Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan

Menhan Terima Delegasi the Foreign Affairs Committee of Turkey

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan  delegasi the Foreign Affairs Committee of the Grand Assembly of Turkey yang dipimpin H.E. Mr. Volkan Bozkir, Rabu (19/9), di kantor Kemhan Jakarta. 

Menhan saat menerima delegasi Turki didampingi Staf Khusus Bid. Sosbud Dr. Alex Soesilo Wijoyo, Staf Ahli Bid. Politik Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M. Hum, Karo TU Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto, M.A.,M.Ed dan Kapuskom Publik Kemhan yang diwakili Kolonel Laut Ir. Paruntungan Girsang, M.A. 

Maksud kunjungan delegasi Turki kepada Menhan didasarkan pada keinginan negara Turki untuk membangun kerjasama kemitraan strategis yang berlandaskan pada prinsip saling percaya. 

Selain itu kunjungan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin selama ini dimana kedua negara berhasil mengatasi krisis ekonomi.



Sumber : DMC

DPR Akan Bicarakan Kerjasama Industri Pertahanan Dengan Delegasi Turki

Project terbaru MBT Turki
JAKARTA-(IDB) : Selasa (18/9) pagi ini, Komisi I DPR dijadwalkan menerima kunjungan kerja delegasi Parlemen Turki, untuk membahas sejumlah persoalan internasional dan kelanjutan upaya peningkatan kerja sama industri pertahanan antar kedua negara.

"Turki, parlemen dan pemerintahannya, sesungguhnya selama ini banyak berharap Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia dan mempunyai pengaruh luas di kawasan ASEAN dan Gerakan Non Blok, banyak memainkan peran dalam penyelesaian masalah internasional yang terjadi saat ini. Seperti isu nuklir Iran dan  masalah Palestina," ujar Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com

Kata Mahfudz, Turki sejak lama telah membuka diri dan mengajak Indonesia untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang pertahanan. Namun sayang Pemerintah RI sangat lambat meresponsnya, ketimbang misalnya kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat dan Eropa. Padahal, standar alutusista Turki itu sudah sama dengan yang dimiliki negara-negara NATO.

"Ini sebagaimana juga mereka sampaikanan saat kunjungan kerja kita (Komisi I DPR) ke Turki beberapa lalu dan kunjungan kenegaraan Presiden dan PM Turki ke Indonesia selama beberapa waktu lalu. Mereka berulang kali sudah menyampaikan dan mengajak peningkatan kerja sama pertahanan dengan RI."

Kata Mahfudz, sebelumnya Komisi I DPR juga telah menekankan perlunya pengadaan dan modernisasi alutsista TNI yang bervariasi. Tujuannya, ketika negara yang selama ini menjadi tumpuan atau kiblat alutsista bagi TNI, tiba-tiba mengembargo, Indonesia tidak terpukul. Menurut Mahfudz, sejumlah alutsista berat Turki seperti kapal selam, kapal perang, pesawat tempur, pesawat tanpa awak, dan radar militer, sangat berkualitas baik dan berstandar NATO.

"Mereka (Turki) sudah berulang kali menyatakan siap melakukan transfer teknologi alutsista jika Pemerintah RI mau. Dan, Turki sangat terbuka serta tidak memberikan persyaratan politik untuk kerja sama pengadaan, alih teknologi, dan produksi alutsista dari Turki pada Indonesia tersebut. Sekarang tinggal kitanya, mau tidak meningkatkan kerja sama dengan Turki tersebut, utamanya kerja sama dalam bidang pertahanan tersebut," ujar politisi PKS tersebut.



Sumber : Jurnamen

Komisi I DPR Terima Dubes Turki

JAKARTA-(IDB) : Ketua Komisi I DPR menerima kunjungan kehormatan Dubes Turki untuk Indonesia. Kunjungan tersebut dalam rangka mempersiapkan rencana Kunjungan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia.

"Awalnya mereka akan berkunjung pada tahun 2014 namun dipercepat guna mempertimbangkan agenda Pemilu di Indonesia dan di Turki, akhirnya direncanakan tahun 2012,"ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Sidiq,di Gedung Nusantara I, Kamis, (26/7).

Menurut Mahfudz, Turki merupakan negara muslim terbesar di Barat. Sementara Indonesia negara muslim terbesar di Timur karena itu, secara historis hubungan Indonesia dan Turki sudah berlangsung selama ratusan tahun. Jadi kunjungan PM Turki ini mempunyai peranan penting mengupdate hubungan bilateral kedua negara khususnya bidang pertahanan karena antara kedua negara sudah ada MOU kerjasama pertahanan dan militer di dua level tingkat Presiden dan Menteri.

  "Implementasi dan realisasi yang mereka rasakan berjalan lamban,  sementara pihak turki sendiri sangat terbuka dan ingin kerjasama pertahanan militer dan industri pertahanan ini bisa segera berjalan,"ujarnya.

Dia menambahkan, Parlemen Indonesia mencoba memberikan informasi atau gambaran lebih detailnya  guna mempercepat realisasi dan implementasi dari MOU tersebut. "Kita Beberapa kali rapat dengan Menhan pernah menyampaikan perlunya merealisasikan kerjasama dengan Turki, termasuk kerjasama dalam pengadaan Alutsista. Karena secara industri Turki ini sudah maju dan Produknya berstandar NATO,"tambahnya.

Dia mengatakan, Saat kunker Komisi I DPR ke Turki dan menemui menteri Pertahanan Turki dan Industri pertahanan Turki, mereka menyatakan komitmennya untuk mengembangkan industrinya di Indonesia, termasuk kerjasama dengan industri pertahanan nasional Indonesia. "Akan sangat menguntungkan bagi Indonesia, karena itu kita perlu  dorongan lebih kuat pada pihak Indonesia,"ujarnya.


Sumber : DPR

Turki Geser Tank Militernya Ke Perbatasan Suryah

ANKARA-(IDB) : Menyusul jatuhnya pesawat tempur Turki di Suriah, tank-tank militer Ankara dilaporkan ditempatkan di perbatasan Suriah.
 
Seperti dilaporkan Press TV, dampak dari eskalasi ketegangan antara Ankara dan Damaskus berujung pada penempatan tank-tank militer Turki pada hari Selasa (26/6) di perbatasan negara ini dengan Damaskus. Aksi ini diambil setelah adanya instruksi dari pemerintah Ankara.
 
Menurut laporan, 15 tank militer Turki yang didukung dengan kendaraan dan peralatan militer ditempatkan di wilayah perbatasan dengan Suriah.
 
Langkah Turki ini diambil setelah Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan terkait jatuhnya jet tempur negara ini di Suriah mengatakan,"Seluruh pihak mengetahui bahwa persahabatan Ankara dapat dipercaya, namun seperti rasa persahabatan, kemarahan Turki pun sangat kuat.
 
Jumat (22/6), pesawat tempur milik Turki tipe F-4 Phantom jatuh di perairan barat Suriah, 10 kilometer dari pantai dekat desa dari Om al-Tuyour di provinsi Lattakia.
 
Turki sebelumnya menyatakan bahwa sebuah pesawat tempurnya hilang dari pantauan radar dan kontak radio dengan pesawat jet itu terputus setelah lepas landas dari Bandara Erhac di provinsi Malatya, yang berbatasan dengan Suriah.
 
Militer Turki tidak memberikan rincian tentang misi jet yang ditembak jatuh itu, namun media massa Turki menyebutkan bahwa penerbangan pesawat tersebut dalam rangka operasi pengintaian.
 
Media massa Turki media juga mengklaim bahwa bahwa dua pilotnya telah diselamatkan, namun sejumlah media lainnya menyatakan bahwa keduanya masih hilang. 


Sumber : Irib

Menhan RI terima Dubes Turki

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Rabu (20/6) menerima kunjungan Duta Besar Turki untuk Indonesia H.E Zekeriya Akcam, di kantor Kemhan Jakarta.

Dalam pertemuan singkat tersebut Menhan didampingi Dirkersin Ditjen Strahan Kemhan Brigjen TNI Jan Pieter Ate, Kapusada Baranahan Kemhan Marsma TNI Asep Sumaruddin, M.Sc, Kapuskom Publik Brigjen TNI Hartind Asrin dan Karo TU Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto, M.A.

Maksud kunjungan Dubes Turki kepada Menhan kali ini selain untuk melanjutkan beberapa proyek kerjasama yang sedang berjalan diantara kedua negara, juga untuk menjajaki kemungkinan kerjasama di bidang industri pertahanan.


Sumber : Kemhan

Indonesia Turki Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

ISTAMBUL-(IDB) : Indonesia terus meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Turki. Kerja sama pertahanan kedua negara itu telah dirumuskan dalam memorandum of understanding.

"Waktu Presiden berkunjung ke Turki tahun 2010, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menandatangani MOU dengan Menteri Pertahanan Turki ketika itu Vecdi Gonul," ujar Atase Pertahanan Kedubes RI Kolonel Athan Chandra Sukotjo kepada wartawan senior
Media Indonesia Usman Kansong di Istanbul, Turki, (Jumat 25/5).

Kerja sama tersebut antara meliputi rancang bangun kendaraan tempur beroda rantai, roket multilaras, radio komunikasi. "Dalam kerja sama itu disepakati juga adanya transfer teknologi pertahanan dari Turki kepada Indonesia," ucap Kolonel Chandra.


Menurut Kolonel Chandra, Indonesia harus meniru kemandirian Turki dalam bidang pertahanan. "Ketika Turki diembargo karena menyerang Siprus, Turki secara mandiri mengembangkan teknologi pertahanan mereka. Kemandirian pertahanan itu yang patut kita tiru," katanya.


Sumber : MediaIndoonesia

Turkey Loses Bid for Indonesia Submarines, but the Cooperation will be Countinued by Aselsan, Rocketsan and FNSS

21 Februari 2012

Rocketsan T122mm Sakarya (photo : Asian Defence)

Turkey loses bid for Indonesia submarines

Indonesia picks up a South Korean offer for three U209 model submarines instead of a Turkish-German joint offer. Still, the two countries may bid for a tender for the more developed U214 models, Jakarta says.

Indonesia has informed a German-Turkish partnership that South Korea has won Jakarta’s competition for U209 submarines and that the duo should instead focus on the sale of more-developed U214 subs to the Southeast Asian giant, a senior Turkish official has said.

The message was conveyed during the visit of Adm. Agus Suhartono, the chief of staff of Indonesia’s military forces, to Turkey last week, the Turkish official said this weekend.

Turkey, led by the Undersecretariat for Defense Industries, SSM, and Germany, led by ThyssenKrupp’s shipyard, HDW, entered the Indonesian Navy’s competition of more than $1 billion after it came to an end, effectively ensuring Seoul’s victory.

South Korea’s Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering announced on Dec. 22 that it had won the Indonesian deal $1.1 billion for three submarines.

As for Turkey, a $2 billion submarine deal with HDW for the joint manufacture of six U214 platforms formally took effect in July, the German company said. Turkish procurement officials also confirmed the information. “As a longstanding partner and supplier to the Turkish Navy, ThyssenKrupp Marine Systems can now begin executing the order. The order will contribute to securing employment at [ThyssenKrupp’s] HDW in Kiel, as well as at many subcontractors in Germany and Turkey, for the next 10 years,” it said.

A major loan deal between German banks and the Turkish Treasury rescued the multibillion-dollar submarine contract between the Turkish state and Howaldswerke Deutsche Werft (HDW) on the last day of 2010, Turkish procurement officials said earlier.

“We will try to work hard to meet the requirements for the second competition [for the U214 deal],” said the Turkish procurement official.The Indonesian side also offered a number of consolations to the Turkish side.

The Indonesians will come up with a $100 million Turkish proposal to make military radios produced by Aselsan, the procurement official said.

The Indonesians separately plan to propose a facility to produce Roketsan-made missiles after they sign a contract with the company.

Jakarta will also produce FNSS-made 8x8 vehicles.

Turkey and Indonesia are two of the largest Muslim countries and are keen to develop their defense industries and ties.

Turki Jadi Memesan Dua Pesawat F-35

ANKARA-(IDB) :Turki akan segera membeli dua pesawat tempur F-35 Lightning II sebagai bukti komitmen negara tersebut terhadap program Joint Strike Fighter (JSF). Demikian ditegaskan pemerintah Turki dalam pernyataan yang dirilis Kamis (5/1/2012).

Pemerintah Turki disebutkan telah mengotorisasi pemesanan gelombang pertama pesawat generasi kelima ini untuk memenuhi kebutuhan masa depan Angkatan Udara Turki. Turki adalah satu dari delapan negara di luar AS yang turut menyumbangkan dana pengembangan pesawat berkemampuan siluman (*stealth *) ini.

Sebelumnya, Turki berencana membeli 100 unit pesawat ini, untuk mengganti armada pesawat F-4 dan F-16 yang kini dioperasikan AU Turki. Namun, berbagai masalah yang terjadi dalam pengembangan F-35 dan ongkos produksi yang terus membengkak telah membuat pemesanan itu tertunda-tunda.

Program JSF, yang dikerjakan Lockheed Martin sebagai kontraktor utama, telah mencetak rekor sebagai program pengembangan senjata paling mahal dalam sejarah Pentagon. Biaya pengembangan totalnya telah mencapai 385 miliar dollar AS dan harga satuan pesawat tersebut saat ini telah mencapai lebih dari 100 juta dollar AS (Rp900 miliar).

Bulan lalu, tim penyelidik Pentagon juga telah menemukan berbagai masalah teknis F-35 yang baru diketahui setelah pesawat itu menjalani uji terbang. Meski demikian, negara asing tetap berminat membeli pesawat itu, termasuk Jepang, yang memutuskan memesan 45 unit F-35 dengan nilai sekitar 4,7 miliar dollar AS. 

Sumber : Kompas

PM Turki Recep Tayyip Erdogan Puji Kemajuan Militer Iran

ANKARA-(IDB) : Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Iran telah mencapai kemajuan signifikan di sektor industri militer dan produksi rudal meski berada di bawah sanksi dan embargo.
 
Pernyataan itu disampaikan Kamis (29/12) di tengah para peneliti dan ilmuan Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki (TUBITAK).
 
Seraya menyinggung produksi rudal-rudal dengan jarak tembak 2000-2500 kilometer di Iran, Erdogan menuturkan, rudal-rudal produksi Turki hanya memiliki jarak 150 kilometer dan kita juga harus membuat rudal-rudal dengan jangkaun jauh.
 
"Meskipun terkena sanksi, tapi rudal-rudal Iran sepenuhnya diproduksi di dalam negeri tanpa bantuan Eropa, dan kita juga harus berbuat seperti itu," ujarnya.
 
Selama beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan penting dalam sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan dan sistem militer penting.
 
Irantelah berulang kali menjelaskan bahwa kekuatan militernya semata-mata didasarkan pada doktrin pertahanan negara dan tidak mengancam negara lain. 

Sumber : Irib

Kemhan Indonesia Turki Lakukan Pertemuan Konsultasi Bilateral

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan RI (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin selaku wakil Menteri Pertahanan, Senin (12/12), menerima kunjungan Wamenhan Turki Hasim Kemal beserta rombongan di kantor Kemhan Jakarta yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral kedua negara. 

Pertemuan kedua Wamenhan kali ini bukan merupakan pertemuan komite bersama seperti yang tercantum dalam kesepakatan bersama kedua negara tetapi lebih merupakan pertemuan konsultasi bilateral antara Kementerian Pertahanan RI dan Turki. 

Dalam pertemuan tersebut terdapat dua agenda penting yang menjadi fokus pembicaraan, pertama mengenai review tentang perjanjian industri pertahanan kedua negara dan yang kedua adalah mengenai perkembangan protokol kerjasama industri pertahanan tahun 2011. Wamenhan RI mengusulkan agar kedua Kemhan segera merumuskan project agreement, sedangkan hal-hal teknis terkait dengan masalah internal antara Kemhan RI, PT Pindad dan TNI AD selaku pengguna (user) akan dilaksanakan secara pararel. 

Dikatakan Wamenhan RI bahwa kedua negara setuju untuk membuat kerangka project agreement dan kedua industri pertahanan sepakat untuk merealisasikan project agreement tersebut. Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya yaitu Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, S.T., Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso dan Direktur PT Pindad Adik Avianto Soedarsono.

Sumber : DMC

Turkey to Buy AH-1W Super Cobra Attack Helicopters

ANKARA-(IDB) : The Defense Security Cooperation Agency notified Congress today of a possible Foreign Military Sale to the Government of Turkey for three AH-1W SUPER COBRA Attack Helicopters and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $111 million.

The Government of Turkey has requested a possible sale of three AH-1W SUPER COBRA Attack Helicopters, seven T700-GE-401 engines (six installed and one spare), inspections and modifications, spare and repair parts, personnel training and training equipment, publications and technical documentation, U.S. Government and contractor engineering, technical, and logistics personnel support services, and other related elements of logistics support.

The estimated cost is $111 million.

Turkey is a partner of the United States in ensuring peace and stability in the region. It is vital to the U.S. national interest to assist our North Atlantic Treaty Organization (NATO) ally in developing and maintaining a strong and ready self-defense capability that will contribute to an acceptable military balance in the area. This proposed sale is consistent with those objectives.

The proposed sale will improve Turkey's capability for self defense, modernization, regional security, and interoperability with U.S. and other NATO members. AH-1W helicopters are already in the Turkish Land Forces Command inventory and will further enhance Turkey’s ground defense capabilities. Turkey will have no difficulty absorbing these helicopters into its armed forces.

The proposed sale of these helicopters will not alter the basic military balance in the region or U.S. efforts to encourage a negotiated settlement in Cyprus.

There will be no prime contractor associated with this proposed sale. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.

Implementation of this proposed sale will require the assignment of approximately five contractor representatives to Turkey for a period of up to 90 days for differences training between U.S. and Turkish AH-1Ws helicopters.

These aircraft will be sold from the United States Marine Corps’ (USMC) inventory. The effect on USMC readiness will be mitigated by the submission of a reprogramming action to return the sales proceeds from the U.S. Treasury’s general receipts account to the USMC’s H-1 upgrades program.

Source : Defencetalk

US Giving Turkey Access to F-16 Source Codes

31 Oktober 2011

Turkey will become the first nation have the ability to receive information on the F-16 fighters’ software source codes -- primarily their weapons systems -- thereby enabling it to replace them with national software source codes whenever necessary. (photo : Turkey Air Force)

Turkey to rewrite software source codes of 204 F-16 fighters

The US administration agreed in principle almost two months ago for the transfer of information over software source codes of US Lockheed Martin-made F-16 fighters to Turkey.

Once the agreement is completed, and if approved by the US Congress, Turkey will have the capability to automatically modify the software source codes of the fighters’ weapons systems with national software source codes, said US sources who asked not to be named.Turkey will become the first nation among 26 to have the F-16s in their inventories and have the ability to receive information on the F-16 fighters’ software source codes -- primarily their weapons systems -- thereby enabling it to replace them with national software source codes whenever necessary.

Once Turkey and the US complete around 50 pages of technical details over the nature of the US transfer of technology, an agreement should be signed, pending US congressional approval.

The US Congress has long prevented arms transfers to NATO member Turkey, mainly in reaction to its strained ties with Israel.

However, the US administration has as of late sought US congressional authorization for the sale of three AH-1W Super Cobra attack helicopters to Turkey. This indicates a softening on the part of the congress toward Turkey.

Turkey has a long-standing request for Super Cobras. It has a shortage of these helicopters, required in its ongoing fight against the outlawed Kurdistan Workers’ Party (PKK) terrorists, who have increased their violent attacks as of late.

Meanwhile, it is not clear whether the US administration will seek US congressional authorization for another long-standing Turkish request for the sale of four Predator unmanned aerial vehicles (UAVs) and two armed Reaper UAVs.

However, some of the weapons, including Predators that the US reportedly pledged to transfer to Turkey as it withdraws from Iraq in December of this year, are said to not be subject to the approval of the US Congress. These are weapons the US used during its war in Iraq.

Missile defense link

US sources stated that Washington has agreed in principle to transfer the information mainly concerning the weapon systems of the F-16s so that Turkey can integrate by itself the national software source codes because Turkey has pursued a very persistent policy on the matter.

However, Turkey’s approval to deploy a radar system of the US-supported NATO Missile Defense System on its soil is understood to have played an important role in Washington’s agreement to in principle transfer the software source codes of mainly the weapons systems of the F-16s to Turkey.

Turkey agreed last month to host a powerful US-supplied radar system to act as advanced eyes for a layered shield against ballistic missiles coming from outside Europe.

The AN/TPY-2 surveillance radar in Turkey will boost the shield’s capability against Iran, which Washington alleges is seeking to build nuclear weapons, a charge Tehran denies.

“By agreeing to transfer information on F-16 weapon systems so that Turkey could automatically integrate them with national software source codes, the US sought to ease tensions with its NATO ally, which is important in safeguarding US interests in the Middle East. The US also puts strong emphasis on seeing Turkish-Israeli relations normalize,” said the US source.

50 weapons systems on each F-16

Lockheed Martin this year began supplying Turkey with 14 F-16C variants and 16 F-16Ds under a deal signed in May 2007. The total cost of 30 additional F-16s to Turkey is $1.78 billion.

Under a separate agreement signed in April 2005 between Turkey and the US, 213 Turkish F-16s are being upgraded at a cost of $1.1 billion at the Turkish Aerospace Industries (TAI) in Ankara. Turkey will be able to change the software source codes of the weapons systems on a total of 204 F-16s with national software source codes if a final agreement is reached with the US.

There are 50 different types of weapons systems on each F-16 that are classified.

Turki Akhiri Ketergantungan Heron pada Israel

ANKARA-(IDB) : Seorang pejabat senior militer Turki mengumumkan bahwa negaranya tidak akan lagi mengirim pesawat tanpa awak Heron ke Israel untuk perbaikan, Press TV melaporkan.
 
Murad Bayar, wakil Turki untuk industri pertahanan, mengatakan pada Sabtu (22/10) bahwa Mesin Industri Tusas yang berbasis di kota Eskisehir, timur laut Turki, akan bertugas memperbaiki Heron buatan rezim Zionis Israel. Ditambahkannya, bagian-bagian lain dari pesawat tanpa awak itu akan diperbaiki oleh Industri Aerospace Turki.

Langkah tersebut diambil untuk mengakhiri ketergantungan Turki kepada Israel dalam memperbaiki pesawat tanpa awak.

Pejabat Turki mencatat bahwa dua tahun periode jaminan Heron akan berakhir bulan ini dan mereka tidak akan pernah lagi dikirim ke Israel untuk perbaikan.

Sebelumnya, Turki mengembangkan sistem baru untuk jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat, yang memungkinkan mereka untuk pertama kalinya menargetkan sasaran Israel.

Sistem Identification Friend of Foe (IFF), suatu sistem identifikasi yang dirancang untuk komando dan kontrol, telah dikembangkan oleh Industri Elektronik Militer Turki (ASELSAN). Sistem baru ini akan menggantikan versi Amerika, yang selama ini digunakan jet tempur F-16 Turki.

Sistem buatan Amerika yang ada di pesawat F-16 mengidentifikasi semua sasaran Israel sebagai "teman", sehingga mencegah jet tempur Turki menembaki sasaran Israel secara otomatis, bahkan meskipun pilot Turki diberi komando untuk menembaki mereka. 

IFF buatan Amerika, mengkategorikan semua target Israel, bersama target NATO, sebagai "teman", meskipun secara fakta bahwa Israel bukan negara anggota NATO. 

Sumber : Irib

Turki Siap Perang dengan Israel

ANKARA-(IDB) : Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyatakan kesiapan negaranya untuk berperang dengan rezim Zionis Israel, jika langkah tersebut dianggap perlu. 
 
Hal itu mengemuka dalam wawancara dengan Charlie Rose, ketika ditanya soal seandainya serangan militer Israel yang menewaskan sembilan warga Turki itu dinilainya sebagai "penyebab perang", Erdogan mengatakan, "Kami akan melakukannya jika diperlukan. Demikian dilaporkan koran Vatan terbitan Turki (22/7). 

Ditambahkan Erdogan, "Sebagaimana Anda ketahui, Israel menyerang tiga kapal, salah satunya mengangkut 400 orang dari 33 negara, yang tengah berlayar di perairan internasoinal. Serangan di perairan bebas itu merupakan pelanggaran ketentuan internasional."

Perdana Menteri Turki kembali menuntut Israel meminta maaf kepada Turki atas serangan tersebut dan membayar ganti rugi kepada anggota keluarga korban. 

Ketika ditaya soal pernyataannya bahwa Israel adalah anak manja Barat, Erdogan mengatakan, "Israel adalah anak manja Barat, dan saya tetap akan mengatakan hal yang sama."

Sumber: Irib

Israel Masih Enggan Minta Maaf, Erdogan Semakin Geram

ANKARA-(IDB) : Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan menyatakan, Ankara jika diperlukan akan memberikan reaksi lebih keras terhadap Rezim Zionis Israel.
 
"Turki jika diperlukan akan menunjukkan reaksi lebih keras terhadap Israel," ungkap Erdogan Kamis (22/9) seperti dilaporkan Press TV. Ia juga mengisyaratkan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Turki pasca serangan brutal pasukan komando rezim Tel Aviv terhadap kapal bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang mengakibatkan tewasnya sembilan aktivis Turki.

Erdogan menambahkan, serangan brutal Israel terhadap tiga kapal bantuan kemanusiaan yang membawa lebih dari 400 aktivis dari 33 negara dunia di perairan internasional melanggar konvensi internasional.

Perdana menteri Turki ini menyebut Israel anak asuh Barat dan kembali menekankan bahwa Tel Aviv harus meminta maaf kepada Ankara karena brutalitasnya tersebut dan memberikan ganti rugi kepada keluarga korban.

Hubungan Turki dan Israel tegang setelah serangan pasukan komando rezim ilegal ini terhadap kapal Mavi Marmara tahun 2010. Sementara itu, Ankara menuntut Tel Aviv meminta maaf dan memberikan ganti rugi, namun hingga kini petinggi Israel enggan memenuhi tuntutan tersebut.

Sumber: Irib

Sekarang Pesawat Tempur Turki Identifikasi Israel Sebagai Musuh

ANKARA-(IDB) : Turki telah mengembangkan sistem baru untuk jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat, yang memungkinkan mereka untuk pertama kalinya menargetkan sasaran Israel, laporan mengatakan.
 
Sistem Identification Friend of Foe (IFF), suatu sistem identifikasi yang dirancang untuk komando dan kontrol, telah dikembangkan oleh Industri Elektronik Militer Turki (ASELSAN). Sistem baru ini akan menggantikan versi Amerika, yang selama ini digunakan jet tempur F-16 Turki, surat kabar Turki, Star Gazete melaporkan pada hari Selasa (13/9).

Sistem buatan Amerika yang ada di pesawat F-16 mengidentifikasi semua sasaran Israel sebagai "teman", sehingga mencegah jet tempur Turki menembaki sasaran Israel secara otomatis, bahkan meskipun pilot Turki diberi komando untuk menembaki mereka, kata laporan itu.

Sistem baru, bagaimanapun, akan memungkinkan Turki untuk menentukan musuh-musuhnya sendiri, kata laporan tersebut.

IFF Turki akan dipasang pada semua jet tempur Turki, kapal militer dan kapal selam dalam waktu dekat.

Laporan ini mencatat bahwa sistem IFF baru telah dikembangkan sewaktu meningkatnya ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv.

IFF buatan Amerika, mengkategorikan semua target Israel, bersama target NATO, sebagai "teman", meskipun secara fakta bahwa Israel bukan negara anggota NATO. 

Sumber: Irib

Turki Terima Radar NATO, Iran Tagih Rudal S-300 Rusia

TEHRAN-(IDB) : Menteri Pertahanan Iran Jenderal Ahmad Vahidi mengatakan Senin (19/9) bahwa Rusia harus memenuhi komitmen yang dibuat sebelumnya terkait penyerahan rudal S-300 ke Iran.
 
"Kami percaya bahwa perjanjian itu harus dilaksanakan sesuai dokumen kesepakatan dan ini merupakan masalah independen, yang tidak ada hubungannya dengan hal lain," ujar Vahidi.

Kepada kantor berita IRNA, Vahidi menjelaskan situasi terbaru tentang kesepakatan sistem pertahanana rudal S-300. Ia meminta para pejabat Rusia untuk mengadopsi pendekatan yang tepat, yang akan mengarah pada implementasi penuh perjanjian tersebut.

Mengacu pada penyebaran sistem perisai rudal di Turki, Vahidi mengatakan bahwa langkah itu tidak menguntungkan negara-negara regional dan tidak bisa dibenarkan.

"Kami menganggap itu sebagai langkah yang sangat berbahaya," tegasnya.

Turki telah setuju untuk menjadi tuan rumah sebuah sistem radar sebagai bagian dari sistem perisai rudal NATO, yang seolah-olah dimaksudkan untuk menangkal ancaman rudal balistik dari Iran.

Sumber: Irib

Turkey Asks US To Base Predators On Its Soil: Report

ANKARA-(IDB) : The United States is considering a request from Turkey to base Predator drones there to operate against Kurdish separatists based in northern Iraq, The Washington Post reported late Saturday.

Citing unnamed senior US military officials, the newspaper said a decision to deploy the drones could strengthen the US-Turkish diplomatic alliance but draw the United States deeper into the conflict.

The US military has flown unarmed Predators from Iraqi bases since 2007, sharing their surveillance video with Turkey as part of a secretive crackdown against fighters from the Kurdistan Workers? Party (PKK), the report said.

But the counterterrorism partnership could end by December 31, when all US forces are scheduled to withdraw from Iraq.

According to The Post, US President Barack Obama's administration has not yet made a decision on the Turkish request.

Last month, the United States offered Turkey its continued support in the fight against PKK rebels, after they claimed responsibility for the deaths of eight Turkish soldiers in an ambush.

The attack took place in the Cukurca region of Hakkari province, close to the border with Iraq. Eleven others were injured.

Previously undisclosed diplomatic cables show Turkey has become highly dependent on the Predators, U-2 spy aircraft and other US intelligence sources in its military campaign against the PKK, The Post said.
Source: Defencetalk

Tiga Kapal Perang Turki Akan Bayangi Israel

ANKARA-(IDB) : Seiring memanasnya hubungan antara Ankara dan Tel Aviv, sebuah koran cetakan Turki mengabarkan pengerahan tiga kapal perang Turki ke timur Laut Mediterania. 
 
Koran Sabah, Senin (12/9) dalam situsnya menulis, tiga kapal perang Turki akan dikerahkan ke timur Laut Mediterania untuk mengambil strategi baru menghadapi rezim Zionis Israel.

Pengiriman kapal-kapal perang itu sejalan dengan kebijakan pemerintah Ankara untuk menciptakan keamanan laut di timur Mediterania dan mengawal kapal-kapal bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza.

"Jika Israel menggelar operasi terhadap kapal sipil di luar 12 mil garis pantai di Laut Mediterania dan perairan internasional, maka kapal-kapal perang Turki akan bertindak untuk memberi perlindungan," tambah harian tersebut.

Hubungan antara Turki dan Israel, dua sekutu dekat AS di kawasan, telah memburuk sejak pasukan komando Israel naik ke kapal Mavi Marmara pada Mei 2010. 

Sumber: Irib

Kapal Perang Turki Akan Kawal Konvoi Bantuan Gaza

ANKARA-(IDB) : Turki menyatakan pada hari Kamis (8/9) akan mengawal kapal bantuan ke Jalur Gaza dan mencegah terulangnya serangan rezim Zionis Israel pada tahun lalu, yang menewaskan sembilan aktivis Turki.
 
Di tengah eskalasi ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv atas penolakan Israel untuk meminta maaf, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada televisi Al Jazeera bahwa Turki telah mengambil langkah-langkah untuk menghentikan Israel mengeksploitasi sepihak sumber daya alam di Mediterania.

"Kapal perang Turki berwenang untuk melindungi kapal-kapal kami yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza," kata Erdogan dalam wawancara, yang disiarkan televisi itu dengan terjemahan bahasa Arab.

"Mulai sekarang, kita tidak akan membiarkan kapal bantuan diserang oleh Israel, seperti apa yang terjadi dengan Armada Kebebasan," tegas Erdogan.

Hubungan antara Turki dan Israel, dua sekutu dekat AS di kawasan, telah memburuk sejak pasukan komando Israel naik ke kapal Mavi Marmara pada Mei 2010. 

Sumber: Irib