pertahanan dalam negeri.  Damen Schelde Naval Shipbuilding telah memutuskan untuk memberikan Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal PKR 10514 kepada PT. PAL Indonesia (Persero).

Rencananya, Kapal PKR 10514  ini akan dibangun di tiga tempat antara lain PT. PAL Indonesia (Persero), Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR 10514 akan dirakit di PT.PAL Indonesia (Persero). Diharapkan, Kapal PKR 10514  ini sudah selesai dan diserahterimakan pada awal  tahun 2017.

Lebih lanjut Kabaranahan mengatakan,  ini adalah awal yang baik dari industri pertahanan dalam negeri khususnya  PT. PAL Indonesia (Persero) dalam mengembangkan kemandirian di bidang Alutsista. Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemhan RI melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang akan melaksanakan rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.

Sementara itu, guna mendukung pengadaan Kapal PKR 10514 ini,  Kabaranahan Kemhan RI mengungkapkan pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran kredit eksport dengan alokasi multiyears dengan jumlah 220 juta dolar AS.



Sumber : DMC

Kapal Perusak Baru Tengah Dipershapkan Iran

TEHRAN-(IDB) : Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Habibollah Sayyari menyatakan Iran sedang membangun kapal perusak baru. Laksamana Sayyari Sabtu (26/5) mengatakan angkatan laut Iran memproduksi kapal perusak yang lebih maju dan canggih daripada produk sebelumnya Jamaran, yang diproduksi sebagai bagian dari rencana lebih luas untuk meningkatkan kekuatan armadanya di perairan internasional.

Dia mencatat bahwa angkatan laut Iran memulai program swasembada di bidang produksi sistem peralatan militer setelah kemenangan Revolusi Islam tahun 1979.

  Angkatan Laut Iran meluncurkan destroyer Jamaran pertama di perairan Teluk Persia pada Februari 2010. Kapal perusak itu berhasil menyelesaikan misi internasionalnya yang pertama pada tanggal 18 Desember setelah melakukan kontra pembajakan di Teluk Aden.

Kapal perusak berkekuatan 1.420 ton itu merupakan bagian dari armada 16 kapal perang Iran yang dilengkapi dengan radar modern dan kemampuan perang elektronik.


Kapal perang dengan kecepatan tertinggi hingga 30 knot, dan dilengkapi helipad itu memiliki sistem teknologi canggih anti-pesawat, anti kapal permukaan dan anti bawah permukaan. Kapal juga telah dilengkapi dengan meriam dan torpedo laut.


Angkatan Laut Iran melakukan patroli di Teluk Aden sejak November 2008 untuk menjaga kapal dagang dan kapal tanker minyak yang dimiliki atau disewa oleh Iran maupun negara lain. 


Sumber : Irib

USS Zumwalt Kapal Perusak Amerika Terbaru Beroperasi Dua Tahun Lagi

BATH-(IDB) : Meski ditentang oleh sebagian petinggi Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) karena biaya pembuatannya terlalu tinggi, program pembuatan kapal perang masa depan USS Zumwalt jalan terus. Kapal yang penuh dengan teknologi canggih terbaru itu akan diluncurkan tahun depan dan diserahkan kepada US Navy pada 2014.

Saat ini, pembuatan Zumwalt terus berlangsung di galangan kapal Bath Iron Works di dekat kota Bath, Negara Bagian Maine, AS. Kepala Staf US Navy Laksamana Jonathan Greenert mengatakan, dengan segala kemampuannya, Zumwalt adalah kapal perang masa depan AS.

"Dengan kemampuan stealth, sistem sonar yang luar biasa, kemampuan menyerang, dan kebutuhan tenaga manusia yang lebih sedikit, ini adalah masa depan kita," tutur Greenert saat mengunjungi Bath Iron Works, pekan lalu.

Zumwalt adalah jenis kapal perusak berpeluru kendali kelas terbaru (DDG-1000) yang akan menjadi kapal perusak terbesar dan tercanggih yang pernah dioperasikan US Navy. Kapal itu memiliki desain lambung tumblehome yang unik, yakni mengerucut ke atas.

Meski berukuran lebih besar daripada kapal-kapal perusak US Navy saat ini, Zumwalt akan dioperasikan oleh lebih sedikit awak kapal karena hampir semua sistemnya sudah otomatis.

Kapal yang dibuat dengan material komposit itu akan dilengkapi sistem pendorong elektrik, sonar terbaru, rudal, dan meriam-meriam berkemampuan tinggi yang menembakkan proyektil berpendorong roket dan berpemandu. Pada masa depan, kapal ini akan dilengkapi meriam elektromagnetik, yakni meriam yang tak lagi menggunakan ledakan mesiu untuk mendorong proyektil, melainkan medan elektromagnetik.

Untuk membangun kapal berukuran panjang 182 meter itu, galangan kapal milik General Dynamics tersebut menghabiskan dana 40 juta dollar AS (Rp 366,4 miliar) untuk membangun bangunan galangan baru setinggi 32 meter guna merakit bagian-bagian lambung kapal yang berukuran raksasa.

Dengan segala ukuran dan teknologi yang ia punyai, biaya membuat kapal terbaru ini, menurut angka resmi US Navy, mencapai 3,8 miliar dollar AS (Rp 34,8 triliun) per unit. Namun, Winslow Wheeler, Direktur Straus Military Reform Project di Pusat Informasi Pertahanan, di Washington DC mengatakan, ongkos sebenarnya bisa mencapai 7 miliar dollar AS (Rp 64,12 triliun) per unit.

Dengan biaya semahal itu, jumlah pesanan US Navy terus mengecil, dari awalnya 32 kapal menjadi 24 unit, kemudian 7 unit, dan akhirnya diputuskan untuk membuat 3 unit saja.

Greenert mengatakan, kapal baru ini sangat cocok dengan perubahan strategi militer global AS untuk memusatkan perhatian di kawasan Asia Pasifik. Menurut US Navy, kapal tersebut efektif digunakan untuk menangkal serangan musuh baik di lautan lepas maupun di perairan dekat pantai.
Meski demikian, beberapa kritik menyebutkan, kapal tersebut terlalu memaksakan diri memasukkan begitu banyak teknologi canggih. Desain kapal itu juga disebut kurang tangguh dalam mempertahankan diri dari serangan rudal. Para pengamat pertahanan memperingatkan, kapal itu rentan terkena serangan dalam operasi dekat pantai. Bentuk lambungnya juga dikhawatirkan kurang stabil dalam kondisi tertentu. 

Sumber : Kompas

Kapal Perang Rusia Kembali Latihan di Perairan Suriah

MOSCOW-(IDB) : Satu kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Rusia, telah berangkat menuju perairan Laut Tengah menuju Suriah.

Kapal itu akan mengisi perbekalan di pangkalan Rusia di Pelabuhan Tartus, Suriah, sebelum menggelar latihan di lepas pantai negara yang sedang dilanda krisis berdarah tersebut.

Demikian diungkapkan seorang sumber di kalangan pejabat pemerintah Rusia, Kamis (5/4/2012), kepada kantor berita RIA Novosti. Kapal yang dimaksud adalah Smetlivy, jenis kapal perusak kelas Kashin, yang sudah dioperasikan AL Rusia sejak 1969.

Kapal tersebut dilaporkan telah meninggalkan pangkalannya di Sevastopol di Laut Hitam, 1 April lalu, dan akan langsung menuju Tartus untuk mengisi perbekalan. Selanjutnya, kapal itu akan berada di perairan sekitar Suriah sampai bulan Mei.

Tidak disebutkan misi khusus yang diemban kapal itu. Namun sumber yang dikutip RIA Novosti mengatakan, sejak konflik internal di Suriah pecah Maret tahun lalu, makin banyak kapal perang NATO berada di perairan di sekitar Suriah.

Smetlivy adalah kapal kelas Kashin terakhir yang masih dioperasikan AL Rusia. Kapal ini beroperasi kembali setelah menjalani reparasi pada tahun 2011. Kapal berukuran panjang 144 meter ini dilengkapi berbagai persenjataan, seperti dua meriam 76 mm AK-726 dan sistem rudal antikapal SS-N-25 Switchblade.

Akhir tahun lalu, konvoi sembilan kapal perang Rusia yang dipimpin kapal induk Admiral Kuznetsov juga menggelar latihan di Laut Tengah dan sempat mampir di Tartus. Suriah adalah sekutu lama Rusia sejak era Perang Dingin. 

Sumber : Kompas

Lagi, Inggris Kirim Kapal Destroyer ke Pulau Falkland

LONDON-(IDB) : Kerajaan Inggris kembali mengerahkan kapal perangnya yang terbaik, HMS Dauntless, dari Portsmouth menuju Pulau Falkland untuk berpatroli selama enam bulan.

Meski ketegangan antara Inggris dan Argentina terkait sengketa Pulau Falkland makin meningkat, Kementerian Pertahanan Inggris menjelaskan, pengerahan armada tempur ke Pulau Atlantik Selatan itu adalah misi rutin. Sementara HMS Dauntless dikerahkan, HMS Montrose yang ukurannya lebih kecil akan dipulangkan kembali ke Inggris.

"Kapal HMS Dauntless sudah bekerja dengan baik pada tahun lalu, jadi bersiaplah untuk menjalankan operasi pengerahan unit HMS Dauntless. Kami siap untuk melindungi wilayah itu dan juga kepentingan Inggris," ujar kapten kapal Will Warrender, seperti dikutip Sky News, Rabu (4/4/2012).

Anggota keluarga dari 190 anak buah kapal HMS Dauntless tampak berkumpul di Round Tower, Old Portsmouth dan menyaksikan keberangkatan kapal perang itu. HMS Dauntless akan berlabuh di Afrika bagian barat dan mengunjungi Afrika Selatan. Namun, tugas utamanya adalah menjaga keamanan di Pulau Falkland, di tengah munculnya sengketa wilayah.

Salah satu senjata terbaik dari HMS Dauntless adalah misil Ular Laut. Misil tersebut merupakan misil canggih yang memiliki kecepatan 4.828 kilometer per jam.

Hingga kini, Presiden Argentina Fernandez de Kirchner selalu menuding Inggris memiliterisasi Pulau Falkland. Argentina juga masih menginginkan pulau yang disebut Pulau Malvinas itu masuk ke wilayahnya.

Bersamaan dengan itu, demonstrasi anti-Inggris pecah di Argentina. Para demonstran tampak memenuhi jalanan di depan kantor Kedutaan Besar Inggris serta membakar boneka Pangeran Charles.

Sumber : Okezone

Kapal Perang India Kelas Destroyer Sandar Di Makassar

MAKASSAR-(IDB) : Kapal perang milik Angkatan Laut India D 53 INS RANJIT bersandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, yang langsung disambut upacara oleh sejumlah personel Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) VI Makassar, Sabtu.

Selama tiga hari, kapal perang bertipe kelas perusak (destroyer) sepanjang 147 meter, lebar 15.8 meter, dan bobot 4.974 ton itu akan berada di Pelabuhan Makassar.

"Selama tiga hari kami di Makassar, akan melakukan kunjungan ke tempat wisata terdekat, selain untuk memenuhi bekal ulang logistik," kata Kapten Punit Chadda yang menakhodai INS RANJIT.

Adapun jumlah ABK kapal perang andalan India ini tercatat sebanyak 320 orang. Para ABK tersebut secara bergantian akan berkeliling dan menikmati keindahan Kota Makassar.

Salah satu lokasi yang akan dikunjungi yang tak jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, adalah Benteng Rotterdam.

Benteng yang memiliki nilai historis tinggi tersebut, erat kaitannnya dengan perjuangan prakemerdekaan dalam melawan pemerintah kolonial Belanda dan sekutunya, termasuk perjuangan melawan pemerintah portugis yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Indonesia.

Sumber : Antara

Menghadapi Krisis Selat Hormuz, Inggris Andalkan HMS Daring

Inggris meluncurkan HMS Daring Tipe 45 Destroyer pada 1 Februari 2006. Kapal perang ini berteknologi siluman yang mampu meloloskan diri dari radar lawan.
LONDON-(IDB) : Krisis di Selat Hormuz boleh jadi memanas. Soalnya, Inggris menyiagakan kapal perang paling gres dalam jajaran angkatan lautnya. Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond dalam warta AP dan AFP pada Sabtu (7/1/2012) mengatakan, pihaknya siap memberangkatkan HMS Daring Tipe 45 Destroyer ke selat tersebut.

Kapal perang itu nantinya akan menjadi salah satu tulang punggung sekutu andai Iran jadi menutup selat strategis bagi distribusi minyak dari kawasan Teluk ke Barat.

HMS Daring Tipe 45 Destroyer itu adalah pengganti Tipe 42. Kapal tersebut panjangnya 152,4 meter dengan bobot sekitar 8.000 ton.

Kapal perang tipe ini memiliki kelengkapan siluman yang bisa lolos dari deteksi radar lawan. Kapal ini membawa rudal antipesawat udara Sea Viper. HMS Daring mampu mengangkut 60 orang pasukan.

Selain itu, HMS Daring memiliki dek lebar. Dengan kelengkapan ini, HMS Daring bisa mengangkut helikopter seukuran Chinook.

Sumber : Kompas

Iran Akan Segera Luncurkan “Destroyer Jamaran II”

TEHRAN-(IDB) : Komandan Angkatan Laut Republik Islam Iran, Laksamana Habibullah Sayyari mengatakan, kapal perusak produksi dalam negeri kedua akan segera bergabung dengan armada angkatan laut negara ini.
 
Produksi kapal perusak Jamaran II itu sedang melalui tahap akhir, kata Sayyari dalam wawancaranya dengan IRNA Kamis (22/9). 

Pejabat tinggi militer Iran ini menambahkan bahwa Iran telah memproduksi secara massal kapal perusak Jamaran pertama yang sudah bergabung dengan armada angkatan laut.

Sayyari menekankan pentingnya partisipasi luas Iran di perairan bebas yang menurutnya bertujuan melindungi perairan teritorial Iran dan menjamin keamanan untuk kapal tanker minyak dan kapal dagang Iran di rute perairan internasional.

Ia juga mengatakan bahwa Iran akan segera mengirimkan 16 kapal perang ke Teluk Aden sebagai bagian dari program pengawalan kapal-kapal Iran di perairan yang rawan aksi pembajakan.

Iran telah memulai program swasembada industri pertahanan dan telah meluncurkan sejumlah proyek-proyek militer sejak kemenangan Revolusi Islam.

Angkatan Laut Iran meluncurkan kapal diproduksi dalam negeri pertamanya, Jamaran, di perairan Teluk Persia pada bulan Februari, 2010.

Sumber: Irib

US Navy Orders Two More DDG 1000 Destroyers

DT-(IDB) : The U. S. Navy has awarded General Dynamics Bath Iron Works, a subsidiary of General Dynamics, a $1.8 billion contract for the construction of DDG 1001 and DDG 1002, the next two ships in the Zumwalt-class program. DDG 1001 is scheduled to be delivered in December 2015 and DDG 1002 is scheduled to be delivered in February 2018.

"This contract enables us to maintain a strong base of quality shipbuilding jobs in Maine and continue our contributions to sustaining the U.S. Navy fleet," said Jeff Geiger, president of Bath Iron Works. "It provides Bath Iron Works with a healthy backlog of work and reflects the Navy's continued commitment to the DDG-1000 program, as well as their confidence in our ability to build and deliver all three ships of this class."

Geiger said, "Winning this work is a result of our commitment to operational excellence and to finding more efficient, affordable ways to operate in every part of our business. It gives us the opportunity to continue introducing new and innovative ways to build capable ships for the Navy."

"We appreciate all the support the Maine Congressional delegation has provided to this program. Their commitment to national defense and their advocacy on behalf of the workers of Maine has been a crucial factor," Geiger said.

The first ship in the class, DDG-1000, is over 50 percent complete and is scheduled to be delivered in 2014. The DDG-1000 Zumwalt-class destroyer is the U.S. Navy's next-generation, guided-missile naval destroyer, leading the way for a new generation of advanced multi-mission surface combat ships. The ships will feature a low radar profile, an integrated power system and a total ship computing environment infrastructure. Armed with an array of weapons, the Zumwalt-class destroyers will provide offensive, distributed and precision fires in support of forces ashore.

Work is already underway at the Bath, Maine, shipyard on DDG 1001 and DDG 1002. Congress previously approved funding for advanced procurement and initial construction of these ships. Bath Iron Works is the lead designer and builder for the program which employs approximately 5,400 people.
Source: Defencetalk

Russia Set To Build Nuclear-Powered Destroyer By 2016

MOSKOW-(IDB) : Russia will finish in 2016 the construction of a new class destroyer, which will most likely be nuclear powered, commander of the Russian Navy Adm. Vladimir Vysotsky said on Thursday.

"A prototype of an ocean-going class destroyer will be built in 2016 for the country's Navy," Vysotsky said at the 5th International Maritime Defense Show, IMDS-2011, in St. Petersburg.

The admiral added there was a 90 percent probability that the warship would be equipped with a nuclear-powered engine.

President of Russia's United Shipbuilding Corporation Roman Trotsenko said earlier on Thursday that his company would start designing a new-generation, nuclear-powered destroyer for the Russian Navy this fall.

He said the design phase will take up to two years.

Source: Defencetalk

Kapal Perusak Amerika USS Howard (DDG 83) Sandar Di Priok

Pada kapal perang seberat 9.200 ton ini juga terdapat pasukan pemadam kebakaran. 

JAKARTA-(IDB) : Kapal destroyer Amerika Serikat, USS Howard DDG 83, Senin 30 Mei 2011, merapat ke pelabuhan peti kemas, Tanjung Priok, Jakarta. Kapal itu baru saja melakukan latihan tempur gabungan dengan TNI Angkatan Laut.

Di atas dek kapal sepanjang 155 meter tersebut, tiga orang perwira memamerkan peralatan yang diperlukan dalam operasi penyerangan atas kapal perompak.

Selain senjata, di antara peralatan yang diperlukan dalam penyerangan adalah tali pemanjat, perlengkapan medis, dan perangkat perusak kapal. Tim penyerang terdiri dari 18 orang, mereka dibagi berdasarkan tugasnya masing-masing. Lihat foto-fotonya, klik di sini.

Setidaknya dalam satu tim terdapat seorang pembobol yang bertugas mendobrak pintu masuk maupun melubangi dinding kapal. Pendobrak dilengkapi dengan dengan peralatan berat yang terdiri dari kapakat, las tangan, dan perusak pintu. Peralatan ini beratnya puluhan kilogram namun dapat mereka angkat dengan mudah.

Di kapal perang seberat 9.200 ton ini juga terdapat pasukan pemadam kebakaran. Salah seorang pemadam di USS Howard, Shipper, memampang perlengkapan bagi para pemadam dalam kapal.

Terdapat 11 senapan mesin kaliber 50 yang diletakkan di setiap sisi kapal berkecepatan lebih dari 30 knot ini. Ketika kapal berlayar, pos-pos senapan mesin ini ditempati oleh tentara 24 jam sehari. 



Sumber: Vivanews

Berita Foto Kapal Perang Amerika USS Howard (DDG 83)


Sebagai alat mobillisasi maupun penunjang serangan, kapal berawak lebih dari 300 orang ini dilengkapi dengan empat helikopter tipe SH 60 Seahawk yang dipersenjatai dengan torpedo MK 46 dan rudal Hellfire. USS Howard dan dua kapal lainnya, yaitu USS Tortuga dan USS Reuben James, mengikuti latihan gabungan Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) bersama dengan TNI AL di Selat Sunda sejak 25 mei lalu.

Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83), merapat di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, usai melakukan latihan CARAT dengan TNI AL, Senin (30/5/2011)
Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83), merapat di pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, Senin (30/5/2011)
Tentara AS mendemonstrasikan peralatan yang dimiliki Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83) di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, Senin (30/5/2011)
Tentara AS melakukan simulasi aksi penyelamatan Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83), saat merapat di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, Senin (30/5/2011)
Tentara AS mendemonstrasikan peralatan yang ada di Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83), Senin (30/5/2011)
Salah satu ruangan di Kapal Perang AS, USS HOWARD (DDG 83), saat merapat di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, Senin (30/5/2011).


Sumber: Vivanews