Tampilkan postingan dengan label Brunei Darussalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brunei Darussalam. Tampilkan semua postingan

Menhan Menerima Kunjungan Panglima Tentera Darat Diraja Brunei

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Senin (7/5), menerima kunjungan kehormatan Panglima Tentara Darat Diraja Brunei, BG Dato’Hj Yussof bin Hj Abdul Rahman, di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Kunjungan ke Menhan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja Panglima Tentara Darat Diraja Brunei ke Indonesia.
 
Pada hari sebelumnya, pemimpin tertinggi Angkatan Darat Brunei ini juga mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Kantor Mabes Angkatan Darat, Jakarta.

Adapun maksud kunjungan Panglima Tentara Darat Diraja Brunei ke Menhan untuk mempererat hubungan kerjasama dibidang pertahanan, khususnya Angkatan Darat kedua negara. Selain itu peningkatan kerjasama militer Angkatan Darat kedua negara, seperti pengadaan Alutsista dan latihan bersama juga turut dibahas.

Pada kesempatan pertemuan itu juga Panglima Tentara Darat Diraja Brunei, juga menyampaikan terkait rencana Pemerintah Brunei sebagai Chairman dalam penyelenggaraan ADMM pada tahun 2013, di Brunei.

Turut hadir dalam pertemuan Menhan RI dan Panglima Tentara Darat Diraja Brunei, Duta Besar Brunei untuk Indonesia, Mahmud Haji Saidin Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Staf Ahli Bidang Menhan Keamanan Kemhan RI Mayjen TNI Zaenal Fahri Tamzis, dan Kepala Pusat Komunikasi Publik, Brigjen TNI Hartind Asrin.

Sumber : DMC

Kapal Diraja Brunei Darulaman Tiba TLDB


MUARA-(IDB) : Kapal Diraja Brunei DARULAMAN tiba di Jeti Pangkalan Tentera Laut Diraja Brunei, Muara. Ketibaan Kapal Diraja Brunei DARULAMAN telah disambut oleh Dato Paduka Haji Mustappa bin Haji Sirat, Timbalan Menteri Pertahanan, Pegawai-Pegawai dan anggota-anggota Tentera Laut Diraja Brunei serta keluarga.
 
picture5

Pada hari Jumaat 7 Oktober 2011, Kapal Diraja Brunei DARULAMAN memulakan pelayaran bersejarah yang pertamanya “The Maiden Voyage” daripada Pelabuhan Lemwerder, Jerman menuju balik ke tanah air Negara Brunei Darussalam.  Kapal-kapal ini telah mengharungi Lautan Atlantik, Lautan Mediterranean,  Teluk Suez, Teluk Aden, Lautan Hindi, Selat Melaka dan Laut China Selatan.  

picture6

Pelayaran pertama ini telah mengambil masa kira-kira 48 hari. Tempat-tempat yang menjadi persinggahan semasa perlayaran ini adalah seperti berikut:

• Toulon (Perancis) Tiba: 16 Okt 2011 Bertolak: 19 Okt 2011

• Akzas Naval Base (Turkey) Tiba: 24 Okt 2011 Bertolak: 28 Okt 2011

• Port Said (Egypt) Tiba: 30 Okt 2011 Bertolak: 4 Okt 2011

• Muscat (Oman) Tiba: 13 Nov 2011 Bertolak: 16 Nov 2011

• Colombo (Sri Langka) Tiba: 23 Nov 2011 Bertolak: 26 Nov 2011

• Changi (Singapura) Tiba: 2 Dis 2011 Bertolak: 5 Dis 2011

picture2

Semasa dalam pelayaran, anggota-anggota kapal telah menjalankan beberapa latihan bagi meningkatkan lagi keupayaan dan profesionalisme anggota-anggota kapal seperti latihan kebakaran, latihan menembak senjata ringgan, latihan pemantauan, latihan pelancaran 'Rigid Inflatable Craft', latihan navigasi dan latihan 'Officer of the watch manuevers'.

Sumber : Mindef

Menhan Menerima Kunjungan Panglima Angkatan Tentera Laut Diraja Brunei Darussalam

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Kamis (6/10) di Kantor Kementerian Pertahanan RI menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Tentera Laut Diraja Brunei Darussalam, Laksamana Pertama (L) Dato Seri Pahlawan Haji Abdul Halim Bin Haji Mohd Hanifah SMB ndc, MA, psc.
 
Maksud kunjungan Panglima Angkatan Tentera Laut Diraja Brunei Darussalam kali ini adalah menyampaikan perkembangan kerjasama pertahanan, khususnya Angakatan Laut kedua negara. Selain itu dalam pertemuan tersebut juga di bahas peluang-peluang kerjasama bidang industri pertahanan dalam hal pembangunan kapal perang kedua negara.

Pada kesempatan kunjungannya itu, Laksamana Pertama (L) Dato Seri Pahlawan Haji Abdul Halim Bin Haji Mohd Hanifah juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Pertahanan RI, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan BRIDEX 2011 yang lalu.

Saat menerima kunjungan Panglima Angkatan Tentara Laut Diraja Brunei Darussalam, Menhan didampingi oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal), Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M, serta sejumlah pejabat di jajaran Kemhan

Sebelum berkunjung ke Menhan, Panglima Angkatan Tentara Laut Diraja Brunei Darussalam telah bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, Kantor Mabes TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta.

Sumber : DMC

Update : Kepolisian Brunei Janji Tak Langgar Batas Indonesia Lagi

JAKARTA-(IDB) : Atas nama institusinya, Kepala Kepolisian Brunei Darussalam, Comissioner of Royal Brunei Police Force Dato, Paduka Seri H Hasrin bin Dato Paduka Hj. Sabtu, berjanji anggotanya tidak lagi memasuki wilayah Indonesia secara ilegal, seperti beberapa waktu lalu.

Hasrin mengaku insiden itu adalah kekhilafan anggotanya dan akan segera diperbaiki. "Perkara itu memang sudah terjadi. Dan banyak kita perlu perbincangan melihat dimana kekhilafan-kekhilafan. Jadi hasil dari perbincangan-perbincangan dan kekhilafan-kekhilafan, akan kami perbetulkan mengikuti dan selaras dengan undang-undang di kedua negara," ujar Hasrin seusai pertemuan dengan Kabareskrim Komjen (Pol) Sutarman di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (14/9/2011).

Pada 6 Maret 2011 lalu, Polda Kalimantan Barat menangkap sembilan polisi Brunei lantaran masuk ke Indonesia tanpa izin. Saat itu, kedatangan polisi Brunei berdalih ingin menangkap seorang warga negara Indonesia yang menjadi DPO, Eko, karena belasan kali melakukan kejahatan di Brunei.

Polda Kalbar melepaskan kesembilan polisi Brunei tersebut, dengan alasan dapat memahami alasan ketidakpahaman perbatasan.

Sutarman mengatakan kejahatan saat ini tak kenal batas wilayah, sehingga dengan cepat bisa berpindah dari satu negara ke negara lain. "Seperti di Brunei, jika ada kejahatan di sana, mungkin dalam pengejaran itu, satu jam lari itu sudah ada di Indonesia. Maka kita perlu satu kerjasama internasional," ujar Sutarman.

Sumber: TribunNews

Brunei Membeli 15 Panser Pindad Dan Senjata SS-2 Pindad

JAKARTA-(IDB) : Brunei Darussalam akan membeli panser buatan PT Pindad. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) akan dilakukan tahun ini juga.

Kepala Pusat Penerangan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin mengatakan Brunei tertarik membeli panser Anoa 6 x 6 buatan PT Pindad dan sudah melakukan uji coba terhadap kemampuan panser itu.

"Pembelian pertama satu kompi sebanyak 15 unit," katanya kepada Tempo, pekan lalu.

Hartind mengatakan ini merupakan rencana pertama dari pembelian sebanyak satu batalion atau total 35 unit panser.

Brunei sudah menguji coba ketahanan kendaraan jenis angkutan personel sedang (Armoured Personnel Carrier/APC) itu. Brunei tertarik karena penser bermesin Renault ini sudah mendapat pengakuan standardisasi dari PBB. Anoa juga digunakan TNI dalam misi perdamaian di Libanon.

"Sudah lama Brunei tertarik, tapi Sultan (Brunei) ingin uji jalan dulu. Ingin yang lebih susah. Kemarin dicoba jalan 100 kilometer untuk melihat panas nggak mesinnya," kata Hartind.

Selain panser, Brunei juga berencana membeli senapan serbu atau SS2. Senjata ini juga buatan PT Pindad.

Sumber: Tempo

Panglima TNI Terima Pangab Brunei

JAKARTA-(IDB) : Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, menerima kunjungan Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Brunei YM Mayjen Dato Paduka Seri Haji Aminuddin Ihsan bin Pehin Orang Kaya Saiful Mulok Dato Seri Paduka Haji Abidin, di Mabes TNI Cilangkap, Senin (22/8/2011).

Acara didahului dengan upacara penghormatan militer dan inspeksi pasukan kehormatan.

Dalam pertemuan itu, Pangab Brunei dan Panglima TNI berharap kerja sama yang selama ini sudah berjalan baik dan harmonis  bisa ditingkatkan terus di kemudian hari,  khususnya masalah pertukaran pendidikan, latihan antarmatra (TNI AD, TNI AL dan TNI AU)  dengan Tentara Brunei.

Seusai pertemuan dengan Panglima TNI, Pangab Brunei dijadwalkan diterima oleh Menteri Pertahanan RI dalam rangka menerima penganugerahan Bintang Yudha Dharma Utama dari Pemerintah RI yang disematkan oleh Menhan.

Ikut mendampingi Panglima TNI dalam pertemuan tersebut,  di antaranya Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

Sumber: Kompas

Indonesia Brunei Kembangkan Kerjasama Industri Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Brunei Darussalam berniat terus meningkatkan kerjasama militer dengan Indonesia. Panglima Angkatan Bersenjata Diraja Brunei Darussalam, Mayor Jenderal Haji Aminuddin Ihsan menyatakan sangat tertarik dengan sistem pertahanan dan persenjataan yang dikembangkan Indonesia.


“Dari tahun ke tahun akan terus dikembangkan kerjasama militer dengan milter,” ujar Aminuddin di kantor Kementerian Pertahanan, Senin 22 Agustus 2011.


Menurut Aminuddin pemerintahnya akan terus menggendeng Indonesia mengembangkan beberapa industri senjata yang sesuai dengan kedua negara. “Kami akan terus membuat peralatan yang bersesuaian dan kami telah membuat perbincangan selanjutnya dalam mengadakan persenjataan," kata dia.


Saat ini, kata dia, militer Brunei terus melakukan uji coba terhadap beberapa jenis senjata buatan Indonesia. Uji coba terus dilakukan dan dinilai oleh tim militer yang dibentuk. “Saat ini jenis (senapan) SS2 kami rasa amat baik dan sesuai, katanya.


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan salah satu bentuk kerjasama militer yang akan dilakukan dengan Pemerintah Brunei adalah penyelenggaraan latihan bersama satuan pasukan khusus  yang dimiliki kedua negara.


“Kami juga terus melakukan latihan gabungan, dan tentara Brunei juga terus melakukan studi di Universitas Pertahanan dan Lemhannas (Lembaga Ketahanan nasional)," kata Purnomo.


Bahkan pada tahun depan melalui kerjasama militer dengan Indonesia, Brunei juga akan mendirikan Universitas Perhananan sendiri.

Sumber: Tempo

KDB Darulaman Completes RBN's Trio Of Maritime Assets




KDB Darulaman 08
BANDAR SERI BEGAWAN-(IDB) : The Royal Brunei Armed Forces recorded another significant milestone in its 50th anniversary yesterday with the official acceptance of the third and final Darussalam-class Patrol Vessel, which bears the name KBD Darulaman, in Germany.

Dato Paduka Awg Hj Mustappa bin Hj Sirat, the Deputy Minister of Defence, told the Bulletin, "Basically with these three new ships we are fulfilling the capability requirements for the RBAF, as our main priority will always be to protect our territorial integrity first and foremost."

In response to a question on the future roles for the Royal Brunei Navy, particularly on its ability to contribute to anti-piracy patrols in the region, the deputy minister replied: "The Darussalam-class patrol vessels will allow better flexibility for the armed forces to also address other security issues, such as humanitarian assistance and disaster relief, search and rescue and even to the extent, if there is a requirement for us to play a greater role, such as that, with the improved and increased capability that we have now with these new ships, we can now consider such a request in the future."
But he carefully pointed out that this was "a consideration at the regional level", and that by comparison to the previous fleet of ageing Waspada-class missile gunboats and Perwiraclass coastal patrol crafts, the Darussalam-class patrol vessels would "definitely afford us greater flexibility, as their range and size and capabilities are much better now".
Dato Paduka Hj Mustappa went on to emphasise though that the RBAF's main priority would always remain the "protection of our maritime sovereignty, our maritime demarcation, as well as protecting our maritime assets, such as against illegal fishing".
Bearing the pennant number '08', KDB Darulaman is the last of the Darussalam-class patrol vessels that was commissioned, together with its two sister ships KDB Darussalam and KBD Darulehsan, to the world-renowned German shipbuilder, Luerssen Werft Shipyard by His Majesty's Government way back on June 26, 2009, which was when the steel cutting and keel laying were first initiated for the KDB Darulaman. Meanwhile, its official launching took place on November 12, 2010, when it was first announced through a Ministry of Defence press release of the RBAF's official acceptance of the first two Darussalam-class patrol vessels. 

In the press release issued yesterday by the ministry, the latest state-of-the-art warship for the Royal Brunei Navy was "accepted on behalf of the Government of His Majesty the Sultan and Yang Di-Pertuan of Brunei Darussalam by the Deputy Minister of Defence, Dato Paduka Hj Mustappa Hj Sirat", with the official acceptance, handing over and flag raising ceremony for the KDB Darulaman with the white flag and ensign of the Royal Brunei Navy at the Luerssen Werft Shipyard in Germany.
The ships' officers and crew are at the final stage of their training, according to the press statement, after it had successfully carried out its Harbour and Sea Acceptance Trials.
The KDB Darulaman is expected to start its maiden voyage back to Brunei Darussalam in October and is expected to arrive home in December this year. As with its other two sister ships, the KDB Darulaman is fully manned by a full crew from the Royal Brunei Navy.
Just like its two other sister ships, KDB Darulaman is the third in the Royal Brunei Navy fleet of Darussalamclass Patrol Vessels, which is the first of its class and kind for the world-renowned German shipbuilder and the Royal Brunei Navy.
Measuring 80 metres in length and 13 metres wide, the Darulaman is diesel powered and was designed and built for an endurance of 21-days patrolling at sea.
The ship is also equipped with the battle-proven Exocet MM40 anti-ship missile and a Bofors 57mm main gun for air-defence and surface action.
With the arrival of the KDB Darulaman back to the Sultanate's shores, it will herald the manifestation of "the commitment of His Majesty's Government in further enhancing the Royal Brunei Armed Forces capability to defend the nation's sovereignty and territorial integrity", as stated in the ministry's 2004 Defence White Paper and subsequent Defence Update of 2007.
With the full fleet of three 80-metre Darussalam-class patrol vessels and four 41-metre Ijtihad Fast Patrol Boats, it will raise the standard further for the Royal Brunei Navy's capabilities in maintaining and defending the maritime sovereignty and territorial integrity of Brunei Darussalam, as well as support the RBAF's efforts in keeping the peace and stability in the region, at a time of increasingly complex security challenges in the form of piracy, natural disasters and fisheries and resource protection.
With a brand new fleet, the older Waspada-class missile gunboats have already been handed over to the Indonesian Navy, as a measure of goodwill in the country's first security pillar of defence diplomacy, whilst the rest of the smaller and similarly ageing Perwira-class coastal patrol crafts will also be "replaced in stages".
Source: Brudirect

Brunei and Singapore Conduct Pelican Exercises


TAIPEI-(IDB) : The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Royal Brunei Navy (RBN) conducted the bilateral Exercise Pelican from July 10-13 in Brunei waters.
The RSN participated with a Formidable-class stealth frigate (RSS Stalwart), while the RBN joined the exercise with a new Darussalam-class offshore patrol vessel (KDB 07 Darulehsan) and two Itjihad-class corvettes (KDB 19 Syafaat and KDB 17 Itjihad).

Brunei took delivery of three new German-built Lurssen Werft Darussalam-class vessels this year. Each are armed with a Bofors 57mm in the 'A' position along with four Exocet MM40 anti-ship missiles.

Brunei also took delivery of four Lurssen Werft-built Itjihad-class corvettes in 2010. They are armed with a single Rheinmetall MLG 27 Gun in the 'A' position.



The RSN's anti-terrorist Accompanying Sea Security Team (ASSeT), responsible for safeguarding chemical and gas tankers, also took part in the exercise and conducted joint boarding training with personnel from RBN.

ASSeT members are trained in close quarter combat and Hapkido, a Korean marital art. In addition, both navies carried out joint discussions on naval helicopter operations and warfare tactics.

Hosted by Brunei, Exercise Pelican 2011 is the 31st in this series of bilateral exercises held since 1979. The exercise underscores the close defense ties between RSN and RBN.

The two navies also engage in a wide range of bilateral exercises and professional exchanges, which have enhanced the professionalism and strengthened ties between them.

Brunei just concluded its third Brunei Darussalam International Defence Exhibition (BRIDEX) from July 6-9. Organized by the Royal Brunei Technical Services, BRIDEX 2011 showcased the latest regional and international defense technologies and equipment in land, sea, air and security systems.

Source: Defencetalk

AD Brunei Uji Kehandalan Panser Dan Senjata Pindad

Illustration
BANDAR SERI BEGAWAN-(IDB) : Keikutsertaan Indonesia melalui Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) dalam pameran Brunei Darussalam Internasional Defence Exhibition & Coference (BRIDEX) 2011 tidak disia-siakan oleh perusahaan industri pertahanan dalam negeri untuk mempromosikan produk-produknya kepada pasar internasional, khususnya kepada Brunei Darussalam selaku tuan rumah. 

Salah satunya adalah PT. Pindad yang memberikan kesempatan kepada prajurit  Tentara Darat Diraja Brunei Darussalam  (TDDB) untuk menguji coba beberapa produk alat pertahanannya antara lain Panser Anoa (6x6), mortir  dan senjata.

Ujicoba Panser Anoa 6x6 dan senjata dilaksanakan pada penghujung event BRIDEX 2011, Sabtu (9/7) di Kompleks Penanjong Garison Angkatan Bersenjata Brunei Drussalam (ABDB), Brunei Darussalam.  Sedangkan untuk ujicoba mortir  dilaksanakan satu hari sebelumnya di tempat yang sama.

Saat uji coba Panser,  beberapa prajurit TDDB tampak antusias untuk mencoba mengemudikan Panser jenis  Armoured  Personnel Carrier (APC) produksi Pindad. Salah satunya Sersan Erwan yang melakukan  uji coba mengemudikan zig zag, berputar dan tes rem.  Usai diujicoba oleh beberapa parajurit ADBD, selanjutnya panser diujicoba dalam medan berbagai rintangan  dan tanpa hambatan mampu dilaluinya.

Sementara itu pada  uji coba senjata, beberapa prajurit ADBD ditanya usai mencoba senjata SS1 buatan pindad menyatakan bahwa senjata buatan pindad tidak diragukan kualitasnya dan sering memenangkan dalam berbagai pertandingan. Untuk uji coba, selain senjata jenis Senapan Serbu  SS2, Pindad juga memberikan kesempatan kepada prajurit TDDB untuk mencoba senjata-senjata jenis lainnya antara  lain Pistol dan Sniper SPR3.

Sumber: DMC

Brunei To Replace Ageing Choppers

A Bell helicopter at the Brunei Darussalam International Defence Exhibition 2011. 

BANDAR SERI BEGAWAN-(IDB : Brunei will be upgrading its ageing fleet of military helicopters, with four companies invited to compete for the bid to supply the rotorcraft.

The first phase of the project, to be announced on Monday, will see the replacement of "one mission" of the Royal Brunei Air Force's (RBAirF) 10 Bell helicopters, the permanent secretary of defence (administration and finance) told The Brunei Times yesterday.

Hjh Suriyah Hj Umar said the replacement of the country's military choppers will be done systematically until the year 2020.

Hjh Suriyah said the priority will be upgrading the three-decade-old choppers first, while replacing the rest will be part of the next phase of the project.

RBAirF will be "down-selecting" the bidders to two companies on Monday, she said.

"Some of them (the Bell helicopters have) reached 30 years already, so it's about time we replace it," she said. "We are hoping it will be a project that will be signed probably by the end of the year."

The permanent secretary said the 10 choppers were used for "troop lift, search and rescue, (and) special operations".

The RBAirF has about 20 helicopters, according to an unofficial source.

"Most of our helicopters are ageing. The latest helicopter procured was the Black Hawk but even that is more than 12 years (old)," Hjh Suriyah said.

Brunei has the S70a Black Hawks in the air force's squadrons, said Linda Scott, Asia regional sales manager of Sikorsky Aircraft Corporation, the manufacturer of the renowned medium-lift helicopters.

Scott said Sikorsky was "well aware" of Brunei's intention to upgrade its helicopter fleet. It is one of the four competing in the bid.

"We have offered the S70i International Black Hawk, which is a much more modernised version of what you have today," she said in a separate interview at the Sikorsky booth at BRIDEX hall.

The S70i was also the same Black Hawk model that the US military was using, she said.

" On a performance standpoint, the Black Hawk in general is clearly one of the most combat-proven helicopters of its class worldwide. The amount of countries that are procuring the aircraft shows you the popularity and what the aircraft actually does for various defence forces throughout the world."

Although the S70i shared the same airframe as its predecessor, Scott said the newer version had "enhanced power and capability" that was suitable for Brunei's hot and humid climate, "particularly if there is enhanced oversea, maritime operations".

It was in the "all-glass" cockpit that Sikorsky was said to have made its "biggest advancement" with the avionics, or the helicopter's electronics system, which Scott said was custom-programmable.

She added that the upgrade of the helicopter fleet was part of the new Defence White Paper 2011, which was released yesterday during the opening of the BRIDEX 2011.

The Defence White Paper said that a flight of at least four medium-lift helicopters were maintained at "full preparedness".

"Apart from the ground force's fleet of wheeled vehicles, the core mobility assets are the Bell 212 and 214 medium-lift helicopters, which are capable of company group lift and the Navy's landing craft," the 45-page document said.

"Those capabilities are essential to the rapid deployment and support of forces operating in the nation's hinterland. They are now reaching operational life-of-type and early replacement is required to support operational reliability and contain maintenance costs."

Sumber: BT

Sultan Brunai Darussalam Kunjungi Pavilium Industri Pertahanan Indonesia

BANDAR SERI BEGAWAN-(IDB) : Usai membuka secara resmi event Brunei Darussalam Internastional Defence & Exhition (BRIDEX) 2011, Rabu (6/7) di Jerudong Park, Brunei Darussalam, Sultan Brunei Darussalam Hasanah Bolkiah mengunjungi  secara langsung beberarapa pavilium peserta BRIDEX 2011 termasuk Pavilum Industri Pertahanan  Indonesia.

Dalam kunjungannya ke  pavilum industri pertahanan Indonesia, Sultan Brunei Darussalam didahului dengan sambutan ramah oleh empat puteri pariwisata.  Selanjutnya, Sultan Brunei Darussalam dengan  dipandu oleh Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekjen Kemhan RI Marsdya TNI Eris Heryyanto, S.IP, MA, melihat-lihat beberapa produk  alat pertahanan Indonesia.

Sejumlah produk Indonesia yang cukup menarik perhatian Sultan Brunei Darusslam antara lain Panser Anoa 6x6 dan senjata untuk perorangan produksi PT. Pindad, Kapal LPD buatan PT.PAL dan pesawat CN-235.

Keikutsertaan Indonesia melalui Kemhan RI bersama dengan BUMNIP dalam BRIDEX 2011 kali ini, diharapkan Indonesia dapat mempromosikan produk – produk industri pertahanan baik yang Alusista maupun yang non Alutsista kepada negara – negara lain khususnya di kawasan regional ASEAN.

Dalam ajang pameran industri pertahanana berskala internasional di Brunei tersebut, Indonesia memperkenalkan produk - produk industri pertahanan dari dalam negeri baik BUMN maupun swasta nasional antara lain PT. Pindad, PT. PAL, PT. Dirgantara Indonesia, PT. Dahana, PT. Len  dan PT. Palindo Marine , PT.Sritex dan PT. Famatex.

Dalam event yang penting ini, Kemhan dan BUMNIP berusaha menampilkan semua prodok-produk industri pertahanan dalam negeri untuk menunjukan bahwa Indonesia sudah mulai bangkit untuk mampu dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan peralatan pertahanan. 

Sumber: DMC

Aksi Panser Anoa Pindad Di Pembukaan BRIDEX 2011 Brunei

BANDAR SERI BEGAWAN-(IDB) : Panser Anoa 6x6 produksi PT. Pindad menunjukkan performance terbaiknya saat turut ambil bagian meramaikan acara Brunei International Defence Exhibition & Conference (BRIDEX) 2011. 

Unjuk kebolehan ini disaksikan secara langsung oleh Sultan Brunei Darussalam Sultan Hasanah Bolkiah usai membuka secara resmi  BRIDEX 2011, Rabu (6/6) di Jerudong Park, Brunei Darussalam.. 

Selain Sultan Brunei Darussalam,  disaksikan pula oleh sejumlah Delegasi VIP dari negara – negara peeserta BRIDEX 2011 termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia sendiri antara lain Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin,  Sekjen Kemhan RI Marsdya TNI Eris Heryanto, S.IP, MA, Dirjen Pothan Kemhan RI Pos M Hutabarat,  Ph.D  dan Dir. Tekind Ditjen Pothan Kemhan RI Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso.

Selain Panser Anoa 6x6, pada event BRIDEX 2011 kali ini PT. Pindad juga menampilkan MobileShooting Galery (Lapangan Tembak Bergerak). Produk baru dari PT. Pindad tersebut mendapatkan peninjauan secara langsung dan menarik perhatian Sultan Brunei  Darussalam.

BRIDEX 2011 diselenggakan oleh Kementerian Pertahanan Brunei Darussalam untuk yang ketiga kalinya dalam rangka memperingati ulang tahun emas Angkatan Bersenjata Kerajaan Brunei. BRIDEX 2011 berlangsung tanggal 6 sampai dengan 9 Juli 2011.

Sementara itu, dalam rangka mempromosikan produk – produk industri pertahanan dalam negeri kepada negara – negara di kawasan ASEAN  pada khususnya dan internasional pada umumnya,  Indonesia melalui Kementerian Pertahanan RI bersama dengan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP) mengikuti ajang BRIDEX 2011.

Keikutsertaan Indonesia dalam ajang pameran industri pertahanana berskala internasional di Brunei tersebut, dengan  membuka satu Pavilium Industri Pertahanan Indonesia yang menyajikan beberapa miniatur dari produk - produk industri pertahanan dari dalam negeri baik BUMN maupun swasta nasional antara lain PT. Pindad, PT. PAL, PT. Dirgantara Indonesia, PT.   Dahana, PT. Len  dan PT. Palindo Marine , PT.Sritex dan PT. Famatex.


Sumber: DMC

SBY Senang Terima Hibah Kapal Brunei

Presiden SBY memperkenalkan para menteri penyambut kepada Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, di halaman depan Istana Merdeka, Kamis (21/4) siang. Ini merupakan kunjungan kehormatan.
JAKARTA-(IDB) : Sultan Hassanal Bolkiah Brunei Darussalam berkunjung ke Istana Merdeka hari ini. Berbatik hitam, mantan pria terkaya di dunia itu datang mengendarai mobil limousin berwarna hitam sekitar pukul 14.00 WIB. Begitu turun dari mobil, Sultan langsung menyalami Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkemeja tenun ikat kehijauan. Ia juga menyalami menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang turut menyambutnya.

"Presiden berterima kasih untuk hibah kapal dari Brunei," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah usai pertemuan di Istana Merdeka, Kamis (21/4).

KDB Waspada (P02)
 Brunei menghibahkan dua kapal patroli: KDB Waspada (P02) dan KDB Pejuang (P03), sebagai bagian dari upaya meningkatkan hubungan militer kedua negara. Pemberian itu diumumkan Wakil Menteri Pertahanan Brunei Dato Paduka Hj Mustappa Hj Sirat ketika Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Bandar Seri Begawan, Brunei, pada Februari lalu.

Dua kapal yang tiap unitnya bernilai sekitar Rp 50 miliar itu bakal diberangkatkan dari Brunei tanggal 28 April. Kapal sepanjang 44 meter tersebut dibuat tahun 1977-1978 oleh pabrikan Inggris, dan dihibahkan beserta suku cadangnya yang diperkirakan cukup untuk waktu sepuluh tahun. Biaya perjalanan, pelatihan awak, dan administrasi surat-surat semuanya diongkosi Brunei.

Dalam pertemuan tak sampai sejam itu, Yudhoyono berterima kasih juga untuk keberhasilan penanganan sekitar 170 ribu orang buruh migran Indonesia di negeri jiran tersebut. Sebagai Ketua ASEAN, ia juga meminta dukungan Sultan Brunei terhadap program ketahanan pangan dan energi ASEAN. Kepada sejawatnya, Yudhoyono menyampaikan Indonesia sedang merampungkan rencana induk percepatan pembangunan ekonomi Indonesia, dan berharap Brunei ikut berinvestasi.

"Sultan Brunei memberi dukungan pada ASEAN, dan menyambut positif tawaran investasi," kata Teuku Faizasyah.
Sumber: Tempo

DPR Setuju Hibah Kapal Patroli Brunei

Tubagus Hasanudin Anggota Komisi I DPR

JAKARTA-(IDB):Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya menyetujui rencana pemerintah menerima hibah dua kapal patroli dari Brunei Darussalam. 
"Dengan catatan, pelaksanaan hibah dilaksanakan sesua dengan mekanisme perundang-undangan," ujar Wakil Ketua Komisi TB Hasanuddin saat membacakan kesimpulan di akhir rapat dengar pendapat Komisi Pertahanan dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di DPR, Senin 4 April 2011 malam. 

Sebelumnya, dalam rapat itu, sejumlah anggota Dewan mempertanyakan motif Brunei memberikan kapal. "Tidak ada makan siang yang gratis, jangan-jangan di akhir ada yang memberatkan," kata TB Hasanuddin. Legislator lainnya khawatir kasus kapal bekas dari Jerman Timur di masa Orde Baru, yang ternyata malah lebih mahal ketimbang kapal baru.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya Soeparno meminta anggota parlemen tak berprasangka buruk. "Hibah ini sangat Islami, ikhlas, kalau berpikir yang tidak-tidak, kita seperti orang miskin yang sombong," katanya sembari berkelakar. Hadirin rapat kontan terbahak mendengarnya.

Legislator juga mempertanyakan penerimaan hibah yang belum memenuhi prosedur lengkap. Sejauh ini, kata Hasanuddin, Komisi Pertahanan baru menerima surat mengenai hibah dari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Seharusnya, ada pula surat pemberitahuan resmi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada pimpinan DPR. Meski Komisi Pertahanan telah menyetujui hibah, mereka meminta pemerintah tetap memenuhi prosedur tersebut.

Soeparno mengatakan yang satu unitnya bernilai sekitar Rp 50 miliar itu bakal diberangkatkan dari Brunei tanggal 28 April. Dua kapal sepanjang 44 meter itu dibuat tahun 1977-1978 oleh pabrikan Inggris, dan bakal dihibahkan beserta suku cadangnya yang diperkirakan cukup untuk waktu sepuluh tahun.

Hibah kapal lawas itu tak termasuk peluru kendali, karena stok peluru kendali yang ada sudah kadaluwarsa. Namun, Soeparno menyebutkan menambahkan peluru kendali adalah perkara mudah. "Gampang, beli (saja), tinggal masang," ucapnya.

Ia menambahkan, biaya perjalanan, pelatihan awak, dan administrasi surat-surat semuanya diongkosi oleh pihak Brunei.

Pemerintah Brunei Darussalam menghibahkan ke Indonesia, dua kapal patroli KDB Waspada (P02) dan KDB Pejuang (P03) sebagai bagian dari upaya meningkatkan hubungan militer kedua negara. Pemberian itu diumumkan Wakil Menteri Pertahanan Brunei Darussalam Dato Paduka Hj Mustappa Hj Sirat saat Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Bandar Seri Begawan, Brunei, pada Februari lalu.

Sumber: Tempo

Hibah Dua Kapal Patroli Brunei Tinggal Tunggu Persetujuan Presiden Dan DPR

Kapal Patroli Waspada Brunei yang akan dihibahkan Indonesia
JAKARTA-(IDB):Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengemukakan, pihak tengah menjajaki tawaran dua kapal patroli cepat berpeluru kendali dari Brunei Darussalam, untuk memperkuat pengamanan wilayah perairan nasional. "Dua Kapal patroli cepat rudal tersebut akan diserahkan akhir April ke Indonesia. Namun masih menunggu Komisi 1 DPR dan Presiden," katanya, saat melakukan rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta, Senin (4/4).

Ia menambahkan, dua kapal buatan Inggris eks Brunei itu diberikan kepada Indonesia tanpa syarat mengingat Pemerintah Brunei telah membeli kapal patroli terbaru sehingga para personil mereka fokus dengan kapal yang baru. "Selain itu, pemerintah Brunei kesulitan untuk membuang dua kapal tersebut sehingga diberikan untuk Indonesia," ungkap Panglima TNI.

Agus menambahkan, pihak Pemerintah Brunei juga berupaya mengurus dokumen-dokumen untuk hibah tersebut. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi 1 DPR Tubagus Hassanuddin mengaku surat permohonan mendapat hibah dua kapal tersebut telah diterima dari Wakil Menteri Pertahanan.

"Kami sudah menerima surat permohonan untuk mendapat hibah dua kapal tersebut. Ini sedang kami pelajari sebelum diputuskan untuk menyetujuinya," katanya.

Sumber: Republika

100 Personil TNI AL Di Berangkatkan ke Brunei

Proses embarkasi 100 TNI AL yang diberangkatkan ke Brunei
JAKARTA-(IDB): Sebanyak 100 orang calon awak kapal (cawak) tipe “Waspada Class” Brunei dan tim Basic Maintenance Training (BMT) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) diberangkatkan dari lapangan terbang Halim Perdana Kusuma menggunakan pesawat Hercules A.1319 milik TNI Angkatan Udara menuju Brunei Darussalam. Sebelum diberangkatkan para cawak tersebut telah medapat pembekalan yang dilaksanakan Komando Latihan Koarmabar (Kolatarmabar) selama tiga minggu dengan materi terkait data teknis, pengoperasian kapal dan perencanaan navigasi penyeberangan serta keselamatan personel dan material. Para cawak tersebut nantinya akan mengawaki dua kapal tipe Eks “Waspada Class” yang masing-masing bernama KRI Salawaku – 642 dengan Komandan Mayor Laut (P) Komaruddin dan KRI Badau – 643 dengan Komandan Mayor Laut (P) Alferd Daniel Matthewd.

Sumber: Koarmabar

Indonesia Masuk Jajaran Negara Exportir Alutsista

SS-2 Sniper buatan PT. PINDAD Indonesia
JAKARTA-(IDB):Sejumlah negara tetangga, seperti Papua Niugini, Filipina, dan Brunei, menjajaki kemungkinan pembelian persenjataan serta memperoleh kredit ekspor dari Pemerintah Republik Indonesia.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang ditemui di Jakarta, Kamis (24/3), menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan banyak permintaan untuk memenuhi kebutuhan persenjataan dari sejumlah negara tetangga dalam Jakarta International Defense Dialogue (JIDD).
”Timor Leste sudah mendapat kredit ekspor 40 juta dollar AS untuk pembelian dua kapal patroli cepat (fast patrol boat/FPB), ternyata sejumlah negara juga mempertanyakan kemungkinan mendapat fasilitas serupa,” ujar Purnomo.
FPB yang dibuat PT PAL Surabaya itu memiliki dimensi panjang dari 15 meter, 30 meter, 40 meter, hingga 60 meter.
Seusai pertemuan dengan delegasi Papua Niugini, negara tetangga tersebut ingin mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. Mereka telah mengoperasikan sejumlah pesawat CASA-Nurtanio (CN) buatan Indonesia.
Pemerintah Filipina menyiapkan dana 100 juta dollar AS (sekitar Rp 900 miliar) untuk membeli tiga kapal landing platform dock (LPD) bagi angkatan lautnya. ”Kita sedang merundingkan spesifikasi LPD yang sesuai dengan anggaran yang dimiliki Filipina,” kata Purnomo.

Brunei
Selain itu, lanjut Purnomo, pemerintah Brunei juga berminat untuk membeli senapan serbu varian dua (SS-V2) buatan PT Pindad. Menurut dia, Pemerintah Brunei baru menyadari Indonesia telah memproduksi senjata jenis tersebut, yang merupakan produk Indonesia yang berbasis dari senapan Fabrique Nationale Belgia. Militer Brunei juga mengoperasikan perahu karet untuk satuan taktis yang dibuat di Bogor, Jawa Barat.

Sumber: Kompas

TLDB Terima 2 Kapal Perang Buatan Jerman

Kapal patroli kelas Darussalam. (Foto: Mindef)

9 Januari 2010 -- (Berita HanKam): Tentera Laut Diraja Brunei Darussalam (TLDB) segera menambah armada kapal perangnya setelah menerima secara resmi dua kapal perang kelas Darussalam di galangan kapal Lürssen Werft's Bremen, Jerman. Wakil Menteri Pertahanan Dato Paduka Hj Mustappa Hj Sirat mewakili pemerintah menerima kedua kapal.

Kapal patroli kelas Darussalam berukuran panjang 80 meter dan lebar 13 meter, ditenagai mesin diesel, mampu berlayar selama 21 hari serta dipersenjatai rudal permukaan-permukaan dan meriam.

Kapal akan gantikan kapal perang kelas Waspada yang telah dioperasikan AL Brunei 30 tahun.

Kapal perang diberi nama KDB Darussalam dan KDB Darulehsan dijadwalkan melakukan pelayaran perdana ke Brunei pada Maret 2011 dan tiba di Brunei Mei, bertepatan 50 tahun HUT AB Brunei Darussalam.

Kapal diawaki oleh perwira dan pelaut TLDB dalam pelayaran ke Brunei Darussalam.

Kapal ketiga diberi nama KDB Darulaman telah diluncurkan sehari penyerahan kedua kapal, dijadwalkan diserahkan Agustus 2011 setelah selesai diuji coba.

Pembelian kapal perang kelas Darussalam realisasi komitmen pemerintah meningkatkan kemampuan AB Brunei Darussalam, khususnya AL Brunei Darussalam dalam mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorial yang disebutkan di Buku Putih Pertahanan 2004 dan diperbaharui 2007.

TLDB telah mengoperasikan empat kapal patroli cepat 41 meter kelas Ijtihad, dua kapal pada Maret 2010 dan dua lagi Agustus 2010. Keempat kapal dibangun di Lürssen Werft's Bremen juga.

Sumber: Mindef