Tampilkan postingan dengan label Taiwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taiwan. Tampilkan semua postingan

Coast Guard Jepang Dan Taiwan Baku Tembak

TOKYO-(IDB) : Kapal-kapal penjaga pantai Jepang menembakkan meriam air untuk mengusir 40 kapal nelayan delapan kapal penjaga pantai Taiwan dari perairan Kepulauan Senkaku yang diklaim Jepang sebagai wilayah kedaulatannya, Selasa (25/9/2012).

Hal ini disampaikan Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura. Setelah dihantam tembakan meriam air, kapal-kapal Taiwan dilaporkan sudah keluar dari perairan Jepang.

Televisi Jepang NHK menyajikan gambar saat sebuah kapal penjaga pantai Jepang menembakkan meriam airnya ke arah sebuah kapal nelayan Taiwan.

Melihat ini, sebuah kapal penjaga pantai Taiwan juga menembakkan meriam airnya ke arah kapal Jepang sebagai balasan.

Sejumlah pengamat menilai 'baku tembak' yang tak terduga ini berpotensi untuk memanaskan situasi di kawasan itu meski kedua negara bersepakat untuk mendinginkan situasi.
 
 
Jepang kemudian mengajukan protes resmi kepada Taiwan sehari setelah protes serupa kepada China setelah kapal-kapal negeri itu memasuki 'wilayah' perairan Jepang.

"Pemerintah sudah mengajukan protes resmi kepada pemerintah Taiwan," kata Fujimura dalam sebuahn jumpa pers.
 

"Pemerintah Jepang menilai masalah ini harus diselesaikan dalam konteks memperhatikan hubungan baik antara Jepang dan Taiwan. Kami akan menyelesaikan masalah ini dengan tenang," tandas Fujimura.

 Taiwan sebenarnya memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Jepang. Namun kedua negara sudah lama berselisih paham soal hak mencari ikan di kawasan sengketa itu.

China dan Taiwan sama-sama berpendapat mereka mewarisi sejarah kedaulatan China atas peraiaran dan kepulauan yang kini menjadi sengketa.



Sumber : Kompas

Taiwan Terima Dua Kapal Pemburu Ranjau dari AS

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/08/03/1411175p.jpg
TAIPEI-(IDB) : Taiwan telah menerima dua kapal pemburu ranjau pesisir dari Amerika Serikat, kata angkatan laut negara Jumat (3/8), sebagai bagian dari kesepakatan senjata yang membuat hubungan antara Washington dan Beijing tegang.

Kapal kelas Osprey, pemburu ranjau kedua terbesar di dunia itu dirakit kembali setelah dinonaktifkan dari angkatan laut Amerika Serikat pada 2006, dan tiba di Taiwan hari Kamis, kata pihak angkatan laut Taiwan.

Kapal tersebut mampu menemukan, mengelompokkan dan menghancurkan ranjau, dan akan membantu Taiwan untuk meningkatkan kemampuan anti-blokade dalam kasus terjadi perang dengan pesaingnya, China, kata para analis. Penjualan kapal pemburu ranjau merupakan bagian dari kesepakatan senjata senilai 6,4 miliar dolar AS antara Washington dan Taipei yang juga mencakup rudal Patriot, helikopter Black Hawk dan peralatan komunikasi untuk armada jet tempur F-16 Taiwan.

China dengan cepat membalas kesepakatan senjata itu ketika diumumkan Amerika Serikat pada 2010, dengan menangguhkan pertukaran militer dan pembicaraan keamanan dengan Washington.

Beijing masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu penyatuan kembali, dengan paksaan jika perlu, meskipun pulau tersebut telah memiliki pemerintah sendiri sejak tahun 1949. China telah berulang kali mengancam akan menduduki Taiwan seandainya pulau itu mengumumkan secara resmi kemerdekaannya. Ancaman itu mendorong Taipei untuk mencari senjata yang lebih canggih, sebagian besar dari Amerika Serikat. 


Sumber : Kompas

Komputer Data Rahasia Taiwan Hilang dari Kapal Siluman

TAIPEI-(IDB) : Militer Taiwan, Senin (11/6), mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki bagaimana sebuah komputer sangat rahasia bisa hilang dari sebuah kapal perang siluman negara itu. Penyelidikan dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa komputer itu mungkin telah jatuh ke tangan pihak China.

Laptop tersebut, yang telah dipasang di kabin sebuah kapal pemandu rudal "Kuang Hua Nomor 6", raib akhir bulan lalu saat kapal yang bisa menghilang dari radar itu berlabuh di Pelabuhan Tsoying, pangkalan angkatan laut terbesar Taiwan, menurut pihak militer. Setelah sebuah penyelidikan awal, angkatan laut negara itu masih belum bisa menjelaskan bagaimana komputer itu bisa hilang.

"Kami mengakui bahwa angkatan laut menunjukkan sejumlah kelemahan dalam mengontrol personel di pangkalan itu," kata seorang juru bicara angkatan laut kepada AFP. Ia menambahkan, jaksa militer telah mengambil alih penyelidikan kasus itu.

Laptop ini memiliki sebuah kontraktor swasta, tetapi telah dipasang di kabin kapal selama enam bulan saat awak kapal melakukan uji peralatan komunikasi dan prosedur rahasia.

"Jika China memperoleh laptop itu, maka pihaknya akan mendapatkan kode komunikasi sangat sensitif milik angkatan laut serta data yang terkait dengan rudal," kata Erich Shih, editor majalah Defence International, yang berbasis di Taipei. 


Sumber : Kompas

Taiwan Kerahkan Rudal Anti-China

TAIPEI-(IDB) : Taiwan untuk pertama kalinya mengerahkan rudal-rudal jelajah yang mampu menyerang markas-markas militer penting di sepanjang pantai tenggara China dataran. Rudal ini diketahui memiliki jangkauan hingga 500 km.

Seperti diungkapkan oleh seorang pejabat militer setempat kepada Liberty Times dan dilansir oleh AFP, Senin (28/5/2012), rudal buatan asli Taiwan ini diberi nama Hsiungfeng 2E atau Brave Wind. Produksi massal rudal ini telah selesai dan akan segera digunakan.

Pihak Kementerian Pertahanan Taiwan sendiri enggan berkomentar banyak soal hal ini. Namun, ulasan Liberty Times menyebutkan bahwa proyek produksi rudal ini menghabiskan biaya sekitar 30 miliar dolar Taiwan atau sekitar Rp 9,5 triliun.

Produksi massal ini dilakukan demi mengantisipasi militer China yang diyakini memiliki lebih dari 1.600 rudal yang siap diluncurkan, terutama ke wilayah Taiwan.

"Sampai batas tertentu, persenjataan bisa menjadi alat penghalang. Dalam kasus perang di Selat Taiwan, rudal bisa digunakan untuk menyerang bandara dan markas militer lainnya milik militer China, People's Liberation Army," terang editor-in-chief Liberty Times, Kevin Cheng, kepada AFP.

Liberty Times memperkirakan, ada lebih dari 100 rudal Hsiungfeng 2E yang diarahkan ke wilayah China.

Ketegangan di wilayah Selat Taiwan mulai berkurang sejak Ma Ying-jeou terpilih menjadi Presiden Taiwan pada tahun 2008 lalu. Ma yang merupakan pemimpin Kuomintang, dikenal dekat dengan pihak China. Ma kembali terpilih sebagai Presiden Taiwan dan memulai masa jabatan keduanya sejak Januari lalu. Di bawah kepemimpinan Ma, perdagangan dengan China meningkat dan lebih banyak turis China yang diperbolehkan berkunjung ke Taiwan.

Namun demikian, China masih saja menolak untuk mengesampingkan kemungkinan serangan militer ke wilayah Taiwan, demi mengambil alih kembali pulau tersebut.


Sumber : Detik

Taiwan Akan Buat Armada Kapal Perang "Siluman"

La Fayette Class Kapal Perang Siluman Perancis
TAIPEI-(IDB) : Taiwan akan membuat 12 kapal perang "siluman" baru untuk menanggapi peningkatan kekuatan angkatan laut China, kata angkatan laut pulau itu, Selasa.

Pemimpin Angkatan Laut Taiwan Chu Hsu-ming mengemukakan kepada wartawan Lung Teh Shipbuilding Co, satu perusahaan swasta, mendapat kontrak 890 juta dolar Taiwan (30,1 juta dolar AS) bagi pembangunan korvet 500 ton pertama, dengan pengiriman dilakukan pada tahun 2014.

Prototipe itu adalah yang pertama dari 12 kapal seperti itu, yang pihak perancang katakan sangat sulit dideteksi radar.

"Setelah prototipe itu selesai dan diuji, spesifikasinya mungkin akan diproduksi secara massal kapal-kapal yang tersisa," kata Chu, lapor AFP.

Masing-masing kapal akan dipersenjatai dengan sampai delapan rudal supersonik anti-kapal Hsiung Feng III serta delapan Hsiung Feng II.

Hubungan antara Taiwan dan China mereda sejak Ma Ying-jeou dari partai Kuomintang yang bersahabat dengan China berkuasa tahun 2008, yang meningkatkan perdagangan dan mengizinkan lebih banyak wisatawan China.

Tetapi Beijing masih menolak untuk melepaskan ancaman penggunaan kekuatan militer, kendatipun Taiwan memiliki pemerintah sendiri sejak berakhirnya perang saudara tahun 1949, yang memicu pulau itu terus memordernisasi angkatan bersenjatanya.

Sumber : Antara

Taiwan Senang Amerika Mempertimbangkan Lagi Penjualan Besawat Baru

TAIPEI-(IDB) : Taiwan mengatakan pihaknya menyambut janji Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali rencana penjualan jet tempur baru ke pulau itu, satu kesepakatan pertahanan yang cenderung akan membuat marah Beijing.

Taiwan telah mendesak untuk pembelian 66 pesawat baru buatan AS jet tempur F-16, tetapi kesepakatan itu telah dihentikan oleh Washington.

Gedung Putih pada Jumat menjanjikan "pertimbangan serius" untuk penjualan jet-jet di balik "perkembangan ancaman militer terhadap Taiwan".

"Taiwan menyambut setiap proyek yang akan membantu meningkatkan dan memperkuat kemampuan pertahanan diri kami," kata juru bicara kementerian pertahanan Taiwan David Lo, namun menolak untuk menguraikan masalah sensitif itu.

Menurut hukum AS, pemerintah harus menyediakan alat untuk pertahanan diri Taiwan, pemerintahan demokrasi sendiri yang Cina klaim sebagai wilayahnya.

Washington mengumumkan pada September akan melengkapi Taiwan dengan 146 jet F-16 A/B dengan teknologi baru, dalam kesepakatan senilai 5,85 miliar dolar AS yang mengecewakan keinginan pulau itu untuk mendapatkan 66 F-16 C/Ds baru.

Meski paket itu kurang dari apa yang Taiwan harapkan, hal itu memicu respons marah Cina, yang memperingatkan bahwa kesepakatan itu akan merusak hubungan militer Cina-Amerika Serikat.

Sumber : Republika

Taiwan Bersiap Melawan China

TAIPEI-(IDB) : Nama sandi "Han Kuang (Han Glory) No 28"  sudah disiapkan. Ribuan pasukan cadangan pun ikut ambil bagian. Maka, pada Senin (16/4/2012) latihan perang selama lima hari ke depan berlangsung. Tujuan utamanya, melawan serangan pihak China.

Hiruk-pikuk persiapan itu menjadi agenda rutin Pemerintah Taiwan. Ratusan tentara juga dikerahkan di luar Taipei ketika militer mensimulasikan pendaratan China di tepi Sungai Tamshui, yang mengalir melalui ibu kota, kata para pejabat kementerian pertahanan.
   
Di selatan, angkatan laut mengerahkan armada kapal penyapu ranjau dan helikopter untuk skenario tempat Tsoying, pangkalan  utama angkatan laut di pulau itu, adalah target blokade China.
   
Hubungan antara Taiwan dan China, bekas musuh yang telah meningkat membaik secara drastis sejak Ma Ying-jeou dari Partai Kuomintang yang bersahabat dengan China berkuasa pada tahun 2008, menjanjikan peningkatan perdagangan dan jaringan pariwisata.
   
Namun, China masih mengklaim kedaulatan atas Taiwan, yang memiliki pemerintah sendiri sejak 1949, dan telah bersumpah untuk mendapatkannya kembali—jika perlu dengan kekerasan—bahkan meskipun pulau itu sendiri telah memerintah selama lebih dari 60 tahun.

Taiwan Gelar Simulasi Invasi Cina

Taiwan memulai latihan perang tahunan terbesarnya pada Senin (16/4) untuk menguji kemampuannya mempertahankan ibu kota Taipei dari serangan Cina dan menangkal blokade pangkalan angkatan laut utamanya.

Ribuan pasukan cadangan dilaporkan ambil bagian dalam latihan perang lima hari itu, yang diberi nama sandi "Han Kuang (Han Glory) No 28".

Ratusan tentara juga dikerahkan di luar Taipei ketika militer mensimulasikan pendaratan Cina di tepi Sungai Tamshui, yang mengalir melalui ibu kota, kata para pejabat kementerian pertahanan.

Di selatan, angkatan laut mengerahkan armada kapal penyapu ranjau dan helikopter untuk skenario di mana Tsoying, pangkalan utama angkatan laut di pulau itu, adalah target blokade Cina.

Hubungan antara Taiwan dan Cina, bekas musuh yang telah meningkat membaik secara drastis sejak Ma Ying-jeou dari Partai Kuomintang yang bersahabat dengan Cina berkuasa pada tahun 2008 menjanjikan peningkatan perdagangan dan jaringan pariwisata.

Namun Cina masih mengklaim kedaulatan atas Taiwan, yang memiliki pemerintah sendiri sejak 1949, dan telah bersumpah untuk mendapatkannya kembali - jika perlu dengan kekerasan - bahkan meskipun pulau itu sendiri telah memerintah selama lebih dari 60 tahun.

Sumber : Kompas

Taiwan Navy Asks for Funds for 8 New Subs

21 Februari 2012

Three countries have offered Taiwan build submarines (photo : Qinetiq)

TAIPEI — Taiwan's navy will ask parliament to fund the purchase of up to eight new submarines within the next two months, reviving an acquisition that has been in limbo for over a decade, local media said Feb. 20.

The navy may not necessarily buy U.S. technology and is looking at three different countries as potential suppliers, the United Daily News reported.

In April 2001, then-U.S. President George W. Bush approved the sale of eight conventional submarines as part of Washington's most comprehensive arms package to the island since 1992.

Since then, however, there has been little progress as the U.S. has not built conventional submarines for more than 40 years, and Germany and Spain had reportedly declined to offer their designs for fear of offending China.

But the United Daily News said new options have emerged lately as three countries have offered either to help Taiwan build submarines or sell the island several German-built submarines. It did not name the three countries.

"Purchasing submarines from the United States has been given top priority in the past years and will remain so in the future," the Taiwan navy said in a response to the report. "But if there are any other sources to provide submarines, they are also welcome."

Taiwan's navy operates a fleet of four submarines, but only two of them, both Dutch-built, could be deployed in the event of war. The other two were built by the U.S. in the 1940s.

Ties between Taipei and Beijing have improved markedly since Ma Ying-jeou of the China-friendly Kuomintang party came to power in 2008 promising to boost trade links and allow more Chinese tourists to visit the island.

But Beijing still sees the island as part of its territory awaiting reunification, by force if necessary, even though Taiwan has governed itself since 1949 at the end of a civil war.

China has repeatedly threatened to invade Taiwan should the island declare formal independence, prompting Taipei to seek more advanced weapons.

Getting Serious About Taiwan’s Air Power Needs

TAIPEI-(IDB) : Under the clear terms of the Taiwan Relations Act, the U.S. is obligated to make available the hardware and services necessary for Taiwan's defense. This obligation is a critical component of U.S. policy in the Western Pacific, as it ensures that, in the event of a cross-Strait conflict, Taiwan will not be overwhelmed by a technologically superior People’s Liberation Army.
In order to meet this obligation, the U.S. should provide Taiwan with the equipment necessary to help it secure control of its own airspace.

Failure to do so will only spark uncertainty about America’s resolve to meet its global commitments, uncertainty that will only further embolden an already confident China.

The ongoing debate over the sale of F-16s to Taiwan is part of a larger question involving the obligation of the United States under the Taiwan Relations Act (TRA) to make available the hardware and services necessary for Taiwan’s defense. The TRA and President Ronald Reagan’s subsequent “Six Assurances” to Taiwan make clear that American arms sales to Taiwan would be based solely on Taiwan’s defense needs—and would be made without consulting the People’s Republic of China (PRC).

The provision of aircraft and other assets to ensure that Taiwan can control its own airspace is an essential part of Taiwan’s self-defense capacity. In the event of a cross-Strait conflict, the People’s Liberation Army (PLA) would seek to control the airspace over the Taiwan Strait and the island itself. The ability to impose such control, however, requires that the PLA, and especially the PLA Air Force (PLAAF), devote substantial resources to aerial hardware and technology.

Therefore, the United States, per its international commitments and domestic laws, should provide Taiwan with the equipment necessary to help it secure control of its own airspace. This equipment should include the sale of new advanced combat aircraft, such as the F-16 C/D, so that Taiwan’s air force is not outclassed by the PLAAF.

Source : Defencetalk

Paket Senjata Dari Amerika Untuk Taiwan Bernilai Hampir 6 Miliar Dolar AS

VIRGINIA-(IDB) : Pemerintahan Obama berencana memasok senjata baru dan peralatan radar canggih kepada Taiwan untuk armada jet tempur F-16 yang dimilikinya sebagai bagian dari paket peningkatan kualitas senilai hampir 5,85 miliar dolar AS, kata seorang pejabat seneior Amerika Serikat pada Selasa.

Lockheed Martin Corp membuat pesawat tempur jenis F-16.

"Terus terang saya tidak punya kesan bahwa segala sesuatunya ditahan-tahan," kata pejabat itu yang tak disebutkan namanya merujuk kepada permintaan Taiwan untuk memodernisasi sekitar 145 pesawat jenis F-A/B yang dijual AS pada 1992, lapor Reuters.

Pemerintahan Obama dijadwalkan akan secara resmi memberitahu Kongres pada Rabu ikhwal paket peningkatan kualitas F-16 yang diusulkan itu. Taiwan telah lama menunggu jawaban dari AS atas permintaan 66 jet tempur model terbaru F-16 C/D untuk mengganti armada F-5 yang sudah berusia lebih 30 tahun.

Pejabat itu, yang erat terlibat dalam kebijakan soal Taiwan, berbicara kepada Reuters di luar konferensi industri pertahanan di Virginia yang menitikberatkan pada kebutuhan keamanan Taiwan dan kekuatan militer China yang sedang tumbuh.

Menurut dia, jet model A/B yang ssudah diupgrade pada dasarnya memiliki kemampuan sama dengan versi C/D yang diminta Taiwan dengan harga lebih murah.

"Jadi Anda mendapatkan 145 pesawat yang sudah diupgrade sama dengan model C dan D senilai 5,8 miliar dolar dibandingkan 66 pesawat baru yang harganya 8,3 miliar dolar," kata pejabat itu.

Sumber: Antara

AS Tidak Akan Jual F-16 Baru Kepada Taiwan

WASHINGTON-(IDB) : Presiden AS Barack Obama telah memutuskan menolak penjualan baru jet F-16 ke Taiwan tapi akan memberikan pulau itu paket senjata senilai 4,2 miliar dolar AS, kata laporan Washington Times.

Surat kabar itu mengutip para pejabat pemerintah dan kongres yang mengatakan bahwa Kongres Amerika Serikat akan diberikan pengarahan pada Jumat petang mengenai usulan itu.

Gedung Putih juga menolak berkomentar, kata surat kabar itu.

Demikian pula para pejabat di Taiwan tidak segera memberikan komentar mengenai perkembangan ini.

Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Obama telah mengatakan akan memutuskan pada 1 Oktober permintaan Taiwan untuk membeli 66 pesawat pesawat tempur model terakhir F-16 yang dibangun oleh Lockheed Martin Corp.

Sejak 2006, Amerika Serikat telah menolak untuk memberikan F-16 C/D model kepada Taiwan, yang berpotensi senilai lebih dari delapan miliar dolar, karena takut kemarahan China yang menganggap pihaknya yang memerintah pulau itu sebagai miliknya.

Surat kabar resmi terbesar China memperingatkan pekan lalu bahwa adalah "gila" jika Capitol Hill yang menginginkan Amerika Serikat untuk menjual senjata canggih itu ke Taiwan, karena itu berarti sedang bermain api dan bisa membayar "harga bencana".

Paket yang diusulkan oleh pemerintah itu akan termasuk senjata-senjata dan perlengkapan untuk meningkatkan keberadaan pesawat tempur model F-16 A/B Taiwan, kata Washington Post.

Sumber: Antara

US Senators Seek To Force Fighter Aircraft Sale To Taiwan

DT-(IDB) : Two US senators introduced legislation on Monday demanding President Barack Obama sell Taiwan no fewer than 66 advanced F-16 fighter jets despite Beijing's fierce objections.

"This sale is a win-win, in strengthening the national security of our friend Taiwan as well as our own, and supporting tens of thousands of jobs in the US," said Republican Senator John Cornyn.

Democratic Senator Robert Menendez said the Taiwan Relations Act, a 1979 law that requires Washington to ensure Taiwan can defend itself, "compelled" the sale and warned failure to go through with the deal could cost US jobs.

"Delaying the decision to sell F-16s to Taiwan could result in the closure of the F-16 production line, which would cost New Jersey 750 manufacturing jobs," said Menendez.

The legislation, which does not yet have a House counterpart, states that "the President shall carry out the sale of no fewer than 66 F-16C/D multirole fighter aircraft to Taiwan."

But while the US Constitution gives congress power over "commerce with foreign nations," the measure would be an unprecedented effort to force a military sale not endorsed by the president.

Taiwan applied to the US in 2007 to buy the 66 F-16C/Ds, improved versions of the F-16A/Bs that the island's air force now uses, claiming that the new jets were needed to counter China's growing military clout.

US magazine Defense News reported recently that Washington has told Taiwan it will not sell the jets, but both US and Taiwan officials have insisted no final decision has been made.

Beijing considers Taiwan a part of its territory awaiting reunification with the mainland, by force if necessary.

Washington recognizes Beijing rather than Taipei but remains a leading arms supplier to the island.

China, whose state media has denounced the possible fighter jet sale, reacted furiously in January 2010 when the Obama administration announced a $6.4 billion arms deal with Taiwan.

But "saying no here would mean granting Communist China substantial sway over American foreign policy, putting us on a very slippery slope," warned Cornyn.

The 2010 package included Patriot missiles, Black Hawk helicopters and equipment for Taiwan's existing F-16 fleet, but no submarines or new fighter jets.
Source: Defencetalk

Hadapi China, Taiwan Kembangkan Rudal Baru

TAIPEI-(IDB) : Taiwan diharapkan akan memproduksi secara massal satu sistem rudal baru yang dirancang untuk menghentikan invasi China dengan menyerang lapangan-lapangan terbang dan pelabuhan-pelabuhan di China daratan, kata seorang anggota parlemen Taiwan, Selasa (6/9/2011).

Kementerian pertahanan negeri itu telah memajukan produksi rudal "Wan Chien" menjadi tahun 2014 dari rencana awal tahun 2018 untuk melengkapi jet-jet tempur lokal yang diperlengkapi dengan sistem baru itu, kata anggota parlemen Lin Yu-fang  yang juga pakar militer. Rudal itu akan memungkinkan jet-jet tempur mencapai sasaran-sasaran China dari satu jarak dan mengurangi risiko-risiko mengirim jet-jet Taiwan ke wilayah daratan utama, kata Lin.

Ia mengatakan, rudal yang juga dikenal sebagai "Puluhan Ribu Pedang" itu dirancang untuk menghantam pelabuhan, pangkalan-pangkalan rudal dan radar, serta tempat-tempat pemusatan pasukan sebelum melakukan invasi ke pulau itu. Setiap rudal membawa lebih dari 100 hulu ledak yang dapat membuat belasan lobang kecil di landasan pacu bandara, yang membuat bandara tidak mungkin digunakan. Para pakar Taiwan memperkirakan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China kini memiliki lebih dari 1.600 rudal yang diarahkan pulau itu.

Hubungan Taiwan dan tetangga raksasanya itu membaik sejak pemerintah Kuomintang yang bersahabat dengan Beijing berkuasa di Taipei tahun 2008. Namun China masih menganggap pulau itu bagian dari wilayah kedaulatannya dan sedang menunggu reunifikasi, jika perlu dengan kekuatan militer. 

Hal itu memicu Taipei mencari senjata pertahanan yang lebih canggih, terutama dari Amerika Serikat. Washington, Januari 2010, mengungkapkan satu paket senjata bagi Taiwan termasuk sejumlah rudal Patriot, helikoper Black Hawk, dan perlengkapan jet-jet tempur F-16, tetapi tidak ada paket kapal selam atau pesawat tempur baru.

Sumber: Kompas

Taiwan Berburu Ahli Teknologi

TAIPEI-(IDB) :  Seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi di dunia Barat dan Jepang, negara ”pulau” Taiwan kini memburu para ahli teknologi tinggi atau high-tech untuk mempercepat pembangunan industri berteknologi canggih di negeri itu.

Demikian dikatakan Kepala Industrial Technology Research Institute Chairman Tsay Ching-yen, Senin (5/9/2011) kepada kantor berita Associated Press.

Tsay menegaskan, institut yang dipimpinnya akan agresif memekerjakan lulusan universitas maupun tenaga profesional dari perusahaan teknologi ke Taiwan. Menurut Tsay, industri berteknologi tinggi di Taiwan kini sedang kesulitan mencari pekerja-pekerja bertalenta tinggi.

Persoalannya, tidak cukup banyak anak muda tertarik untuk belajar di universitas-universitas berkualitas di luar negeri. Taiwan sendiri pun sejauh ini telah memproduksi peralatan-peralatan berteknologi yang telah digunakan di Indonesia, seperti komputer Acer dan Asus. Selain itu, juga sejumlah perangkat keras (hardware), seperti BenQ, D-Link, Genius, GIGABYTE, Mio, MSI, Optoma, Transcend, Trend Micro, dan ZyXEL.

Sumber: Kompas

Amerika Kembali Tolak Keinginan Taiwan Untuk Membeli F-16 Blok C/D

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintah Amerika Serikat kembali menolak permintaan Taiwan untuk membeli 66 pesawat tempur baru tipe F-16C/D. Penolakan diperkirakan akibat tekanan dari pemerintahan China yang kontra terhadap Taiwan.

Laman Taipei Times mengutip majalah Defense News, Senin, 15 Agustus 2011, mengatakan utusan pemerintah AS telah datang ke Taiwan pekan lalu untuk menyampaikan hal ini. Menanggapi penolakan tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan menyampaikan kekecewaannya yang mendalam.

"Kami sangat kecewa terhadap Amerika Serikat," ujar salah seorang pejabat Kemhan Taiwan yang tidak disebutkan namanya.

Dia menyalahkan China atas penolakan tersebut. Dia mengatakan pemerintahan Beijing telah menekan AS untuk tidak menjual pesawatnya kepada Taiwan. Padahal, Taiwan telah menyampaikan permohonan pembelian pesawat tersebut kepada AS sejak tahun 2007.

Pesawat tempur baru ini nantinya berguna untuk menandingi kekuatan militer China yang terus berkembang. Apalagi, ancaman China semakin mengkhawatirkan. Sebelumnya, China berkali-kali menyatakan tidak mengakui kedaulatan Taiwan dan mengklaim negara tersebut masih merupakan bagian dari China. Pemerintahan Beijing berjanji akan melakukan penyatuan kedua negara, apapun caranya, bahkan dengan kekerasan.

Pemerintah AS mengatakan tidak akan menjual pesawat F-16C/D yang diminta oleh Taiwan. Namun, AS mengatakan akan menjual pesawat F-16A/B yang telah diperbaharui perangkatnya. Pesawat F-16A/B adalah pesawat yang dimiliki oleh Taiwan selama ini, yang dinilai telah ketinggalan zaman.

Berdasarkan majalah Defense News, modifikasi pesawat tersebut meliputi pembaharuan pada persenjataan dan radar serang. Modifikasi ini nantinya, klaim AS, akan menjadikan pesawat Taiwan terbaru di kelasnya. Namun, rencana ini dipandang sebelah mata oleh perusahaan pembuat pesawat F-16.

"Rencana ini hanya dimaksudkan untuk mengambil hati Taiwan," ujar seorang sumber di perusahaan Lockheed Martin.

Sumber: Vivanews

Update : Taiwan Kembangkan Rudal Varian Baru

TAIPEI-(IDB) :  Hanya beberapa hari setelah memamerkan rudal Hsiung Feng III, yang diklaim dirancang khusus untuk "membunuh" kapal induk, Taiwan dikabarkan sedang mengembangkan varian yang lebih canggih dari rudal tersebut.

Lin Yu Fang, anggota parlemen Taiwan yang duduk di Komite Pertahanan Nasional Taiwan, Minggu (14/8/2011), mengatakan, negeri pulau itu sedang mengembangkan varian rudal "pembunuh kapal induk" yang bisa ditembakkan dari peluncur mobil yang mudah bergerak di daratan.

"Versi baru yang ditembakkan dari darat akan memiliki daya jelajah yang lebih jauh dan membawa hulu ledak yang lebih berat," tutur Lin, membandingkan rudal baru itu dengan pendahulunya.

Saat ini, Hsiung Feng III dirancang khusus untuk menjadi rudal yang ditembakkan dari kapal dan telah dipasang di kapal-kapal fregat dan perahu rudal Taiwan. "Hsiung Feng III bisa melesat sangat cepat sehingga sangat sulit bertahan dari rudal ini," ungkap Chiang Wu Ying, deputi proyek riset rudal tersebut.

Menurut para pengamat, rudal ini mampu melesat dengan kecepatan Mach 2 atau dua kali kecepatan suara, dan bisa mengenai sasaran yang berjarak hingga 130 kilometer.

Perlombaan senjata dan kekuatan militer diduga akan makin marak di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, yang dipicu negara-negara di kawasan tersebut terhadap pertumbuhan kekuatan militer China yang sangat pesat. 

Sumber: Kompas

China Luncurkan Kapal Induk, Taiwan Luncurkan Rudal Penangkalnya

TAIPEI-(IDB) :  Pada hari yang sama dengan uji peluncuran perdana kapal induk pertama milik China, Taiwan secara sengaja juga memamerkan rudal yang mereka klaim sebagai "pembunuh kapal induk". Pameran rudal bernama Hsiung Feng III ini dilakukan di Taipei, Rabu (10/8) waktu setempat.
Kehadiran rudal sepanjang enam meter penghancur kapal induk ini telah dibahas di beberapa forum online yang khusus membicarakan masalah pertahanan kawasan. Salah satunya adalah Bharat Rakshak, situs konsorsium pertahanan India. Kehadiran Hsiung Feng III dan juga kapal induk Varyag yang semula dibangun Rusia pada tahun 1980, menjadi pembicaraan ramai para analis militer.
Menarik disimak, pada foto yang dirilis sejumlah forum dan situs berita online digambarkan Hsiung Feng III dengan latar belakang kapal induk mirip Varyag yang sedang terbakar hebat akibat hantaman rudal Taiwan itu tentunya. Sudah menjadi rahasia umum, lomba senjata antara Taiwan dan China terus berlangsung, baik melalui pameran, parade senjata, atau sekadar pernyataan pemerintah kedua negara.

Akhir-akhir ini militer China secara agresif menunjukkan kekuatannya dan bahkan tidak jarang bersinggungan dengan tentara perbatasan seperti dengan Jepang dan Vietnam.

Sumber: Kompas

Penjualan Senjata Ke Taiwan Memperkuat Posisi Amerika Di Kawasan

JAKARTA-(IDB) : Deputi Menteri Pertahanan Taiwan Andrew Yang menyatakan, jika Amerika Serikat ingin menghindari konflik di selat Taiwan, hanya dengan cara menjual pesawat tempur F-16C/D dan senjata canggih lainnya ke Taiwan.

Pasalnya, jika Taiwan kehilangan kemampuan pertahanan diri , tentunya hal ini akan berdampak pada perdamaian dan stabilitas di Asia Pasifik.

Andrew Yang juga menekankan, apabila China menggunakan cara kekuatan militer dan politiknya untuk menguasai Taiwan, kekuatan militer China akan langsung memasuki Timur Laut China dan Laut China Selatan, hal ini akan melukai kepentingan AS di Asia Pasifik .

"Apabila AS memutuskan menjual senjata tersebut, pasti akan menimbulkan reaksi marah dari China, karena dalam 30 tahun terakhir ini, penjualan senjata AS ke Taiwan dianggap melanggar urusan dalam negeri China."

Tetapi pihaknya percaya penjualan senjata tersebut tidak akan berpengaruh besar terhadap hubungan AS dan China. Kedua pihak akan tetap mempertimbangkan kepentingan bersama. 

Taiwan's 'Carrier Killer' Aims To Sink China's Carrier

11 Agustus 2011


Hsiung Feng III misille (photo : missile defense)


TAIPEI - In the event of war, Taiwan plans to sink China's new aircraft carrier, the Varyag, with its new "aircraft carrier killer" missile, the ramjet-powered supersonic anti-ship cruise missile Hsiung Feng 3. The revelation was made Aug. 10 on the same day China launched the Varyag for its first sea trials.



The disclosure came during a preshow media tour of the biennial Taipei Aerospace and Defense Technology Exhibition (TADTE). Journalists inspecting the Hsiung Feng 3 were shocked to see a large mural of the Varyag being attacked by three Hsiung Feng 3 missiles. Two of the missiles impact the carrier's starboard bow and starboard quarter, with a third missile is en route to the ship.



THIS MURAL WAS displayed at the Taipei Aerospace and Defense Technology Exhibition showing Taiwan Hsiung Feng 3 missiles attacking the new Chinese carrrier, Varyag. (photo : Wendell Minnick/DefenseNews)



The mural was reminiscent of similar displays at the 2010 Zhuhai Airshow in China, where anti-ship missiles were depicted attacking and sinking U.S. aircraft carriers.



The unveiling of the display comes at an uncomfortable time for Taiwan President Ma Ying-jeou. Since coming into office in 2008, Ma has eased cross-Strait tensions and signed historic economic agreements with China.



Military officials denied that calling Hsiung Feng 3 the "aircraft carrier killer" or displaying a mural of a missile attack on the Varyag were intended to send Beijing a political message. In the past, the Taiwan military often used ambiguous phrases to describe the "enemy" without mentioning China. Therefore, the Hsiung Feng 3 display was out of synch with normal military protocol that avoids enraging China.


Hsiung Feng 3 supersonic anti-ship cruise missile powered by ramjet photo : pakdef)


The military-run Chungshun Institute of Science and Technology (CSIST) produces the Hsiung Feng family of anti-ship missiles, including the Tien Kung (Sky Bow) air defense missile and the Tien Chien (Sky Sword) missile.



CSIST is working on a highly classified missile system called the Hsiung Feng 2E, which is reportedly a land-attack cruise missile capable of hitting targets on mainland China. This missile has never been displayed to the public and the military refuses to discuss its existence. Another missile program considered secret is the Tien Chien 2A, which is reportedly an anti-radiation missile designed to destroy ground-based radar systems.





A CSIST official said the Hsiung Feng 3 has been outfitted on the 1101 and 1103 Perry-class frigates for testing. "We began building the Hsiung Feng III around five years ago."


Hsiung Feng II missiles (photo : krblog)


The military might field the missile inland along the coast to fend off a Chinese invasion armada, he said. The Hsiung Feng 3 has a reported range of 130 kilometers.



Also on display at TADTE was the new Tien Kung 3 (Sky Bow) air defense missile. The Tien Kung is based on the U.S.-built Patriot missile defense system. Details of its probable deployment are classified.



Untuk Hadapi China Taiwan Perkuat Pertahanan

TAIPE-(IDB) : Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengatakan, negara harus memperkuat pertahanannya terhadap spionase China. Pernyataan itu muncul setelah serangkaian skandal mata-mata yang menyebabkan hubungan kedua negara menjadi tegang. Kegiatan intelijen China terus berlangsung meskipun hubungan keduanya memanas.           
Ma mengatakan, Taiwan perlu "secara aktif mencegah" setiap kebocoran rahasia ke China dan harus melakukan upaya kontra penyusupan. Pernyataan Ma itu dikeluarkan Biro Keamanan Nasional, Jumat (5/8/2011).            
Menurut Biro Keamanan Nasional, Ma mengeluarkan pernyataan sikapnya itu dalam pertemuan intelijen, Kamis. Tujuannya untuk mengatasi masalah keamanan yang dihasilkan dari meluasnya masalah lintas-selat.           

Hubungan antara Taiwan dan China telah membaik sejak Ma berkuasa tiga tahun lalu, namun persoalan keamanan tetap rawan. Kedua pihak telah memata-matai satu sama lain sejak perpecahan mereka pada tahun 1949, akhir perang saudara.           

Beijing masih menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya menunggu reunifikasi, jika perlu dengan kekerasan. Militer Taiwan awal tahun ini menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada seorang jenderal tentara dan petugas intelijen yang memata-matai untuk China.           

Sang jenderal Taiwan terpancing "perangkap madu" mata-mata perempuan China yang mengumpulkan informasi untuk Beijing. Sementara perwira China dilaporkan telah membantu mengungkap jaringan beberapa mata-mata Taiwan di daratan.

Seorang pensiunan agen mata-mata Taiwan baru-baru ini memperingatkan, setidaknya 10 mata-mata China diyakini telah menyusup ke satuan keamanan pulau itu.

Sumber: Kompas